Tampilkan postingan dengan label Moto GP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Moto GP. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Maret 2017

Kalah Pengalaman di Ducati, Lorenzo Tak Akan Kaget jika Dovizioso Lebih Cepat

Jorge Lorenzo menilai bahwa Andrea Dovizioso bisa jadi pebalap Ducati yang tercepat musim 2017. Pengalaman jadi alasan mantan pebalap Movistar Yamaha itu.

Musim ini pertama kalinya Lorenzo menunggangi Ducati setelah sembilan musim mengendarai Yamaha. Dalam tes pramusim, pencapaian Lorenzo tidak bagus-bagus amat.

Catatan terbaiknya baru didapat pada tes terakhir di sirkuit Losail, Senin (13/3/2017) dinihari WIB. Lorenzo mampu duduk di posisi empat dengan hanya berjarak 0.189 detik dengan Maverick Vinales yang jadi tercepat dengan waktu satu menit 54,330 detik.
Namun, raihan terbaik Lorenzo itu belum bisa menandingi Dovizioso selaku rekan satu timnya yang jadi tercepat kedua dalam tes terakhir. Situasi tersebut pun ditanggapi oleh pebalap anyar Ducati itu.
Bagi Lorenzo, Dovi akan memacu Desmosedici lebih cepat dari dirinya di musim 2017 ini. Pengalaman empat tahun Dovi dalam menunggangi Ducati disebut-sebut sebagai alasan.

"Dovi mungkin akan lebih cepat dari saya, seperti saat tes pramusim. Saya akan mencoba melakukan yang terbaik, dan dia juga pasti demikian," kata Lorenzo seperti dilansir Motorsport .

"Akan masuk akal jika itu akhirnya terjadi, meskipun saya lima kali juara dunia dan upaya kuat Ducati untuk merekrut saya. Dovi memiliki banyak pengalaman pada motor ini," sambungnya.

"Motor ini sedikit sulit untuk dipahami. Selain (Casey) Stoner, setiap pembalap Ducati kesulitan. Seperti halnya (Nicky) Hayden yang kesulitan menemukan cara untuk menghadapi situasi ini. Beberapa lainnya, seperti (Marco) Melandri dan (Valentino) Rossi, tidak pernah bisa melakukannya," tegas Lorenzo.

Minggu, 19 Maret 2017

Kepala Kru Rossi Ungkap Alasan Vinales Cepat Beradaptasi

Losail - Kepala Kru Valentino Rossi, Silvano Galbusera, mengungkapkan alasan kenapa Maverick Vinales cepat beradaptasi dengan motor Yamaha. Dia menyebut karakter motor Suzuki yang mengikuti filosofi Yamaha menjadi penyebabnya.

Seperti diketahui, Vinales didatangkan Yamaha dari Suzuki untuk mengisi posisi Jorge Lorenzo. Awalnya, banyak pihak yang ragu Vinales bisa tampil kompetitif bersama Tim Garpu Tala.

Namun, Vinales membuat publik terkejut. Pebalap berusia 22 tahun itu tampil impresif bersama motor Yamaha YZR-M1 selama masa tes pramusim.

Dia beberapa kali menjadi pebalap dengan waktu lap tercepat pada tes yang berlangsung di Sirkuit Sepang, Phillip Island, dan Losail, tersebut. Bahkan, Vinales mengungguli pebalap senior seperti Marc Marquez, Rossi, dan Lorenzo.

"Ya, Suzuki sedikit mengikuti filosofi Yamaha. Dia datang dengan motor baru tapi tetap mampu cepat beradaptasi. Jadi dia sangat kuat di semua trek," ujar Galbusera seperti dikutip Diario Motor, belum lama ini.

Berbeda dengan Vinales, Rossi justru belum tampil kompetitif bersama motor baru Yamaha. Sebelumnya, Galbusera mengungkapkan ada masalah pada motor The Doctor yang belum mampu diatasi.

"Motor baru ini harusnya bisa lebih baik, tapi untuk Valentino Rossi ada masalah yang tak bisa diatasi. Namun sekarang kami tampaknya telah menemukan sesuatu," tuturnya.

Sabtu, 11 Maret 2017

Rossi Sempat Jatuh pada Hari Kedua Tes di Qatar


Pebalap Movistar Yamaha asal Italia, Valentino Rossi (kanan), menunggu di paddock pada hari kedua tes pramusim ketiga MotoGP 2017 di Sirkuit Losail, Qatar,

LOSAIL - Pebalap Movistar Yamaha asal Italia, Valentino Rossi , sempat terjatuh pada hari kedua tes pramusim ke-3 MotoGP 2017 di Sirkuit Losail, Qatar, Sabtu (11/3/2017).

Namun, memasuki jam-jam terakhir sesi, Rossi menunjukkan kehebatannya. Pada percobaan ket-37 atau terakhirnya, dia mencatat putaran 1 menit 54,732 detik.

Hasil tersebut memastikannya berada di urutan kedua daftar pebalap tercepat. Dia hanya kalah cepat 0,277 detik dari rekan satu timnya, Maverick Vinales (Spanyol).

"Kami mendapat banyak kemajuan soal feeling dengan motor karena saya sangat kesulitan selama tes musim dingin. Catatan waktu ini sangat penting," kata Rossi setelah tes.

Rossi terjatuh di tikungan 7. Dia mengaku sedikit merasakan sakit. Jari-jarinya juga ada yang terluka. Namun, dia bisa mengatasi itu lalu tampil baik sepanjang sisa tes.

"Untuk kali pertama dengan motor baru ini, saya merasakan feeling yang lebih baik dengan ban depan. Saya juga bisa memasuki tikungan dengan lebih cepat," aku pebalap 38 tahun tersebut.

"Kami mencoba banyak hal dan saya harus berterima kasih kepada Yamaha karena mereka sangat mendukung saya, terutama setelah tes kedua di Sirkuit Phillip Island (Australia) karena itu sangat berat," ujar dia lagi.

Rossi menjelaskan bahwa ada beberapa perubahan besar dalam distribusi berat motor. Sejak memakai mesin versi 2017, Rossi mengaku belum mendapatkan feeling yang bagus hingga hari ini.

"Saya sangat kesulitan saat tes (pasca-musim) di Valencia, (tes pramusim pertama) di Sirkuit Sepang, dan tertutama saat di Sirkuit Phillip Island," kata pemilik sembilan gelar juara dunia tersebut.

"Kami sangat sedih saat kembali dari Phillip Island karena kami tidak menemukan apa-apa. Karena itu saya sangat berterima kasih kepada Yamaha karena kami tiba di sini dengan banyak ide untuk dicoba dan saya merasa lebih baik," ujar Rossi.

Rossi dan pebalap lainnya masih punya satu hari terakhir untuk melakukan tes di Sirkuit Losail pada Minggu (12/3/2017) pukul 16.00-23.00 waktu setempat (20.00-03.00 WIB).

Minggu, 19 Februari 2017

Nasib Lorenzo Bakal Tak Beda Jauh dengan Rossi di Ducati?

Lorenzo akui masih butuh waktu beradaptasi dengan motor Ducati.

Jorge Lorenzo akui belum bisa mengeluarkan kemampuan 100 persen bersama tim barunya Ducati. Pebalap Spanyol itu mengatakan, masih butuh waktu beradaptasi.

Menurutnya, karakter motor Ducati bertolak belakang dengan Yamaha. Maklum saja, Lorenzo belum bisa mengubah karakter balapnya karena 'terbawa' dengan setelan motor Yamaha lantaran sangat lama memperkuat pabrikan asal Jepang tersebut; 9 musim (2008-2016).

Untuk itu, kata Lorenzo, walau sudah mulai bisa memahami sedikit demi sedikit, namun dia masih butuh waktu untuk bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

Evaluasi tersebut didapatnya usai mengikuti tes pramusim selama tiga hari di Sirkuit Phillip Island, Australia belum lama ini; 15-17 Februari 2017.

Dari hasil tersebut, performa Lorenzo tidak konsisten. Di hari pertama dia menampati posisi ke-11, setelah itu melorot ke urutan 15 sehari berikutnya, sebelum mengakhiri tes di posisi 8 pada hari terakhir. 

"Saya masih sangat kesulitan, karena perbedaan motor (antara Ducati dan Yamaha) yang begitu jelas. Karakter Ducati bertolak belakang dengan karakter balap saya di sirkuit ini (bila dibandingkan dengan saat menunggangi Yamaha)," kata Lorenzo.

"Untuk saat ini, Ducati belum memiliki kecepatan di tikungan, jadi Anda harus sering lakukan pengereman, dan harus lebih agresif dengan gas. Ini jelas cara yang berbeda untuk mengendalikannya."

"Sedikit demi sedikit saya mulai paham, tapi saya masih butuh banyak waktu dan banyak tes lagi untuk bisa tampil maksimal dengan motor Ducati," paparnya.

Kesulitan Lorenzo beradaptasi dengan Ducati saat ini, tak ubahnya mengingatkan akan kejadian yang pernah dialami mantan rekan setimnya di Yamaha, Valentino Rossi, di Ducati.

Seperti diketahui, prestasi Rossi mengalami penurunan drastis tatkala bergabung dengan Ducati selama dua musim; 2011-2012.

Nama besar, jam terbang, dan kualitas yang dimiliki Rossi terbukti tak mampu mengangkat performa Ducati.

Alhasil, pada tahun 2013 dia memutuskan kembali ke Yamaha. Prestasi Rossi kembali membaik, dengan memenangi tujuh balapan terhitung sejak dia balik ke Yamaha.

Namun, karakter Rossi dengan Lorenzo tentu tidak bisa disamakan. Terlebih, motor Ducati terus mengalami evolusi performa setiap musimnya.

Jadi, kita tunggu saja hingga akhir musim apakah nasib Lorenzo bakal serupa dengan Rossi atau tidak. Waktulah yang akan menjawabnya.

Rabu, 15 Februari 2017

Ternyata Ini Alasan Kawasaki Malas Balik Ikut MotoGP

Di Indonesia siapa sih yang kagak kenal atau tidak tahu dengan merk mOtor Kawasaki, merk yang juga udah mendunia. Kawasaki juga pernah mengikuti selama beberapa tahun lalu, namun sekarang Kawaski tampaknya udah enggan mengikuti AJang balap motor paling bergengsi tersebut.

Kawasaki pernah berlaga di MotoGP selama tujuh musim sejak 2002 hingga 2008. Selama periode itu, tim yang berbasis di Amsterdam, Belanda, tersebut sulit menembus papan atas bahkan baru tiga kali naik podium.

Krisis finansial menjadi alasan kenapa Kawasaki menarik diri dari MotoGP. Sejak itu, mereka fokus tampil di Superbike dan tercatat tiga kali menjadi kampiun, termasuk pada musim 2016 melalui Jonathan Rea. Kini, untuk kembali berkompetisi di MotoGP tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dana menjadi alasan utama, sebab untuk bisa langsung kompetitif macam Honda, Yamaha, dan Ducati, membutuhkan banyak uang dan waktu yang lama.

Kawasaki juga tidak diperbolehkan kembali ke MotoGP langsung sebagai tim pabrikan. Mereka boleh balik ke kelas primer asal bekerja sama dengan tim yang sudah ada, contohnya Gresini Racing yang kemudian menjelma menjadi tim pabrikan Aprilia.

Sudah mapan di Superbike juga menjadi alasan kenapa Kawasaki enggan balik ke MotoGP. Ketimbang kembali ke MotoGP sebagai tim medioker, lebih baik menjaga tren positif di Superbike. “Tentu Dorna harus mengubah filosofi dan membuat peraturan yang benar-benar terbuka, dengan memperbolehkan seluruh manufaktur bebas bereksperimen. Dengan itu mungkin kami mau kembali ke MotoGP. Tapi untuk sekarang, kami fokus di Superbike,” ujar bos Kawasaki World Superbike, Ichiro Yoda, seperti dikutip Riders Mag.

Rabu, 08 Februari 2017

Kombinasi Fantastis Rossi dan Vinales

Kombinasi  Valentino Rossi dan Maverick Vinales dipuji Lin Jarvis, Managing Director Yamaha Motor Racing. Keduanya dianggap sebagai sebuah “kombinasi fantastis” dari untuk MotoGP 2017.

"Sejauh ini saya harus mengatakan itu sangat baik, mereka saling menghormati. Rossi merupakan idola Vinales dan dia terus menganggapnya seperti itu. Tidak adanya permusuhan antara kedua pebalap dalam  satu tim, seperti menghirup udara segar, saya katakan terus terang saat ini,” ujar Jarvis mengutip Crash.net, Rabu (8/2/2017).

Jarvis menyaksikan sendiri, momen menarik, yang belum pernah dirinya lihat sebelumya. Ini sekali lagi membuat dirinya senang.

"Apa yang menyenangkan adalah bahwa pada tes terakhir, biasanya pebalap berada di zona mereka sendiri, menyelesaikan pekerjaan dan kembali ke hotel. Namun Vinales malah penasaran dan termotivasi, dengan datang ke tempat Rossi, dan menanyakan berbagai macam, apa ini dan apa itu dan lainnya," ujar Jarvis.

"Valentino juga tipikal yang suka berbagi. Walaupun tentu saja dia tidak suka dikalahkan, tapi seperti yang dilihat di dalam Akademi miliknya, Rossi suka berbagi pengetahuan dengan pebalap muda. Jadi mari kita lihat berapa lama kita bisa menjaga atmosfer ini selama satu musim,” ujar Jarvis.

Jarvis menyebut Rossi sebagai “greatest of all time”, sementara Vinales “greatest new talent” dengan bakat yang luar biasa. Ini merupakan kombinasi yang fantastis dan brilian.

Kemampuan keduanya

"Valentino dalam tiga tahun terakhir terus menerus menjadi runner-up, dan itu benar-benar mengesankan. Dia akan akan berusia 38 tahun minggu depan, 16 Februari 2017, dan masih memiliki kecepatan baik pada usia yang fenomenal. Jelas dia memiliki potensi untuk menang yang gelar kesepuluh,” ujar Jarvis.

Sementara Vinales, menurut Jarvis, bakal menjadi penantang gelar serius tahun ini. Dia beradaptasi dengan sangat baik, kepada tim dan sepeda motornya. “Vinales merasa nyaman dan fokus. Apa yang luar biasa adalah setiap tes sejauh ini, dia selalu menjadi yang tercepat,” tutur Jarvis.

"Jadi kami punya dua orang yang benar-benar berkualitas,” ucap Jarvis.

Jumat, 27 Januari 2017

Jadwal Moto GP 2017

FIM dan Dorna Sports S.L, telah mengumumkan jadwal resmi kalender jadwal kejuaraan dunia MotoGP 2017.


Dalam kalender resmi yang dirilis pada Senin (23/1), tidak ada perubahan dengan ketika ada revisi jadwal balapan di Sachsenring pada awal Desember lalu.
Sebanyak 18 seri MotoGP pada musim 2017, dengan Sachsenring – menjadi 2 Juli - hanya berjarak satu pekan setelah balapan di Assen, Belanda.

Revisi jadwal Sachsenring juga membuat MotoGP Jerman tak lagi berbenturan dengan Formula 1 Grand Prix Inggris di Silverstone.

Akan tetapi, tiga balapan MotoGP memiliki tanggal yang sama dengan F1, yakni 11 Juni (Catalunya - Kanada); 25 Juni (Assen - Baku); 27 Agustus (Inggris Raya - Belgia).

Dan dengan demikian, MotoGP dan F1 akan memiliki tujuh jadwal akhir pekan yang sama selama musim ini: 26 Maret, 9 April, 11 Juni, 25 Juni, 27 Agustus, 22 Oktober dan 12 November.

Libur musim panas MotoGP juga bertambah menjadi sebanyak empat minggu, karena MotoGP Rep. Ceko di Brno akan digelar pada 6 Agustus.

Jumat, 13 Januari 2017

Rivalitas Sengit Valentino Rossi vs Max Biaggi

VALENTINO Rossi diketahui memiliki rival sekelas Jorge Lorenzo dan Marc Marquez dalam beberapa tahun terakhir mentas di MotoGP. Namun, sebelum Lorenzo dan Marquez, The Doctor –julukan Rossi– memiliki rival yang justru berasal dari negara yang sama dengannya, yakni Italia.

Sosok yang dimaksud ialah Max Biaggi. Berusia delapan tahun lebih tua dari Rossi, Biaggi selalu ingin berprestasi lebih baik dari sang junior. Namun sayang, Biaggi selalu kalah dari Rossi di papan klasemen akhir MotoGP.

Rasa keinginan mengalahkan Rossi itu memunculkan bumbu-bumbu panas di antara keduanya. Salah satu insiden yang melibatkan Biaggi vs Rossi tercipta di GP Suzuka Jepang. Kala itu Biaggi dengan sengaja mendorong Rossi dan membuatnya terpental ke gravel.

Tak senang dengan perilaku sang senior, Rossi membalasnya satu lap kemudian. Usai melewati Biaggi, Rossi mengacungkan jari tengahnya kepada sang senior yang merupakan juara dunia empat kali kelas 250 cc.

Minggu, 08 Januari 2017

Rossi Koleksi 221 Podium, Akankah Tahan Lama?

Tiga bulan lagi, MotoGP 2017 akan bergulir dan para pembalap pun bersiap memperebutkan podium demi menambah pundi-pundi trofi dan rekor mereka. Sejauh ini, rider Movistar Yamaha MotoGP, Valentino Rossi masih menjadi 'juara' dalam koleksi podiumnya.

The Doctor berada di puncak daftar pembalap Grand Prix dengan jumlah podium terbanyak, yakni 221 podium, yang 114 di antaranya merupakan kemenangan, 61 podium di tempat kedua dan 46 podium di tempat ketiga.

Koleksi rider yang bulan depan akan berusia 38 tahun ini masih bisa bertambah, mengingat ia masih memiliki kontrak dengan Yamaha sampai akhir 2018, yang berarti dirinya masih punya 36 seri balap di mana ia bisa memperebutkan podium.

Rossi unggul 62 podium dari 15 kali juara dunia, Giacamo Agostini yang mengoleksi 159 podium dan pensiun pada 1977 silam. Hanya saja, Agostini unggul dalam jumlah kemenangan, yakni 122 kemenangan.


Pesaing terdekat Rossi yang masih aktif membalap adalah rider baru Ducati Corse, Jorge Lorenzo yang kini telah berada di peringkat ketiga. Dalam usianya yang masih 29 tahun, Lorenzo mengoleksi 145 podium, terdiri dari 65 kemenangan, 49 posisi kedua dan 31 posisi ketiga.

Rival Rossi lainnya yang juga cukup dekat adalah, Dani Pedrosa yang berusia 31 tahun di tempat keempat dengan 141 podium. Marc Marquez yang bulan depan berusia 24 tahun, kini berada di peringkat ke-12 dengan 90 podium.

Jumlah podium Rossi ini memang cukup banyak, Bolaneters. Apalagi ia unggul 76 podium dari Lorenzo. Pertanyaannya, apakah rekor ini bisa bertahan lama? Siapakah yang akan menyusul dan bahkan mematahkannya? Cukup menarik untuk disaksikan nih!

Daftar pembalap dengan podium terbanyak di Grand Prix:
1. Valentino Rossi : 221 (114 menang - 61 kedua - 46 ketiga)
2. Giacomo Agostini : 159 (122 menang - 35 kedua - 2 ketiga)
3. Jorge Lorenzo : 145 (65 menang - 49 kedua - 31 ketiga)
4. Dani Pedrosa : 141 (51 menang - 50 kedua - 40 ketiga)
5. Angel Nieto : 139 (90 menang - 35 kedua - 14 ketiga)
6. Phil Read : 121 (52 menang - 44 kedua - 25 ketiga)
7. Mike Hailwood : 112 (76 menang - 25 kedua - 11 ketiga)
8. Max Biaggi : 111 (42 menang - 41 kedua - 28 ketiga)
9. Loris Capirossi : 99 (29 menang - 34 kedua - 36 ketiga)
10. Jim Redman : 98 (45 menang - 33 kedua - 20 ketiga)
11. Mick Doohan : 95 (54 menang - 31 kedua - 10 ketiga)
12. Marc Marquez : 90 (55 menang - 21 kedua - 14 ketiga)
13=. Casey Stoner : 89 (45 menang - 17 kedua - 27 ketiga)
13=. Luigi Taveri : 89 (30 menang - 33 kedua - 26 ketiga)
14. Toni Mang : 84 (42 menang - 25 kedua - 17 ketiga)
15. Eugenio Lazzarani : 81 (27 menang - 35 kedua - 19 ketiga)

Sabtu, 07 Januari 2017

Maverick Vinales Tak Takut ‘Bermusuhan’

Maverick Vinales mengaku tidak takut ‘bermusuhan’ dengan Valentino Rossi . Sebagai pebalap baru di Movistar Yamaha, posisi Vinales jelas bakal sulit. Ia akan berhadapan langsung dengn The Doctor dalam perebutan gelar juara musim ini. Artinya, konflik suatu saat bisa terjadi. Namun Vinales menegaskan, dirinya datang ke Yamaha bukan untuk mencari masalah.

Dalam dua tahun terakhir, drama terjadi di kubu Movistar Yamaha. Valentino Rossi sang juara dunia sembilan kali, terlibat beberapa konflik dengan Jorge Lorenzo. Yang paling panas tentu ketika Rossi menuding Lorenzo dan Marc Marquez terlibat dalam persekongkolan di MotoGP 2015 . Ketika itu, gelar akhirnya benar-benar didapatkan oleh X-Fuera.

Sampai saat ini, Valentino Rossi masih sakit hati dengan kejadian itu. Sementara fansnya, percaya benar dengan ucapan The Doctor, sehingga terus ‘menyerang’ Lorenzo dan Marquez. Oleh karena itu, muncul pertanyaan besar. Ketika Maverick Vinales masuk ke Yamaha, mungkinkah ia akan mengalami
masalah serupa dengan Lorenzo, yaitu terlibat dalam perang mental dengan Rossi?

Tidak sedikit yang menyebut, Vinales tidak akan bermasalah dengan Rossi, hingga ia cukup mengganggu The Doctor di klasemen. Tapi, Vinales menegaskan dirinya tidak mau terlibat hal-hal lain kecuali urusan meningkatkan performa dalam membalap.

Dikutip dari CNN Indonesia, Vinales menyebutkan, “Hal tersebut (kemungkinan pertikaian dengan Rossi) tak akan jadi masalah bagi saya. Saya adalah pebalap yang hanya akan fokus pada kinerja.”

Menurut Vinales, tolok ukur seorang pebalap adalah perolehan poin di setiap balapan. Oleh karenanya, ia tidak akan berusaha memancing atau terpancing situasi. Pengalamannya selama ini, yang tidak pernah terlibat pertikaian dengan rekan setim, menjadi modal Vinales untuk ‘berhadapan’ dengan Valentino Rossi.

“Saya bukan tipe pebalap yang gemar terlibat dalam pertikaian. Saya hanya akan mencoba untuk berbuat yang terbaik dan biarkan hasil
di hari Minggu jadi bukti.”
“Selama ini saya sering berganti kelas (dari Moto 3, Moto2, hingga MotoGP) dan juga memiliki rekan setim yang baru (sebelumnya ada di Suzuki). Dengan mereka semua (rekan setim yang terdahulu), saya memiliki hubungan yang sangat baik.”

Rabu, 28 Desember 2016

Penasaran Juara Dunia Superbike, Melandri Kembali dengan Ducati


Penasaran Juara Dunia Superbike, Melandri Kembali dengan Ducati
Marco Melandri saat debut dengan motor Ducati tim Arubat.it di pengujian akhir musim Superbike 2016 di Jerez. (Foto-twitter)
Marco Melandri sudah pernah jadi juara dunia kelas 250cc di Kejuaraan Dunia Balap GP Motor 2002. Tapi di Kejuaraan Dunia Balap Superbike (WSBK), cita-citanya menempati peringkat teratas di akhir musim masih belum kesampaian.

Setelah vakum selama dua musim WSBK, guna mengembangkan motor tim Aprilia di MotoGP pada setengah musim 2015. Melandri tak kuasa menahan ambisinya yang belum terealisasi di WSBK. Dia akhirnya menerima tawaran tim Aruba.it Racing untuk berlomba di Superbike 2017 buat menggantikan Davide Giugliano yang hengkang ke British Superbike (BSB).

Tim Aruba Racing diklaim beruntung mendapatkan jasa Melandri. Pasalnya, pembalap Italia itu kenyang pengalaman tidak hanya di MotoGP, tapi juga di Superbike. Karena pria 34 tahun tersebut pernah finis runner-up WSBK 2011 bersama Yamaha. Setahun kemudian dia finis peringkat ketiga akhir musim 2012 dengan BMW.

Total selama empat musim di arena Superbike, Melandri terjun di 100 lomba. Rapornya 19 kali meraih kemenangan, 49 podium, 1 pole, 12 lap tercepat. Walau belum pernah menunggangi Ducati Paginale R (versi balap Ducati 1199 Paginale) di arena Superbike. Melandri sudah punya pengalaman memacu Ducati Desmosedici GP8 (pada MotoGP 2008) yang tenaganya lebih liar ketimbang Paginale R.
Marco Melandri sedang merawat cederanya di bantalan lutut kaki kanannya. (Foto-twitter)
Karena itu, Melandri menatap optimistis perjalanan kariernya di Superbike 2017. Apalagi dia telah sukses menjalani operasi untuk memulihkan cedera meniskus pada lutut kaki kanannya. Perlu diketahui, Melandri mengalami cedera meniskus saat bermain sepak bola dalam pertandingan tribut untuk mengenang Doriano Romboni, pembalap Italia yang tewas karena kecelakaan saat latihan event Supermoto Day 2013 (edisi kedua Sic Day, mengenang mendiang Marco Simoncelli).

Operasi dilakukan oleh Profesor Catani di Polyclinic of Modena akhir November silam. Usai operasi, Melandri direncanakan akan memulai program rehabilitasi untuk persiapan tes pramusim di Jerez, Spanyol pada 24-25 Januari 2017. Sekedar informasi singkat, cedera meniskus adalah cedera pada bantalan sendi lutut yang berfungsi sebagai penahan benturan. Cedera ini sebagian besar disebabkan karena olahraga.

“Melihat dari sisi positif, mungkin saya beruntung karena mengalami cedera ini sekarang, ketika kejuaraan dan tes sudah berakhir. Lebih baik tidak beruntung sekarang, karena nantinya saya akan punya waktu untuk pemulihan,” papar Melandri seperti dilaporkan Motorsport.

Adapun, Melandri sendiri sudah menjajal memacu Ducati Paginale R di tes akhir musim Jerez 2016 dengan catatan waktu yang terbilang lumayan oke, karena dia tak tertinggal jauh dari rekan satu timnya, Chaz Davies. “Saya mengalami cedera ketika sedang berjalan masuk ke lapangan, ketika merasakan sakit di kaki. Lebih baik operasi sekarang sebelum cedera semakin parah. Saya sudah tidak sabar kembali mengendarai Panigale R,” tandasnya. 

Hadirnya Jorge Lorenzo Sempat Bikin Ducati Kelimpungan


Hadirnya Jorge Lorenzo Sempat Bikin Ducati Kelimpungan
Ducati mengaku sempat kesulitan menentukan siapa yang jadi tandem Jorge Lorenzo pada musim 2017. Foto/Istimewa

Bergabungnya Jorge Lorenzo bersama Ducati sempat melahirkan masalah baru. Pabrikan Italia itu pernah kebingungan memilih siapa yang harus dipertahankan untuk MotoGP musim 2017.

Musim 2016 jadi periode terakhir Lorenzo bersama Movistar Yamaha. Setelah menemani tim asal Jepang itu sejak 2008, Lorenzo selanjutnya akan membela Ducati pada musim depan. Ini pertama kalinya pembalap asal Spanyol itu pindah klub selama meramaikan MotoGP.

Namun, bergabungnya Lorenzo sempat menciptakan problem baru bagi Ducati. Mereka pernah kebingungan memilih siapa yang bakal jadi tandem Lorenzo. Saat itu, Ducati harus mengorbankan Andrea Dovizioso atau Andrea Iannone.

“Tidak pernah mudah jika Anda punya dua pembalap cepat di tim, dan harus memilih siapa yang perlu pergi. Ini tidak pernah mudah karena Andrea Dovizioso dan Andrea Iannone sudah lama bersama kami,” ucap direktur olahraga Ducati Paolo Ciabatti, dilansir autosport.

Kesulitan Ducati menentukan pasangan Lorenzo karena Dovizioso dan Iannone mencatat prestasi cukup bagus sepanjang 2016. Keduanya sama-sama pernah berdiri di podium pertama.

Iannone pamer kemampuan di sirkuit Red Bull Ring dengan memenangi GP Austria yang merupakan seri ke-10. Itu jadi sukses pertama rider asal Italia tersebut di MotoGP sejak menemani Ducati mulai 2013.

Namun, Dovizioso juga sukses membuat bendera Ducati berkibar lantaran merajai GP Malaysia. Itu juga jadi kemenangan pertama pembalap berkebangsaan Italia itu selama empat tahun membela Ducati. 

“Kami mengatakan ini akan jadi keputusan yang sulit. Tapi, dalam hidup, Anda harus berani mengambil keputusan yang sulit. Jadi, kami memutuskan Andrea Dovizioso yang bertahan,” tambah Ciabatti.

Setelah dipikirkan matang-matang, Ducati akhirnya melepas Iannone yang lalu bergabung dengan Suzuki Ecstar. Ducati memilih Dovizioso karena dinilai lebih pantas mengendarai Ducati Desmosedici GP17 bersama Lorenzo.

“Saya rasa Dovizioso dan Lorenzo akan jadi pasangan yang bagus. Tentu saja kami menyesal melepas Andrea Iannone karena dia menyumbang kemenangan pertama bagi kami sejak 2010.  Saya rasa Iannone akan sangat kompetitif bersama Suzuki. Artinya, dia bakal jadi pesaing terberat kami,” pungkas Ciabatti 

Capirossi, Melandri, dan Stoner Kuat, Tapi Rossi Paling Komplet


Capirossi, Melandri, dan Stoner Kuat, Tapi Rossi Paling Komplet
Carlos Checa di sebuah acara promosi helm sponsornya. (Foto/GPOne)
Lama tak muncul di hadapan publik. Carlos Checa kembali hadir dalam sebuah acara salah satu sponsor pribadinya di Italia. GPOne berkesempatan mewawancarai pria 44 tahun yang pernah berkompetisi selama 16 musim di Kejuaraan Dunia Balap GP Motor itu. Berikut petikan secuil wawancara dengan juara dunia Superbike 2011 bersama tim Althea Ducati tersebut.

Banyak orang bilang, Anda telah berkorban banyak selama berkarier di dunia balap hingga usia 43 tahun (di Superbike)?“Di awal karier, aku pergi ke trek dengan motorku di muat di van. Aku akan tidur di tenda, dan itu semua cukup sederhana. Aku punya harapan besar, dan aku mengakui bahwa aku akan berjuang untuk hidup seperti itu. Pada saat itu, aku mengalami semua hal yang sangat intens, aku jatuh, aku akan bangkit lagi, melanjutkan, dan punya keinginan kuat untuk melakukannya.”

Pada 2008 Anda pindah ke Superbike hingga 2013. Total Anda mengemas 222 balapan di GP Motor dan Superbike. Yang terindah tentunya juara dunia Superbike 2011 dengan Althea Ducati. Tanggapan Anda?“Memenangkan kejuaraan yang fantastis. Sangat mudah untuk mengingat kemenangan, tetapi mencapai hasil itu adalah proses yang panjang dan intens, dengan berbagai kesulitan, namun aku terus bekerja keras buat mencapainya. Selama karierku, aku telah belajar dari banyak orang, hampir semua orang sebenarnya. Aku telah mempertahankan hubungan baik dengan semua orang hingga sekarang di luar lintasan.”

Apakah Anda masih memacu motor atau lebih sering di luar lintasan?“Tidak, aku tidak memacu motor lagi di lintasan. Aku hanya melakukan beberapa tes untuk Ducati tahun ini. Aku juga duta Ducati dan Nolan, yang telah bersamaku di sepanjang karierku. Terkadang aku ikut reli mobil hanya buat bersenang-senang, serta berlomba enduro.”

Kapan Anda mau kembali ke lintasan motor?“Aku masih punya waktu untuk memutuskan, siapa tahu. Mungkin bagus untuk memiliki sebuah tim, untuk membantu pembalap pendatang baru. Meskipun aku tidak mau menyertakan ibu dan ayah mereka (sambil tertawa). Karena seorang pelatih dari sebuah tim selalu penting.”

Dalam kecelakaan hebat di Donington pada 1998, Anda pernah kehilangan penglihatan, hingga limpa Anda dicopot dan sempat mengalami stroke. Tapi setelah pulih, Anda kembali bersaing di lintasan. Siapa pembalap pesaing terhebat di masa Anda? Apakah Max Biaggi, Kenny Roberts, Alex Criville, Alex Barros, Garry Mc Coy, Mick Doohan, atau Sete Gibernau?“Banyak sekali pesaingku, sulit untuk mengatakan siapa yang paling hebat. Capirossi, Stoner, dan Melandri juga pembalap besar seperti mereka (di atas), dan semuanya juga kuat.”

“Ciri utama dari pembalap untuk menjadi besar adalah kekuatan mentalnya, serta kemampuan untuk menahan di saat dia tertekan. Pembalap itu juga harus menginginkan satu hal – untuk menang. Aku yakin bahwa rivalku yang paling komplet dan lengkap adalah Valentino Rossi.”

Jika Anda bisa memulai dari awal, apa yang akan Anda lakukan, atau apa yang akan Anda tidak akan ulangi?“Jika aku melihat ke belakang, aku akan mengatakan bahwa, jika aku bisa memulai, aku akan melakukannya lagi, tepat sampai hari ini.” 

Peduli Korban Kanker, Aleix Espargaro Adakan Lelang di eBay

BARCELONA - Sekali lagi, ada pelaku olahraga yang peduli dengan kesehatan dan berempati dengan sesama yang kurang beruntung. Hal itu dilakukan oleh salah satu pembalap gres tim Aprilia Racing Team Gresini di MotoGP 2017.

Ya, seperti dilaporkan Motorsport. Pembalap tim Aprilia MotoGP yang peduli dengan kesehatan ialah Aleix Espargaro. Rupanya dia telah melakukan sebuah lelang di internet demi kepentingan amal.

Nantinya hasil dari lelang ini, bakal disumbangkan oleh pembalap Spanyol itu untuk Institut Onkologi Catalan (ICO). Seperti diketahui, institut tersebut sehari-harinya memang khusus mempelajari penyakit dan pasien kanker. 
Kostum balap Aleix Espargaro yang dilelang untuk amal. (Foto-Istimewa)
Lantas apa yang dilelang oleh pembalap 27 tahun itu? Ternyata yang dilelang oleh Aleix adalah peralatan tempurnya di lintasan MotoGP bersama tim lawasnya, Suzuki Ecstar. Peralatan itu diantaranya kostum balap, sarung tangannya, plus sepatu balapnya.

Lelang ini rupanya telah dimulai sejak Senin (26/12/2016) dan dimulai dari harga jual 355 Euro. Hingga Rabu (28/12/2016), peralatan tempur Aleix sudah mencapai harga jual lebih dari 1000 Euro.

Petugas media perwakilan dari Aleix mengatakan: “Beberapa waktu lalu, seseorang menelepon Aleix dan mengusulkan kepadanya untuk melelang barang pribadinya dalam rangka untuk menyumbang ICO. Aleix menyambut ide yang dinilainya amat bagus tersebut dan memutuskan untuk menyumbangkan seekor kuda. Lantas orang yang sama, merupakan orang yang menaruh barang-barang Aleix untuk dilelang di eBay. Dan semua uang yang telah terkumpul, semuanya akan ditujukan langsung ke ICO.”

Adapun perlu diketahui, barang-barang pribadi Aleix yang dilelang belakangan. Merupakan kostum balap, sarung tangan, dan sepatu balap yang dia pakai bersama tim Suzuki Ecstar di lomba MotoGP Valencia 2015. 

Minggu, 20 November 2016

Ducati Larang Lorenzo Berkontroversi dengan Rossi, Ini Alasannya

Valencia - Ducati dikabarkan meminta Jorge Lorenzo menjauhi konfrontasi dengan pebalap Movistar Yamaha, Valentino Rossi, setidaknya secara verbal. Alasannya, sosok Rossi sangat populer di Italia sehingga bakal buruk bagi citra Ducati jika salah satu pebalapnya terlibat kontroversi dengan juara dunia sembilan kali tersebut. 
Seperti dilansir Diari Goal, Minggu (20/11/2016), permintaan tersebut sudah disampaikan langsung kepada Lorenzo meskipun kerja sama kedua pihak baru resmi dimulai pada awal 2017. Namun, Lorenzo sudah memulai petualangan dengan Ducati saat mengikuti tes MotoGP di Valencia, 15-16 November 2016. 
Seperti diketahui, Ducati merupakan tim yang berasal dari negara yang sama dengan Rossi, yaitu Italia. Ducati dan Rossi dikenal sebagai representasi Italia di ajang balap motor dunia. Tak heran, Ducati sangat memedulikan hubungan dengan Rossi. 
Menurut sumber Diari GoalJorge Lorenzo diizinkan berduel sesengit apapun dengan Rossi di lintasan. Juara dunia MotoGP 2015 itu juga boleh melakukan apapun untuk bisa mengalahkan The Doctor di lintasan. Namun, saat di luar lintasan Lorenzo diminta tak mengeluarkan komentar yang keras atau kontroversial menyangkut Rossi. Menurut Ducati, komentar miring atau kritik dari Lorenzo untuk Rossi tak bagus untuk citra tim di Italia. 
Rekomendasi itu diyakini menjadi alasan di balik komentar lunak Lorenzo saat ditanya soal insiden tendangan Valentino Rossi kepada seorang wanita pada sela-sela gelaran MotoGP Valencia, 12 November 2016. Menurut Lorenzo, kejadian di Cheste itu terjadi lantaran terlalu banyak fans di area paddock.
"Saya tak mengerti mengapa ada banyak orang di paddock. Mungkin Dorna bisa memberikan jawaban. Namun, di mata saya jumlah orang di paddock memang kebanyakan sehingga menyulitkan pebalap untuk bergerak," kata Jorge Lorenzo seperti dikutip dari elmundo.es, Sabtu (19/11/2016).

Kamis, 13 Oktober 2016

Dovizioso Catatkan Waktu Tercepat di FP1 MotoGP Jepang

Pembalap Ducati, Andrea Dovizioso, berhasil tampil sebagai yang tercepat pada sesi latihan bebas pertama (FP1) MotoGP Jepang di Sirkuit Motegi, Jumat 14 Oktober 2016.

Dovizioso sukses mengungguli duet Yamaha dan Honda pada sesi kali ini. Pembalap asal Italia itu sukses mencatatkan waktu 1 menit 45.786 detik. Kecepatan tertingginya mencapai 309 kilometer per jam.

Tepat di bawahnya, ada calon kuat juara dunia MotoGP musim ini, Marc Marquez. Pembalap Honda itu mencatatkan waktu selisih 0.245 detik dari Dovizioso.

Sementara itu, posisi ketiga dan keempat ditempati oleh Duo Yamaha, yakni Jorge Lorenzo dan Valentino Rossi. Keduanya masing-masing berselisih 0,395 detik dan 0.436 detik.

Hasil ini tidak bagus bagi Rossi. Untuk itu, dirinya harus segera memperbaiki performanya jika ingin menjaga peluang juara tetap terbuka.

Latihan bebas kedua akan digelar pada pukul 12.05 WIB.

Berikut hasil lengkap FP1 MotoGP Jepang:

1. Andrea Dovizioso    ITA    Ducati Team (Desmosedici GP)    1m    45.786s    [Lap 16/16]
2. Marc Marquez    ESP    Repsol Honda Team (RC213V)    1m    46.031s    +0.245s    [10/18]
3. Jorge Lorenzo    ESP    Movistar Yamaha MotoGP (YZR-M1)    1m    46.181s    +0.395s    [16/18]
4. Valentino Rossi    ITA    Movistar Yamaha MotoGP (YZR-M1)    1m    46.222s    +0.436s    [14/20]
5. Dani Pedrosa    ESP    Repsol Honda Team (RC213V)    1m    46.314s    +0.528s    [19/19]
6. Maverick Viñales    ESP    Team Suzuki Ecstar (GSX-RR)    1m    46.349s    +0.563s    [17/18]
7. Aleix Espargaro    ESP    Team Suzuki Ecstar (GSX-RR)    1m    46.406s    +0.620s    [14/15]  
8. Cal Crutchlow    GBR    LCR Honda (RC213V)    1m    46.590s    +0.804s    [6/17] 
9. Alvaro Bautista    ESP    Factory Aprilia Gresini (RS-GP)    1m    46.721s    +0.935s    [18/19]  
10. Hector Barbera    ESP    Ducati Team (Desmosedici GP)    1m    46.853s    +1.067s    [17/17]  
11. Pol Espargaro    ESP    Monster Yamaha Tech 3 (YZR-M1)    1m    46.998s    +1.212s    [5/16]  
12. Danilo Petrucci    ITA    Octo Pramac Yakhnich (Desmosedici GP15)    1m    47.125s    +1.339s    [13/19] 
13. Stefan Bradl    GER    Factory Aprilia Gresini (RS-GP)    1m    47.426s    +1.640s    [7/17]   
14. Scott Redding    GBR    Octo Pramac Yakhnich (Desmosedici GP15)    1m    47.641s    +1.855s    [18/18]  
15. Yonny Hernandez    COL    Aspar MotoGP Team (Desmosedici GP14.2)    1m    47.704s    +1.918s    [17/17]   
16. Jack Miller    AUS    Estrella Galicia 0,0 Marc VDS (RC213V)    1m    47.777s    +1.991s    [14/15]   
17. Eugene Laverty    IRL    Aspar MotoGP Team (Desmosedici GP14.2)    1m    47.988s    +2.202s    [8/16]   
18. Katsuyuki Nakasuga    JPN    Yamalube Yamaha Factory Racing (YZR-M1)    1m    48.058s    +2.272s    [9/17]  
19. Tito Rabat    ESP    Estrella Galicia 0,0 Marc VDS (RC213V)*    1m    48.409s    +2.623s    [19/23]   
20. Loris Baz    FRA    Avintia Racing (Desmosedici GP14.2)    1m    48.914s    +3.128s    [12/16] 
21. Bradley Smith    GBR    Monster Yamaha Tech 3 (YZR-M1)    1m    51.415s    +5.629s    [13/13]
0. Mike Jones    AUS    Avintia Racing (Desmosedici GP14.2)    1m    53.473s    +7.687s    [0/0]