Jumat, 07 April 2017
Mencoba Peruntungan Melalui Jasa Angkutan Boat di Krueng Tingkeum
Selasa, 28 Maret 2017
Pemkab Bireuen Segera Bangun Dermaga Darurat di Krueng Tingkeum
Dermaga tersebut dapat dimanfaatkan untuk pendaratan atau merapatnya boat-boat tradisional, alat penyeberangan anak sekolah dan masyarakat di kawasan jembatan Krueng Tingkeum, Kutablang.
Kadis Sosial Bireuen, Murdani, Selasa (28/3/2017) menjelaskan, dermaga itu diharapkan dapat dimanfatkan dan memudahkan naik turunnya para penumpang, terutama anak-anak.
“Kita akan mengupayakan membangun dermaga di dua titik bantalan sungai, baik arah barat maupun arah timur dan berdekatan dengan jembatan Krueng Tiungkeum,” katanya usai menyerahkan satu unit speedboat kepada Camat Kutablang, Rusli.
Tujuan dibangunya dermaga darurat ini, tambah Murdani, sebagai bentuk kerjasama dengan para pengelola boat di Krueng Tingkeum.
“Bahkan pengelola boat di sana juga akan menggratiskan ongkos angkutan bagi anak sekolah yang bereda di kawasan itu,” katanya.
Sementara untuk penumpang umum, atau masyarakat biasa tetap boleh dipungut ongkos biaya sekadarnya, untuk kebutuhan operasional sebesar Rp 3000 per orang.
Baca juga: Jembatan Kutablang Bireuen Hampir Rampung Dibongkar
“Agar dapat menjaga keselamatan angkutan sungai ini, bagi pemilik boat di Krueng Tingkeum juga tetap akan kita membekali dengan memberikan baju pelampung,” kata Murdani.
Selasa, 21 Maret 2017
Diduga PT Takabeya Kerjakan Jalan Alternatif Sebelah Barat Utara Asal Jadi
Bireuen - Setelah jembatan penghubung Banda Aceh Medan ini di bongkar sejumlah kendaraan roda dua maupun roda empat dialihakan ke jalan aternatif sesuai dengan hasil rapat para unsur forkopimda kebupaten Bireuen beberapa waktu yang lalu, Selasa (21/03).
"M.nasir (40) warga gampong rancong kecamatan kutablang mungunggkapkan kekecewan terhadap kenerja kontraktor yang dinilai pekerjaan proyek pengerasan jalam alternatif, yang saat pengerjaan nya dinilai asal jadi, menurutnya ini sangat merugikan para pengguna jalan tersebut.
Menurutnya, Proyek yang dikerjakan dengan anggaran puluhan milyaran tersebut terkesan pengerjaannya asal jadi, yang dikerjakan oleh PT. Takabeya.
Tambahnya, jalan yang saat ini digunakan untuk melintas itu belum lama digunakan. Dan di jalan yang baru digunakan ini sudah banyak menelan korban, yang diakibatkan oleh badan jalan sudah mereng dan juga banyak yang sudah berlumbang ini dikarnakan faktor pengerjaan nya asal jadi.
Padahal jalan tersebut sudah menghubakan anggaran puluhan milyar ini sungguh sangat disayangkan karena belum bisa digunakan secara efektif oleh para pengguna jalan,"ungkapnya.
Ia juga menambahkan apabila hal tersebut tidak segera di indahkan oleh pihak rekanan maka kami akan melakukan blokade jalan aternatif yang selama ini digunakan oleh para pengguna jalan tersebut,"ungkapnya dengan nada kesal.
Saat dikomfirmasi pihak rekanan dari PT Takabeya melalui pesan WA, mengatakan dalam pesan yang dikirimnya dalam bahasa Aceh yang mengatakan,"Kamoe melaksanakan jalannya ka sesuai arahan dinas, mohon konfirmasi mantong ke dinas terkait bahna info yang lengkap, "kami laksanakan jalan itu sudah sesuai arahan dinas mohon komfom aja ke dinas terkait biar infonya lengkap dalam pesan yang dikirim ke wartawan media ini
Dan saat berita ini di terbitkan wartawan media ini belum bisa melakukan komfirmasi dengan pihak dinas terkait.
Sabtu, 18 Maret 2017
Melawan Derasnya Arus Krueng Tingkeum
MURID sekolah dasar menumpang boat untuk menyeberangi Krueng Tingkeum, Kutablang, Bireuen, saat pulang sekolah, Sabtu (18/3).
DERU mesin boat kayu meraung membelah derasnya arus sungai Krueng Tingkeum, Kutablang, Bireuen, Sabtu (18/3) siang. Raut cemas terlihat jelas di wajah beberapa bocah perempuan berseragam Pramuka sekolah dasar yang baru pulang dari sekolah. Tangan-tangan mungil mereka menggenggam erat bagian sisi boat. Sementara bocah-bocah laki-laki justru menikmati momen tersebut, bercengkrama dengan teman. Ada juga yang duduk di atas sebilah papan, sambil menyilangkan kaki.
Perjuangan para bocah SD ini masih berlanjut saat boat itu merapat ke sisi lain Krueng (sungai) Tingkeum. Satu persatu anak-anak ini naik ke daratan yang tak bersemen. Tangan-tangan mungil mereka disambut oleh penyedia jasa angkutan boat yang berada di darat. Satu-persatu mereka menyetorkan uang Rp 2.000, untuk ongkos jasa menyeberang sungai.
Rutinitas baru di Krueng Tingkeum ini mulai berlangsung sejak Rabu (15/3), tiga hari setelah jembatan yang membelah sungai ini ditutup total pada, Minggu (12/3). Amatan Serambi Sabtu (18/3), jembatan rangka baja yang membelah Sungai Tingkeum ini, tidak bisa dilintasi lagi, termasuk oleh pejalan kaki. Seluruh lantai jembatan ini sudah dibongkar untuk dibangun baru. Jembatan itu sudah sangat miring dan hampir patah dihantam arus Krueng Tingkeum beberapa waktu lalu.
Semenjak jembatan ini ditutup total, arus kendaraan dialihkan ke jalur alternatif dengan jarak tempuh bertambah hingga 8 kilometer untuk kembali tiba di ujung (seberang) jembatan. Jarak tempuh yang sangat jauh, ditambah kondisi jalan alternatif yang jelek dan berdebu ini, membuat warga sekitar lebih memilih menyeberangi sungai untuk pergi ke pasar Kutablang. Meski resiko yang dihadapi lebih besar, karena arus sungai Tingkeum tergolong cukup deras.
Sabtu kemarin, di bantaran Krueng Tingkeum, tepatnya di bawah jembatan rangka baja yang sudah dibongkar itu, terdapat dua kapal motor (boat) yang masing-masingnya berkapasitas 10 orang penumpang. Kedua boat itu mengangkut anak sekolah dan warga yang bermukim di bagian barat jembatan (Krueng Tingkeum Manyang) untuk keperluan berbelanja maupun bersekolah di kawasan pasar Kutablang.
Bocah-bocah SD itu nekad mengarungi derasnya arus Krueng Tingkuem agar bisa cepat sampai di sekolah. Karena jika menumpang angkutan umum darat melalui jalur alternatif, jarak tempuhnya mencapai 8 kilometer, belum lagi jalannya berdebu karena tidak beraspal. Sementara dengan menyeberangi sungai, jarak tempuh ke sekolah mereka hanya sekitar 1 kilometer.
Anak-anak ini hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 2.000 untuk ongkos sekali menyeberangi sungai. Sementara bagi orang dewasa, dipatok ongkos Rp 3.000 per penumpang.
Pantauan Serambi kemarin, selain anak-anak sekolah, beberapa ibu-ibu yang hendak pergi ke sawah terlihat menaikkan sepedanya ke atas boat. Beberapa warga yang hendak berbelanja di pasar Kutablang, juga menggunakan jasa kedua boat itu. Beberapa balita terlihat menangis saat mesin boat meraung menyeberangi sungai tersebut.
“Sejak jembatan Krueng Tingkeum ini dibongkar tiga hari lalu, untuk pergi dan pulang sekolah kami terpaksa naik boat. Kami sangat takut saat menyeberangi sungai karena arus air sungai cukup deras,” ujar Ikhsan (10), murid kelas IV MIN Kutablang, saat ditemui Serambi bersama teman-temannya di bantaran Krueng Tingkeum usai pulang sekolah kemarin.
Hal hampir senada juga dikatakan Rohana (52), warga Desa Blang Panjoe, Kutablang. Ibu yang bekerja sebagai petani ini mengaku sejak tiga hari lalu terpaksa menaikkan sepedanya ke atas boat saat menyeberangi sungai, untuk bisa sampai ke sawah guna mengasapi dapur keluarganya.
“Kalau saya naik sepeda hingga ke sawah lewat jalan alternatif jaraknya mencapai 10 kilometer lebih, saya tidak sanggup dayung sepeda. Mau tidak mau saya harus naikkan sepeda ke dalam boat,” kata Rohana.
Sementara Saiman (38), warga Desa Kulu mengatakan, warga desanya sangat mengharapkan kepada pemeritah untuk menyediakan boat khusus tanpa harus bayar dan bus sekolah untuk anak-anak sekolah.
“Biasanya anak-anak naik sepeda ke sekolah, sekarang naik boat harus bayar dan mengancam jiwa anak-anak saat menyeberang sungai. Kami butuh bantuan boat gratis dari pemerintah untuk membantu anak sekolah dan warga kurang mampu, karena kalau menggunakan jasa boat pribadi, warga harus menambah biaya untuk ongkos boat pulang pergi setiap hari,” kata Saiman.
Jumat, 17 Maret 2017
Pengerjaan Proyek Jembatan Buket Linteung Terhenti
LHOKSUKON - Warga Gampong Buket Linteung, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara mengeluh perihal pembangunan jembatan yang belum rampung. Menurut warga, pembangunan jembatan terhenti akibat tidak ada anggaran.
"Saya tidak tahu persis kenapa tidak dikerjakan lagi. Namun dari informasi yang saya peroleh dari pihak rekanan, pembangunan jembatan itu terhenti karena tidak ada lagi anggaran," kata Keusyik Buket Linteung, Yasin saat dihubungi wartawan, Jumat (17/3/2017).
Belum diketahui berapa anggaran yang digunakan untuk pembangunan jembatan itu. Namun sepengetahuan Yasin, pembangunan jembatan tersebut menelan anggaran Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (APBA).
"Pembangunannya, kalau tidak salah terhenti sementara sejak Desember 2016 lalu. Jembatan itu mulai dibangun pada tahun 2015. Kabar yang saya terima, pembangunannya akan dilanjutkan kembali pada bulan April 2017 jika ada anggaran lanjutan," ujarnya.
Warga desa itu, Muhammad (32), juga menyampaikan hal yang sama. Namun menurut dia, selama pembangunan jembatan tersebut, akses jalan agak sulit.
"Adapun jembatan darurat yang dibangun untuk sementara, tidak mudah dilalui. Harus Hati-hati. Yang kita sayangkan khususnya anak sekolah," kata Muhammad.
Belum berhasil mendapat keterangan dari pihak rekanan pengerjaan proyek tersebut, namun menurut Camat Langkahan, M Jamil, pembangunan jembatan itu akan dilanjutkan kembali pada tahun 2017 ini.
"Jembatannya sudah selesai, hanya saja belum ditimbun di poros pangkal dan ujungnya. Dan menyangkut anggaran tambahan, sudah kita bicarakan di Bappeda. Insyaallah dilanjutkan kembali tahun ini untuk tahap penyelesaian," kata M Jamil.
Kamis, 16 Maret 2017
Jembatan Dibongkar, Siswa Menyebrang Gunakan Perahu Panambang Pasir
BIREUEN - Akibat terlalu jauh memutar untuk beranjak ke sekolah, sebagian besar siswa SMP, MTsN dan tingkat SMA di kawasan pinggir jembatan Krueng Tingkuemn, Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen lebih memilih menumpang perahu milik penambang pasir.
Menurut sejumlah warga selama dibongkarnya jembatan, sebagian besar anak-anak, terutama siswa yang rumhanya di bagian barat jembatan memilih naik perahu panambang pasir, agar bisa menyeberang ke arah timur untuk bersekolah.
“Kalau mereka berangkat ke sekolah melalui jalur jalan anternatif, arah utara Krueng Tingekum, Cot Mee hingga ke pusat Kota Kecamatan Kutablang terlalu jauh, belum lagi saat pulang,” kata seorang warga Krueng Tingkeum, Amiruddin, Kamis (16/3/2017).
Bahkan selama pembokaran jembatan ini, tambahnya, sebagian siswa tingkat MTSN dn SMP banyak yang libur sekolah. Lantaran terlalu jauh memutar untuk tiba di sekolah. Sementara letak sekolah mereka hanya terpaut 1 kilometer dari rumahnya.
Selain Amiruddin, hal yang sama juga dikatakan warga Kutablang lainnya, Helmi. Seharusnya, kata Dia, sebelum jembatan itu di bongkar, pemerintah daerah atau pemerintah provinsi membangun satu unit jembatan darurat yang bisa dilintasi kendaraan roda dua, atau untuk jalur siswa sekolah.
“Yang kita sayangkan, anak-anak yang mau mengaji malam. Apakah mereka juga harus berangkat memutar arah dengan begitu jauh setiap malamnya,” keluhnya.
Anehnya, kata warga, kesulitan masyarakat ini tidak membuat anggota DPRK Bireuen bersuara. “Kadang kami heran, fungsi DPRK Bireuen itu sebenarnya untuk apa, apakah duduk manis dan terima gaji saja. Sementara rakyatnya tidak ada yang peduli,” sebut bebarapa warga lainnya di sebuah warung di Kutablang.
Pemilik perahu penambang pasir, di aliran sungai Krueng Tingkeum, Kutablang, Kabupaten Bireuen menuntun siswa saat pergi dan pulang sekolah, pascadibongkarnya jembatan tersebut, Kamis (16/3/2017).
Rabu, 15 Maret 2017
Pembongkaran Lantai Jembatan Kutablang Jadi Tontonan Warga
BIREUEN - Pembongkaran lantai jembatan rangka baja, Krueng Tingkeum, Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen menjadi tonton warga di kawasan itu, Rabu (15/3/2017). Selain warga, para siswa usai sekolah, juga ikut menyaksikan pembongkaran tersebut.
“Menarik juga dilihat saat dibongkar lantainya, apa lagi kami jarang melihat alat berat yang bekerja seperti ini,” ujar seorang warga Kutablang, Bireuen.
Sementara itu, hingga hari ketiga ditutupnya jalur jembatan tersebut, proses pembongkaran sudah berjalan hampir 20 persen.
Menurut sejumlah tim di lapangan, setelah pembongkaran aspal, pihaknya kembali membongkar besi bantalan jembatan, sehingga memudahkan saat pemindahan pilar penyangga samping dan di bawah jembatan.
“Setelah seluruhnya selesai, baru dilakukan pembongkaran tiang penyangga jembatan dan ini butuh waktu lama,” kata sejumlah pekerja di lokasi.
Sebelumnya, Satker Kerja Pelaksana Jalan Nasional Wilayah I Provinsi, melalui Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) PU Aceh Wilayah Bireuen, Amri Mirza kepada wartawan mengatakan, pembongkaran jembatan rangka baja, Krueng Tingkeum, Kecamatan Kutablang, Bireuen membutuhkan 45 hari kerja.
“Setelah pembongkaran, jembatan ini langsung dibangun baru. Saat ini sedang dalam proses tender di Kementerian Pekerjaan Umum Jakarta,” katanya.


