Gempa Mulai Mengguncang Pulau Kecil Di Aceh
"Gempa ini tidak berpotensi tsunami," kata Erida.
Hingga berita ini diturunkan, BMKG Aceh belum memberikan keterangan lanjutan.
SABANG - Gempa bumi berkekuatan 5,9 skala Richter (SR) terjadi di Barat Laut Kota Sabang, Aceh. Gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.
Dilansir dari laman Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Selasa (14/3/2017), gempa terjadi pada pukul 09.51 WIB. Lokasi itu berada di titik 6.01 Lintang Utara (LU) dan 92.16 Bujur Timur (BT).
Titik gempa itu berada di jarak 353 kilometer sebelah barat laut dari Kota Sabang dengan kedalaman 10 kilometer.
Hingga saat ini belum ada informasi tentang kerusakan, korban luka, atau korban jiwa akibat gempa ini.
Namun satu yang dipastikan oleh BMKG adalah guncangan gempa itu tidak berpotensi menimbulkan gelombang tsunami.
MEUREUDU - Menyusul terjadinya gempa bumi, Sabtu (25/2) sekitar pukul 15.20 WIB, warga Pidie Jaya (Pijay) kembali tersentak.
Mereka yang berada dalam rumah, pertokoan atau sejenisnya berhamburan keluar untuk menghindari hal-hal yang tak diingini.
Kendati guncangannya tidak seberapa dan berlangsung dalam waktu relatif singkat (hanya beberapa detik), namun cukup membuat warga terkejut.
Terlebih lagi mereka yang saat kejadian kebetulan sedang dalam pertokoan atau rumah berkontruksi permanen serta bertingkat.
Begitu merasakan guncangan, spontan terkejut dan berucap, “gempa, gempa,” ucap sejumlah warga sambil berlarian keluar.
Setelah kondisinya terlihat aman, warga pun kembali beraktivitas, walau sebagian mereka kelihatan agak pucat dan trauma.
Sebagian warga yang tadinya baik di ibukota kecamatan, di perjalanan atau sedang duduk-duduk sesama teman bergegas pulang ke rumah untuk mencari tahu kondisi yang dialami pasca gempa.
“Tadi saya bergegas pulang dan Alhamdulillah, suasana aman-aman saja,” kata Yunus seorang warga Muaradua.
Ratusan Bidan Dinkes Pijay yang sedang melaksanakan sebuah acara di lantai dasar kantor bupati setempat, juga berlarian ke pintu keluar.
Tak ayal sebagian mereka sempat terbentur sesama karena berebutan keluar. Menyadari suasana kembali normal, mereka pun kembali masuk.
Hasil penelusuran ke sejumlah kawasan termasuk mencari tahu pada beberapa sumber seperti di Meureudu, Meurahdua, dan Ulim, pasca gempa tidak ditemui korban jiwa serta bangunan yang roboh.
Di sejumlah warung kopi warga masih membicarakan gempa yang baru saja terjadi.
Kondisi Masjid Paru di Desa Paru Keude, Kec. Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya - Aceh Pasca gempa
Pidie Jaya –Masjid Paru atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Krak Aceh bikin geger warga Pidie Jaya Aceh, Pasalnya masjid yang terletak di Desa Paru Keude, Kec. Bandar Baru Kab. Pidie Jaya, aceh itu tidak dapat dirobohkan oleh alat berat sekalipun.
Gempa yang melanda Kabupaten Pidie Jaya pada 7 Desember 2016 lalu telah membuat bangunan masjid rusak berat, beberapa tiang penyangga masjid patah dan bagian atas bangunan bergeser parah sehingga bangunan Masjid tidak dapat digunakan untuk beribadah lagi.
Hal itu membuat warga dan pemerintah desa setapat mengambil keputusan untuk merubuhkan Masjid ini dengan mendatangkan alat berat pada Minggu (25/12/2016).
Ibrahim warga paru menerangkan, Kejadian aneh terjadi ketika Beko menyentuh bangunan tiba tiba alat berat itu mati dan mengepulkan asap dari bagian mesinnya.
Tak putus asa, warga kembali mendatangkan 2 unit alat berat lain, Selasa (27/12/2016) tapi lagi lagi keanehan terjadi karena kedua Becho itu tiba tiba rusak dan beberapa gigi becho rontok saat menggeruk bangunan Masjid.
Pasca kejadian, salah seorang operator alat berat bernama Zainal Abidin dirawat di Rumah Sakit Chiek ditiro Sigli Aceh, ia mengalami sakit dan bengkak pada wajahnya.
Pimpinan Pondok pesantren Darussa’dah, Ustadz Waled Sanusi mengaku bermimpi dan diwasiatkan agar Masjid Paru tidak boleh dirobohkan. ia kemudian menceritakan mimpinya ke aparat desa dan warga Paru dan menyarankan agar tidak membongkar Masjid sesuai wasiat dalam mimpinya.
Aparat desa dan warga kemudian menggelar Musyawarah, disepakati Masjid Paru tidak dirobohkan dan akan dipagar, selanjutnya disepakati pembangun Masjid baru disampingnya.
Desa Paru merupakan salah satu daerah yang mengalami kerusakan cukup parah akibat gempa, tercatat 80 unit rumah Roboh atau rusak total. dan hingga saat ini warga masih mengungsi dan tidur ditenda-tenda di halaman masjid Paru.
Pidie Jaya- Objek wisata bahari Manohara yang terkenal di Kabupaten Pidie Jaya kini tidak bisa lagi dikunjungi wisatawan setelah warga setempat menutup total akses menuju ke lokasi tersebut paska musibah gempa menimpa kabupaten itu
Geuchik Gampong Balek Azhar M. Gade kepada wartawan, Minggu (17/12) mengatakan, penutupan wisata Manohara karena selama ini banyak muda-mudi yang berkunjung ke pantai itu melakukan perbuatan melanggar Syariat Islam sehingga mengundang mala petaka.
“Warga telah sepakat untuk menutup lokasi wisata pantai Manohara dan kemungkinan besar tidak akan dibuka lagi,”katanya.
Pasca musibah gempa sambung Azhar, tanah di lokasi wisata Manohara terbelah membentuk garisan lobang dengan kedalaman beberapa meter. Bahkan, mengeluarkan air belerang.
“Tentunya musibah ini sebuah peringatan untuk kita semua, jadi kami sepakat menutup lokasi wisata ini,"ujarnya.
Dari Pantauan di jalan menuju lokasi wisata telah dipasang spanduk yang bertuliskan "Stop!!! Pantai Manohara ditutup selama-lamanya, mohon maaf bagi seluruh pengunjung."
Sebagaimana diketahui, pantai Manohara merupakan salah satu objek andalan di Pidie Jaya, maka tak heran setiap hari libur sangat ramai dikunjungi wisatawan lokal mupun luar daerah.
MEUREUDU - Tim Ahli Geologi dan Geofisika BMKG menyatakan, gempa bumi yang berpusat di Pidie Jaya, Rabu (7/12) pekan lalu, diakibatkan oleh adanya pencairan tanah (soil liquefaction) di Kawasan Pantai Manohara, Gampong Meunasah Balek, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya.Tim RAM UNION RESCUE dari China di Bandara SIM Aceh, Senin (12/12/2016). Foto: Ist
BANDA ACEH| BN-Indonesia benar-benar menjadi tempat yang nyaman bagi pendatang haram (ilegal) dari luar negeri, terutama dari Negeri Komunis China. Kondisi tersebut terpantau, Senin, 12 Desember 2016, pukul 10.18 WIB.
Mereka berkelompok dan saat berjalan seperti salah tingkah. Kondisi tersebut terpantau di Bandara Udara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang, Aceh Besar, Aceh. Sebelum meninggalkan Aceh, mereka sempat beberapa hari di lokasi gempa Pidie Jaya, Aceh bergaya seperti relawan.
“Mereka telah dimonitor tempat pemberangkatan terkait keberangkatan penumpang Domestik Tim RAM UNION RESCUE dari CHINA,” demikian informasi yang diperoleh dari internal bandara.
Menurut sumber itu, kelompok WNA asal China yang berjumlah 6 orang itu masuk dan bekerja tanpa izin dari Kementerian Luar Negeri RI dann BNPB. Sebelumnya mereka telah lama di Aceh, dan berupaya pergi dari Banda Aceh tujuan Medan dengan menggunakan pesawat Lion Air, jenis Boeng 737-9GP (ER), JT. 197, PK-LJO.
“Mereka ada 6 orang, sekilas kita pikir WNI turunan,” beber sumber itu.
Sumber tersebut juga membeberka nama – nama WNA asal China yang berangkat dari Banda Aceh tujuan Kuala Namu, Medan. Mereka adalah Mr. Caihong Gan, Mr. Hailiang Sun, Mr. Bin Wang,Mr. Lijun Xu,Mr. Dang Zheng terakhir Mrs. Jianxia Xu.
Hingga berita ini dilansir, belum berhasil menghubungi pihak Kantor Imigrasi Banda Aceh. Seperti kejadian sebelumnya, biasanya setiap kali ditanyakan persoalan ada WNA menyalahi Visa, pihak Imigrasi selalu menutupi perihal tersebut kepada Pers dan bahkan mereka tak sungkam mengaku diluar pantauan mereka.