Tampilkan postingan dengan label Kutablang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kutablang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 April 2017

Sekcam Kutablang Harapkan Pemkab Bireuen Segera Bangun Rumah Warga Gle Putoh yang Tertimpa Pohon


Sekcam Kutablang Mukhsen S, Ag dengan sigap langsung turun ke lokasi di Desa Glee Putoh Kecamatan Kutabalang saat mendapat laporan dari masyarakat ada rumah warga yang tertimpa pohon, Sabtu(15/4/2017).

Mukhsen menyebutkan, rumah milik Bukhari Yahya (39) yang sehari-harinya sebagai tukang bangunan dan istrinya Anidar (37) guru mengaji  itu rusak parah akibat tertimpa pohon.

Dikatakannya, kejadian naas tersebut terjadi sekira pukul 7. 30 Wib, tiba-tiba sebuah pohon mancang yang sudah tua dan akarnya lemah menimpa rumah warga miskin tersebut.

“Beruntung pemilik rumah berhasil menyekoralamatkan diri ke luar rumah setelah mendengarkan suara runtuhan pohon akan roboh,” ungkap Mukhsen.

Dikatakannya, akibta peristiwa itu, anak pasangan tersebut bernama Nurul Fajri (16) mengalami lecet ringan terkena serpihan runtuhan rumah, kemudian dilarikan ke pukesmas untuk medapatkan perawatan medis.

“Warga setempat mulai berdatangan untuk membantu membersihkan dan memotong pohon yang menimpa rumah warga itu, bantuan masa panik juga mulai disalurkan oleh dinas terkait,” jelas Sekcam Kutablang itu.

Mukhsen sangat mengharap bantuan rumah layak huni dari Pemeritah Kabupaten Bireuen untuk segera dibangun, mengingat rumah tersebut sangat dibutuhkan.

“Apalagi selama ini rumah tersebut digunakan sebagai tempat pengajian anak-anak,” pungkasnya.

Jumat, 07 April 2017

Mencoba Peruntungan Melalui Jasa Angkutan Boat di Krueng Tingkeum

Pengoperasian boat di Krueng Tingkeum sejak jembatan rangka baja tersebut ditutup total dan dibongkar, tentu saja sangat membantu warga sekitar jembatan kutablang tersebut.

Karena, jika memutar arah melalui jalur alternatif, maka kana makan waktu yang lebih lama dan jauh. Karena itu, satu-sdatunya cara yang cepat untuk sampai tujuan. Konsekwensinya tentu saja mereka harus mengeluarkan duit tambahan untuk ongkos menumpang boat atau perahu.

Meski, sebagian diantara mereka sempat mengeluhkan besaran tarif yang ditetapkan dan meminta Pemerintah Kabupaten Bireuen menyediakan rakit penyeberangan gratis. Tapi sebagian yang lain tak merasa keberatan.

Salah seorang warga sekitar Jembatan Kutablang, Mukhlis Munir yang mencoba peruntungan jasa transportasi penyeberangan di Krueng Tingkeum, Jumat (7/4/2017) sore menyebutkan,  dia mengoperasikan dua buah boat untuk mengangkut penumpang dan motor. Boat tersebut merupakan boat sewaan yang digunakan untuk mengangkut penumpang.

Satu boat muat, 6 motor  ditambah dengan 10 orang penumpang. Sementara yang satunya lagi muat 10 motor ditambah 15 orang penumpang.

“Tarif yang dikenakan untuk motor  200cc ke bawah Rp 5000 per unit plus satu orang. Sementara  untuk  motor 200 cc ke atas, ongkosnya Rp  8000 ditambah satu orang. Khusus vixion Rp7000 per unit dan satu orang penumpang,” rincinya

Untuk ongkos penumpang orang dewasa, katanya, dia mematok Rp 3000 per orang, namun kebanyakan penumpang boat hanya membayar Rp 2000. “Tapi kita tak persoalkan meski dibayar segitu, karena mereka merupakan pelanggan tetap,” sebutnya.

Sementara untuk  anak sekolah, tarif boat yang dikenakan hanya Rp 1000 saja, tapi jika ada anak yang tak punya uang untuk ongkos membayar gethek, maka  digratiskan.

Boat tersebut mulai beroperasi dari pukul  6.30 -18.30 Wib. Dilanjutkan pengoperasiaannya pada malam hari mulai pukul 19.00- 23.00 Wib.

Selasa, 28 Maret 2017

Pemkab Bireuen Segera Bangun Dermaga Darurat di Krueng Tingkeum

BIREUEN - Dalam waktu dekat ini, Pemerintah Kabupaten Bireuen melalui Dinas Sosial setempat segera membangun dermaga darurat di kawasan bantalan Krueng Tingkeum, Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen.
Dinas Sosial Bireuen segera membangun dermaga darurat, di dua titik bantalan sungai Krueng Tingkeum, Kutablang, Bireuen, Selasa (28/3/2017)

Dermaga tersebut dapat dimanfaatkan untuk pendaratan atau merapatnya boat-boat tradisional, alat penyeberangan anak sekolah dan masyarakat di kawasan jembatan Krueng Tingkeum, Kutablang.

Kadis Sosial Bireuen, Murdani, Selasa (28/3/2017) menjelaskan, dermaga itu diharapkan dapat dimanfatkan dan memudahkan naik turunnya para penumpang, terutama anak-anak.

“Kita akan mengupayakan membangun dermaga di dua titik bantalan sungai, baik arah barat maupun arah timur dan berdekatan dengan jembatan Krueng Tiungkeum,” katanya usai menyerahkan satu unit speedboat kepada Camat Kutablang, Rusli.

Tujuan dibangunya dermaga darurat ini, tambah Murdani, sebagai bentuk kerjasama dengan para pengelola boat di Krueng Tingkeum.

“Bahkan pengelola boat di sana juga akan menggratiskan ongkos angkutan bagi anak sekolah yang bereda di kawasan itu,” katanya.

Sementara untuk penumpang umum, atau masyarakat biasa tetap boleh dipungut ongkos biaya sekadarnya, untuk kebutuhan operasional sebesar Rp 3000 per orang.

Baca juga: Jembatan Kutablang Bireuen Hampir Rampung Dibongkar

“Agar dapat menjaga keselamatan angkutan sungai ini, bagi pemilik boat di Krueng Tingkeum juga tetap akan kita membekali dengan memberikan baju pelampung,” kata Murdani.

Selasa, 21 Maret 2017

Diduga PT Takabeya Kerjakan Jalan Alternatif Sebelah Barat Utara Asal Jadi

Bireuen - Setelah jembatan penghubung Banda Aceh Medan ini di bongkar sejumlah kendaraan roda dua maupun roda empat dialihakan ke jalan aternatif sesuai dengan hasil rapat para unsur forkopimda kebupaten Bireuen beberapa waktu yang lalu, Selasa (21/03).

"M.nasir (40) warga gampong rancong kecamatan kutablang mungunggkapkan kekecewan terhadap kenerja kontraktor yang dinilai pekerjaan proyek pengerasan jalam alternatif, yang saat pengerjaan nya dinilai asal jadi, menurutnya ini sangat merugikan para pengguna jalan tersebut.

Menurutnya, Proyek yang dikerjakan dengan anggaran puluhan milyaran tersebut terkesan pengerjaannya asal jadi, yang dikerjakan oleh PT. Takabeya.

Tambahnya, jalan yang saat ini digunakan untuk melintas itu belum lama digunakan. Dan di jalan yang baru digunakan ini sudah banyak menelan korban, yang diakibatkan oleh badan jalan sudah mereng dan juga banyak yang sudah berlumbang ini dikarnakan faktor pengerjaan nya asal jadi.

Padahal jalan tersebut sudah menghubakan anggaran puluhan milyar ini sungguh sangat disayangkan karena belum bisa digunakan secara efektif oleh para pengguna jalan,"ungkapnya.

Ia juga menambahkan apabila hal tersebut tidak segera di indahkan oleh pihak rekanan maka kami akan melakukan blokade jalan aternatif yang selama ini digunakan oleh para pengguna jalan tersebut,"ungkapnya dengan nada kesal.

Saat dikomfirmasi pihak rekanan dari PT Takabeya melalui pesan WA, mengatakan dalam pesan yang dikirimnya dalam bahasa Aceh yang mengatakan,"Kamoe melaksanakan jalannya ka sesuai arahan dinas, mohon konfirmasi mantong ke dinas terkait bahna info yang lengkap, "kami laksanakan jalan itu sudah sesuai arahan dinas mohon komfom aja ke dinas terkait biar infonya lengkap dalam pesan yang dikirim ke wartawan media ini
Dan saat berita ini di terbitkan wartawan media ini belum bisa melakukan komfirmasi dengan pihak dinas terkait.

Sabtu, 18 Maret 2017

Melawan Derasnya Arus Krueng Tingkeum

MURID sekolah dasar menumpang boat untuk menyeberangi Krueng Tingkeum, Kutablang, Bireuen, saat pulang sekolah, Sabtu (18/3).

DERU mesin boat kayu meraung membelah derasnya arus sungai Krueng Tingkeum, Kutablang, Bireuen, Sabtu (18/3) siang. Raut cemas terlihat jelas di wajah beberapa bocah perempuan berseragam Pramuka sekolah dasar yang baru pulang dari sekolah. Tangan-tangan mungil mereka menggenggam erat bagian sisi boat. Sementara bocah-bocah laki-laki justru menikmati momen tersebut, bercengkrama dengan teman. Ada juga yang duduk di atas sebilah papan, sambil menyilangkan kaki.
Perjuangan para bocah SD ini masih berlanjut saat boat itu merapat ke sisi lain Krueng (sungai) Tingkeum. Satu persatu anak-anak ini naik ke daratan yang tak bersemen. Tangan-tangan mungil mereka disambut oleh penyedia jasa angkutan boat yang berada di darat. Satu-persatu mereka menyetorkan uang Rp 2.000, untuk ongkos jasa menyeberang sungai.
Rutinitas baru di Krueng Tingkeum ini mulai berlangsung sejak Rabu (15/3), tiga hari setelah jembatan yang membelah sungai ini ditutup total pada, Minggu (12/3). Amatan Serambi Sabtu (18/3), jembatan rangka baja yang membelah Sungai Tingkeum ini, tidak bisa dilintasi lagi, termasuk oleh pejalan kaki. Seluruh lantai jembatan ini sudah dibongkar untuk dibangun baru. Jembatan itu sudah sangat miring dan hampir patah dihantam arus Krueng Tingkeum beberapa waktu lalu.
Semenjak jembatan ini ditutup total, arus kendaraan dialihkan ke jalur alternatif dengan jarak tempuh bertambah hingga 8 kilometer untuk kembali tiba di ujung (seberang) jembatan. Jarak tempuh yang sangat jauh, ditambah kondisi jalan alternatif yang jelek dan berdebu ini, membuat warga sekitar lebih memilih menyeberangi sungai untuk pergi ke pasar Kutablang. Meski resiko yang dihadapi lebih besar, karena arus sungai Tingkeum tergolong cukup deras.
Sabtu kemarin, di bantaran Krueng Tingkeum, tepatnya di bawah jembatan rangka baja yang sudah dibongkar itu, terdapat dua kapal motor (boat) yang masing-masingnya berkapasitas 10 orang penumpang. Kedua boat itu mengangkut anak sekolah dan warga yang bermukim di bagian barat jembatan (Krueng Tingkeum Manyang) untuk keperluan berbelanja maupun bersekolah di kawasan pasar Kutablang.
Bocah-bocah SD itu nekad mengarungi derasnya arus Krueng Tingkuem agar bisa cepat sampai di sekolah. Karena jika menumpang angkutan umum darat melalui jalur alternatif, jarak tempuhnya mencapai 8 kilometer, belum lagi jalannya berdebu karena tidak beraspal. Sementara dengan menyeberangi sungai, jarak tempuh ke sekolah mereka hanya sekitar 1 kilometer.
Anak-anak ini hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 2.000 untuk ongkos sekali menyeberangi sungai. Sementara bagi orang dewasa, dipatok ongkos Rp 3.000 per penumpang.
Pantauan Serambi kemarin, selain anak-anak sekolah, beberapa ibu-ibu yang hendak pergi ke sawah terlihat menaikkan sepedanya ke atas boat. Beberapa warga yang hendak berbelanja di pasar Kutablang, juga menggunakan jasa kedua boat itu. Beberapa balita terlihat menangis saat mesin boat meraung menyeberangi sungai tersebut.
“Sejak jembatan Krueng Tingkeum ini dibongkar tiga hari lalu, untuk pergi dan pulang sekolah kami terpaksa naik boat. Kami sangat takut saat menyeberangi sungai karena arus air sungai cukup deras,” ujar Ikhsan (10), murid kelas IV MIN Kutablang, saat ditemui Serambi bersama teman-temannya di bantaran Krueng Tingkeum usai pulang sekolah kemarin.
Hal hampir senada juga dikatakan Rohana (52), warga Desa Blang Panjoe, Kutablang. Ibu yang bekerja sebagai petani ini mengaku sejak tiga hari lalu terpaksa menaikkan sepedanya ke atas boat saat menyeberangi sungai, untuk bisa sampai ke sawah guna mengasapi dapur keluarganya.
“Kalau saya naik sepeda hingga ke sawah lewat jalan alternatif jaraknya mencapai 10 kilometer lebih, saya tidak sanggup dayung sepeda. Mau tidak mau saya harus naikkan sepeda ke dalam boat,” kata Rohana.
Sementara Saiman (38), warga Desa Kulu mengatakan, warga desanya sangat mengharapkan kepada pemeritah untuk menyediakan boat khusus tanpa harus bayar dan bus sekolah untuk anak-anak sekolah.
“Biasanya anak-anak naik sepeda ke sekolah, sekarang naik boat harus bayar dan mengancam jiwa anak-anak saat menyeberang sungai. Kami butuh bantuan boat gratis dari pemerintah untuk membantu anak sekolah dan warga kurang mampu, karena kalau menggunakan jasa boat pribadi, warga harus menambah biaya untuk ongkos boat pulang pergi setiap hari,” kata Saiman.

Kamis, 16 Maret 2017

Jembatan Dibongkar, Siswa Menyebrang Gunakan Perahu Panambang Pasir

BIREUEN - Akibat terlalu jauh memutar untuk beranjak ke sekolah, sebagian besar siswa SMP, MTsN dan tingkat SMA di kawasan pinggir jembatan Krueng Tingkuemn, Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen lebih memilih menumpang perahu milik penambang pasir.

Menurut sejumlah warga selama dibongkarnya jembatan, sebagian besar anak-anak, terutama siswa yang rumhanya di bagian barat jembatan memilih naik perahu panambang pasir, agar bisa menyeberang ke arah timur untuk bersekolah.

“Kalau mereka berangkat ke sekolah melalui jalur jalan anternatif, arah utara Krueng Tingekum, Cot Mee hingga ke pusat Kota Kecamatan Kutablang terlalu jauh, belum lagi saat pulang,” kata seorang warga Krueng Tingkeum, Amiruddin, Kamis (16/3/2017).

Bahkan selama pembokaran jembatan ini, tambahnya, sebagian siswa tingkat MTSN dn SMP banyak yang libur sekolah. Lantaran terlalu jauh memutar untuk tiba di sekolah. Sementara letak sekolah mereka hanya terpaut 1 kilometer dari rumahnya.

Selain Amiruddin, hal yang sama juga dikatakan warga Kutablang lainnya, Helmi. Seharusnya, kata Dia, sebelum jembatan itu di bongkar, pemerintah daerah atau pemerintah provinsi membangun satu unit jembatan darurat yang bisa dilintasi kendaraan roda dua, atau untuk jalur siswa sekolah.
“Yang kita sayangkan, anak-anak yang mau mengaji malam. Apakah mereka juga harus berangkat memutar arah dengan begitu jauh setiap malamnya,” keluhnya.

Anehnya, kata warga, kesulitan masyarakat ini tidak membuat anggota DPRK Bireuen bersuara. “Kadang kami heran, fungsi DPRK Bireuen itu sebenarnya untuk apa, apakah duduk manis dan terima gaji saja. Sementara rakyatnya tidak ada yang peduli,” sebut bebarapa warga lainnya di sebuah warung di Kutablang.

Pemilik perahu penambang pasir, di aliran sungai Krueng Tingkeum, Kutablang, Kabupaten Bireuen menuntun siswa saat pergi dan pulang sekolah, pascadibongkarnya jembatan tersebut, Kamis (16/3/2017).

Rabu, 15 Maret 2017

Pembongkaran Lantai Jembatan Kutablang Jadi Tontonan Warga

BIREUEN - Pembongkaran lantai jembatan rangka baja, Krueng Tingkeum, Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen menjadi tonton warga di kawasan itu, Rabu (15/3/2017). Selain warga, para siswa usai sekolah, juga ikut menyaksikan pembongkaran tersebut.
“Menarik juga dilihat saat dibongkar lantainya, apa lagi kami jarang melihat alat berat yang bekerja seperti ini,” ujar seorang warga Kutablang, Bireuen.

Sementara itu, hingga hari ketiga ditutupnya jalur jembatan tersebut, proses pembongkaran sudah berjalan hampir 20 persen.

Menurut sejumlah tim di lapangan, setelah pembongkaran aspal, pihaknya kembali membongkar besi bantalan jembatan, sehingga memudahkan saat pemindahan pilar penyangga samping dan di bawah jembatan.

“Setelah seluruhnya selesai, baru dilakukan pembongkaran tiang penyangga jembatan dan ini butuh waktu lama,” kata sejumlah pekerja di lokasi.
Sebelumnya, Satker Kerja Pelaksana Jalan Nasional Wilayah I Provinsi, melalui Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) PU Aceh Wilayah Bireuen, Amri Mirza kepada wartawan mengatakan, pembongkaran jembatan rangka baja, Krueng Tingkeum, Kecamatan Kutablang, Bireuen membutuhkan 45 hari kerja.
“Setelah pembongkaran, jembatan ini langsung dibangun baru. Saat ini sedang dalam proses tender di Kementerian Pekerjaan Umum Jakarta,” katanya.

Sabtu, 11 Februari 2017

Jembatan Kutablang Ditutup 18 Februari

BIREUEN - Jembatan Krueng Tingkeum (Jembatan Kutablang) yang berada di lintas Banda Aceh-Medan kawasan Kutablang, Bireuen, akan ditutup total mulai 18 Februari mendatang. Jembatan yang rusak/miring sejak 20 Januari 2017 itu akan ditutup sampai selesainya pembangunan jembatan yang baru.
Kepastian jadwal penutupan jembatan itu ditetapkan berdasarkan hasil investigasi tim teknis Direktorat Jembatan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), serta hasil rapat koordinasi Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Wilayah I Provinsi Aceh dan berbagai instansi terkait di Bireuen.

Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah I Provinsi Aceh melalui Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) PU Aceh Wilayah Bireuen, Amri Mirza mengatakan, setelah ditutup nanti, arus lalu lintas akan dialihkan ke jalur alternatif. Selama ini, pengalihan arus lalu lintas sudah dilakukan untuk kendaraan dari arah Medan ke Banda Aceh.

Sementara jalur alternatif sebelah utara, akan difungsikan beberapa hari lagi sebelum penutupan jembatan dilakukan. Nantinya kendaraan dari Banda Aceh ke Medan diarahkan belok ke kiri sebelum jembatan. Lalu mengikuti rambu-rambu yang sudah dipasang hingga tembus kembali ke lintas nasional.

Kedua jalan alternatif itu, kata Amri, sudah layak jalan. Namun, kemampuan atau daya tahan badan jalan sangat terbatas. Batas maksimalnya 20 ton sudah termasuk berat kendaraan, dengan kecepatan maksimal 20 kilometer/jam. “Berbagai persiapan terus dilakukan termasuk pemasangan rambu-rambu di jalur alternatif, serta koordinasi dengan berbagai pihak agar saat penutupan total nanti berjalan lancar,” demikian Amri Mirza.

Seperti diberitakan, Jembatan Krueng Tingkeum sejak Jumat (20/1) pukul 02.00 WIB, posisinya miring. Penyebabnya, pilar bawah jembatan dihantam tumpukan balok kayu yang dibawa arus deras di sungai itu. Awalnya, terdengar suara seperti gesekan besi. Warga yang rumahnya berdekatan dengan jembatan itu langsung keluar untuk memastikan dari mana sumber suara tersebut.

Ada yang menduga suara itu adalah suara kecelakaan lalu lintas di jembatan itu. Setelah dicek, suara itu ternyata berasal dari besi siku atas jembatan posisinya sudah miring, pilar utama di tengah jembatan juga sudah miring, dan terdapat tumpukan kayu bawaan air di dalam sungai.

Sementara jalur alternatif sebelah utara sudah diuji coba dan diharapkan tidak ada kendala saat digunakan dalam waktu dekat ini. Hal itu dikatakan Direktur Utama PT Takebeya Grup, Mukhlis AMd selaku pelaksana pembangunan ruas jalan alternatif tersebut. Sabtu (11/2).

Beberapa waktu lalu, tim PUPR Provinsi Aceh, Ditlantas Polda Aceh, unsur kementerian terkait, PUPR Bireuen, dan Kapolres Bireuen sudah melakukan uji coba lintasan tersebut.

Jaringan pipa PDAM yang ada di Jembatan Krueng Tingkeum, Kutablang, Bireuen, juga segera dibongkar. Proses pembongkaran atau pemindahan jaringan PDAM tersebut dalam proses tender di Banda Aceh.

Direktur PDAM Krueng Peusangan, Isfadli Yahya SE kepada Serambi mengatakan, pipa tersebut mendistribusikan air kepada 3.000 lebih pelanggan di Desa Krueng Panjoe, Bugak, Kuala Ceurape, dan Kapa, Kecamatan Peusangan.

Pemindahan jaringan pipa tersebut ditangani Satker Pengembangan Air dan Sanitasi PUPR Aceh. “Pemindahan jaringan PDAM segera dilakukan, agar saat pembangunan jembatan yang baru, suplai air bersih kepada masyarakat tidak terganggu,” demikian Isfadli Yahya.

Sabtu, 28 Januari 2017

Jembatan Kutablang Makin Miring

Kendaraan melintasi jembatan Krueng Tingkeum, Kutablang Bireuen, Minggu (29/1) yang sudah miring sejak beberapa hari lalu, sementara jalur alternatif sedang dipersiapkan.

Minggu, 22 Januari 2017

Jembatan Krueng Tingkeum Hari Ini Jalan Mulai Dialihkan

Jembatan Krueng Tingkeum, Kutablang Bireuen miring sejak Jumat dinihari, besi siku bagian atas terlihat jelas bengkok karena tertarik miring, polisi memasang police line agar kendaraan tidak melintasi lantai jembatan yang sudah miring.

BIREUEN - Posisi jembatan Krueng Tingkeum, Kecamatan Kutablang, Bireuen semakin miring. Karena itu, mulai Senin (23/1) hari ini kendaraan dari arah Medan ke Banda Aceh akan dialihkan melalui jalur alternatif yaitu ke arah selatan jembatan tersebut tembus ke Simpang Empat Gle Kapai, Kecamatan Peusangan, Bireuen. Pengalihan rute kendaraan itu bertujuan untuk mengurangi beban jembatan yang mulai miring akibat pilar bawahnya dihantam tumpukan balok kayu yang dibawa arus sungai itu, Jumat (20/1) dini hari WIB.

Kabid Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Bireuen kemarin, mengatakan, menjelang pengalihan rute, jalan alternatif itu sedang diperbaiki pada beberapa titik yang rusak. Tujuannya, untuk kelancaran arus kendaraan yang akan melintas nanti. Selain itu, juga sedang dipasang rambu-rambu penunjuk arah.

Jalan alternatif sebelah selatan jembatan Krueng Tingkeum itu, menurut Fadli, akan melintasi jalan Tingkeum Manyang, Blang Mee, Pante Baro, dan Desa Kubu. Kemudian, kendaraan harus melewati jembatan rangka baja Pante Lhong, lalu ke Simpang Empat Gle Kapai, Peusangan, hingga kembali ke jalan Medan-Banda Aceh. “Kami berharap pengendara berhati-hati saat melintasi jalan alternatif itu.

Sedangkan untuk kendaraan dari arah Banda Aceh, menurut Fadli, akan dialihkan melalui jalan sebelah utara jembatan Krueng Tingkeum dalam beberapa hari ke depan. Saat ini, jalur alternatif untuk kendaraan dari arah barat sudah disurvei untuk diperbaiki. Dikatakan, pada kedua jalan tersebut, sebagian yang rusak sudah diaspal.
“Jika jalur alternatif daru dua arah itu sudah berfungsi, maka jembatan Krueng Tingkeum akan ditutup untuk dibangun baru,” ungkap Fadli didampingi Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) PU Aceh Wilayah Bireuen, Amri Mirza.

Kemarin, kendaraan dari arah Banda Aceh (barat) dan Medan (timur) masih melintasi jembatan tersebut karena belum dibukanya jalan alternatif baik yang di sebelah selatan maupun utara jembatan. Warga setempat bersama tim lain membantu kelancaran arus lalu lintas di jembatan itu yang menggunakan sistem buka tutup.

Jembatan Krueng Tingkeum, Kutablang, Bireuen yang dibangun tahun 1991 akan segera dibongkar. Kepala Balai Besar Pelaksanaan
Jalan Nasional (BBPJN)I Dinas PU Aceh, Thabrani ST MT, Sabtu (21/1) malam mengatakan, jembatan itu harus segera dibongkar karena
tiang dan lantainya semakin miring, patahan bagian tengah jembatan terus bergeser, dan ikatan bagian atas jembatan makin melengkung dan patah pada kedua segmen.

Seharusnya, menurut Tabrani, jembatan itu sudah harus ditutup sejak Jumat (20/1) karena kondisinya tak mungkin dipertahankan lagi untuk dilintasi oleh berbagai jenis kendaraan. Namun, ia belum bisa memastikan apakah jembatan tersebut akan dibongkar seluruhnya atau sebagian saja.
“Saya akan melapor ke Jakarta agar kementerian bisa segera melaksanakan tender. Sehingga dalam waktu yang tak terlalu lama bisa membongkar dan membangun kembali jembatan tersebut,” jelas Tabrani.

Sementara itu, Pemkab Bireuen, Sabtu (21/1) malam, mengadakan rapat membahas penanganan jembatan tersebut. Rapat itu dihadiri Kapolres Bireuen, Dandim, Kajari, PDAM, PLN, kepala SKPK, serta Camat Peusangan, Kutablang, dan Camat Peusangan Siblah Krueng.

Plt Bupati Bireuen, Ir Mukhtar MSi mengatakan, hasil rapat itu akan segera dibawa Banda Aceh dan Kementerian PU. Menurut Mukhtar, jembatan Krueng Tingkeum ditangani dengan dana tanggap darurat dari APBN. “Jika sudah keputusan dari pusat, jembatan tersebut segera dibongkar,” ujarnya.

Kapolres Bireuen, AKBP Heru Novianto SIK menambahkan, pihaknya siap membantu mengatur arus lalu lintas dan kegiatan lain terkait pembongkaran jembatan Krueng Tingkeum. “Sehingga semua hal yang terkait dengan masalah ini akan berjalan lancar,” kata Kapolres.

Jumat, 20 Januari 2017

Jembatan Krueng Tingkeum Mayang Harus Dibongkar


BIREUEN – Rekomendasi tim teknis dari Kementerian Pekerjaan Umum serta dari Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) III Balai PU Aceh, jembatan Tingkeum Mayang Kutablang Bireuen harus dibongkar dan tidak bisa dipertahankan lagi, tingkat kemiringan sudah 30 derajat.
Demikian disampaikan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Bireuen , Ismunandar ST MT melalui Kabid Bina Marga, Fadli Amir yang ikut serta bersama tim teknis melihat secara dekat kondisi jembatan, Jumat (20/1/2017).

Tim dari kementerian PU serta Balai PU Aceh tiba di Bireuen usai shalat Jumat dan langsung melihat secara dekat kondisi jembatan, kemudian melihat kondisi jalan alternatif apabila jembatan tersebut dibongkar.
“Rekomendasi tim jembatan tidak bisa dipertahankan lagi, kami sudah koordinasi dengan Polres Bireuen dan pihak lainnya,” ujar Ismunandar ST MT seperti diberitakan serambi Jumat malam.

Kondisi jembatan sudah miring 30 derajat, daya tahan terbatas sehingga dikhawatirkan jembatan akan ambruk.

Sebelum jembatan ambruk maka diambil langkah antisipasi yaitu mengalihkan rute bagi para pengendara baik dari Medan ke Banda Aceh maupun sebaliknya.

Mulai pukul 22.00 WIB malam kendaraan yang bisa melintasi jembatan tersebut mulai dibatasi, maksimal beratnya 12 ton.
“Bila satu unit kendaraan beratnya 12 ton, maka satu kendaraan itu saja yang bisa melintasi jembatan tersebut, sedangkan kendaraan lainnya diminta menunggu,” ujar Ismunandar.

Rute alternativ katanya, kendaraan dari arah timur jembatan Krueng Tingkeum, Kutablang Bireuen setibanya di dekat jembatan masukruas jalan sebelah selatan jembatan Tingkeum Mayang ke ruas jalan Desa Kulu, Blang Mee, Blang Panjoe ke jembatan rangka baja Pante Lhong terus ke Simpang Empat Gle Kapai.

Sedangkan kendaraan dari arah barat masuk ke ruas jalan sebelah utara jembatan Tingkem Mayang ke Tingkeum Baro memasuki jembatan rangka baja, Mon Keulayu dan ke Tingkeum Baro, Kutablang ke Lhokseumawe.

Kondisi ruas jalan sebagian besar sudah aspal hanya beberapa tempat yang perlu hati-hati.
“Tim akan melakukan servei sekaligus perbaikan pada ruas jalan alternative yang akan dilalui berbagai jenis kendaraan ketika jembatan diperbaiki,” ujar Ismunandar yang didampingi Fadli Amir.

Kamis, 19 Januari 2017

Jembatan Rangka Baja Krueng Tingkeum Oleng


Bireuen – Satu unit jembatan rangka baja Krueng Tingkeum, Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen oleng akibat dihantam balok kayu yang terbawa air bah dari arah pegunungan pada Jumat, (20/1/2017) pagi sekira pukul 4.00 WIB.
Seperti yang diberitakan juangnews Hal ini berdasarkan keterangan salah seorang warga setempat Mukhlis Munir (34) mengatakan jembatan yang terletak di lintasan Medan – Banda Aceh itu oleng diperkirakan sekira pukul 4 pagi.
“Sekitar pukul 4 tadi pagi Jembatan Krueng Tingkeum oleng,” kata Mukhlis.
Berdasarkan pantauan langsung , di lokasi sekitar jembatan yang oleng tersebut terlihat beberapa personil kepolisian dari Polres Bireuen yang mengatur lalu lintas yang terlihat macet akibat banyaknya masyarakat yang memadati lokasi kejadian.
Beberapa truck angkutan berat juga berjalan lamban dan sangat hati-hati, karena kondisi jembatan arah selatan sudah terlihat sangat miring, sementara di bawah jembatan tumpukan sampah dan balok kayu terlihat mulai menggunung. Akibat tumpukan sampah dan balok kayu inilah yang diperkirakan warga sehingga membuat jembatan makin miring. Sementara besi di atas jembatan mulai terlihat bengkok.
Beberapa warga di lokasi kejadian kepada media ini berharap supaya pemerintah cepat turun tangan, karena jika jembatan ini putus maka akan sangat mempengaruhi arus transportasi dari dua provinsi, yaitu Provinsi Aceh dan Sumatera Utara, yang tentunya akan berdampak terhadap perekonomian.
“Mudah-mudahan cepat ditangani oleh pemerintah,” ujar seorang warga.

Senin, 26 Desember 2016

Sulaiman Abda Tinjau Sawah Dadakan di Kutablang Bireuen

Sulaiman Abda Tinjau Sawah Dadakan di Kutablang Bireuen

Bireuen- Wakil Ketua DPRA, Drs. Sulaiman Abda, M.Si, Minggu (25/12/2016) meninjau lokasi sawah dadakan di pinggir jalan nasional Medan-Banda Aceh, Kota Kutablang, Bireuen. Namun ketika politisi Golkar itu bertanya siapa yang menanam padi itu, beberapa warga yang ada di sana mengaku tidak tahu.

Beberapa awak media yang ikut mendampingi, Sulaiman Abda mengaku apa yang dilakukan oleh warga dengan cara menanam padi di genangan lumpur di tengah kota, merupakan bentuk kritik yang menohok namun elegan.

“Ini bentuk dari sikap persuasif rakyat yang bosan dengan ketidakpedulian pihak berwenang. Drainase di Bireuen memang bermasalah. Sepanjang jalan tidak ada saluran air. Sehingga bila musim hujan, air menggenangi badan jalan,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Sulaiman Abda mengucapkan terima kasih kepada warga Kutablang yang telah membuat “cetak sawah baru” di pinggir jalan. Semoga baik Pemda maupun anggota legislatif dari dapil Bireuen, segera melihat fakta tersebut sebagai masalah yang harus diselesaikan segera.