Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 April 2017

Di Mana Letak Maqam Ibrahim AS Sebelum Dipindahkan?


Maqam Ibrahim adalah batu yang digunakan Nabi Ibrahim AS untuk berpijak sewaktu beliau membangun Ka’bah. Beberapa keutamaan Maqam Ibrahim yakni dijadikan tempat shalat, yaqut dari surga, dan tempat dikabulkannya doa.

Seperti dikutip dari buku Ensiklopedia Peradaban Islam (Makkah) karya Syafii Antonio, pada mulanya maqam ini menempel di dinding Ka'bah sebagai tempat berpijak Nabi ibrahim AS dalam meninggikan Ka'bah. Kemudian di zaman Khalifah Umar bin Khattab, maqam ini digeser mundur untuk memperluas orang yang melakukan thawaf.

Sosok Umar sendiri merupakan orang yang mesti diikuti sebagaimana Hadits Nabi Muhammad SAW, "Ikutilah dua sahabat setelah aku wafat, Abu Bakar dan Umar." Tidak ada seorangpun dari kalangan sahabat yang mengingkari pemindahan maqam tersebut.

Kotak Maqam Ibrahim terus mengalami perubahan. Mulanya, Maqam Ibrahim diletakkan di sebuah bangunan lemari perak yang di atasnya dibuat peti berukuran 6x3 meter. Luas kotak tersebut 18 meter. Bangunan ini memenuhi ruang tempat thawaf dan mempersulit jamaah yang melakukan thawaf.

Atas kesepakatan Rabitah Al-Alam Al-Islami(Organisasi Liga Umat Islam Dunia) pada 1387 Hijriyah, diubahlah menjadi kotak kaca kristal yang diliputi dengan besi di atas batu marmer berukuran 180x130 centimeter = 2,34 meter. Kemudian oleh pihak pemerintah, kotak tersebut dilapisi emas. Di luarnya dilapisi kaca bening setebal 10 centimeter yang tahan terhadap panas dan antipecah.

Saat ini jarak antara Maqam Ibrahim dengan sudut Ka'bah, dan Hajar Aswad = 14,5 meter. Jarak dengan Rukun Yamani = 14 meter, jarak dengan sudut saluran air = 13,25 meter.

Warna Maqam Ibrahim menyerupai warna perunggu, agak kehitam-hitaman. Cetakan kaki Nabi Ibrahim terbuat dari besi. Adapun rumah kaca sengaja dibuat untuk menghindari kerusakan prasasti jejak kaki Sang Pembangun Ka’bah, Nabi Ibrahim AS. Sama halnya dengan Hajar Aswad, posisi Maqam Ibrahim yang menempel di Ka’bah memiliki keistimewaan. Jika Hajar Aswad mengandung sunah penghormatan dengan cara mencium atau mengusapnya, Maqam Ibrahim dihormati dengan melakukan shalat sunah di belakangnya.

Saat musim haji, tentu bukan perkara mudah untuk bisa shalat sunah tepat di belakang Maqam Ibrahim. Selain dijaga petugas, ada larangan terhadap jamaah agar tidak berdoa di depan Maqam Ibrahim.

Alasannya, berdoa di depan Maqam Ibrahim dikhawatirkan mengandung penyembahan dan penghormatan yang berlebihan pada prasasti tersebut. Tidak heran kalau petugas di sana selalu menghalau jamaah yang terlihat berdoa di depan Maqam Ibrahim. Petugas biasanya memberi peringatan jika Maqam Ibrahim hanya sebatas untuk dilihat, bukan untuk disembah.

Jumat, 07 April 2017

Kisah Perempuan Perkasa, Nikah 100 Kali 99 Suaminya Tewas saat Malam Pertama


Bicara sejarah, Aceh tercatat memiliki banyak sekali wanita hebat dan perkasa, seperti Cut Nyak Dien dan Cut Mutia.

Ternyata masih ada satu wanita hebat lagi, yang tidak hanya mampu menumbangkan lelaki di medan perang, tapi menaklukkan para pria di atas ranjang.

Berdasarkan kajian sejarah, wanita tersebut bernama Putroe Neng.

Dalam sebuah novel karya Ayi Jufridar berjudul “Tatkala Malam Pertama Menjadi Malam Terakhir Bagi 99 Lelaki”, mengungkap kisah 100 lelaki yang pernah menjadi suaminya.

Nama asli Putroe Neng adalah Nian Nio Lian Khie, nama sebelum ia memeluk Islam dan menikah dengan Sultan Meurah Johan.

Putroe Neng seorang komandan perang wanita Negeri Tiongkok, berpangkat Jenderal dari China Buddha.

Meurah Johan, suami pertama Putroe Neng adalah seorang pangeran yang mengalahkan pasukan yang dipimpin oleh Putroe Neng di medan tempur.

Pada malam pertama, Meurah Johan tewas di atas ranjang dengan tubuh membiru akibat senjata yang dimiliki oleh Putroe Neng.

Kematian tragis suaminya tersebut jelas bukanlah kesengajaan, tapi akibat senjata berupa racun yang ditanam di kemaluan Putroe Neng oleh neneknya.

Maksud dari sang nenek adalah untuk antisipasi agar cucunya selamat dari korban keganasan perang seperti pemerkosaan.

Sejak kematian suami pertamanya itu, suami-suami berikutnya tidak pernah ada yang bisa melewatkan malam pertama.

Sebanyak 99 suami resminya, menjemput ajal di atas ranjang pengantin saat masih malam pertama.

Hingga datanglah seorang Syeikh Syiah Hudam meminangnya menjadi istri atau menjadi suami ke 100 bagi Putroe Neng.

Syiah Hudam berhasil mengeluarkan racun dari kemaluan Putroe Neng tanpa disadarinya.

Dan malam pertama pun bisa dilalui suami ke 100 Putroe dengan selamat.

Sayangnya, sampai ajal menjemput, Syiah dan Putroe tidak mempunyai keturunan.


Selasa, 14 Maret 2017

Aceh Mengalami Perang Melawan Belanda Nomor 4 Terlama di Dunia

SEPANJANG sejarah peradaban manusia, dunia diwarnai banyak peperangan yang disebabkan berbagai alasan. Sebagian perang merupakan konflik independen, sebagian lainnya adalah kelanjutan dari konflik terdahulu. Yang pasti, perang biasanya berlangsung cukup lama dan memakan banyak korban.
Berikut 10 perang yang memakan waktu paling lama dalam sejarah dunia dilansir historyandheadlines.com:

1. Perang 100 tahun
Durasi : 116 tahun (1337-1453)
Jumlah korban : Diperkirakan 3,5 juta orang

Perang dengan pemain utama adalah Inggris dan Prancis ini terbagi ke dalam tiga komponen utama. Salah satu bagian berlangsung selama 38 tahun yaitu Perang Lancastrian (1415-1453). Perang ini memperebutkan wilayah Inggris di Prancis dan kendali atas tahta Prancis.
Penguasa Inggris dan Prancis selama berabad-abad memiliki keterkaitan keluarga, sehingga klaim Inggris terhadap tahta Prancis tak jarang memiliki dasar kuat. Perang panjang ini berakhir dengan menyerahnya Inggris. Prancis, sang pemenang, merebut hampir semua wilayah Inggris di negeri itu.

2. Perang Yunani-Persia
Durasi : 50 tahun (499-449 SM)
Jumlah korban : Tidak diketahui

Perang ini sebenarnya terbagi atas tiga konflik selama periode 50 tahun, yang kemudian oleh para sejarawan digabung menjadi satu perang besar. Perang ini terjadi antara koalisi negara-negara kota Yunani yang dipimpin Athena dan Sparta melawan kekaisaran Persia yang saat itu adalah negara terbesar dan terkuat di dunia.
Perang dimulai dengan serangkaian revolusi Yunani di beberapa wilayah yang ditaklukkan Persia beberapa dekade sebelumnya. Revolusi ini disusul serbuan dalam skala besar oleh Persia yang kemudian dibalas oleh pasukan Yunani.
Setelah berbagai pertempuran selama 50 tahun, Yunani menjadi pemenang dengan keberhasilan menangkal serangan Persia dan merebut sejumlah wilayahnya yang diduduki Persia.

3. Perang Saudara Guatemala
Durasi : 36 tahun (1960-1996)
Jumlah korban : Diperkirakan 200.000 orang.

Pada 1954 kolonel angkatan darat berhaluan kanan Carlos Castillo Armas sukses menggulingkan pemerintahan kiri Guatemala yang terpilih secara demokratis. Kudeta Kolonel Armas itu sebenarnya dirancang dan didanai pemerintah AS lewat kemenlu dan dinas rahasia CIA.
Pada 1960, sekelompok perwira militer berhaluan kiri memimpin sebuah kudeta tetapi gagal menggulingkan pemerintah. Hasil dari pemberontakan gagal itu adalah perang saudara 36 tahun antara tentara Guatemala dengan berbagai faksi pemberontak kiri. Perang saudara baru berakhir setelah kesepakatan damai diteken kedua pihak pada 1996

4. Perang Aceh
Durasi : 31 tahun (1873-1904)
Jumlah korban : Diperkirakan 90.000 orang


Perang ini merupakan hasil dari upaya Belanda menguasai seluruh Hindia Belanda atau kini dikenal dengan nama Indonesia. Pada 1873, militer Belanda menyerang Kesultanan Aceh, sebuah negeri merdeka di ujung utara Sumatera.
Pada 1874, Belanda berhasil menguasai ibu kota Aceh, Kutaraja dan mendeklarasikan kemenangan dalam perang itu. Namun, Belanda meremehkan tekad bangsa Aceh yang terus berjuang menggunakan taktik perang gerilya yang menyeret Belanda dalam perang panjang selama 31 tahun.
Pada akhir 1890-an, Belanda yang frustrasi menggelar kampanye bumi hangus yang berujung pada kehancuran ratusan desa dan kematian ribuan warga Aceh. Pada 1903, Belanda sudah di ambang kemenangan tetapi sejumlah pertempuran masih terus berlangsung secara sporadis hingga 1914.

5. Perang 30 Tahun
Durasi : 30 tahun
Jumlah korban : Tidak diketahui
Pada 23 Mei 1618, sekelompok orang Protestan yang marah menyerbu istana kerajaan Bohemia di kota Praha, Cekoslovakia. Di sana mereka melemparkan tiga orang Katolik yang dipilih menjadi pemimpin keluar dari jendela setinggi 25 meter. Ajaibnya, ketiga orang itu lolos dari maut.
Insiden yang dikenal sebagai Pelemparan di Praha, memicu pemberontakan umat Protestan di seluruh negeri. Perang ini kemudian memicu konflik besar-besaran dan brutal antara negara-negara utama di Eropa.
Para pemain utama dalam perang ini adalah Kekaisaran Suci Roma, persatuan negara-negara Jerman, dan beberapa negara tetangganya yang bersekutu dengan Spanyol melawan Prancis, Swedia, dan Denmark.
Perang ini diakhiri dengan kekalahan koalisia Kekaisaran Roma Suci dan Spanyol yang kehilangan banyak wilayah dan pengaruh. Pemenang perang ini Prancis dan Swedia menjadi negara kuat Eropa.

6. Perang Mawar
Durasi : 30 tahun (1455-1485)
Jumlah korban : Diperkirakan 100.000 orang

Ini adalah perang memperebutkan hak atas tahta kerajaan Inggris yang melibatkan pendukung dua keluarga bangsawan. Kedua keluarga itu adalah Lancaster dengan simbol bunga mawar merah melawan Keluarga York yang memiliki lambang bunga mawar putih. Di akhir perang Keluarga Lancaster keluar sebagai pemenang.
Henry Tudor dari keluarga Lancaster akhirnya menyingkirkan pesaingnya Richard III dari keluarga York di Pertempuran Bosworth 1485. Setelah kemenangan itu Henry Tudor menjadi raja Inggris dengan gelar Henry III. Setahun kemudian dia menikahi Elizabeth of York untuk memperkuat posisinya.

7. Perang Peloponesia
Durasi : 27 tahun (431-404)
Jumlah korban : Tidak diketahui

Setelah negara-negara kota Yunani bersatu dan mengalahkan kekaisaran Persia yang perkasa, mereka kemudian kembali ke selera awal, yaitu saling memerangi. Dalam perang ini, Athena yang menjelma menjadi sebuah kekaisaran kuat memerangi Liga Peloponesia yang merupakan koalisi negara-negara kota musuh Athena.
Koalisi musuh-musuh Athena ini dipimpin negara kota yang menjadi pesaing utama Athena yaitu Sparta yang terletak di Semenanjung Peloponesia. Perang berkobar di seluruh wilayah selatan Yunani, hingga ke Turki dan Italia selatan.
Dalam perang ini terjadi pertempuran laut Aegopostami, di lepas pantai Laut Tengah Turki. Dalam pertempuran laut ini, Sparta mengalahkan Athena dengan menenggelamkan 150 kapal dan menewaskan 3.000 pelaut.

8. Perang Punic Pertama
Durasi : 23 tahun (264-241 SM)
Jumlah korban : Diperkirakan 250.000 orang

Ini adalah konflik pertama dari tiga perang antara negara kota Kartago (kini Tunisia) dan Republik Romawi memperebutkan jalur perdagangan di sekitar Laut Tengah. Perang Punic yang pertama adalah yang terpanjang dari ketiga konflik bersenjata dan terutama berlangsung untuk memperebutkan Pulau Sisilia.
Dalam salah satu pertempuran yang paling dikenang, di kota Panormus (kini Palermo), pasukan Romawi tak hanya membantai 20.000 orang prajurit Kartago dalam satu hari tetapi juga menangkap 100 ekor gajah perang. Perang ini berakhir pada 241 SM dengan Romawi keluar sebagai pemenang dan mengendalikan penuh Pulau Sisilia.

9. Perang Besar Utara
Durasi : 21 tahun (1700-1721)
Jumlah korban : Diperkirakan 300.000 orang

Dua negara utama yang berperang adalah Rusia di bawah kepemimpian Tsar Peter yang Agung melawan Kerajaan Swedia yang dipimpin Charles XII. Namun, beberapa negara terlibat dalam perang ini yaitu Denmark, Norwegia, Polandia, Lithuania, Kekaisaran Ottoman, dan Inggris Raya.
Rusia memenangkan perang ini dan hasil dari konflik tersebut mengubah perimbangan kekuatan di Eropa. Rusia kemudian mengubah namanya menjadi Kekaisaran Rusia dengan Peter yang Agung sebagai kaisar pertama.

10. Perang Vietnam
Durasi : 19 tahun (1955-1975)
Jumlah korban : Diperkirakan 2,4 juta orang

Meski tidak ada deklarasi resmi, Perang Vietnam dimulai pada 1 November 1955, ketika AS menyediakan bantuan militer terhadap negeri baru Vietnam Selatan. Saat itu Vietnam Selatan sedang berjuang menghadapi negeri tetangganya Vietnam Utara yang didukung dua negeri komunis China dan Uni Soviet.
Namun, pertempuran besar baru benar-benar terjadi pada 1963 ketika keterlibatan AS di Vietnam ditingkatkan pertama oleh Presiden John F Kennedy lalu Presiden Lyndon B Johnson.
Perang itu secara resmi berakhir pada 30 April 1975 ketika personel militer AS terakhir meninggalkan Saigon (Ho Chi Mihn City) dan Vietnm Utara menyatukan kedua negara itu menjadi Republik Sosialis Vietnam.

Rabu, 08 Maret 2017

Ternyata Bireuen Kota Sejarah Perjuangan Sekarang Dikenal Kota Juang

BIREUEN SEBAGAI KOTA SEJARAH PERJUANGAN

Bireuen  merupakan daerah yang terletak di Kerajaan Jeumpa, pusat Kerajaan Jeumpa letaknya di Blang Seupeung, kira-kira letaknya 7 km arah barat daya Ibukota Bireuen. Secara geografis kerajaan Jeumpa wilayahnya batas pinggir krueng Peudada di sebelah barat sampai Krueng Peusangan sebelah timur. Menurut cacatan sejarah tahun 1511 M. sebelum Belanda masuk ke wilayah Aceh Kerajaan Jeumpa sudah ada semejak Protugis berada di Aceh dan Malaka. Sehingga Bireuen di beri nama Ibukota Kecamatan Jeumpa disaat  Tahun Dua Ribu  yang lalu.

            Bireuen berasal dari bahasa Arab yaitu Birrun artinya kebajikan jadi Bireuen itu bukanlah asal kata Bireuweueng (memberi ruang atau celah) tetapi Birrun itulah asal kota bireuen sekarang. Dulu Bireuen namanya Cot Hagu,kemudian Bireuen di juluki sebagai kota Perjuangan. Perjalanan sejarah telah membuktikan di zaman revolusi 1945 kemiliteran Aceh pernah di pusatkan di Bireuen yaitu berada di Juli Keudee Dua di bawah Komando Panglima di visi X Kolonel Hussein Jousoef. Di pilihnya Bireuen Pusat kemiliteran Aceh,lantara Bireuen Letaknya sangat strategis dalam mengatur srategi Aceh untuk memblok kade serangan Belanda yang telah mengusai Medan Area ( Sumut),pada saat tersebut seluruh Rakyat Aceh kumpul di Bireuen untuk berjuang mengusir Penjajah  Belanda di bawah pimpinan colonell Hussein Jousoef sampai bertempur ke Medan Area melalui di visi x  tersebut Belanda hengkan dari bumi Aceh.

 Pada saat  agresi ke II ,disaat itu pejuang-pejuang Bireuen bertempur di Medan Pertempuran dalam membela NKRI yang kita cintai.Itulah Perjuangan Rakyat Bireuen dalam memperjuangkan kemerdekaan  pada saat melawan Belanda.

Perang Krueng Panjoe, menurut sejarah dalam merebut kemerdekaan RI rakyat Krueng Panjoe sempat menghadang kereta api yang tiba dari arah timur menuju Kuta Raja (Banda aceh) sekarang. Pejuang telah mengatur strategi merusakkan rel  (memotong rel kereta api) dengan sendirinya kereta api terhenti saat itulah kesempatan pejuang (Rakyat) menusuk, menikam musuh satu persatu sehingga terjadi penyerangan luar biasa, pasukan Belanda gagal menuju Kuta Raja dalam pertempuran tersebut kedua pihak menjadi korban, menurut cacatan sejarah.

Kemudian Perang Pandrah dalam melawan Agresi Belanda rakyat Pandrah Mengorbankan semangat juang dalam mempertahankan NKRI dimana subuh pagi serdadu Belanda saat mendarat tepatnya di Ujoeng Kareueng di situlah pertempuran sangat sengit dengan serdadu Belanda. Saat pertempuran puluhan  pejuang mati syahid sehingga darah pejuang  mengalir di Krueng Pandrah. begitu juga serdadu Belanda banyak yang tewas darahnya tercecer di pinggir jalan, sejarah Perang Pandrah dalam mempertahankan NKRI. Membuktikan sejarah dibuat lambang ditengah-tengah Kota Bireuen yaitu Tugu Perjuangan Rakyat Bireuen dari Batee Iliek (Samalanga) sampai Krueng Panjoe GandaPura.

Pada saat melawan serdadu Belanda, Tugu tersebut sekarang telah mengalami renofasi (perubahan).

Peristiwa DI/TII, menurut sejarah tepatnya tanggal 20 September 1953 Bireuen telah dikepung oleh Tentara DI/TII dibawah pimpinan Abdul Hamidmarkas (Batalion) DI/TII di Juli Keude Dua, dengan bersatunya DI/TII dalam NKRI maka pemerintah membuat lambang sebuah TuguBatee Kureeng”  yang disandingkan dengan tugu perjuangan.

Bireuen penuh dengan fonomena sejarah perjuangan sehingga pada tahun 1987 Letjen Purn Bustanil Arifin sebagai Menteri Koperasi (Kabulog) di saksikan oleh para tokoh pejuang Angkatan 1945 Bireuen mengukuhkan kembali julukan Kota Perjuangan (Kota Juang) Bireuen. Di halaman Pendopo Bupati sekarang sejarah paling berkesan menorehkan :”Sebuah semboyan di batu besar gemilang datang pada mu bila tekad kukuh berpadu”


Bireuen menuju cita-cita.

Bireuen sebagai kota kenangan sejarah kemerdekaan NKRI Bisa dikenang sampai anak cucu

Menurut cacatan sejarah, banyak  Rakyat Aceh (masyarakat Bireuen) saat bertempur melawan para penjajah banyak yang gugur di Medan Perang pertempuran begitu juga pihak lawan saat itu. Yang  memberi makna “Hudep Saree Mate Syahit” pada saat agresi ke dua wilayah Bireuen miliki kekuatan militer yang sagat tangguh melalui di visi x pimpinan Kolonel Husein Jusoef. Belanda hengkan dari Aceh melalui Radio Rimba Raya telah berhasil memblok kade siaran bohong radio Belanda bahwa Indonesia sudah di kuasai lagi oleh  Belanda  pada tahun 1948 pada saat tersebut Indonesia lumpuh total cuman  tinggal sedaun kelor ,tempatnya di ujung pulau Sumatra Aceh ( Bireuen ) melalui radio Rimba Raya tersebut telah menyakinkan dunia internasional bahwa Indonesia masih ada,sehingga Radio rimba raya yang mengudara   enam bahasa yang di siarkan: Indonesia,inggris,Belanda,Cina,Urdu dan Arab  yang di tangkap jelas Radio semenanjung Melayu Vietnam, Filipina, India dan Eropa,

bahwa Indonesia masih utuh. dari Radio Rimba Raya sangat berjasa bagi Republik Indonesia yang di pimpin oleh Kolonel Hussein Joesof


Makanya Bireuen kota yang tidak bisa di lupakan sepanjang sejarah  memperjuangkan  NKRI kemudia pada tanggal 18 Juni 1948 presiden Soekarno datang Ke Bireuen dalam rangka kunjungan kerja ke Bireuen dengan pesawat khusus Dakoda yang di pilot Teuku Iskandar. Pesawat itu mendarat di lapangan Cot Gapu, Soekarno di sambut oleh para tokoh-tokoh Aceh dan masyarakat diantaranya Gubernur Militer Aceh Langkat dan Tanah Karo Teungku Daud Bereueh  ,Panglima Divisi X, Kolonel Hussein Joeosoef, para perwira militer Divisi X, alim ulama dan seluruh Rakyat Bireuen  sangat antusias dalam memperjuangkan NKRI sehingga  Soekarno sempat  berpidato di hadapan masyarakat Bireuen bahwa Belanda telah menguasai lagi Indonesia dan ibukota RI ke dua jatuh ke tangan Belanda pada tahun 1948, dalam pidatonya Soekarno membakar semangat juang rakyat Bireuen sehingga Soekarno menyatakan aceh sebagai daerah modal  bagi Republik Indonesia . karna Aceh tidak dapat di kuasai (di taklukan) oleh Belanda. Pada saat itu ibukota RI ke II Yogjakarta  sudah di kuasai  Belanda makanya Bireuen sempat menjadi ibukota RI ke III selama sepekan, percaya tidak percaya Bireuen pernah menjadi ibukota RI ke III. Itulah momen yang tidak pernah bisa kita lupakan dalam sejarah, walaupun Bireuen tidak kemana-mana tetepi sejarah Bireuen ada di mana-mana.   


Jauh sebelum Indonesia merdeka Bireuen sudah duluan lebih maju terutama sekali di Bidang Pendidikan Bireuen memiliki Perguruan Islam yaitu normal Islam letaknya di Juli Cot Meurak dan Almuslim Peusangan. banyak pelajar Aceh dan Luar Aceh yang menuntut Ilmu di Bireuen


Kemudian di awal ke merdekaan sekedar di ketahui Bireuen memiliki Akdemi Militer milik di visi X yang berkedudukanJuli Keude Dua para Alumni Akedemi Militer di Juli antara lainLetjen Purn Bustanil Arifin( sesupuh masyarakat Aceh), Mayjen Purn T Hamzah Bendahara,Kolonel M Syah AsyekMayor Abdullah YakobMayor Purn M Yusuf Ahmad Alias Yusuf Tank  dan lain-lain. Kemudian di era  tahun 1970- an  di Bireuen pernah berdiri Fakultas Hukum yang belum ada di daerah kabupaten lain di Aceh,kecuali Banda Aceh. Itulah makanya Bireuen di gelar kota pendidikan di bidang Seni Budaya Bireuen tidak  pernah ketinggalan sangat populer terutama sekali Seudati Tunang antara lain Syeh Rasyid dan Syeh Lah Geunta, malah Syeh  Lah  Geunta  pernah tampil di luar negeri di era 80-an.

Di era  70-an Sandiwara Sinar Jeumpa Geulanggang Labu Bireuen  pernah popular juga. Di seluruh Siantoro Aceh yang di bawah Pimpinan H Abdullah Banson di era tahun yang sama , selain itu Bireuen di gelar sebagai Kota Industri antara lain di Bireuen pernah berdiriPabrik Korek Api, Pabrik Kawat Duri , dan Pabrik Paku tempatnya di Cot Gapu Bireuen, pada saat itu banyak tenaga kerja yang di pekerjakan pada pabrik tersebut sehingga peningkatan ekonomi  masyarakat lebih baik. Bireuen lebih maju di segala segi di era tahun 70-an di bandingkan daerah lain di Aceh. Bireuen pada saat itu masih Ibukota kewedanaan di bawah Kabupaten Aceh Utara. Setelah Tahun 70-an Bireuen berubah menjadi  Ibukota Perwakilan Aceh Utara yang di pimpin oleh Mayor Abdullah Yakob Merangkap Bupati Aceh Utara. Beberapa tahun kemudian Bireuen menjadi Ibukota pembantu Bupati sampai Tahun 1999 Bireuen di pimpin oleh Abdullah Is dan pada tanggal 12 Oktober 1999Bireuen resmi menjadi Ibukota Kabupaten yang di cetuskan oleh tokoh-tokoh masyarakat Bireuen antara lain H Hamdani Raden Habet Bransyah, Sofyan Ali,H.Subarni dll.

Penjabat Bupati Pertama yaituH.Hamdani Raden kemudian tahun 2002  di pimpin oleh Drs.H.Mustafa A.Glangggang tahun 2008 di pimpin oleh Drs. H.Nurdin Abdul Rahmankemudian tahun 2012 sampai sekarang Bireuen di pimpin olehH.Ruslan M DaudHarus Muda). Dengan Semboyan  “Zaman boleh berganti,tetapi sejarah Bireuen harus di kenang kembali”


Melalui Bupati H Ruslan M daud ( Harus Muda ) masyarakat Bireuen bisa menggantungkan harapan agar beliau, bisa membangkitkan perekonomian masyarakat dengan menciptakan lapangan kerja agar Rakyat Bireuen lebih makmur dan Kota Bireuen lebih maju seperti Di era tahun 70-an.

Demikian sejarah singkat Bireuen semoga Bireuen menjadi awal contoh kebaikan bagi Aceh

Jumat, 03 Maret 2017

Lawatan Raja Salman Yang Melupakan Seuramoe Mekkah

Kunjungan Raja Salman ke Indonesia sepertinya melupakan rakyat Aceh, bukan berarti menghilangkan sejarah jejak Aceh untuk Arab Saudi, mungkin saja kerajaan Arab Saudi sekarang menganggap Indonesia bagian dari Aceh atau sebaliknya Aceh bagian dari Indonesia, jadi tak heran jika Aceh sama sekali tak disebut oleh orang nomor satu di Arab Saudi itu.

Dikutip dari serambinews.com, Lawatan Raja Salman bin Abdul Aziz Alsaud ke Indonesia memantik kehebohan luar biasa. Selama sepekan terakhir, media cetak, online, dan elektronik, tak pernah absen mengabarkan, sejak rencana dan persiapan penyambutan hingga saat-saat Sang Khadimul Haramain (penjaga dua Kota Suci) itu berada di Indonesia.

Kemarin, Raja Salman tiba di Indonesia melalui Bandara Halim Perdana Kusuma setelah menempuh penerbangan dari Malaysia. Raja dan sejumlah delegasi disambut oleh Presiden RI, Joko Widodo. Sejumlah pejabat ikut hadir mendampingi hingga melaksanakan pertemuan penting ke Istana Bogor.

Ini merupakan kedatangan pertama Raja Arab Saudi ke Indonesia, setelah lawatan Raja Faisal bin Abdul Aziz Alsaud, 47 tahun silam.

Publik dibuat heboh dengan kedatangan Raja Salman. Pasalnya ia turut membawa sejumlah peralatan mewah dan memboyong rombongan ‘super jumbo’ sebanyak 1.500 orang. Bahkan, untuk liburan di Bali, Raja Salman menyewa empat hotel bertarif ribua Dollar AS dan menyewa mobil mewah lebih kurang 350 unit.

Selain liburan ke Bali, ada beberapa agenda penting yang akan dilakukan Raja Salman selama berada di Indonesia sejak 1-9 Maret. Agenda politik untuk mempererat hubungan bilateral Indonesia dan Arab Saudi, salah satu alasan Raja Salman bertandang ke Indonesia. Selain itu, Raja Salman disebut-sebut tertarik untuk berinvestasi di Indonesia. Dua provinsi yang disasar raja ketujuh Arab Saudi ini adalah, Sumatera Barat dan Bangka Belitung.

Ini mungkin jadi tamparan keras dan pelajaran berharga bagi Aceh. Soalnya, Aceh yang selama ini cukup gencar mempromosikan wisata halal,

menerapkan syariat Islam, justru tak memikat hati Sang Raja. Walau hal tersebut bukan indikator, namun setidaknya Pemerintah Aceh harus berpikir dua kali, mengapa Aceh--yang cukup kental keislamannya--tak memantik minat Raja Salman untuk datang atau minimal meliriknya.

Guru Besar Universitas Negeri (UIN) Ar-Raniry, Prof Dr Tgk H Muslim Ibrahim MA yang ditanyai Serambi mengatakan, sebenarnya berharap Raja Salman juga datang ke Aceh. Namun ia tahu, lawatan Raja Salman ke Indonesia sudah diatur sejak beberapa waktu lalu dengan agenda-agenda yang lebih penting antara Indonesia dan Arab Saudi.

“Terutama sekali memang hubungan kita sesama Islam kan, apalagi bisa dikaitkan untuk mendapatkan kuota haji tambahan. Orang Saudi kan kaya-kaya, ya setidaknya kita berharap (mereka) membantu proyek-proyek yang monumental di Aceh untuk kejayaan masa depan,” kata Muslim Ibrahim.

Ditanya apa penyebab Raja Salman tak datang atau melirik Aceh sedikit pun dalam lawatannya ke Indonesia, Prof Muslim Ibrahim tak mau menyangka-nyangka dan tak mau menduga-duga. Namun, ia berharap kepada Pemerintah Aceh, untuk memanfaatkan momentum kunjungan Raja Salman ke Indonesia. “Iya, seharusnya kita harus pintar sekali menjaga momen, memperhatikan peluang dan kesempatan. Kadang-kadang peluang itu tidak dengan mudah kita peroleh, harus ada usaha terlebih dulu, jadi semua pemimpin kita ini hendaknya cepat tanggap dengan situasi seperti ini,” sebutnya.

Meski Raja Salman tak sampai ke Aceh, Muslim Ibrahim berharap ada rombongan atau delegasi yang datang ke Aceh selama Raja Salman berada di Indonesia. Dari 1.500 orang yang datang ke Indonesia, Muslim berharap minimal ada dua orang yang datang ke Aceh untuk menjalin hubungan dengan Pemerintah Aceh. “Dari 1.500 semoga ada yang datang, dan mudah-mudahan di masa yang akan datang, beliau akan datang khusus ke Aceh, siapa tahu kehendak Allah,” sebutnya.

Sementara itu, Direktur Aliansi OKI Aceh, Muqni Affan Abdullah, mengatakan, memang agak mustahil Raja Salman datang ke Aceh, mengingat ada beberapa kendala seperti minimnya fasilitas dan sebagainya. Kalau untuk berwisata atau berlibur, kata Muqni, Bali memang lebih pantas didatangi Raja Salman dan rombongan. “Kita (Aceh) mungkin tidak sanggup menyambut tamu sebanyak itu,” sebutnya.

Ia mengatakan, kedatangan Raja Salman ke Indonesia memang dalam rangka agenda untuk mempererat hubungan bilateral kedua negara. Ia juga tak menampik, selama rencana kunjungan Raja Salman, nama Aceh memang tak pernah disebut oleh delegasi Arab Saudi, dibandingkan dengan Sumatera Barat dan Bangka Belitung.

Pun demikian, Muqni menyebutkan, Aceh tak perlu berkecil hati, Pemerintah Aceh nantinya harus pandai memanfaatkan momentum kunjungan ini. “Gubernur kita harus proaktif, pasti hari ini ada banyak perjanjian yang dilakukan, jadi kita harus dapat turunan-turunan perjanjian tersebut. Selama ini banyak bantuan yang terus mengalir ke Aceh, salah satunya menghajikan ratusan anak yatim,” pungkas Muqni Affan.

Selasa, 28 Februari 2017

Karena Aceh Syarat Indonesia Merdeka, Terus Mengapa Ingin Memisahkan Diri Lagi? Ini Jawabannya

Kekecewaan Aceh terhadap Pemerintah Pusat bukan saja terjadi pada perlawanan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tapi juga terjadi pada Pemberontakan DI-TII. Ada perjanjian Lamteh masa DI-TII yang hanya di atas kertas saja tanpa implementasi.

Kegigihan rakyat Aceh dalam menentang penjajahan sejak 1873 dengan Belanda sudah diakui dunia.

“Aceh menjadi daerah modal bagi Indonesia, bukan karena pesawat tapi Aceh membantu dengan tentaranya mengusir Belanda,” kata Wali Nanggroe Aceh, Paduka yang Mulia Malik Mahmud Al Hayta dalam seminar nasional Satu Dekade Perdamaian Aceh di Gedung AAC Dayan Dawod, Selasa (20/10/2015).

Malik Mahmud mengharapkan agar mahasiswa tidak lupa pada sejarah Aceh. “Kita harus mengenal diri kita sendiri sebagai orang Aceh. Bagaimana Aceh dalam Indonesia,” terang Wali Nanggroe dihadapan ratusan mahasiswa.

Kita punya perbedaan politik dengan Indonesia. Sudah 1200 tahun Aceh sebagai bangsa yang bermartabat. Penjajahan pertama sekali dengan Portugis saat menguasai malaka, tapi Aceh menentang dan Portugis tidak dapat berkembang.

Sejak itu Aceh memiliki hubungan dengan Kerajaan Turki Utsmaniyah yang merupakan kerajaan di Eropa terbesar saat itu.

Portugis tidak bisa mengalahkan Aceh dan kemudian datanglah Belanda, Inggris, Perancis dan Spanyol. Negara eropa itu datang untuk menguasai Asia Tenggara. Disitulah terjadi pertentangan Politik. Aceh Memainkan perannya dengan bersekutu dengan Inggris. “Kita punya hubungan dengan Inggris untuk menghadang Belanda,” kata Malik Mahmud.

Saat itu Indonesia dikuasai Belanda. Hanya Aceh yang masih merdeka. Lalu kemudian pada 28 Maret 1873, Belanda menyatakan perang dengan Kerajaan Aceh. Terjadilah perang selama 70 tahun sampai 1941 yang akhirnya Belanda dapat diusir dari Aceh.

Kemudian masuk Jepang. Menurut Wali Nanggroe Aceh, Negara Jepang hanya 3,5 tahun menguasai Aceh. Lalu terjadi Perang Dunia ke II, Bom Atom menghancurkan Kota Hiroshima. Waktu itu terjadi Perang Cumbok di Aceh yang menghayat hati karena perang saudara.

Kemudian Belanda ingin mencoba lagi menjajah Aceh tapi tidak berhasil. Waktu itu Aceh menjadi daerah integral Indonesia. Aceh membantu Indonesia berdiri. Kita sumbang pesawat terbang, bantuan tentara dengan senjata rampasan dari Jepang. Belanda tidak dapat mendarat di Aceh.

Setelah Indonesia jatuh ke Belanda, Aceh adalah bangsa yang tetap merdeka dengan Bendera Merah Putih tetap berkibar. Aceh menjadi daerah modal bagi Indonesia.

Disegi politik International, Aceh memberi kekuatan yang luar biasa kepada berdirinya Indonesia. Tapi sayang sekali, sesudah Indonesia merdeka, Pemerintah Pusat menempatkan Aceh di bagian Sumatera Timur. “Aceh merasa kecewa karena tidak diberi daerah istimewa,” terang Malik Mahmud.

Saat itu Indonesia baru berdiri. Kemudian di Aceh muncul perlawanan melalui Pemberontakan DI-TII pada 1953 sampai 1963. Lahirlah yang namanya Perjanjian Lamteh. “Sayangnya perjanjian itu hanya surat tidak diimplementasikan,” ujar Wali Nanggroe saat menjadi nara sumber dalam Seminar Nasional itu.

Aceh merasa kecewa walaupun dalam perjanjian Lamteh juga mengharapkan daerah Istimewa. Sesudah itu muncullah Gerakan Aceh Merdeka (GAM) karena kami kecewa dengan Pemerintah Pusat. Terjadilah konflik selama 30 tahun dengan GAM.

Tapi dengan adanya pertukaran pimpinan pemerintahan terjadilah berbagai perundingan-perundingan antara RI dan GAM.

Malik Mahmud mengatakan pada tahun 2000 ada Jeda Kemanusiaan bersama Hasan Wirajuda. Kita mendapat persetujuan Jeda Kemanusiaan tapi sayang konflik di lapangan masih terus terjadi sehingga perjanjian itu rusak.
Kemudian ada CoHA di Jepang juga gagal karena konflik di lapangan terus memuncak.

Pertukaran Presiden RI pada tahun 2004 mulai mendapatkan titik terang. Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama Jusuf Kalla sangat ingin agar konflik Aceh segera berakhir.

Akhir tahun 2004, Aceh diporak-porandakan oleh gempa dan gelombang tsunami. Kata Malik Mahmud, Negara Amerika Serikat, Jepang sangat giat meminta agar konflik bersenjata di Aceh selesai.

“Kami menyatakan perundingan di Helsinki yang dimediasi oleh Presiden Finlandia, Marty Ahtisaari. Dalam lima kali pertemuan dan akhirnya kita setuju penandatanganan MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005,” ungkap Malik.

Seterusnya Aceh telah aman dan telah dibentuk AMM untuk mengawal proses perdamaian ini. Kemudian tahun 2006 lahirlah Undang-Undang Nomor 11 Tentang Pemerintah Aceh. Selanjutnya sebagian telah diimplementasikan dalam Peraturan Presiden, Keputusan Presiden dan Qanun Aceh yang menjadi hukum positif antara hukum di Indonesia untuk kondisi Aceh kedepan.

Kemudian Perdamaian Aceh ini menjadi contoh bagi negara-negara lain didunia. Wali Nanggroe menyebutkan Colombia, Thailand dan Philiphina yang pernah datang ke Aceh menanyakan bagaimana menyelesaikan konflik bersenjata.

Minggu, 20 November 2016

Leluhur Amerika Pun Sadar Bahaya Yahudi

Pada 1789 M, Benyamin Franklin (1706-1790) berpidato ketika membuat undang-undang negara Amerika Serikat. Ia dengan tegas menyatakan:
“Di sana terdapat bahaya sangat besar yang mengancam negara-negara bagian di Amerika Serikat, yaitu bahaya Yahudi. Saudara-saudara! Mereka selalu melenyapkan nilai-nilai moral dan merusak jaminan perdagangan di setiap bumi yang diduduki Yahudi. Mereka selalu memisahkan diri (eksklusif) dengan bangsa lain. Karena ulah mereka, maka kezaliman dan penindasan dalam bekerja yang menimpa masyarakat (bangsa-bangsa), terutama yang berkaitan dengan soal materi dan harta muncul di mana-mana, seperti apa yang terjadi sekarang di Portugal dan Spanyol.
Sejak lebih dari 1700 tahun, mereka (orang-orang Yahudi) meratapi nasibnya yang malang. Yang mereka maksudkan ialah keterusiran mereka dari negeri-negeri bapak moyang mereka. Namun, saudara-saudara, jika negara Palestina itu diberikan kepada mereka sekarang ini, maka mereka tak akan pernah tinggal diam untuk mencari langkah-langkah yang akan menyebabkan mereka tidak dapat kembali kepadanya. Mengapa? Karena mereka adalah parasit-parasit yang tidak bisa hidup sebagian mereka atas sebagian yang lain. Mereka mesti hidup di tengah-tengah umat Masehi (Nasrani) dan bangsa-bangsa lainnya yang tidak digolongkan kepada etnik mereka.
Jika mereka tidak disingkirkan dari Amerika Serikat (dengan teks undang-undangnya), maka pada perjalanan 100 tahun arus mereka akan terus menderas di Amerika Serikat sampai menguasai dan menghancurkan bangsa kita serta mengubah bentuk hukum yang telah kita pertahankan dengan pengorbanan darah dan kemerdekaan kita.
Barangkali apabila mereka dibiarkan hidup bebas di Amerika, tidak sampai 200 tahun nasib anak cucu kita akan menjadi buruh yang bekerja di ladang-ladang milik Yahudi dan terus menerus memberi makan bangsa Yahudi, sementara orang-orang Yahudi itu ongkang-ongkang kaki di lumbung-lumbung hartanya dengan penuh kegirangan.
Wahai saudara-saudara! Sesungguhnya saya peringatkan, jika kalian tidak menyingkirkan bangsa Yahudi sampai habis tak tersisa, maka niscaya anak cucumu akan mengutukmu di kuburmu. Sesungguhnya Yahudi tidak akan pernah menghormati nilai-nilai luhur kita, kendati pun mereka hidup di tengah-tengah kita sampai 10 generasi. Karena “seekor serigala” tidak akan pernah dapat mengganti kulitnya yang belang.
Sesungguhnya Yahudi itu berbahaya bagi negeri ini. Jika mereka diperbolehkan masuk, mereka akan menguasai lembaga-lembaga dan perusahaan-perusahaan kita. Karena itu, mereka harus disingkirkan dengan teks undang-undang."