Tampilkan postingan dengan label Bencana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bencana. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Februari 2017

12 Tahun Dipisah Tsunami Akbar Berkumpul Besama Keluarganya

BANDA ACEH - Cut Fauziah, warga Gampong Lamdingin, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, Selasa (31/1) kembali bertemu dengan remaja yang diduga sebagai anaknya yang menghilang saat tsunami 12 tahun lalu. Remaja itu merupakan Muhammad Akbar Tanjung (20) yang selama ini menetap di Gampong Awek, Kecamatan Kota Jantho, Aceh Besar, bersama keluarga angkatnya.


Cut Fauziah kepada Serambi kemarin menceritakan, pertemuan Akbar berawal dari kecurigaan pihak keluarganya yang menetap di Lamsujen, Lhoong, Aceh Besar. Saat itu Akbar datang ke gampong tersebut meminta sedekah mualaf. Karena mirip dengan Akbar yang menghilang saat tsunami, mereka pun langsung mempertemukan Akbar dengan Fauziah yang menetap di Banda Aceh.

“Saya saat ini masih antara percaya tidak Akbar anak saya atau bukan, karena kondisi dia masih linglung,”ujar Fauziah. Sebagian pihak keluarga dan kerabatnya juga berfirasat remaja tersebut memang Akbar yang hilang tsunami 26 Desember 2004 saat itu masih berumur 8 tahun.

Dari bentuk bibir, dan ada beberapa tanda yang menjadi dasar keyakinan keluarga. Namun jika dulu Akbar kecil bernama Maulana Akbar, kini namanya Muhammad Akbar Tanjung, tak diketahui siapa memberi nama baru itu. Fauziah mengisahkan, saat bencana itu ia bersama suaminya, Samsul Bahri, adik, dan ketiga anaknya terpisah saat dihempas tsunami. “Saat itu Akbar minta tolong, tapi saya tidak bisa memegang tangannya, itulah terakhir kalinya saya melihat Akbar,” lirih Fauziah.

Setelah tsunami ia melihat foto Akbar dipajang di Rumah Sakit Kesdam Banda Aceh, sebagai anak-anak korban tsunami yang pernah dirawat di rumah sakit itu. Namun ia kehilangan jejak, walaupun sudah mencari ke beberapa tempat, mereka tidak pernah menemukan Akbar lagi. Sedangkan Akbar tidak ada yang diingat tentang bencana tsunami, yang ia ingat saat kecil ia memiliki bekas jahitan di bagian perut dan lebih banyak diam.

Karena masih ada anggota keluarga yang ragu mengenai Akbar sebagai anak Cut Fauziah. Pihak keluarga pun ingin memastikan kebenaran itu dengan melakukan tes DNA. “Agar tidak ada keraguan lagi harus dilakukan tes DNA,” ujar Ernawati, adik dari ayah Akbar.

Begitupun, Ernawati mengaku belum mengetahui bagaimana prosedur untuk melakukan tes DNA, dengan harapan ada pihak yang membantu memfasilitasi. Menurut Fauziah, bahwa sebelumnya pihak Dinas Sosial juga sudah berkunjung dan mendata

Jumat, 20 Januari 2017

Enam Gampong di Bandarbaru Tergenang

MEUREUDU - Akibat hujan deras sepanjang Jumat (20/1) malam serta luapan sungai Krueng Putu, Kecamatan Bandarbaru, Pidie Jaya, sebanyak enam gampong di kecamatan setempat tergenang air luapan sungai.


Sekira pukul 21.30 WIB malam telah menyebabkan enam gampong, tiga sekolah, dan dua kantor tergenang air setinggi 25 sampai 40 Cm. Meski tidak ada korban jiwa dan harta benda, hingga saat ini air secara perlahan-lahan telah mulai surut sejak Sabtu (21/1/2017) dini hari pukul 03.00 WIB.

Keenam gampong yang tergenang diantaranya Gampong Ara, Udeung, Baroh Cot, Sagoe Langgien, Keudee Lueng Putu, dan Cut Langgien.

Sementara dua kantor yang ikut tergenang yaitu Polsek Bandarbaru, dan Koramil Bandarbaru. Selebihnya, tiga kompleks pendidikan atau sekolah yang ikut terendam yaitu SMPN 1 Bandarbaru, SMAN 1 Bandarbaru, dan Dayah Jeumala Amal.

Minggu, 08 Januari 2017

FOFMA Sumut bentuk relawan bantu korban kebakaran Aceh Selatan

Medan - Forum Mahasiswa Aceh (FORMA) Sumatera Utara kembali melaksanakan kegiatan sosial dan peduli sesama, selepas penggalangan dana korban gempa pidie jaya. Forma Sumut membentuk relawan dan mendirikan posko di Medan dengan tujuan menampung bantuan-bantuan untuk korban kebakaran Bakongan, Aceh Selatan yang terjadi pukul 03.00 pagi ini di Bakongan (9/1/2017)

Menurut informasi, kerugian yang dicapai miliaran rupiah dan menghanguskan 31 rumah, tetapi tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut. Aceh kembali mendapatkan musibah besar di awal tahun 2017 ini.

Rahmat Asri Sufa selaku Dewan Penasehat FORMA Sumut menyampaikan rasa prihatin yang sedalam-dalamnya atas musibah yang menimpa saudara kita di Aceh Selatan tepatnya Bakongan.

" Kami turut prihatin atas musibah ini, semoga Allah SWT memberikan ketabahan bagi yang terkena musibah. Kami dari FORMA Sumut akan membantu semampu kami untuk membantu meringankan beban saudara kami di Aceh Selatan, dalam 3 hari kedepan kami akan melakukan persiapan penggalangan dana dan membangun posko di Medan ", ujar Rahmat Pemuda asal Bireuen di Medan.

Lanjutnya, Pengurus sudah melakukan koordinasi ke setiap cabang Forma yang ada di Medan, mereka akan berpartisipasi penuh dalam melakukan aksi sosial ini. Tegas Mahasiswa Pascasarjana UIN SU Medan ini.

Di sisi lain, Ketua Forma Sumut Syamsul Azman yang juga putra asal Aceh Selatan, merasa sedih kampung halamannya tertimpa musibah.

" saya baru dapat kabar tadi pagi, tapi Alhamdulillah keluarga tidak apa-apa di sana, saya prihatin dengan masyarakat Bakongan ", ujar Mahasiswa S1 UIN SU ini.

Hari ini kami akan melakukan rapat internal perdana untuk membahas masalah ini, insyaallah akan ada solusi ke depan.

FORMA sumut menerima sumbangan berupa, pakaian, obat-obatan, sembako, perlengkapan sekolah, dan lainnya yang bermanfaat.
Dan mulai hari Rabu kami akan membuka posko di kampus I UIN SU Medan jalan pancing.

Minggu, 01 Januari 2017

Banjir di Padang Tiji Mulai Surut, Pengungsi Kembali ke Rumah

SIGLI- Banjir di Padang Tiji, Pidie akibat hujan yang mengguyur kawasan itu, Minggu (1/1/2016) malam, hingga kini mulai surut.
Warga Gampong Kupula Tanjong yang sempat mengungsi di meunasah, hingga kini berangsur-angsur kembali ke rumah.
Ruas jalan nasional yang sempat terendam banjir, kini berangsur hilang. Arus transportasi dari dua arah telah normal kembali.
Camat Padang Tiji, T Zulkifli Majid SH, Senin (2/1/2016) mengatakan, banjir yang merendam 13 gampong di Padang Tiji, sampai kini mulai surut.
Gampong yang terendam adalah Meria Tanjong, Tunong Tanjong, Cot Keutapang Tanjong, Siron tanjong, Khang Tanjong, Jok, Pante Crueng, Kupula, Paloh, Masjid, Leun dan Siren Paloh.
" Warga Gampong Kupula yang sempat mengungsi di Meunasah sebagian sudah pulang ke rumah. Sebagian lagi masih bertahan di meunasah ," katanya.

Senin, 19 Desember 2016

Manohara Titik Gempa Pijay

MEUREUDU - Tim Ahli Geologi dan Geofisika BMKG menyatakan, gempa bumi yang berpusat di Pidie Jaya, Rabu (7/12) pekan lalu, diakibatkan oleh adanya pencairan tanah (soil liquefaction) di Kawasan Pantai Manohara, Gampong Meunasah Balek, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya.

“Kerusakan terparah pascagempa bumi yang berpusat di Pidie Jaya terdapat di daerah Kecamatan Meureudu, yang diakibatkan oleh adanya liquefaction yang terletak di kawasan Pantai Manohara,” ungkap ahli geologi Dr Sri Hifayati, seperti dilansir dalam siaran pers Bagian Humas dan Protokoler Pemkab Pidie Jaya, Sabtu (17/12).

Dikatakan, hasil pengkajian Tim Ahli Geologi dan Geofisika BMKG ini, dipaparkan dalam konfrensi pers di ruang rapat Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Pijay, Jumat (16/12) malam. Tim ini antara lain terdiri atas ahli geologi Dr Sri Hifayati, ahli geofisika ITB Wahyu Triyoso PhD, dari Kementerian PU Ir Sutadji Yuwasdiki, Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Ir B Wisnu Wijaja, dan Kabag Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) ITB, Prof Masyhur Irsyam.

Penelusuran Serambi dari wikipedia.org, pencairan tanah atau likuifaksi tanah (bahasa Inggris: soil liquefaction) adalah suatu fenomena perilaku tanah yang jenuh atau sebagian jenuh, secara substansial kehilangan kekuatan dan kekakuan akibat adanya tegangan. Biasanya gempa bumi yang bergetar atau perubahan lain secara tiba-tiba dalam kondisi menegang, menyebabkan tanah tersebut berperilaku seperti cairan atau air berat.

Dr Sri Hifayati mengatakan, pihaknya juga menemukan retakan lapisan tanah di beberapa titik di Kecamatan Meureudu. Ahli Geofisika ITB, Wahyu Triyoso PhD memaparkan, gempa Pijay terjadi karena adanya gerakan (tanah) naik turun yang kemudian diiringi dengan pergeseran lempeng bumi. Dampak yang paling kuat terjadi kepada bangunan rumah toko (ruko) dan rumah bertingkat.

Sementara Kabag Ikatan Ahli Bencana Indonesian (IABI) ITB, Prof Masyhur Irsyam memaparkan adanya semburan pasir lunak di beberapa titik di kawasan Pidie Jaya. Menurutnya, hal ini disebabkan oelh letak geografis Kabupaten Pidie Jaya yang berada di sebuah cekungan antara perbatasan Aceh Besar hingga ke Bireuen. Sehingga di tempat tersebut mempunyai kontur tanah yang lunak dan berpasir.

Ia menyebutkan, patahan dan hentakan yang terjadi saat gempa beberapa hari lalu, menyebabkan keluarnya bagian dalam dari lapisan yang berupa pasir halus. “Pasir halus ini keluar dari retakan dan patahan yang ada, seperti yang terdapat di daerah Pante Raja,” ungkap Masyhur Irsyam seperti dilansir Humas Pemkab Pijay.

Menurut Irsyam, endapan pasir lunak yang terdapat di bawah lapisan tanah ini sangat berpengaruh terhadap lapisan yang ada di atasnya. Sebab, dengan adanya pergerakan lempengan yang terletak di Pidie Jaya ini, akan memberikan efek yang sangat dahsyat sehingga dapat meruntuhkan bangunan yang memiliki bahan material kurang baik.

Sementara itu, dari ahli Kementrian PU Ir Sutadji Yuwasdiki, dalam paparannya me

Selain itu, banyak dinding yang tidak memiliki pengikat ke pilar yang ada, sehingga sangat mudah untuk terlepas dari kedudukannya. Ditemukan juga banyak bangunan ruko yang menambah ketinggian jumlah lantai, seperti penambahan ruangan untuk sarang burung walet.

Sutadji menyarankan agar bangunan yang akan dibangun di kawasan Pidie Jaya pada masa mendatang tidak seluruhya menggunakan bahan beton, tapi menggunakan bahan yang relatif ringan, sehingga tidak memberikan beban yang besar terhadap pilar.

Sedangkan Deputi bidang pencegahan dan kesiapsiagaan, Ir B Wisnu Wijaja mengatakan, gempa Pidie Jaya merupakan suatu pembelajaran yang paling berharga. Karenanya, ia mengharapkan penyampaian dari para ahli dapat diteruskan dan disampaikan kepada masyarakat agar tidak perlu takut dengan adanya gempa susulan. “Dilihat dari waktu yang sudah melebihi dari hari ke tujuh, tidak akan terjadi lagi gempa susulan dengan skala yang lebih besar,” kata Wisnu Wijaja
ngatakan, kontruksi bangunan masih banyak yang menggunakan baja yang tidak sesuai dengan standarisasi yang ada. “Segi pilar bagunan rata-rata hanya polos dan tidak berserat, sehingga sangat rapuh untuk menopang berat material bangunan yang lain,” ujarnya.

Senin, 12 Desember 2016

Dalih Relawan, 6 WNA Asal China Berbuat Makar Di Aceh

Tim RAM UNION RESCUE dari China di Bandara SIM Aceh, Senin (12/12/2016). Foto: Ist

BANDA ACEH| BN-Indonesia benar-benar menjadi tempat yang nyaman bagi pendatang haram (ilegal) dari luar negeri, terutama dari Negeri Komunis China. Kondisi tersebut terpantau, Senin, 12 Desember 2016, pukul 10.18  WIB.

Mereka berkelompok dan saat berjalan seperti salah tingkah. Kondisi tersebut terpantau di Bandara Udara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang,  Aceh Besar,  Aceh. Sebelum meninggalkan Aceh, mereka sempat beberapa hari di lokasi gempa Pidie Jaya, Aceh bergaya seperti relawan.

“Mereka telah dimonitor tempat pemberangkatan terkait keberangkatan penumpang Domestik Tim RAM UNION RESCUE  dari CHINA,” demikian informasi yang diperoleh dari internal bandara.

Menurut sumber itu, kelompok WNA asal China yang berjumlah 6 orang itu masuk dan bekerja tanpa izin dari Kementerian Luar Negeri RI dann BNPB.  Sebelumnya mereka telah lama di Aceh, dan berupaya pergi dari Banda Aceh tujuan Medan dengan menggunakan pesawat Lion Air, jenis Boeng 737-9GP (ER), JT. 197, PK-LJO.

“Mereka ada 6 orang, sekilas kita pikir WNI turunan,” beber sumber itu.

Sumber tersebut juga membeberka  nama – nama WNA asal China yang berangkat dari Banda Aceh tujuan Kuala Namu, Medan. Mereka adalah Mr. Caihong Gan, Mr. Hailiang Sun, Mr. Bin Wang,Mr. Lijun Xu,Mr. Dang Zheng terakhir Mrs. Jianxia Xu.

Hingga berita ini dilansir, belum berhasil menghubungi pihak Kantor Imigrasi Banda Aceh. Seperti kejadian sebelumnya, biasanya setiap kali ditanyakan persoalan ada WNA menyalahi Visa, pihak Imigrasi selalu menutupi perihal tersebut kepada Pers dan bahkan mereka tak sungkam mengaku diluar pantauan mereka.

Warga di Pante Manohara Berjanji Tutup Pante Manohara Selamanya


Akses masuk menuju Pantai Manohara di Pidie Jaya, Aceh, ditutup warga dengan ranting-ranting pohon, Minggu (11/12).

PIDIE Jaya, Indonesia - Pantai Manohara yang membentang di Desa Meuraksa Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya, biasanya tak pernah sepi pada akhir pekan. Namun Sabtu-Minggu kemarin pantai tersebut kosong melompong.

Sebelumnya pada tahun 2014 Empat unit jamboe (pondok-red) mesum di kawasan wisata pantai Manohara, Meunasah Balek, Kecamatan Meureudu pernah dibakar anggota Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilyatul Hisbah (Satpol PP dan WH) Pidie Jaya. Aksi tersebut terjadi setelah pertugas menerima laporan warga setempat, tentang indikasi penyalahgunaan tempat itu. Hasil pengintaian tim ke lokasi, petugas mengetahui perbuatan mesum di beberapa jamboe yang didesain tertutup bak tutup saji nasi.

Kafe-kafe tutup, wisatawan tak ada, dan jalan masuk menuju pantai tersebut diblokir warga dengan ranting-ranting pohon. “Sudah ditutup," kata seorang pria bertopi di tepi jalan saat Rappler hendak masuk ke pantai, Minggu 11 Desember 2016.

Pantai Manohara sejatinya bernama pantai Meuraksa atau pantai Meureudu. Nama Manohara muncul bersaman dengan pemberitaan kisruh rumah tangga Manohara Odelia Pinot dengan Teungku Muhammad Fakhry Petra, putra mahkota Kerajaan Klantan, Malaysia.

Saat itu, memanfaatkan momentum ketenaran Manohara, seorang pemilik kafe di pantai tersebut mencomot nama Manohara untuk dijadikan nama kafenya. Sejak itu pantai ini lebih dikenal dengan nama Pantai Manohara.

Rada Rabu pagi 7 Desember lalu, gempa 6,5 SR menghantam Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Ratusan rumah toko dan rumah hancur berantakkan. 101 orang dilaporkan tewas dan ratusan lainnya cedera.

Namun kafe-kafe di bibir Pantai Manohara yang terbuat dari kayu tetap berdiri. Padahal Pantai Manohara merupakan daratan yang paling dekat dengan pusat gempa, yakni 18 kilometer dari timur laut Manohara.