Rabu, 29 Maret 2017
Umrah Ramadhan Seperti Haji Bersama Nabi
Senin, 19 Desember 2016
Manohara Titik Gempa Pijay
MEUREUDU - Tim Ahli Geologi dan Geofisika BMKG menyatakan, gempa bumi yang berpusat di Pidie Jaya, Rabu (7/12) pekan lalu, diakibatkan oleh adanya pencairan tanah (soil liquefaction) di Kawasan Pantai Manohara, Gampong Meunasah Balek, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya.“Kerusakan terparah pascagempa bumi yang berpusat di Pidie Jaya terdapat di daerah Kecamatan Meureudu, yang diakibatkan oleh adanya liquefaction yang terletak di kawasan Pantai Manohara,” ungkap ahli geologi Dr Sri Hifayati, seperti dilansir dalam siaran pers Bagian Humas dan Protokoler Pemkab Pidie Jaya, Sabtu (17/12).
Dikatakan, hasil pengkajian Tim Ahli Geologi dan Geofisika BMKG ini, dipaparkan dalam konfrensi pers di ruang rapat Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Pijay, Jumat (16/12) malam. Tim ini antara lain terdiri atas ahli geologi Dr Sri Hifayati, ahli geofisika ITB Wahyu Triyoso PhD, dari Kementerian PU Ir Sutadji Yuwasdiki, Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Ir B Wisnu Wijaja, dan Kabag Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) ITB, Prof Masyhur Irsyam.
Penelusuran Serambi dari wikipedia.org, pencairan tanah atau likuifaksi tanah (bahasa Inggris: soil liquefaction) adalah suatu fenomena perilaku tanah yang jenuh atau sebagian jenuh, secara substansial kehilangan kekuatan dan kekakuan akibat adanya tegangan. Biasanya gempa bumi yang bergetar atau perubahan lain secara tiba-tiba dalam kondisi menegang, menyebabkan tanah tersebut berperilaku seperti cairan atau air berat.
Dr Sri Hifayati mengatakan, pihaknya juga menemukan retakan lapisan tanah di beberapa titik di Kecamatan Meureudu. Ahli Geofisika ITB, Wahyu Triyoso PhD memaparkan, gempa Pijay terjadi karena adanya gerakan (tanah) naik turun yang kemudian diiringi dengan pergeseran lempeng bumi. Dampak yang paling kuat terjadi kepada bangunan rumah toko (ruko) dan rumah bertingkat.
Sementara Kabag Ikatan Ahli Bencana Indonesian (IABI) ITB, Prof Masyhur Irsyam memaparkan adanya semburan pasir lunak di beberapa titik di kawasan Pidie Jaya. Menurutnya, hal ini disebabkan oelh letak geografis Kabupaten Pidie Jaya yang berada di sebuah cekungan antara perbatasan Aceh Besar hingga ke Bireuen. Sehingga di tempat tersebut mempunyai kontur tanah yang lunak dan berpasir.
Ia menyebutkan, patahan dan hentakan yang terjadi saat gempa beberapa hari lalu, menyebabkan keluarnya bagian dalam dari lapisan yang berupa pasir halus. “Pasir halus ini keluar dari retakan dan patahan yang ada, seperti yang terdapat di daerah Pante Raja,” ungkap Masyhur Irsyam seperti dilansir Humas Pemkab Pijay.
Menurut Irsyam, endapan pasir lunak yang terdapat di bawah lapisan tanah ini sangat berpengaruh terhadap lapisan yang ada di atasnya. Sebab, dengan adanya pergerakan lempengan yang terletak di Pidie Jaya ini, akan memberikan efek yang sangat dahsyat sehingga dapat meruntuhkan bangunan yang memiliki bahan material kurang baik.
Sementara itu, dari ahli Kementrian PU Ir Sutadji Yuwasdiki, dalam paparannya me
Selain itu, banyak dinding yang tidak memiliki pengikat ke pilar yang ada, sehingga sangat mudah untuk terlepas dari kedudukannya. Ditemukan juga banyak bangunan ruko yang menambah ketinggian jumlah lantai, seperti penambahan ruangan untuk sarang burung walet.
Sutadji menyarankan agar bangunan yang akan dibangun di kawasan Pidie Jaya pada masa mendatang tidak seluruhya menggunakan bahan beton, tapi menggunakan bahan yang relatif ringan, sehingga tidak memberikan beban yang besar terhadap pilar.
Sedangkan Deputi bidang pencegahan dan kesiapsiagaan, Ir B Wisnu Wijaja mengatakan, gempa Pidie Jaya merupakan suatu pembelajaran yang paling berharga. Karenanya, ia mengharapkan penyampaian dari para ahli dapat diteruskan dan disampaikan kepada masyarakat agar tidak perlu takut dengan adanya gempa susulan. “Dilihat dari waktu yang sudah melebihi dari hari ke tujuh, tidak akan terjadi lagi gempa susulan dengan skala yang lebih besar,” kata Wisnu Wijaja
Senin, 12 Desember 2016
Warga di Pante Manohara Berjanji Tutup Pante Manohara Selamanya
Akses masuk menuju Pantai Manohara di Pidie Jaya, Aceh, ditutup warga dengan ranting-ranting pohon, Minggu (11/12).
PIDIE Jaya, Indonesia - Pantai Manohara yang membentang di Desa Meuraksa Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya, biasanya tak pernah sepi pada akhir pekan. Namun Sabtu-Minggu kemarin pantai tersebut kosong melompong.
Sebelumnya pada tahun 2014 Empat unit jamboe (pondok-red) mesum di kawasan wisata pantai Manohara, Meunasah Balek, Kecamatan Meureudu pernah dibakar anggota Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilyatul Hisbah (Satpol PP dan WH) Pidie Jaya. Aksi tersebut terjadi setelah pertugas menerima laporan warga setempat, tentang indikasi penyalahgunaan tempat itu. Hasil pengintaian tim ke lokasi, petugas mengetahui perbuatan mesum di beberapa jamboe yang didesain tertutup bak tutup saji nasi.
Kafe-kafe tutup, wisatawan tak ada, dan jalan masuk menuju pantai tersebut diblokir warga dengan ranting-ranting pohon. “Sudah ditutup," kata seorang pria bertopi di tepi jalan saat Rappler hendak masuk ke pantai, Minggu 11 Desember 2016.
Pantai Manohara sejatinya bernama pantai Meuraksa atau pantai Meureudu. Nama Manohara muncul bersaman dengan pemberitaan kisruh rumah tangga Manohara Odelia Pinot dengan Teungku Muhammad Fakhry Petra, putra mahkota Kerajaan Klantan, Malaysia.
Saat itu, memanfaatkan momentum ketenaran Manohara, seorang pemilik kafe di pantai tersebut mencomot nama Manohara untuk dijadikan nama kafenya. Sejak itu pantai ini lebih dikenal dengan nama Pantai Manohara.
Rada Rabu pagi 7 Desember lalu, gempa 6,5 SR menghantam Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Ratusan rumah toko dan rumah hancur berantakkan. 101 orang dilaporkan tewas dan ratusan lainnya cedera.
Namun kafe-kafe di bibir Pantai Manohara yang terbuat dari kayu tetap berdiri. Padahal Pantai Manohara merupakan daratan yang paling dekat dengan pusat gempa, yakni 18 kilometer dari timur laut Manohara.
Selasa, 25 Oktober 2016
Warna Warni Pantai Alun Alun Sigli, Buat Kamu yang Hobi Selfie
Minggu, 17 Juli 2016
PLTD Apung Punge Banda Aceh
Kapal berbobot 2.600 ton ini sebelumnya berada di laut yang jauhnya sekitar 5 kilometer dari tempat berdirinya sekarang (Punge Blang Cut, Jaya Baru, Kota Banda Aceh). Pada tahun 2004, kapal ini terseret 4-5 km ke daratan akibat gempa bumi dan gelombang tsunami setinggi 9 meter





