Tampilkan postingan dengan label wisata aceh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata aceh. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Maret 2017

Masya Allah, Cantiknya Kembaran Masjid Nabawi di Aceh

Banda Aceh - Keajaiban Indonesia bagian barat dimulai dari Banda Aceh. Ada Masjid Raya Baiturrahman yang sudah punya payung raksasa. Tampilannya pun mirip Masjid Nabawi.

Masjid Raya Baiturrahaman berada di Banda Aceh, Provinsi Aceh. Masjid yang dibangun Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam pada tahun 1022 H/1612 M ini telah menjadi ikon populer, serta menyimpan beragam kisah kejadian di Tanah Rencong.

Misalnya saja kisah ajaibnya kala tsunami. Di saat bangunan lain hancur akibat gelombang tsunami, Masjid Raya Baiturrahman justru masih berdiri tegap. Bahkan, masjid ini tidak hancur meski arus air sangat kencang.

Masjid Raya Baiturrahaman pun sempat beberapa kali direnovasi. Yang terbaru adalah pemasangan payung elektrik di pelataran masjid. Peluncuran awal atau soft launching telah dilakukan pada Februari 2017.

Kami sempat berkunjung ke masjid yang cantik ini beberapa waktu lalu. Ada 12 unit payung elektrik yang telah terpasang. Enam payung dipasang di sebelah selatan dan sisanya di utara masjid.

Payung-payung tersebut tampak begitu besar. Dari posisi tertutup hingga terbuka lebar dibutuhkan waktu beberapa menit. Untuk warnanya sendiri bernuansa putih dengan corak kekuningan.

Dengan adanya payung tersebut, tampilan Masjid raya Baiturrahman pun mirip seperti Masjid Nabawi di Madinah. Lantai marmer yang telah dipasang juga makin menambah keindahan rumah ibadah tersebut.

Hal ini pun menjadi daya tarik bagi wisatawan. Foto-foto wisatawan di masjid, dengan latar payung raksasa telah banyak diunggah di media sosial seperti Instagram.

Nah, 12 Payung tersebut tak hanya dipasang untuk menambah keindahan masjid, tapi juga sebagai sarana kenyamanan beribadah para jamaah. Saat payung terbuka lebar, bisa melindungi jamaah dari hujan maupun terik matahari.

Pengembangan Masjid Raya Baiturrahaman tak sebatas payung saja. Ke depannya masih akan dilakukan banyak pengembangan lainnya seperti pembangunan basement untuk tempat parkir hingga TPA dan sekolah yang fokus pada pendidikan agama Islam
Untuk basement itu rencananya bisa menampung 254 mobil dan 343 sepeda motor. Ada pula tempat wudhu dan toilet. Bahannya dari batu marmer Italia atau Spanyol.

Di area halamannya juga akan ditanami rumput dan bunga-bunga cantik, 33 pohon kurma dan satu pohon geulumpang. Pastinya warga setempat dan wisatawan bakalan makin nyaman wisata religi dan beribadah di Masjid Raya Baiturrahaman.

Senin, 19 Desember 2016

Warga Tutup Objek Wisata Pantai Manohara Karena banyak muda-mudi Melanggar Syariat


Pidie Jaya- Objek wisata bahari Manohara yang terkenal di Kabupaten Pidie Jaya kini tidak bisa lagi dikunjungi wisatawan setelah warga setempat menutup total akses menuju ke lokasi tersebut paska musibah gempa menimpa kabupaten itu

Geuchik Gampong Balek Azhar M. Gade kepada wartawan, Minggu (17/12) mengatakan, penutupan wisata Manohara karena selama ini banyak muda-mudi yang berkunjung ke pantai itu melakukan perbuatan melanggar Syariat Islam sehingga mengundang mala petaka.

“Warga telah sepakat untuk menutup lokasi wisata pantai Manohara dan kemungkinan besar tidak akan dibuka lagi,”katanya.

Pasca musibah gempa sambung Azhar, tanah di lokasi wisata Manohara terbelah membentuk garisan lobang dengan kedalaman beberapa meter. Bahkan, mengeluarkan air belerang.

“Tentunya musibah ini sebuah peringatan untuk kita semua, jadi kami sepakat menutup lokasi wisata ini,"ujarnya.

Dari Pantauan di jalan menuju lokasi wisata telah dipasang spanduk yang bertuliskan "Stop!!! Pantai Manohara ditutup selama-lamanya, mohon maaf bagi seluruh pengunjung."

Sebagaimana diketahui, pantai Manohara merupakan salah satu objek andalan di Pidie Jaya, maka tak heran setiap hari libur sangat ramai dikunjungi wisatawan lokal mupun luar daerah.

Manohara Titik Gempa Pijay

MEUREUDU - Tim Ahli Geologi dan Geofisika BMKG menyatakan, gempa bumi yang berpusat di Pidie Jaya, Rabu (7/12) pekan lalu, diakibatkan oleh adanya pencairan tanah (soil liquefaction) di Kawasan Pantai Manohara, Gampong Meunasah Balek, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya.

“Kerusakan terparah pascagempa bumi yang berpusat di Pidie Jaya terdapat di daerah Kecamatan Meureudu, yang diakibatkan oleh adanya liquefaction yang terletak di kawasan Pantai Manohara,” ungkap ahli geologi Dr Sri Hifayati, seperti dilansir dalam siaran pers Bagian Humas dan Protokoler Pemkab Pidie Jaya, Sabtu (17/12).

Dikatakan, hasil pengkajian Tim Ahli Geologi dan Geofisika BMKG ini, dipaparkan dalam konfrensi pers di ruang rapat Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Pijay, Jumat (16/12) malam. Tim ini antara lain terdiri atas ahli geologi Dr Sri Hifayati, ahli geofisika ITB Wahyu Triyoso PhD, dari Kementerian PU Ir Sutadji Yuwasdiki, Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Ir B Wisnu Wijaja, dan Kabag Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) ITB, Prof Masyhur Irsyam.

Penelusuran Serambi dari wikipedia.org, pencairan tanah atau likuifaksi tanah (bahasa Inggris: soil liquefaction) adalah suatu fenomena perilaku tanah yang jenuh atau sebagian jenuh, secara substansial kehilangan kekuatan dan kekakuan akibat adanya tegangan. Biasanya gempa bumi yang bergetar atau perubahan lain secara tiba-tiba dalam kondisi menegang, menyebabkan tanah tersebut berperilaku seperti cairan atau air berat.

Dr Sri Hifayati mengatakan, pihaknya juga menemukan retakan lapisan tanah di beberapa titik di Kecamatan Meureudu. Ahli Geofisika ITB, Wahyu Triyoso PhD memaparkan, gempa Pijay terjadi karena adanya gerakan (tanah) naik turun yang kemudian diiringi dengan pergeseran lempeng bumi. Dampak yang paling kuat terjadi kepada bangunan rumah toko (ruko) dan rumah bertingkat.

Sementara Kabag Ikatan Ahli Bencana Indonesian (IABI) ITB, Prof Masyhur Irsyam memaparkan adanya semburan pasir lunak di beberapa titik di kawasan Pidie Jaya. Menurutnya, hal ini disebabkan oelh letak geografis Kabupaten Pidie Jaya yang berada di sebuah cekungan antara perbatasan Aceh Besar hingga ke Bireuen. Sehingga di tempat tersebut mempunyai kontur tanah yang lunak dan berpasir.

Ia menyebutkan, patahan dan hentakan yang terjadi saat gempa beberapa hari lalu, menyebabkan keluarnya bagian dalam dari lapisan yang berupa pasir halus. “Pasir halus ini keluar dari retakan dan patahan yang ada, seperti yang terdapat di daerah Pante Raja,” ungkap Masyhur Irsyam seperti dilansir Humas Pemkab Pijay.

Menurut Irsyam, endapan pasir lunak yang terdapat di bawah lapisan tanah ini sangat berpengaruh terhadap lapisan yang ada di atasnya. Sebab, dengan adanya pergerakan lempengan yang terletak di Pidie Jaya ini, akan memberikan efek yang sangat dahsyat sehingga dapat meruntuhkan bangunan yang memiliki bahan material kurang baik.

Sementara itu, dari ahli Kementrian PU Ir Sutadji Yuwasdiki, dalam paparannya me

Selain itu, banyak dinding yang tidak memiliki pengikat ke pilar yang ada, sehingga sangat mudah untuk terlepas dari kedudukannya. Ditemukan juga banyak bangunan ruko yang menambah ketinggian jumlah lantai, seperti penambahan ruangan untuk sarang burung walet.

Sutadji menyarankan agar bangunan yang akan dibangun di kawasan Pidie Jaya pada masa mendatang tidak seluruhya menggunakan bahan beton, tapi menggunakan bahan yang relatif ringan, sehingga tidak memberikan beban yang besar terhadap pilar.

Sedangkan Deputi bidang pencegahan dan kesiapsiagaan, Ir B Wisnu Wijaja mengatakan, gempa Pidie Jaya merupakan suatu pembelajaran yang paling berharga. Karenanya, ia mengharapkan penyampaian dari para ahli dapat diteruskan dan disampaikan kepada masyarakat agar tidak perlu takut dengan adanya gempa susulan. “Dilihat dari waktu yang sudah melebihi dari hari ke tujuh, tidak akan terjadi lagi gempa susulan dengan skala yang lebih besar,” kata Wisnu Wijaja
ngatakan, kontruksi bangunan masih banyak yang menggunakan baja yang tidak sesuai dengan standarisasi yang ada. “Segi pilar bagunan rata-rata hanya polos dan tidak berserat, sehingga sangat rapuh untuk menopang berat material bangunan yang lain,” ujarnya.

Senin, 12 Desember 2016

Warga di Pante Manohara Berjanji Tutup Pante Manohara Selamanya


Akses masuk menuju Pantai Manohara di Pidie Jaya, Aceh, ditutup warga dengan ranting-ranting pohon, Minggu (11/12).

PIDIE Jaya, Indonesia - Pantai Manohara yang membentang di Desa Meuraksa Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya, biasanya tak pernah sepi pada akhir pekan. Namun Sabtu-Minggu kemarin pantai tersebut kosong melompong.

Sebelumnya pada tahun 2014 Empat unit jamboe (pondok-red) mesum di kawasan wisata pantai Manohara, Meunasah Balek, Kecamatan Meureudu pernah dibakar anggota Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilyatul Hisbah (Satpol PP dan WH) Pidie Jaya. Aksi tersebut terjadi setelah pertugas menerima laporan warga setempat, tentang indikasi penyalahgunaan tempat itu. Hasil pengintaian tim ke lokasi, petugas mengetahui perbuatan mesum di beberapa jamboe yang didesain tertutup bak tutup saji nasi.

Kafe-kafe tutup, wisatawan tak ada, dan jalan masuk menuju pantai tersebut diblokir warga dengan ranting-ranting pohon. “Sudah ditutup," kata seorang pria bertopi di tepi jalan saat Rappler hendak masuk ke pantai, Minggu 11 Desember 2016.

Pantai Manohara sejatinya bernama pantai Meuraksa atau pantai Meureudu. Nama Manohara muncul bersaman dengan pemberitaan kisruh rumah tangga Manohara Odelia Pinot dengan Teungku Muhammad Fakhry Petra, putra mahkota Kerajaan Klantan, Malaysia.

Saat itu, memanfaatkan momentum ketenaran Manohara, seorang pemilik kafe di pantai tersebut mencomot nama Manohara untuk dijadikan nama kafenya. Sejak itu pantai ini lebih dikenal dengan nama Pantai Manohara.

Rada Rabu pagi 7 Desember lalu, gempa 6,5 SR menghantam Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Ratusan rumah toko dan rumah hancur berantakkan. 101 orang dilaporkan tewas dan ratusan lainnya cedera.

Namun kafe-kafe di bibir Pantai Manohara yang terbuat dari kayu tetap berdiri. Padahal Pantai Manohara merupakan daratan yang paling dekat dengan pusat gempa, yakni 18 kilometer dari timur laut Manohara.


Selasa, 25 Oktober 2016

Warna Warni Pantai Alun Alun Sigli, Buat Kamu yang Hobi Selfie

Membentang persis di tepi kota, Pantai Alun-Alun Sigli menjadi tempat rehat yang cocok untuk melepas penat.
Lokasinya yang strategis dan aneka jajanan yang ditawarkan menjadikan tempat ini tak pernah sepi pengunjung.
Seperti pemandangan yang terlihat di foto
Jika kamu hobi selfie, Pantai Alun Alun Sigli adalah jawabannya Semarak payung warna warni memenuhi bibir pantai. Mengajak pengunjung untuk berleyeh-leyeh menikmati hawa laut. Kelapa muda dan mi caluek menjadi pilihan pas peneman acara memantai. Kesegaran khas buah tropis berpadu dengan lezatnya mi lidi berlumur gulai kacang tanah. Untuk menikmati semua itu, cukup merogoh kocek tak lebih dari Rp 10 ribu saja. Sementara lokasi wisata ini tidak dikutip tiket masuk atau pun retribusi parkir alias cuma cuma. Namun sayang, di sana sini terlihat tumpukan sampah yang merusak pemandangan.
Pantai Alun Alun Sigli berlokasi tepat di muka alun alun atau di seberang Pendapa Bupati Pidie. Jika berangkat dari Ibukota Provinsi, Banda Aceh memakan waktu sekitar 2 jam berkendara. Melintasi Jalan Nasional Banda Aceh Medan yang dikenal sebagai Jalur Lintas Sumatra (Jalinsum).
Anda bisa menumpang bus jurusan Medan atau minibus tujuan Sigli. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan dengan transportasi lokal berupa becak atau ojek.
Jika datang bersama rombongan, memakai kendaraan pribadi atau menggunakan jasa rental mobil menjadi pilihan tepat. Apapun pilihannya, menyesap hawa Pantai Alun-Alun Kota Sigli sembari menikmati kuliner khas setempat serta berselfie ria tak akan membuat anda menyesal. 

Minggu, 17 Juli 2016

PLTD Apung Punge Banda Aceh

PLTD Apung adalah kapal generator listrik milik PLN di Banda Aceh, yang hingga kini menjadi tempat wisata, yang dikenal dengan nama "Kapal Apung". Kapal ini memiliki luas sekitar 1.900 Kilometer Persegi, dengan panjang mencapai 63 Meter.

Kapal berbobot 2.600 ton ini sebelumnya berada di laut yang jauhnya sekitar 5 kilometer dari tempat berdirinya sekarang (Punge Blang Cut, Jaya Baru, Kota Banda Aceh). Pada tahun 2004, kapal ini terseret 4-5 km ke daratan akibat gempa bumi dan gelombang tsunami setinggi 9 meter

Komplek Kerajaan Samudera Pasai, Aceh Utara

Komplek Kerajaan Samudera Pasai, Aceh Utara

Komplek Kerajaan Samudera Pasai merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia yang didirikan sekitar tahun 1267 M. Bukti arkeologis kehadiran kerajaan ini adalah ditemukannya makam raja-raja Pasai yang diantaranya terdapat nama sultan Malikussaleh, yang erupakan sultan Islam pertama di Dalam negri.

Makam Sultan Malikussaleh berada di Desa Beuringen Kecamatan Samudera, Geudong, Kabupaten Aceh Utara sekitar 18 Distance dari Lhokseumawe. Traveler dapat berwisata sejarah sekaligus berziaraj di destinasi ini