Tampilkan postingan dengan label Moto GP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Moto GP. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Maret 2017

Kalah Pengalaman di Ducati, Lorenzo Tak Akan Kaget jika Dovizioso Lebih Cepat

Jorge Lorenzo menilai bahwa Andrea Dovizioso bisa jadi pebalap Ducati yang tercepat musim 2017. Pengalaman jadi alasan mantan pebalap Movistar Yamaha itu.

Musim ini pertama kalinya Lorenzo menunggangi Ducati setelah sembilan musim mengendarai Yamaha. Dalam tes pramusim, pencapaian Lorenzo tidak bagus-bagus amat.

Catatan terbaiknya baru didapat pada tes terakhir di sirkuit Losail, Senin (13/3/2017) dinihari WIB. Lorenzo mampu duduk di posisi empat dengan hanya berjarak 0.189 detik dengan Maverick Vinales yang jadi tercepat dengan waktu satu menit 54,330 detik.
Namun, raihan terbaik Lorenzo itu belum bisa menandingi Dovizioso selaku rekan satu timnya yang jadi tercepat kedua dalam tes terakhir. Situasi tersebut pun ditanggapi oleh pebalap anyar Ducati itu.
Bagi Lorenzo, Dovi akan memacu Desmosedici lebih cepat dari dirinya di musim 2017 ini. Pengalaman empat tahun Dovi dalam menunggangi Ducati disebut-sebut sebagai alasan.

"Dovi mungkin akan lebih cepat dari saya, seperti saat tes pramusim. Saya akan mencoba melakukan yang terbaik, dan dia juga pasti demikian," kata Lorenzo seperti dilansir Motorsport .

"Akan masuk akal jika itu akhirnya terjadi, meskipun saya lima kali juara dunia dan upaya kuat Ducati untuk merekrut saya. Dovi memiliki banyak pengalaman pada motor ini," sambungnya.

"Motor ini sedikit sulit untuk dipahami. Selain (Casey) Stoner, setiap pembalap Ducati kesulitan. Seperti halnya (Nicky) Hayden yang kesulitan menemukan cara untuk menghadapi situasi ini. Beberapa lainnya, seperti (Marco) Melandri dan (Valentino) Rossi, tidak pernah bisa melakukannya," tegas Lorenzo.

Minggu, 19 Maret 2017

Kepala Kru Rossi Ungkap Alasan Vinales Cepat Beradaptasi

Losail - Kepala Kru Valentino Rossi, Silvano Galbusera, mengungkapkan alasan kenapa Maverick Vinales cepat beradaptasi dengan motor Yamaha. Dia menyebut karakter motor Suzuki yang mengikuti filosofi Yamaha menjadi penyebabnya.

Seperti diketahui, Vinales didatangkan Yamaha dari Suzuki untuk mengisi posisi Jorge Lorenzo. Awalnya, banyak pihak yang ragu Vinales bisa tampil kompetitif bersama Tim Garpu Tala.

Namun, Vinales membuat publik terkejut. Pebalap berusia 22 tahun itu tampil impresif bersama motor Yamaha YZR-M1 selama masa tes pramusim.

Dia beberapa kali menjadi pebalap dengan waktu lap tercepat pada tes yang berlangsung di Sirkuit Sepang, Phillip Island, dan Losail, tersebut. Bahkan, Vinales mengungguli pebalap senior seperti Marc Marquez, Rossi, dan Lorenzo.

"Ya, Suzuki sedikit mengikuti filosofi Yamaha. Dia datang dengan motor baru tapi tetap mampu cepat beradaptasi. Jadi dia sangat kuat di semua trek," ujar Galbusera seperti dikutip Diario Motor, belum lama ini.

Berbeda dengan Vinales, Rossi justru belum tampil kompetitif bersama motor baru Yamaha. Sebelumnya, Galbusera mengungkapkan ada masalah pada motor The Doctor yang belum mampu diatasi.

"Motor baru ini harusnya bisa lebih baik, tapi untuk Valentino Rossi ada masalah yang tak bisa diatasi. Namun sekarang kami tampaknya telah menemukan sesuatu," tuturnya.

Sabtu, 11 Maret 2017

Rossi Sempat Jatuh pada Hari Kedua Tes di Qatar


Pebalap Movistar Yamaha asal Italia, Valentino Rossi (kanan), menunggu di paddock pada hari kedua tes pramusim ketiga MotoGP 2017 di Sirkuit Losail, Qatar,

LOSAIL - Pebalap Movistar Yamaha asal Italia, Valentino Rossi , sempat terjatuh pada hari kedua tes pramusim ke-3 MotoGP 2017 di Sirkuit Losail, Qatar, Sabtu (11/3/2017).

Namun, memasuki jam-jam terakhir sesi, Rossi menunjukkan kehebatannya. Pada percobaan ket-37 atau terakhirnya, dia mencatat putaran 1 menit 54,732 detik.

Hasil tersebut memastikannya berada di urutan kedua daftar pebalap tercepat. Dia hanya kalah cepat 0,277 detik dari rekan satu timnya, Maverick Vinales (Spanyol).

"Kami mendapat banyak kemajuan soal feeling dengan motor karena saya sangat kesulitan selama tes musim dingin. Catatan waktu ini sangat penting," kata Rossi setelah tes.

Rossi terjatuh di tikungan 7. Dia mengaku sedikit merasakan sakit. Jari-jarinya juga ada yang terluka. Namun, dia bisa mengatasi itu lalu tampil baik sepanjang sisa tes.

"Untuk kali pertama dengan motor baru ini, saya merasakan feeling yang lebih baik dengan ban depan. Saya juga bisa memasuki tikungan dengan lebih cepat," aku pebalap 38 tahun tersebut.

"Kami mencoba banyak hal dan saya harus berterima kasih kepada Yamaha karena mereka sangat mendukung saya, terutama setelah tes kedua di Sirkuit Phillip Island (Australia) karena itu sangat berat," ujar dia lagi.

Rossi menjelaskan bahwa ada beberapa perubahan besar dalam distribusi berat motor. Sejak memakai mesin versi 2017, Rossi mengaku belum mendapatkan feeling yang bagus hingga hari ini.

"Saya sangat kesulitan saat tes (pasca-musim) di Valencia, (tes pramusim pertama) di Sirkuit Sepang, dan tertutama saat di Sirkuit Phillip Island," kata pemilik sembilan gelar juara dunia tersebut.

"Kami sangat sedih saat kembali dari Phillip Island karena kami tidak menemukan apa-apa. Karena itu saya sangat berterima kasih kepada Yamaha karena kami tiba di sini dengan banyak ide untuk dicoba dan saya merasa lebih baik," ujar Rossi.

Rossi dan pebalap lainnya masih punya satu hari terakhir untuk melakukan tes di Sirkuit Losail pada Minggu (12/3/2017) pukul 16.00-23.00 waktu setempat (20.00-03.00 WIB).

Minggu, 19 Februari 2017

Nasib Lorenzo Bakal Tak Beda Jauh dengan Rossi di Ducati?

Lorenzo akui masih butuh waktu beradaptasi dengan motor Ducati.

Jorge Lorenzo akui belum bisa mengeluarkan kemampuan 100 persen bersama tim barunya Ducati. Pebalap Spanyol itu mengatakan, masih butuh waktu beradaptasi.

Menurutnya, karakter motor Ducati bertolak belakang dengan Yamaha. Maklum saja, Lorenzo belum bisa mengubah karakter balapnya karena 'terbawa' dengan setelan motor Yamaha lantaran sangat lama memperkuat pabrikan asal Jepang tersebut; 9 musim (2008-2016).

Untuk itu, kata Lorenzo, walau sudah mulai bisa memahami sedikit demi sedikit, namun dia masih butuh waktu untuk bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

Evaluasi tersebut didapatnya usai mengikuti tes pramusim selama tiga hari di Sirkuit Phillip Island, Australia belum lama ini; 15-17 Februari 2017.

Dari hasil tersebut, performa Lorenzo tidak konsisten. Di hari pertama dia menampati posisi ke-11, setelah itu melorot ke urutan 15 sehari berikutnya, sebelum mengakhiri tes di posisi 8 pada hari terakhir. 

"Saya masih sangat kesulitan, karena perbedaan motor (antara Ducati dan Yamaha) yang begitu jelas. Karakter Ducati bertolak belakang dengan karakter balap saya di sirkuit ini (bila dibandingkan dengan saat menunggangi Yamaha)," kata Lorenzo.

"Untuk saat ini, Ducati belum memiliki kecepatan di tikungan, jadi Anda harus sering lakukan pengereman, dan harus lebih agresif dengan gas. Ini jelas cara yang berbeda untuk mengendalikannya."

"Sedikit demi sedikit saya mulai paham, tapi saya masih butuh banyak waktu dan banyak tes lagi untuk bisa tampil maksimal dengan motor Ducati," paparnya.

Kesulitan Lorenzo beradaptasi dengan Ducati saat ini, tak ubahnya mengingatkan akan kejadian yang pernah dialami mantan rekan setimnya di Yamaha, Valentino Rossi, di Ducati.

Seperti diketahui, prestasi Rossi mengalami penurunan drastis tatkala bergabung dengan Ducati selama dua musim; 2011-2012.

Nama besar, jam terbang, dan kualitas yang dimiliki Rossi terbukti tak mampu mengangkat performa Ducati.

Alhasil, pada tahun 2013 dia memutuskan kembali ke Yamaha. Prestasi Rossi kembali membaik, dengan memenangi tujuh balapan terhitung sejak dia balik ke Yamaha.

Namun, karakter Rossi dengan Lorenzo tentu tidak bisa disamakan. Terlebih, motor Ducati terus mengalami evolusi performa setiap musimnya.

Jadi, kita tunggu saja hingga akhir musim apakah nasib Lorenzo bakal serupa dengan Rossi atau tidak. Waktulah yang akan menjawabnya.

Rabu, 15 Februari 2017

Ternyata Ini Alasan Kawasaki Malas Balik Ikut MotoGP

Di Indonesia siapa sih yang kagak kenal atau tidak tahu dengan merk mOtor Kawasaki, merk yang juga udah mendunia. Kawasaki juga pernah mengikuti selama beberapa tahun lalu, namun sekarang Kawaski tampaknya udah enggan mengikuti AJang balap motor paling bergengsi tersebut.

Kawasaki pernah berlaga di MotoGP selama tujuh musim sejak 2002 hingga 2008. Selama periode itu, tim yang berbasis di Amsterdam, Belanda, tersebut sulit menembus papan atas bahkan baru tiga kali naik podium.

Krisis finansial menjadi alasan kenapa Kawasaki menarik diri dari MotoGP. Sejak itu, mereka fokus tampil di Superbike dan tercatat tiga kali menjadi kampiun, termasuk pada musim 2016 melalui Jonathan Rea. Kini, untuk kembali berkompetisi di MotoGP tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dana menjadi alasan utama, sebab untuk bisa langsung kompetitif macam Honda, Yamaha, dan Ducati, membutuhkan banyak uang dan waktu yang lama.

Kawasaki juga tidak diperbolehkan kembali ke MotoGP langsung sebagai tim pabrikan. Mereka boleh balik ke kelas primer asal bekerja sama dengan tim yang sudah ada, contohnya Gresini Racing yang kemudian menjelma menjadi tim pabrikan Aprilia.

Sudah mapan di Superbike juga menjadi alasan kenapa Kawasaki enggan balik ke MotoGP. Ketimbang kembali ke MotoGP sebagai tim medioker, lebih baik menjaga tren positif di Superbike. “Tentu Dorna harus mengubah filosofi dan membuat peraturan yang benar-benar terbuka, dengan memperbolehkan seluruh manufaktur bebas bereksperimen. Dengan itu mungkin kami mau kembali ke MotoGP. Tapi untuk sekarang, kami fokus di Superbike,” ujar bos Kawasaki World Superbike, Ichiro Yoda, seperti dikutip Riders Mag.

Rabu, 08 Februari 2017

Kombinasi Fantastis Rossi dan Vinales

Kombinasi  Valentino Rossi dan Maverick Vinales dipuji Lin Jarvis, Managing Director Yamaha Motor Racing. Keduanya dianggap sebagai sebuah “kombinasi fantastis” dari untuk MotoGP 2017.

"Sejauh ini saya harus mengatakan itu sangat baik, mereka saling menghormati. Rossi merupakan idola Vinales dan dia terus menganggapnya seperti itu. Tidak adanya permusuhan antara kedua pebalap dalam  satu tim, seperti menghirup udara segar, saya katakan terus terang saat ini,” ujar Jarvis mengutip Crash.net, Rabu (8/2/2017).

Jarvis menyaksikan sendiri, momen menarik, yang belum pernah dirinya lihat sebelumya. Ini sekali lagi membuat dirinya senang.

"Apa yang menyenangkan adalah bahwa pada tes terakhir, biasanya pebalap berada di zona mereka sendiri, menyelesaikan pekerjaan dan kembali ke hotel. Namun Vinales malah penasaran dan termotivasi, dengan datang ke tempat Rossi, dan menanyakan berbagai macam, apa ini dan apa itu dan lainnya," ujar Jarvis.

"Valentino juga tipikal yang suka berbagi. Walaupun tentu saja dia tidak suka dikalahkan, tapi seperti yang dilihat di dalam Akademi miliknya, Rossi suka berbagi pengetahuan dengan pebalap muda. Jadi mari kita lihat berapa lama kita bisa menjaga atmosfer ini selama satu musim,” ujar Jarvis.

Jarvis menyebut Rossi sebagai “greatest of all time”, sementara Vinales “greatest new talent” dengan bakat yang luar biasa. Ini merupakan kombinasi yang fantastis dan brilian.

Kemampuan keduanya

"Valentino dalam tiga tahun terakhir terus menerus menjadi runner-up, dan itu benar-benar mengesankan. Dia akan akan berusia 38 tahun minggu depan, 16 Februari 2017, dan masih memiliki kecepatan baik pada usia yang fenomenal. Jelas dia memiliki potensi untuk menang yang gelar kesepuluh,” ujar Jarvis.

Sementara Vinales, menurut Jarvis, bakal menjadi penantang gelar serius tahun ini. Dia beradaptasi dengan sangat baik, kepada tim dan sepeda motornya. “Vinales merasa nyaman dan fokus. Apa yang luar biasa adalah setiap tes sejauh ini, dia selalu menjadi yang tercepat,” tutur Jarvis.

"Jadi kami punya dua orang yang benar-benar berkualitas,” ucap Jarvis.

Jumat, 27 Januari 2017

Jadwal Moto GP 2017

FIM dan Dorna Sports S.L, telah mengumumkan jadwal resmi kalender jadwal kejuaraan dunia MotoGP 2017.


Dalam kalender resmi yang dirilis pada Senin (23/1), tidak ada perubahan dengan ketika ada revisi jadwal balapan di Sachsenring pada awal Desember lalu.
Sebanyak 18 seri MotoGP pada musim 2017, dengan Sachsenring – menjadi 2 Juli - hanya berjarak satu pekan setelah balapan di Assen, Belanda.

Revisi jadwal Sachsenring juga membuat MotoGP Jerman tak lagi berbenturan dengan Formula 1 Grand Prix Inggris di Silverstone.

Akan tetapi, tiga balapan MotoGP memiliki tanggal yang sama dengan F1, yakni 11 Juni (Catalunya - Kanada); 25 Juni (Assen - Baku); 27 Agustus (Inggris Raya - Belgia).

Dan dengan demikian, MotoGP dan F1 akan memiliki tujuh jadwal akhir pekan yang sama selama musim ini: 26 Maret, 9 April, 11 Juni, 25 Juni, 27 Agustus, 22 Oktober dan 12 November.

Libur musim panas MotoGP juga bertambah menjadi sebanyak empat minggu, karena MotoGP Rep. Ceko di Brno akan digelar pada 6 Agustus.