Tampilkan postingan dengan label Gempa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gempa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Maret 2017

Gempa berkekuatan 5,2 SR Guncang Simulue Tidak Berpotensi Tsunami

Gempa Mulai Mengguncang Pulau Kecil Di Aceh

Setelah Sabang kini Gempa berkekuatan 5,2 Skala Richter (SR) mengguncang Kabupaten Simeulue, Aceh, Selasa (14/3/2017), sekira pukul 20.13 WIB.

Kepala Stasiun Geofisika Mata Ie, BMKG Aceh, Eridawati, menyebutkan gempa bumi berkekuatan 5,2 skala rikter, yang terasa hingga ke Kota Banda Aceh sekitar pukul 20.13 WIB, Selasa (14/3/2017), tidak menimbulkan tsunami."Gempa terletak di titik koordinat 3.56 Lintang Utara dan 95.45 Bujur Timur, di kedalaman laut 78 kilometer atau berlokasi di Off West Coast of Northern Sumatra," ujarnya
Berdasarkan informasi yang di keluarkan oleh laman Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) gempa terjadi di lintang bujur 3.56 LU -95.45BT dengan kedalaman 120 KM barat laut KAB-Simulue.
Belum diketahui apakah ada korban jiwa dan luka-luka atas kejadian tersebut. Kerugian materil pun juga belum dipastikan akibat bencana ini.
Dijelaskannya, gempa yang terjadi berketerangan di 120 kilometer Barat Laut Kabupaten Simeulue, 126 kilometer Barat Daya Kabupaten Aceh Barat, 131 kilometer barat daya Kabupaten Nagan Raya, 221 kilometer Tenggara Kota Banda Aceh‎ dan 1.663 kilometer barat laut Kota Jakarta. 
"Gempa ini tidak berpotensi tsunami," kata Erida.
Hingga berita ini diturunkan, BMKG Aceh belum memberikan keterangan lanjutan.

Senin, 13 Maret 2017

Gempa 5,9 SR Guncang Sabang, Tak Berpotensi Tsunami

SABANG - Gempa bumi berkekuatan 5,9 skala Richter (SR) terjadi di Barat Laut Kota Sabang, Aceh. Gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.
Dilansir dari laman Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Selasa (14/3/2017), gempa terjadi pada pukul 09.51 WIB. Lokasi itu berada di titik 6.01 Lintang Utara (LU) dan 92.16 Bujur Timur (BT).
Titik gempa itu berada di jarak 353 kilometer sebelah barat laut dari Kota Sabang dengan kedalaman 10 kilometer.
Hingga saat ini belum ada informasi tentang kerusakan, korban luka, atau korban jiwa akibat gempa ini.
Namun satu yang dipastikan oleh BMKG adalah guncangan gempa itu tidak berpotensi menimbulkan gelombang tsunami.

Sabtu, 25 Februari 2017

Warga Pijay Kembali Tersentak Diayun Gempa

MEUREUDU - Menyusul terjadinya gempa bumi, Sabtu (25/2) sekitar pukul 15.20 WIB, warga Pidie Jaya (Pijay) kembali tersentak.

Mereka yang berada dalam rumah, pertokoan atau sejenisnya berhamburan keluar untuk menghindari hal-hal yang tak diingini.

Kendati guncangannya tidak seberapa dan berlangsung dalam waktu relatif singkat (hanya beberapa detik), namun cukup membuat warga terkejut.

Terlebih lagi mereka yang saat kejadian kebetulan sedang dalam pertokoan atau rumah berkontruksi permanen serta bertingkat.

Begitu merasakan guncangan, spontan terkejut dan berucap, “gempa, gempa,” ucap sejumlah warga sambil berlarian keluar.

Setelah kondisinya terlihat aman, warga pun kembali beraktivitas, walau sebagian mereka kelihatan agak pucat dan trauma.

Sebagian warga yang tadinya baik di ibukota kecamatan, di perjalanan atau sedang duduk-duduk sesama teman bergegas pulang ke rumah untuk mencari tahu kondisi yang dialami pasca gempa.

“Tadi saya bergegas pulang dan Alhamdulillah, suasana aman-aman saja,” kata Yunus seorang warga Muaradua.

Ratusan Bidan Dinkes Pijay yang sedang melaksanakan sebuah acara di lantai dasar kantor bupati setempat, juga berlarian ke pintu keluar.

Tak ayal sebagian mereka sempat terbentur sesama karena berebutan keluar. Menyadari suasana kembali normal, mereka pun kembali masuk.

Hasil penelusuran ke sejumlah kawasan termasuk mencari tahu pada beberapa sumber seperti di Meureudu, Meurahdua, dan Ulim, pasca gempa tidak ditemui korban jiwa serta bangunan yang roboh.

Di sejumlah warung kopi warga masih membicarakan gempa yang baru saja terjadi.

Selasa, 27 Desember 2016

Aneh, Pasca Gempa Mesjid di Aceh Ini Tidak bisa di robohkan alat Berat

Kondisi Masjid Paru di Desa Paru Keude, Kec. Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya - Aceh Pasca gempa

Pidie Jaya –Masjid Paru atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Krak Aceh bikin geger warga Pidie Jaya Aceh, Pasalnya masjid yang terletak di Desa Paru Keude, Kec. Bandar Baru Kab. Pidie Jaya, aceh itu tidak dapat dirobohkan oleh alat berat sekalipun.

Gempa yang melanda Kabupaten Pidie Jaya pada 7 Desember 2016 lalu telah membuat bangunan masjid rusak berat, beberapa tiang penyangga masjid  patah dan bagian atas bangunan bergeser parah sehingga bangunan Masjid tidak dapat digunakan untuk beribadah lagi.

Hal itu membuat warga dan pemerintah desa setapat mengambil keputusan untuk merubuhkan Masjid ini dengan mendatangkan alat berat pada Minggu (25/12/2016).

Ibrahim warga paru menerangkan, Kejadian aneh terjadi ketika Beko menyentuh bangunan tiba tiba alat berat itu mati dan mengepulkan asap dari bagian mesinnya.

Tak putus asa, warga kembali mendatangkan 2 unit alat berat lain, Selasa (27/12/2016) tapi  lagi lagi keanehan terjadi karena kedua Becho itu tiba tiba rusak dan  beberapa gigi becho rontok saat menggeruk bangunan Masjid.

Pasca kejadian, salah seorang operator alat berat bernama Zainal Abidin dirawat di Rumah Sakit Chiek ditiro Sigli Aceh, ia mengalami sakit dan bengkak pada wajahnya.

Pimpinan Pondok pesantren Darussa’dah, Ustadz Waled Sanusi mengaku bermimpi  dan diwasiatkan agar Masjid Paru tidak boleh dirobohkan. ia kemudian menceritakan mimpinya ke aparat desa dan warga Paru dan menyarankan agar tidak membongkar Masjid sesuai wasiat dalam mimpinya.

Aparat desa dan warga kemudian menggelar Musyawarah, disepakati Masjid Paru tidak dirobohkan dan akan dipagar, selanjutnya disepakati pembangun Masjid baru disampingnya.

Desa Paru merupakan salah satu daerah yang mengalami kerusakan cukup parah akibat gempa, tercatat 80 unit rumah Roboh atau rusak total. dan hingga saat ini warga masih mengungsi dan tidur ditenda-tenda di halaman masjid Paru.

Senin, 19 Desember 2016

Warga Tutup Objek Wisata Pantai Manohara Karena banyak muda-mudi Melanggar Syariat


Pidie Jaya- Objek wisata bahari Manohara yang terkenal di Kabupaten Pidie Jaya kini tidak bisa lagi dikunjungi wisatawan setelah warga setempat menutup total akses menuju ke lokasi tersebut paska musibah gempa menimpa kabupaten itu

Geuchik Gampong Balek Azhar M. Gade kepada wartawan, Minggu (17/12) mengatakan, penutupan wisata Manohara karena selama ini banyak muda-mudi yang berkunjung ke pantai itu melakukan perbuatan melanggar Syariat Islam sehingga mengundang mala petaka.

“Warga telah sepakat untuk menutup lokasi wisata pantai Manohara dan kemungkinan besar tidak akan dibuka lagi,”katanya.

Pasca musibah gempa sambung Azhar, tanah di lokasi wisata Manohara terbelah membentuk garisan lobang dengan kedalaman beberapa meter. Bahkan, mengeluarkan air belerang.

“Tentunya musibah ini sebuah peringatan untuk kita semua, jadi kami sepakat menutup lokasi wisata ini,"ujarnya.

Dari Pantauan di jalan menuju lokasi wisata telah dipasang spanduk yang bertuliskan "Stop!!! Pantai Manohara ditutup selama-lamanya, mohon maaf bagi seluruh pengunjung."

Sebagaimana diketahui, pantai Manohara merupakan salah satu objek andalan di Pidie Jaya, maka tak heran setiap hari libur sangat ramai dikunjungi wisatawan lokal mupun luar daerah.

Manohara Titik Gempa Pijay

MEUREUDU - Tim Ahli Geologi dan Geofisika BMKG menyatakan, gempa bumi yang berpusat di Pidie Jaya, Rabu (7/12) pekan lalu, diakibatkan oleh adanya pencairan tanah (soil liquefaction) di Kawasan Pantai Manohara, Gampong Meunasah Balek, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya.

“Kerusakan terparah pascagempa bumi yang berpusat di Pidie Jaya terdapat di daerah Kecamatan Meureudu, yang diakibatkan oleh adanya liquefaction yang terletak di kawasan Pantai Manohara,” ungkap ahli geologi Dr Sri Hifayati, seperti dilansir dalam siaran pers Bagian Humas dan Protokoler Pemkab Pidie Jaya, Sabtu (17/12).

Dikatakan, hasil pengkajian Tim Ahli Geologi dan Geofisika BMKG ini, dipaparkan dalam konfrensi pers di ruang rapat Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Pijay, Jumat (16/12) malam. Tim ini antara lain terdiri atas ahli geologi Dr Sri Hifayati, ahli geofisika ITB Wahyu Triyoso PhD, dari Kementerian PU Ir Sutadji Yuwasdiki, Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Ir B Wisnu Wijaja, dan Kabag Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) ITB, Prof Masyhur Irsyam.

Penelusuran Serambi dari wikipedia.org, pencairan tanah atau likuifaksi tanah (bahasa Inggris: soil liquefaction) adalah suatu fenomena perilaku tanah yang jenuh atau sebagian jenuh, secara substansial kehilangan kekuatan dan kekakuan akibat adanya tegangan. Biasanya gempa bumi yang bergetar atau perubahan lain secara tiba-tiba dalam kondisi menegang, menyebabkan tanah tersebut berperilaku seperti cairan atau air berat.

Dr Sri Hifayati mengatakan, pihaknya juga menemukan retakan lapisan tanah di beberapa titik di Kecamatan Meureudu. Ahli Geofisika ITB, Wahyu Triyoso PhD memaparkan, gempa Pijay terjadi karena adanya gerakan (tanah) naik turun yang kemudian diiringi dengan pergeseran lempeng bumi. Dampak yang paling kuat terjadi kepada bangunan rumah toko (ruko) dan rumah bertingkat.

Sementara Kabag Ikatan Ahli Bencana Indonesian (IABI) ITB, Prof Masyhur Irsyam memaparkan adanya semburan pasir lunak di beberapa titik di kawasan Pidie Jaya. Menurutnya, hal ini disebabkan oelh letak geografis Kabupaten Pidie Jaya yang berada di sebuah cekungan antara perbatasan Aceh Besar hingga ke Bireuen. Sehingga di tempat tersebut mempunyai kontur tanah yang lunak dan berpasir.

Ia menyebutkan, patahan dan hentakan yang terjadi saat gempa beberapa hari lalu, menyebabkan keluarnya bagian dalam dari lapisan yang berupa pasir halus. “Pasir halus ini keluar dari retakan dan patahan yang ada, seperti yang terdapat di daerah Pante Raja,” ungkap Masyhur Irsyam seperti dilansir Humas Pemkab Pijay.

Menurut Irsyam, endapan pasir lunak yang terdapat di bawah lapisan tanah ini sangat berpengaruh terhadap lapisan yang ada di atasnya. Sebab, dengan adanya pergerakan lempengan yang terletak di Pidie Jaya ini, akan memberikan efek yang sangat dahsyat sehingga dapat meruntuhkan bangunan yang memiliki bahan material kurang baik.

Sementara itu, dari ahli Kementrian PU Ir Sutadji Yuwasdiki, dalam paparannya me

Selain itu, banyak dinding yang tidak memiliki pengikat ke pilar yang ada, sehingga sangat mudah untuk terlepas dari kedudukannya. Ditemukan juga banyak bangunan ruko yang menambah ketinggian jumlah lantai, seperti penambahan ruangan untuk sarang burung walet.

Sutadji menyarankan agar bangunan yang akan dibangun di kawasan Pidie Jaya pada masa mendatang tidak seluruhya menggunakan bahan beton, tapi menggunakan bahan yang relatif ringan, sehingga tidak memberikan beban yang besar terhadap pilar.

Sedangkan Deputi bidang pencegahan dan kesiapsiagaan, Ir B Wisnu Wijaja mengatakan, gempa Pidie Jaya merupakan suatu pembelajaran yang paling berharga. Karenanya, ia mengharapkan penyampaian dari para ahli dapat diteruskan dan disampaikan kepada masyarakat agar tidak perlu takut dengan adanya gempa susulan. “Dilihat dari waktu yang sudah melebihi dari hari ke tujuh, tidak akan terjadi lagi gempa susulan dengan skala yang lebih besar,” kata Wisnu Wijaja
ngatakan, kontruksi bangunan masih banyak yang menggunakan baja yang tidak sesuai dengan standarisasi yang ada. “Segi pilar bagunan rata-rata hanya polos dan tidak berserat, sehingga sangat rapuh untuk menopang berat material bangunan yang lain,” ujarnya.

Senin, 12 Desember 2016

Dalih Relawan, 6 WNA Asal China Berbuat Makar Di Aceh

Tim RAM UNION RESCUE dari China di Bandara SIM Aceh, Senin (12/12/2016). Foto: Ist

BANDA ACEH| BN-Indonesia benar-benar menjadi tempat yang nyaman bagi pendatang haram (ilegal) dari luar negeri, terutama dari Negeri Komunis China. Kondisi tersebut terpantau, Senin, 12 Desember 2016, pukul 10.18  WIB.

Mereka berkelompok dan saat berjalan seperti salah tingkah. Kondisi tersebut terpantau di Bandara Udara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang,  Aceh Besar,  Aceh. Sebelum meninggalkan Aceh, mereka sempat beberapa hari di lokasi gempa Pidie Jaya, Aceh bergaya seperti relawan.

“Mereka telah dimonitor tempat pemberangkatan terkait keberangkatan penumpang Domestik Tim RAM UNION RESCUE  dari CHINA,” demikian informasi yang diperoleh dari internal bandara.

Menurut sumber itu, kelompok WNA asal China yang berjumlah 6 orang itu masuk dan bekerja tanpa izin dari Kementerian Luar Negeri RI dann BNPB.  Sebelumnya mereka telah lama di Aceh, dan berupaya pergi dari Banda Aceh tujuan Medan dengan menggunakan pesawat Lion Air, jenis Boeng 737-9GP (ER), JT. 197, PK-LJO.

“Mereka ada 6 orang, sekilas kita pikir WNI turunan,” beber sumber itu.

Sumber tersebut juga membeberka  nama – nama WNA asal China yang berangkat dari Banda Aceh tujuan Kuala Namu, Medan. Mereka adalah Mr. Caihong Gan, Mr. Hailiang Sun, Mr. Bin Wang,Mr. Lijun Xu,Mr. Dang Zheng terakhir Mrs. Jianxia Xu.

Hingga berita ini dilansir, belum berhasil menghubungi pihak Kantor Imigrasi Banda Aceh. Seperti kejadian sebelumnya, biasanya setiap kali ditanyakan persoalan ada WNA menyalahi Visa, pihak Imigrasi selalu menutupi perihal tersebut kepada Pers dan bahkan mereka tak sungkam mengaku diluar pantauan mereka.