Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 April 2017

Di Mana Letak Maqam Ibrahim AS Sebelum Dipindahkan?


Maqam Ibrahim adalah batu yang digunakan Nabi Ibrahim AS untuk berpijak sewaktu beliau membangun Ka’bah. Beberapa keutamaan Maqam Ibrahim yakni dijadikan tempat shalat, yaqut dari surga, dan tempat dikabulkannya doa.

Seperti dikutip dari buku Ensiklopedia Peradaban Islam (Makkah) karya Syafii Antonio, pada mulanya maqam ini menempel di dinding Ka'bah sebagai tempat berpijak Nabi ibrahim AS dalam meninggikan Ka'bah. Kemudian di zaman Khalifah Umar bin Khattab, maqam ini digeser mundur untuk memperluas orang yang melakukan thawaf.

Sosok Umar sendiri merupakan orang yang mesti diikuti sebagaimana Hadits Nabi Muhammad SAW, "Ikutilah dua sahabat setelah aku wafat, Abu Bakar dan Umar." Tidak ada seorangpun dari kalangan sahabat yang mengingkari pemindahan maqam tersebut.

Kotak Maqam Ibrahim terus mengalami perubahan. Mulanya, Maqam Ibrahim diletakkan di sebuah bangunan lemari perak yang di atasnya dibuat peti berukuran 6x3 meter. Luas kotak tersebut 18 meter. Bangunan ini memenuhi ruang tempat thawaf dan mempersulit jamaah yang melakukan thawaf.

Atas kesepakatan Rabitah Al-Alam Al-Islami(Organisasi Liga Umat Islam Dunia) pada 1387 Hijriyah, diubahlah menjadi kotak kaca kristal yang diliputi dengan besi di atas batu marmer berukuran 180x130 centimeter = 2,34 meter. Kemudian oleh pihak pemerintah, kotak tersebut dilapisi emas. Di luarnya dilapisi kaca bening setebal 10 centimeter yang tahan terhadap panas dan antipecah.

Saat ini jarak antara Maqam Ibrahim dengan sudut Ka'bah, dan Hajar Aswad = 14,5 meter. Jarak dengan Rukun Yamani = 14 meter, jarak dengan sudut saluran air = 13,25 meter.

Warna Maqam Ibrahim menyerupai warna perunggu, agak kehitam-hitaman. Cetakan kaki Nabi Ibrahim terbuat dari besi. Adapun rumah kaca sengaja dibuat untuk menghindari kerusakan prasasti jejak kaki Sang Pembangun Ka’bah, Nabi Ibrahim AS. Sama halnya dengan Hajar Aswad, posisi Maqam Ibrahim yang menempel di Ka’bah memiliki keistimewaan. Jika Hajar Aswad mengandung sunah penghormatan dengan cara mencium atau mengusapnya, Maqam Ibrahim dihormati dengan melakukan shalat sunah di belakangnya.

Saat musim haji, tentu bukan perkara mudah untuk bisa shalat sunah tepat di belakang Maqam Ibrahim. Selain dijaga petugas, ada larangan terhadap jamaah agar tidak berdoa di depan Maqam Ibrahim.

Alasannya, berdoa di depan Maqam Ibrahim dikhawatirkan mengandung penyembahan dan penghormatan yang berlebihan pada prasasti tersebut. Tidak heran kalau petugas di sana selalu menghalau jamaah yang terlihat berdoa di depan Maqam Ibrahim. Petugas biasanya memberi peringatan jika Maqam Ibrahim hanya sebatas untuk dilihat, bukan untuk disembah.

Jumat, 07 April 2017

Kisah Perempuan Perkasa, Nikah 100 Kali 99 Suaminya Tewas saat Malam Pertama


Bicara sejarah, Aceh tercatat memiliki banyak sekali wanita hebat dan perkasa, seperti Cut Nyak Dien dan Cut Mutia.

Ternyata masih ada satu wanita hebat lagi, yang tidak hanya mampu menumbangkan lelaki di medan perang, tapi menaklukkan para pria di atas ranjang.

Berdasarkan kajian sejarah, wanita tersebut bernama Putroe Neng.

Dalam sebuah novel karya Ayi Jufridar berjudul “Tatkala Malam Pertama Menjadi Malam Terakhir Bagi 99 Lelaki”, mengungkap kisah 100 lelaki yang pernah menjadi suaminya.

Nama asli Putroe Neng adalah Nian Nio Lian Khie, nama sebelum ia memeluk Islam dan menikah dengan Sultan Meurah Johan.

Putroe Neng seorang komandan perang wanita Negeri Tiongkok, berpangkat Jenderal dari China Buddha.

Meurah Johan, suami pertama Putroe Neng adalah seorang pangeran yang mengalahkan pasukan yang dipimpin oleh Putroe Neng di medan tempur.

Pada malam pertama, Meurah Johan tewas di atas ranjang dengan tubuh membiru akibat senjata yang dimiliki oleh Putroe Neng.

Kematian tragis suaminya tersebut jelas bukanlah kesengajaan, tapi akibat senjata berupa racun yang ditanam di kemaluan Putroe Neng oleh neneknya.

Maksud dari sang nenek adalah untuk antisipasi agar cucunya selamat dari korban keganasan perang seperti pemerkosaan.

Sejak kematian suami pertamanya itu, suami-suami berikutnya tidak pernah ada yang bisa melewatkan malam pertama.

Sebanyak 99 suami resminya, menjemput ajal di atas ranjang pengantin saat masih malam pertama.

Hingga datanglah seorang Syeikh Syiah Hudam meminangnya menjadi istri atau menjadi suami ke 100 bagi Putroe Neng.

Syiah Hudam berhasil mengeluarkan racun dari kemaluan Putroe Neng tanpa disadarinya.

Dan malam pertama pun bisa dilalui suami ke 100 Putroe dengan selamat.

Sayangnya, sampai ajal menjemput, Syiah dan Putroe tidak mempunyai keturunan.


Selasa, 14 Maret 2017

Aceh Mengalami Perang Melawan Belanda Nomor 4 Terlama di Dunia

SEPANJANG sejarah peradaban manusia, dunia diwarnai banyak peperangan yang disebabkan berbagai alasan. Sebagian perang merupakan konflik independen, sebagian lainnya adalah kelanjutan dari konflik terdahulu. Yang pasti, perang biasanya berlangsung cukup lama dan memakan banyak korban.
Berikut 10 perang yang memakan waktu paling lama dalam sejarah dunia dilansir historyandheadlines.com:

1. Perang 100 tahun
Durasi : 116 tahun (1337-1453)
Jumlah korban : Diperkirakan 3,5 juta orang

Perang dengan pemain utama adalah Inggris dan Prancis ini terbagi ke dalam tiga komponen utama. Salah satu bagian berlangsung selama 38 tahun yaitu Perang Lancastrian (1415-1453). Perang ini memperebutkan wilayah Inggris di Prancis dan kendali atas tahta Prancis.
Penguasa Inggris dan Prancis selama berabad-abad memiliki keterkaitan keluarga, sehingga klaim Inggris terhadap tahta Prancis tak jarang memiliki dasar kuat. Perang panjang ini berakhir dengan menyerahnya Inggris. Prancis, sang pemenang, merebut hampir semua wilayah Inggris di negeri itu.

2. Perang Yunani-Persia
Durasi : 50 tahun (499-449 SM)
Jumlah korban : Tidak diketahui

Perang ini sebenarnya terbagi atas tiga konflik selama periode 50 tahun, yang kemudian oleh para sejarawan digabung menjadi satu perang besar. Perang ini terjadi antara koalisi negara-negara kota Yunani yang dipimpin Athena dan Sparta melawan kekaisaran Persia yang saat itu adalah negara terbesar dan terkuat di dunia.
Perang dimulai dengan serangkaian revolusi Yunani di beberapa wilayah yang ditaklukkan Persia beberapa dekade sebelumnya. Revolusi ini disusul serbuan dalam skala besar oleh Persia yang kemudian dibalas oleh pasukan Yunani.
Setelah berbagai pertempuran selama 50 tahun, Yunani menjadi pemenang dengan keberhasilan menangkal serangan Persia dan merebut sejumlah wilayahnya yang diduduki Persia.

3. Perang Saudara Guatemala
Durasi : 36 tahun (1960-1996)
Jumlah korban : Diperkirakan 200.000 orang.

Pada 1954 kolonel angkatan darat berhaluan kanan Carlos Castillo Armas sukses menggulingkan pemerintahan kiri Guatemala yang terpilih secara demokratis. Kudeta Kolonel Armas itu sebenarnya dirancang dan didanai pemerintah AS lewat kemenlu dan dinas rahasia CIA.
Pada 1960, sekelompok perwira militer berhaluan kiri memimpin sebuah kudeta tetapi gagal menggulingkan pemerintah. Hasil dari pemberontakan gagal itu adalah perang saudara 36 tahun antara tentara Guatemala dengan berbagai faksi pemberontak kiri. Perang saudara baru berakhir setelah kesepakatan damai diteken kedua pihak pada 1996

4. Perang Aceh
Durasi : 31 tahun (1873-1904)
Jumlah korban : Diperkirakan 90.000 orang


Perang ini merupakan hasil dari upaya Belanda menguasai seluruh Hindia Belanda atau kini dikenal dengan nama Indonesia. Pada 1873, militer Belanda menyerang Kesultanan Aceh, sebuah negeri merdeka di ujung utara Sumatera.
Pada 1874, Belanda berhasil menguasai ibu kota Aceh, Kutaraja dan mendeklarasikan kemenangan dalam perang itu. Namun, Belanda meremehkan tekad bangsa Aceh yang terus berjuang menggunakan taktik perang gerilya yang menyeret Belanda dalam perang panjang selama 31 tahun.
Pada akhir 1890-an, Belanda yang frustrasi menggelar kampanye bumi hangus yang berujung pada kehancuran ratusan desa dan kematian ribuan warga Aceh. Pada 1903, Belanda sudah di ambang kemenangan tetapi sejumlah pertempuran masih terus berlangsung secara sporadis hingga 1914.

5. Perang 30 Tahun
Durasi : 30 tahun
Jumlah korban : Tidak diketahui
Pada 23 Mei 1618, sekelompok orang Protestan yang marah menyerbu istana kerajaan Bohemia di kota Praha, Cekoslovakia. Di sana mereka melemparkan tiga orang Katolik yang dipilih menjadi pemimpin keluar dari jendela setinggi 25 meter. Ajaibnya, ketiga orang itu lolos dari maut.
Insiden yang dikenal sebagai Pelemparan di Praha, memicu pemberontakan umat Protestan di seluruh negeri. Perang ini kemudian memicu konflik besar-besaran dan brutal antara negara-negara utama di Eropa.
Para pemain utama dalam perang ini adalah Kekaisaran Suci Roma, persatuan negara-negara Jerman, dan beberapa negara tetangganya yang bersekutu dengan Spanyol melawan Prancis, Swedia, dan Denmark.
Perang ini diakhiri dengan kekalahan koalisia Kekaisaran Roma Suci dan Spanyol yang kehilangan banyak wilayah dan pengaruh. Pemenang perang ini Prancis dan Swedia menjadi negara kuat Eropa.

6. Perang Mawar
Durasi : 30 tahun (1455-1485)
Jumlah korban : Diperkirakan 100.000 orang

Ini adalah perang memperebutkan hak atas tahta kerajaan Inggris yang melibatkan pendukung dua keluarga bangsawan. Kedua keluarga itu adalah Lancaster dengan simbol bunga mawar merah melawan Keluarga York yang memiliki lambang bunga mawar putih. Di akhir perang Keluarga Lancaster keluar sebagai pemenang.
Henry Tudor dari keluarga Lancaster akhirnya menyingkirkan pesaingnya Richard III dari keluarga York di Pertempuran Bosworth 1485. Setelah kemenangan itu Henry Tudor menjadi raja Inggris dengan gelar Henry III. Setahun kemudian dia menikahi Elizabeth of York untuk memperkuat posisinya.

7. Perang Peloponesia
Durasi : 27 tahun (431-404)
Jumlah korban : Tidak diketahui

Setelah negara-negara kota Yunani bersatu dan mengalahkan kekaisaran Persia yang perkasa, mereka kemudian kembali ke selera awal, yaitu saling memerangi. Dalam perang ini, Athena yang menjelma menjadi sebuah kekaisaran kuat memerangi Liga Peloponesia yang merupakan koalisi negara-negara kota musuh Athena.
Koalisi musuh-musuh Athena ini dipimpin negara kota yang menjadi pesaing utama Athena yaitu Sparta yang terletak di Semenanjung Peloponesia. Perang berkobar di seluruh wilayah selatan Yunani, hingga ke Turki dan Italia selatan.
Dalam perang ini terjadi pertempuran laut Aegopostami, di lepas pantai Laut Tengah Turki. Dalam pertempuran laut ini, Sparta mengalahkan Athena dengan menenggelamkan 150 kapal dan menewaskan 3.000 pelaut.

8. Perang Punic Pertama
Durasi : 23 tahun (264-241 SM)
Jumlah korban : Diperkirakan 250.000 orang

Ini adalah konflik pertama dari tiga perang antara negara kota Kartago (kini Tunisia) dan Republik Romawi memperebutkan jalur perdagangan di sekitar Laut Tengah. Perang Punic yang pertama adalah yang terpanjang dari ketiga konflik bersenjata dan terutama berlangsung untuk memperebutkan Pulau Sisilia.
Dalam salah satu pertempuran yang paling dikenang, di kota Panormus (kini Palermo), pasukan Romawi tak hanya membantai 20.000 orang prajurit Kartago dalam satu hari tetapi juga menangkap 100 ekor gajah perang. Perang ini berakhir pada 241 SM dengan Romawi keluar sebagai pemenang dan mengendalikan penuh Pulau Sisilia.

9. Perang Besar Utara
Durasi : 21 tahun (1700-1721)
Jumlah korban : Diperkirakan 300.000 orang

Dua negara utama yang berperang adalah Rusia di bawah kepemimpian Tsar Peter yang Agung melawan Kerajaan Swedia yang dipimpin Charles XII. Namun, beberapa negara terlibat dalam perang ini yaitu Denmark, Norwegia, Polandia, Lithuania, Kekaisaran Ottoman, dan Inggris Raya.
Rusia memenangkan perang ini dan hasil dari konflik tersebut mengubah perimbangan kekuatan di Eropa. Rusia kemudian mengubah namanya menjadi Kekaisaran Rusia dengan Peter yang Agung sebagai kaisar pertama.

10. Perang Vietnam
Durasi : 19 tahun (1955-1975)
Jumlah korban : Diperkirakan 2,4 juta orang

Meski tidak ada deklarasi resmi, Perang Vietnam dimulai pada 1 November 1955, ketika AS menyediakan bantuan militer terhadap negeri baru Vietnam Selatan. Saat itu Vietnam Selatan sedang berjuang menghadapi negeri tetangganya Vietnam Utara yang didukung dua negeri komunis China dan Uni Soviet.
Namun, pertempuran besar baru benar-benar terjadi pada 1963 ketika keterlibatan AS di Vietnam ditingkatkan pertama oleh Presiden John F Kennedy lalu Presiden Lyndon B Johnson.
Perang itu secara resmi berakhir pada 30 April 1975 ketika personel militer AS terakhir meninggalkan Saigon (Ho Chi Mihn City) dan Vietnm Utara menyatukan kedua negara itu menjadi Republik Sosialis Vietnam.

Rabu, 08 Maret 2017

Ternyata Bireuen Kota Sejarah Perjuangan Sekarang Dikenal Kota Juang

BIREUEN SEBAGAI KOTA SEJARAH PERJUANGAN

Bireuen  merupakan daerah yang terletak di Kerajaan Jeumpa, pusat Kerajaan Jeumpa letaknya di Blang Seupeung, kira-kira letaknya 7 km arah barat daya Ibukota Bireuen. Secara geografis kerajaan Jeumpa wilayahnya batas pinggir krueng Peudada di sebelah barat sampai Krueng Peusangan sebelah timur. Menurut cacatan sejarah tahun 1511 M. sebelum Belanda masuk ke wilayah Aceh Kerajaan Jeumpa sudah ada semejak Protugis berada di Aceh dan Malaka. Sehingga Bireuen di beri nama Ibukota Kecamatan Jeumpa disaat  Tahun Dua Ribu  yang lalu.

            Bireuen berasal dari bahasa Arab yaitu Birrun artinya kebajikan jadi Bireuen itu bukanlah asal kata Bireuweueng (memberi ruang atau celah) tetapi Birrun itulah asal kota bireuen sekarang. Dulu Bireuen namanya Cot Hagu,kemudian Bireuen di juluki sebagai kota Perjuangan. Perjalanan sejarah telah membuktikan di zaman revolusi 1945 kemiliteran Aceh pernah di pusatkan di Bireuen yaitu berada di Juli Keudee Dua di bawah Komando Panglima di visi X Kolonel Hussein Jousoef. Di pilihnya Bireuen Pusat kemiliteran Aceh,lantara Bireuen Letaknya sangat strategis dalam mengatur srategi Aceh untuk memblok kade serangan Belanda yang telah mengusai Medan Area ( Sumut),pada saat tersebut seluruh Rakyat Aceh kumpul di Bireuen untuk berjuang mengusir Penjajah  Belanda di bawah pimpinan colonell Hussein Jousoef sampai bertempur ke Medan Area melalui di visi x  tersebut Belanda hengkan dari bumi Aceh.

 Pada saat  agresi ke II ,disaat itu pejuang-pejuang Bireuen bertempur di Medan Pertempuran dalam membela NKRI yang kita cintai.Itulah Perjuangan Rakyat Bireuen dalam memperjuangkan kemerdekaan  pada saat melawan Belanda.

Perang Krueng Panjoe, menurut sejarah dalam merebut kemerdekaan RI rakyat Krueng Panjoe sempat menghadang kereta api yang tiba dari arah timur menuju Kuta Raja (Banda aceh) sekarang. Pejuang telah mengatur strategi merusakkan rel  (memotong rel kereta api) dengan sendirinya kereta api terhenti saat itulah kesempatan pejuang (Rakyat) menusuk, menikam musuh satu persatu sehingga terjadi penyerangan luar biasa, pasukan Belanda gagal menuju Kuta Raja dalam pertempuran tersebut kedua pihak menjadi korban, menurut cacatan sejarah.

Kemudian Perang Pandrah dalam melawan Agresi Belanda rakyat Pandrah Mengorbankan semangat juang dalam mempertahankan NKRI dimana subuh pagi serdadu Belanda saat mendarat tepatnya di Ujoeng Kareueng di situlah pertempuran sangat sengit dengan serdadu Belanda. Saat pertempuran puluhan  pejuang mati syahid sehingga darah pejuang  mengalir di Krueng Pandrah. begitu juga serdadu Belanda banyak yang tewas darahnya tercecer di pinggir jalan, sejarah Perang Pandrah dalam mempertahankan NKRI. Membuktikan sejarah dibuat lambang ditengah-tengah Kota Bireuen yaitu Tugu Perjuangan Rakyat Bireuen dari Batee Iliek (Samalanga) sampai Krueng Panjoe GandaPura.

Pada saat melawan serdadu Belanda, Tugu tersebut sekarang telah mengalami renofasi (perubahan).

Peristiwa DI/TII, menurut sejarah tepatnya tanggal 20 September 1953 Bireuen telah dikepung oleh Tentara DI/TII dibawah pimpinan Abdul Hamidmarkas (Batalion) DI/TII di Juli Keude Dua, dengan bersatunya DI/TII dalam NKRI maka pemerintah membuat lambang sebuah TuguBatee Kureeng”  yang disandingkan dengan tugu perjuangan.

Bireuen penuh dengan fonomena sejarah perjuangan sehingga pada tahun 1987 Letjen Purn Bustanil Arifin sebagai Menteri Koperasi (Kabulog) di saksikan oleh para tokoh pejuang Angkatan 1945 Bireuen mengukuhkan kembali julukan Kota Perjuangan (Kota Juang) Bireuen. Di halaman Pendopo Bupati sekarang sejarah paling berkesan menorehkan :”Sebuah semboyan di batu besar gemilang datang pada mu bila tekad kukuh berpadu”


Bireuen menuju cita-cita.

Bireuen sebagai kota kenangan sejarah kemerdekaan NKRI Bisa dikenang sampai anak cucu

Menurut cacatan sejarah, banyak  Rakyat Aceh (masyarakat Bireuen) saat bertempur melawan para penjajah banyak yang gugur di Medan Perang pertempuran begitu juga pihak lawan saat itu. Yang  memberi makna “Hudep Saree Mate Syahit” pada saat agresi ke dua wilayah Bireuen miliki kekuatan militer yang sagat tangguh melalui di visi x pimpinan Kolonel Husein Jusoef. Belanda hengkan dari Aceh melalui Radio Rimba Raya telah berhasil memblok kade siaran bohong radio Belanda bahwa Indonesia sudah di kuasai lagi oleh  Belanda  pada tahun 1948 pada saat tersebut Indonesia lumpuh total cuman  tinggal sedaun kelor ,tempatnya di ujung pulau Sumatra Aceh ( Bireuen ) melalui radio Rimba Raya tersebut telah menyakinkan dunia internasional bahwa Indonesia masih ada,sehingga Radio rimba raya yang mengudara   enam bahasa yang di siarkan: Indonesia,inggris,Belanda,Cina,Urdu dan Arab  yang di tangkap jelas Radio semenanjung Melayu Vietnam, Filipina, India dan Eropa,

bahwa Indonesia masih utuh. dari Radio Rimba Raya sangat berjasa bagi Republik Indonesia yang di pimpin oleh Kolonel Hussein Joesof


Makanya Bireuen kota yang tidak bisa di lupakan sepanjang sejarah  memperjuangkan  NKRI kemudia pada tanggal 18 Juni 1948 presiden Soekarno datang Ke Bireuen dalam rangka kunjungan kerja ke Bireuen dengan pesawat khusus Dakoda yang di pilot Teuku Iskandar. Pesawat itu mendarat di lapangan Cot Gapu, Soekarno di sambut oleh para tokoh-tokoh Aceh dan masyarakat diantaranya Gubernur Militer Aceh Langkat dan Tanah Karo Teungku Daud Bereueh  ,Panglima Divisi X, Kolonel Hussein Joeosoef, para perwira militer Divisi X, alim ulama dan seluruh Rakyat Bireuen  sangat antusias dalam memperjuangkan NKRI sehingga  Soekarno sempat  berpidato di hadapan masyarakat Bireuen bahwa Belanda telah menguasai lagi Indonesia dan ibukota RI ke dua jatuh ke tangan Belanda pada tahun 1948, dalam pidatonya Soekarno membakar semangat juang rakyat Bireuen sehingga Soekarno menyatakan aceh sebagai daerah modal  bagi Republik Indonesia . karna Aceh tidak dapat di kuasai (di taklukan) oleh Belanda. Pada saat itu ibukota RI ke II Yogjakarta  sudah di kuasai  Belanda makanya Bireuen sempat menjadi ibukota RI ke III selama sepekan, percaya tidak percaya Bireuen pernah menjadi ibukota RI ke III. Itulah momen yang tidak pernah bisa kita lupakan dalam sejarah, walaupun Bireuen tidak kemana-mana tetepi sejarah Bireuen ada di mana-mana.   


Jauh sebelum Indonesia merdeka Bireuen sudah duluan lebih maju terutama sekali di Bidang Pendidikan Bireuen memiliki Perguruan Islam yaitu normal Islam letaknya di Juli Cot Meurak dan Almuslim Peusangan. banyak pelajar Aceh dan Luar Aceh yang menuntut Ilmu di Bireuen


Kemudian di awal ke merdekaan sekedar di ketahui Bireuen memiliki Akdemi Militer milik di visi X yang berkedudukanJuli Keude Dua para Alumni Akedemi Militer di Juli antara lainLetjen Purn Bustanil Arifin( sesupuh masyarakat Aceh), Mayjen Purn T Hamzah Bendahara,Kolonel M Syah AsyekMayor Abdullah YakobMayor Purn M Yusuf Ahmad Alias Yusuf Tank  dan lain-lain. Kemudian di era  tahun 1970- an  di Bireuen pernah berdiri Fakultas Hukum yang belum ada di daerah kabupaten lain di Aceh,kecuali Banda Aceh. Itulah makanya Bireuen di gelar kota pendidikan di bidang Seni Budaya Bireuen tidak  pernah ketinggalan sangat populer terutama sekali Seudati Tunang antara lain Syeh Rasyid dan Syeh Lah Geunta, malah Syeh  Lah  Geunta  pernah tampil di luar negeri di era 80-an.

Di era  70-an Sandiwara Sinar Jeumpa Geulanggang Labu Bireuen  pernah popular juga. Di seluruh Siantoro Aceh yang di bawah Pimpinan H Abdullah Banson di era tahun yang sama , selain itu Bireuen di gelar sebagai Kota Industri antara lain di Bireuen pernah berdiriPabrik Korek Api, Pabrik Kawat Duri , dan Pabrik Paku tempatnya di Cot Gapu Bireuen, pada saat itu banyak tenaga kerja yang di pekerjakan pada pabrik tersebut sehingga peningkatan ekonomi  masyarakat lebih baik. Bireuen lebih maju di segala segi di era tahun 70-an di bandingkan daerah lain di Aceh. Bireuen pada saat itu masih Ibukota kewedanaan di bawah Kabupaten Aceh Utara. Setelah Tahun 70-an Bireuen berubah menjadi  Ibukota Perwakilan Aceh Utara yang di pimpin oleh Mayor Abdullah Yakob Merangkap Bupati Aceh Utara. Beberapa tahun kemudian Bireuen menjadi Ibukota pembantu Bupati sampai Tahun 1999 Bireuen di pimpin oleh Abdullah Is dan pada tanggal 12 Oktober 1999Bireuen resmi menjadi Ibukota Kabupaten yang di cetuskan oleh tokoh-tokoh masyarakat Bireuen antara lain H Hamdani Raden Habet Bransyah, Sofyan Ali,H.Subarni dll.

Penjabat Bupati Pertama yaituH.Hamdani Raden kemudian tahun 2002  di pimpin oleh Drs.H.Mustafa A.Glangggang tahun 2008 di pimpin oleh Drs. H.Nurdin Abdul Rahmankemudian tahun 2012 sampai sekarang Bireuen di pimpin olehH.Ruslan M DaudHarus Muda). Dengan Semboyan  “Zaman boleh berganti,tetapi sejarah Bireuen harus di kenang kembali”


Melalui Bupati H Ruslan M daud ( Harus Muda ) masyarakat Bireuen bisa menggantungkan harapan agar beliau, bisa membangkitkan perekonomian masyarakat dengan menciptakan lapangan kerja agar Rakyat Bireuen lebih makmur dan Kota Bireuen lebih maju seperti Di era tahun 70-an.

Demikian sejarah singkat Bireuen semoga Bireuen menjadi awal contoh kebaikan bagi Aceh

Jumat, 03 Maret 2017

Lawatan Raja Salman Yang Melupakan Seuramoe Mekkah

Kunjungan Raja Salman ke Indonesia sepertinya melupakan rakyat Aceh, bukan berarti menghilangkan sejarah jejak Aceh untuk Arab Saudi, mungkin saja kerajaan Arab Saudi sekarang menganggap Indonesia bagian dari Aceh atau sebaliknya Aceh bagian dari Indonesia, jadi tak heran jika Aceh sama sekali tak disebut oleh orang nomor satu di Arab Saudi itu.

Dikutip dari serambinews.com, Lawatan Raja Salman bin Abdul Aziz Alsaud ke Indonesia memantik kehebohan luar biasa. Selama sepekan terakhir, media cetak, online, dan elektronik, tak pernah absen mengabarkan, sejak rencana dan persiapan penyambutan hingga saat-saat Sang Khadimul Haramain (penjaga dua Kota Suci) itu berada di Indonesia.

Kemarin, Raja Salman tiba di Indonesia melalui Bandara Halim Perdana Kusuma setelah menempuh penerbangan dari Malaysia. Raja dan sejumlah delegasi disambut oleh Presiden RI, Joko Widodo. Sejumlah pejabat ikut hadir mendampingi hingga melaksanakan pertemuan penting ke Istana Bogor.

Ini merupakan kedatangan pertama Raja Arab Saudi ke Indonesia, setelah lawatan Raja Faisal bin Abdul Aziz Alsaud, 47 tahun silam.

Publik dibuat heboh dengan kedatangan Raja Salman. Pasalnya ia turut membawa sejumlah peralatan mewah dan memboyong rombongan ‘super jumbo’ sebanyak 1.500 orang. Bahkan, untuk liburan di Bali, Raja Salman menyewa empat hotel bertarif ribua Dollar AS dan menyewa mobil mewah lebih kurang 350 unit.

Selain liburan ke Bali, ada beberapa agenda penting yang akan dilakukan Raja Salman selama berada di Indonesia sejak 1-9 Maret. Agenda politik untuk mempererat hubungan bilateral Indonesia dan Arab Saudi, salah satu alasan Raja Salman bertandang ke Indonesia. Selain itu, Raja Salman disebut-sebut tertarik untuk berinvestasi di Indonesia. Dua provinsi yang disasar raja ketujuh Arab Saudi ini adalah, Sumatera Barat dan Bangka Belitung.

Ini mungkin jadi tamparan keras dan pelajaran berharga bagi Aceh. Soalnya, Aceh yang selama ini cukup gencar mempromosikan wisata halal,

menerapkan syariat Islam, justru tak memikat hati Sang Raja. Walau hal tersebut bukan indikator, namun setidaknya Pemerintah Aceh harus berpikir dua kali, mengapa Aceh--yang cukup kental keislamannya--tak memantik minat Raja Salman untuk datang atau minimal meliriknya.

Guru Besar Universitas Negeri (UIN) Ar-Raniry, Prof Dr Tgk H Muslim Ibrahim MA yang ditanyai Serambi mengatakan, sebenarnya berharap Raja Salman juga datang ke Aceh. Namun ia tahu, lawatan Raja Salman ke Indonesia sudah diatur sejak beberapa waktu lalu dengan agenda-agenda yang lebih penting antara Indonesia dan Arab Saudi.

“Terutama sekali memang hubungan kita sesama Islam kan, apalagi bisa dikaitkan untuk mendapatkan kuota haji tambahan. Orang Saudi kan kaya-kaya, ya setidaknya kita berharap (mereka) membantu proyek-proyek yang monumental di Aceh untuk kejayaan masa depan,” kata Muslim Ibrahim.

Ditanya apa penyebab Raja Salman tak datang atau melirik Aceh sedikit pun dalam lawatannya ke Indonesia, Prof Muslim Ibrahim tak mau menyangka-nyangka dan tak mau menduga-duga. Namun, ia berharap kepada Pemerintah Aceh, untuk memanfaatkan momentum kunjungan Raja Salman ke Indonesia. “Iya, seharusnya kita harus pintar sekali menjaga momen, memperhatikan peluang dan kesempatan. Kadang-kadang peluang itu tidak dengan mudah kita peroleh, harus ada usaha terlebih dulu, jadi semua pemimpin kita ini hendaknya cepat tanggap dengan situasi seperti ini,” sebutnya.

Meski Raja Salman tak sampai ke Aceh, Muslim Ibrahim berharap ada rombongan atau delegasi yang datang ke Aceh selama Raja Salman berada di Indonesia. Dari 1.500 orang yang datang ke Indonesia, Muslim berharap minimal ada dua orang yang datang ke Aceh untuk menjalin hubungan dengan Pemerintah Aceh. “Dari 1.500 semoga ada yang datang, dan mudah-mudahan di masa yang akan datang, beliau akan datang khusus ke Aceh, siapa tahu kehendak Allah,” sebutnya.

Sementara itu, Direktur Aliansi OKI Aceh, Muqni Affan Abdullah, mengatakan, memang agak mustahil Raja Salman datang ke Aceh, mengingat ada beberapa kendala seperti minimnya fasilitas dan sebagainya. Kalau untuk berwisata atau berlibur, kata Muqni, Bali memang lebih pantas didatangi Raja Salman dan rombongan. “Kita (Aceh) mungkin tidak sanggup menyambut tamu sebanyak itu,” sebutnya.

Ia mengatakan, kedatangan Raja Salman ke Indonesia memang dalam rangka agenda untuk mempererat hubungan bilateral kedua negara. Ia juga tak menampik, selama rencana kunjungan Raja Salman, nama Aceh memang tak pernah disebut oleh delegasi Arab Saudi, dibandingkan dengan Sumatera Barat dan Bangka Belitung.

Pun demikian, Muqni menyebutkan, Aceh tak perlu berkecil hati, Pemerintah Aceh nantinya harus pandai memanfaatkan momentum kunjungan ini. “Gubernur kita harus proaktif, pasti hari ini ada banyak perjanjian yang dilakukan, jadi kita harus dapat turunan-turunan perjanjian tersebut. Selama ini banyak bantuan yang terus mengalir ke Aceh, salah satunya menghajikan ratusan anak yatim,” pungkas Muqni Affan.

Selasa, 28 Februari 2017

Karena Aceh Syarat Indonesia Merdeka, Terus Mengapa Ingin Memisahkan Diri Lagi? Ini Jawabannya

Kekecewaan Aceh terhadap Pemerintah Pusat bukan saja terjadi pada perlawanan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tapi juga terjadi pada Pemberontakan DI-TII. Ada perjanjian Lamteh masa DI-TII yang hanya di atas kertas saja tanpa implementasi.

Kegigihan rakyat Aceh dalam menentang penjajahan sejak 1873 dengan Belanda sudah diakui dunia.

“Aceh menjadi daerah modal bagi Indonesia, bukan karena pesawat tapi Aceh membantu dengan tentaranya mengusir Belanda,” kata Wali Nanggroe Aceh, Paduka yang Mulia Malik Mahmud Al Hayta dalam seminar nasional Satu Dekade Perdamaian Aceh di Gedung AAC Dayan Dawod, Selasa (20/10/2015).

Malik Mahmud mengharapkan agar mahasiswa tidak lupa pada sejarah Aceh. “Kita harus mengenal diri kita sendiri sebagai orang Aceh. Bagaimana Aceh dalam Indonesia,” terang Wali Nanggroe dihadapan ratusan mahasiswa.

Kita punya perbedaan politik dengan Indonesia. Sudah 1200 tahun Aceh sebagai bangsa yang bermartabat. Penjajahan pertama sekali dengan Portugis saat menguasai malaka, tapi Aceh menentang dan Portugis tidak dapat berkembang.

Sejak itu Aceh memiliki hubungan dengan Kerajaan Turki Utsmaniyah yang merupakan kerajaan di Eropa terbesar saat itu.

Portugis tidak bisa mengalahkan Aceh dan kemudian datanglah Belanda, Inggris, Perancis dan Spanyol. Negara eropa itu datang untuk menguasai Asia Tenggara. Disitulah terjadi pertentangan Politik. Aceh Memainkan perannya dengan bersekutu dengan Inggris. “Kita punya hubungan dengan Inggris untuk menghadang Belanda,” kata Malik Mahmud.

Saat itu Indonesia dikuasai Belanda. Hanya Aceh yang masih merdeka. Lalu kemudian pada 28 Maret 1873, Belanda menyatakan perang dengan Kerajaan Aceh. Terjadilah perang selama 70 tahun sampai 1941 yang akhirnya Belanda dapat diusir dari Aceh.

Kemudian masuk Jepang. Menurut Wali Nanggroe Aceh, Negara Jepang hanya 3,5 tahun menguasai Aceh. Lalu terjadi Perang Dunia ke II, Bom Atom menghancurkan Kota Hiroshima. Waktu itu terjadi Perang Cumbok di Aceh yang menghayat hati karena perang saudara.

Kemudian Belanda ingin mencoba lagi menjajah Aceh tapi tidak berhasil. Waktu itu Aceh menjadi daerah integral Indonesia. Aceh membantu Indonesia berdiri. Kita sumbang pesawat terbang, bantuan tentara dengan senjata rampasan dari Jepang. Belanda tidak dapat mendarat di Aceh.

Setelah Indonesia jatuh ke Belanda, Aceh adalah bangsa yang tetap merdeka dengan Bendera Merah Putih tetap berkibar. Aceh menjadi daerah modal bagi Indonesia.

Disegi politik International, Aceh memberi kekuatan yang luar biasa kepada berdirinya Indonesia. Tapi sayang sekali, sesudah Indonesia merdeka, Pemerintah Pusat menempatkan Aceh di bagian Sumatera Timur. “Aceh merasa kecewa karena tidak diberi daerah istimewa,” terang Malik Mahmud.

Saat itu Indonesia baru berdiri. Kemudian di Aceh muncul perlawanan melalui Pemberontakan DI-TII pada 1953 sampai 1963. Lahirlah yang namanya Perjanjian Lamteh. “Sayangnya perjanjian itu hanya surat tidak diimplementasikan,” ujar Wali Nanggroe saat menjadi nara sumber dalam Seminar Nasional itu.

Aceh merasa kecewa walaupun dalam perjanjian Lamteh juga mengharapkan daerah Istimewa. Sesudah itu muncullah Gerakan Aceh Merdeka (GAM) karena kami kecewa dengan Pemerintah Pusat. Terjadilah konflik selama 30 tahun dengan GAM.

Tapi dengan adanya pertukaran pimpinan pemerintahan terjadilah berbagai perundingan-perundingan antara RI dan GAM.

Malik Mahmud mengatakan pada tahun 2000 ada Jeda Kemanusiaan bersama Hasan Wirajuda. Kita mendapat persetujuan Jeda Kemanusiaan tapi sayang konflik di lapangan masih terus terjadi sehingga perjanjian itu rusak.
Kemudian ada CoHA di Jepang juga gagal karena konflik di lapangan terus memuncak.

Pertukaran Presiden RI pada tahun 2004 mulai mendapatkan titik terang. Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama Jusuf Kalla sangat ingin agar konflik Aceh segera berakhir.

Akhir tahun 2004, Aceh diporak-porandakan oleh gempa dan gelombang tsunami. Kata Malik Mahmud, Negara Amerika Serikat, Jepang sangat giat meminta agar konflik bersenjata di Aceh selesai.

“Kami menyatakan perundingan di Helsinki yang dimediasi oleh Presiden Finlandia, Marty Ahtisaari. Dalam lima kali pertemuan dan akhirnya kita setuju penandatanganan MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005,” ungkap Malik.

Seterusnya Aceh telah aman dan telah dibentuk AMM untuk mengawal proses perdamaian ini. Kemudian tahun 2006 lahirlah Undang-Undang Nomor 11 Tentang Pemerintah Aceh. Selanjutnya sebagian telah diimplementasikan dalam Peraturan Presiden, Keputusan Presiden dan Qanun Aceh yang menjadi hukum positif antara hukum di Indonesia untuk kondisi Aceh kedepan.

Kemudian Perdamaian Aceh ini menjadi contoh bagi negara-negara lain didunia. Wali Nanggroe menyebutkan Colombia, Thailand dan Philiphina yang pernah datang ke Aceh menanyakan bagaimana menyelesaikan konflik bersenjata.

Minggu, 20 November 2016

Leluhur Amerika Pun Sadar Bahaya Yahudi

Pada 1789 M, Benyamin Franklin (1706-1790) berpidato ketika membuat undang-undang negara Amerika Serikat. Ia dengan tegas menyatakan:
“Di sana terdapat bahaya sangat besar yang mengancam negara-negara bagian di Amerika Serikat, yaitu bahaya Yahudi. Saudara-saudara! Mereka selalu melenyapkan nilai-nilai moral dan merusak jaminan perdagangan di setiap bumi yang diduduki Yahudi. Mereka selalu memisahkan diri (eksklusif) dengan bangsa lain. Karena ulah mereka, maka kezaliman dan penindasan dalam bekerja yang menimpa masyarakat (bangsa-bangsa), terutama yang berkaitan dengan soal materi dan harta muncul di mana-mana, seperti apa yang terjadi sekarang di Portugal dan Spanyol.
Sejak lebih dari 1700 tahun, mereka (orang-orang Yahudi) meratapi nasibnya yang malang. Yang mereka maksudkan ialah keterusiran mereka dari negeri-negeri bapak moyang mereka. Namun, saudara-saudara, jika negara Palestina itu diberikan kepada mereka sekarang ini, maka mereka tak akan pernah tinggal diam untuk mencari langkah-langkah yang akan menyebabkan mereka tidak dapat kembali kepadanya. Mengapa? Karena mereka adalah parasit-parasit yang tidak bisa hidup sebagian mereka atas sebagian yang lain. Mereka mesti hidup di tengah-tengah umat Masehi (Nasrani) dan bangsa-bangsa lainnya yang tidak digolongkan kepada etnik mereka.
Jika mereka tidak disingkirkan dari Amerika Serikat (dengan teks undang-undangnya), maka pada perjalanan 100 tahun arus mereka akan terus menderas di Amerika Serikat sampai menguasai dan menghancurkan bangsa kita serta mengubah bentuk hukum yang telah kita pertahankan dengan pengorbanan darah dan kemerdekaan kita.
Barangkali apabila mereka dibiarkan hidup bebas di Amerika, tidak sampai 200 tahun nasib anak cucu kita akan menjadi buruh yang bekerja di ladang-ladang milik Yahudi dan terus menerus memberi makan bangsa Yahudi, sementara orang-orang Yahudi itu ongkang-ongkang kaki di lumbung-lumbung hartanya dengan penuh kegirangan.
Wahai saudara-saudara! Sesungguhnya saya peringatkan, jika kalian tidak menyingkirkan bangsa Yahudi sampai habis tak tersisa, maka niscaya anak cucumu akan mengutukmu di kuburmu. Sesungguhnya Yahudi tidak akan pernah menghormati nilai-nilai luhur kita, kendati pun mereka hidup di tengah-tengah kita sampai 10 generasi. Karena “seekor serigala” tidak akan pernah dapat mengganti kulitnya yang belang.
Sesungguhnya Yahudi itu berbahaya bagi negeri ini. Jika mereka diperbolehkan masuk, mereka akan menguasai lembaga-lembaga dan perusahaan-perusahaan kita. Karena itu, mereka harus disingkirkan dengan teks undang-undang."

Minggu, 31 Juli 2016

Rasulullah Yang Memberi Gelar Aceh Seuramo Mekkah

Di abad ke 15 Masehi, Aceh pernah mendapat gelar yang sangat terhormat dari umat Islam nusantara. Negri ini dijuluki "Serambi Mekkah" sebuah gelar yang begitu bernuansa keagamaan, keimanan, lalu ketaqwaannya. Menurut analisis master sejarawan, ada 5 sebab dijulukinya Aceh menyandang gelar mulia itu.

"Aceh Pernah Berjaya Karena Memberlakukan Syariat Islam"

Pertama, Aceh merupakan daerah pertama penganut Islam di Nusantara, tepatnya di kawasan pantai Timur kecmatan Peureulak, dan Pasai. Yang Aceh Islam berkembang amat cepat ke seluruh nusantara sampai ke Philipina. Mubaligh-mubaligh Aceh yang meninggalkan kampung halalaman  untuk menyebarkan agama Islam Allah kepada manusia. Beberapa jamaah di antara Wali Songo yang membawa Islam ke Jawa berasal dari Aceh, yakni Maulana Malik Ibrahim bersama Sunan Ngampel dan Syarif Hidayatullah.

 Kerajaan Aceh Darussalam 

Kedua, Daerah Aceh sudah pernah menjadi kiblat ilmu pendidikan di Nusantara dengan sedianya Jami'ah Baiturrahman (Universitas Baiturrahman) lengkap dengan berbagai fakultas. Para mahasiswa yang menuntut ilmu di Aceh berasal dari berbagai penjuru tempat, dari Turki, Palestina, India, Bangladesh, Pattani, Mindanau, Malaya, Brunei Darussalam, dan Makassar.

Jami’ah Baiturrahman (Universitas Baiturrahman)


Ketiga, Kerajaan Aceh Darussalam sempat mendapat pengakuan dari Syarif Makkah atas nama sebagai Khalifah Islam di Turki yakni Kerajaan Aceh adalah "pelindung" kerajaan-kerajaan Islam lainnya di Nusantara. Karena itu semua sultan-sultan nusantara mengakui Sulatan Aceh sebagai "payung" mereka dalam menjalankan tugas dalam kerajaan.

Ke-4, Daerah Aceh pernah jadi pangkalan/pelabuhan Haji untuk semua nusantara. Orang-orang muslim nusantara yang naik haji ke Makkah dengan kapal laut, sebelum mengarungi Samudra Hindia menguras waktu sampai enam bulan di Bandar Aceh Darussalam. Kampung-kampung sekitar Pelanggahan kini menjadi tempat persinggahan jamaah-jamaah haji dulunya.
 
Pelabuhan Haji

Kelima, Banyak persamaan masa Aceh (saat itu) dengan Makkah, sama-sama Islam, bermazhab Syafi'i, berbudaya Islam, berpakaian Islam, berhiburan Islam, kemudian berhukum dengan hukum Islam. Seluruh penduduk Makkah beragama Islam dan seluruh masyarakat Aceh juga Islam.

Jamaah Aceh masuk dalam petunjuk Islam secara kaffah (totalitas) serta tidak ada campur aduk antara adat kebiasaan dengan petunjuk Islam, tetapi kalau kini sudah mulai memudar.

Terkadang mendengar kata serambi mekkah, mungkin sudah tidak asing lagi dibenak kita, tetapi tahukah anda siapa yang pertama sekali memberi nama aceh dengan nama serambi mekkah? Bukn Soekarno, Bukan Abdurrhman Wahid, bukan juga para pejuang Aceh
sebutan ''Serambi mekkah'' semuanya berawal semasa sang penjaga makam nabi Muhammad SAW yang bernama Syekh Ismail, beliau pun masih keponakan nabi. Pada salah satu malam beliau bermimpi berjumpa Rasulullah, dan rasulullah berpesan kepadanya

"wahai saudaraku,ambillah 5 pucuk surat yang ada di dalam ka'bah,dan carilah siapa anak manusia yang bisa membaca dan memberi makna akan isi surat tersebut"

kira seperti itulah percakapan mereka, lantas beliau tidak langsung saja percaya dengan mimpi tersebut, malam besoknya beliau kembali bermimpi seperti semula, dan terus berlanjut sehingga ketiga kalinya, akhirnya beliau memutuskan untuk bertanya dalam para sahabat dan ulama disana tentang kebenaran mimpi tersebut, yang ditanyapun menyarankan agar beliau segera memenuhi apa yang di perintahkan oleh Rasulullah, akhirnya beliau pergi menjelajahi semua kawasan di dunia ini, dari afrika ke amerika, yang amerika ke eropa kemudian terus berlanjut kebenua kawasan yang lainnya,

Perlu diingat saat hendak berkelana akhirnya menjadi musafir ke seluruh tempat beliau saat itu berusia 20 tahun, tidak satu anak manusiapun yang bisa membaca surat dri dalam ka'bah yang ditulis oleh Rasulullah tersebut, orang- orang yang ditemuinya ia jelaskan maksud kedatangannya serta ia suruh baca serta artikan surat tersebut, tetapi tak ada satupun buah hati manusia yang bisa membacanya.

Beliau hampir menyerah, dan suatu ketika beliau hendak kembali ke negerinya, di saat hendak naik ke kapal di dekat perairan selat malaka, dalam saat itu selat malaka masih dalam kekuasaan kerajaan Aceh, beliau bertemu adalah pemuda yang sangat gagah perkasa, beliau bertanya dari mana usul pemuda tersebut kemudian menjelaskan maksud pengembaraan beliau yang saat itu beliau sudah menginjak tahun yang ke 80.

Saat tersebut beliau kira sudah berusia 100 tahun, kemudian pemuda mencoba membaca lalu mengartikan makna dari isi surat - surat ini, alangkah terkejutnya syekh ismail ketika mendengar si pemuda tersebut dengan lancarnya menerjemahkan isi dari surat - surat yang di titipkan Rasulullah, lalu beliau berdiskusi siapa nama si pemuda tersebut, ya dialah MEURAH SILEU. atau bila diartikan dalam bahasa indonesia bertanda merah silau, yang sekarang lebih di kenal dengan nama MAULANA MALIK IBRAHIM. dan lebih di kenal lagi dengan nama MALIKUSSALEH. dia lah pemuda yang gagah perkasa yang tidak merupakan hanya mengandalkan ketampanannya aja, tapi ia bisa memprediksi dan mengartikan surat berharga dari Rasulullah SAW. Sungguh membanggakan, jadi bukan sembarangan orang yang memberi status aceh serambi mekkah, namun nabi muhammad SAW sendiri yang memberi nama mulia tersebut, ini semua terlepas dari pro dan kontra di kalangan masyarakat aceh akibat banyaknya pihak yang ingin menghancurkan syariat Islam di Aceh dengan cara membuka tempat-tempat maksiat yang dilindungi aparat. Karena Aceh adalah propinsi percontohan penerapan syriat Islam maka jika Aceh kembali berjaya dengan penerapan Syariat Islam maka akn muncul propinsi-propinsi lain yang meminta supaya diberlakukan Syariat Islam.

Selasa, 26 Juli 2016

Pohon Sahabi Saksi Hidup Rasulullah Berumur 1400 tahun


Pohon Sahabi ini merupakan satu-satunya pohon yang pernah menjadi saksi hidup dari Nabi Muhammad SAW.

Pohon Sahabi ini hidup kokoh dalam padang pasir di Yordania periode utara. Pohon ini diprediksi memiliki umur lebih untuk 1400 tahun.

Pohon Sahabi memiliki ciri-ciri yang khas yaitu daunnya yang sangat rindang kemudian sejuk. Selain itu, dasar dan batang pohon di sini. juga sangat besar serta kuat.

Menurut sejarah, pohon Sahabi ini pernah jadi tempat berteduh Nabi Muhammad SAW. Di kala itu Nabi sedang dalam perjalanan menuju ke kota Syam.

Masa itu, Nabi Muhammad SAW ditemani oleh Maisarah beliau merupakan pembantu Sayyidatuna Khadijah Ra. Nabi bersama dengan Maisarah menuju kota Syam bagi berdagang.

Hingga saat sekarang pohon Sahabi masih masih tumbuh subur dan jua daunnya tetap rindang lalu sejuk dipandang mata.

Ajaibnya, pohon Sahabi tidak sempat sekalipun mengalami kekeringan. Padahal pohon ini terletak ditengah padang gurun yang amat gersang. Dan juga pelik mendapatkan air.

Kamis, 26 Mei 2016

Ini Dia Sejarah Sabang dan Pulau Weh

Ini Dia Sejarah Sabang dan Pulau Weh

Tidak banyak literatur yang dapat diperoleh untuk menjelaskan asal-usul Kota Sabang. Legenda yang beredar di masyarakat Sabang, yang terletak di Pulau Weh, pulau itu dahulunya bersatu dengan daratan Sumatera. Namun, akibat gempa bumi, ribuan bahkan belasan ribu tahun lampau, pulau indonesia terpisah dengan daratan. Setelah juga dengan pulau-pulau pada sekitarnya, Seperti Pulau Rondo, Pulau Rubiah, Pulau Seulako dan Pulau Klah.

Sejarah Sabang dan Pulu Weh

Sekeliling tahun 301 sebelum Masehi, seorang Ahli bumi Yunani, Ptolomacus berlayar ke haluan timur dan berlabuh pada sebuah pulau tak terpopuler di mulut selat Malaka, pulah Weh! Kemudian rato menyebut dan memperkenalkan pulau tersebut sebagai Pulau Emas di peta para pelaut.

Pada abad ke doze, Sinbad mengadakan pelayaran untuk Sohar, Oman, jauh mengarungi samudera melalui rute Maldives, Pulau Kalkit (India), Sri Langka, Andaman, Nias, Pein, Penang, dan Canton (China). Sinbad berlabuh di sebuah pulau dan juga menamainya Pulau Emas, pulau tersebut yang dikenal orang kali ini dengan nama Sabang.

Serta pada awal abad ke-15. Penjelajah asal China, Cheng Ho, pernah singgah dalam sana tahun 1413-1415. Catatan Ma Huan, salah 1 penerjemah Cheng Ho, menerangkan bahwa di sebelah barat laut dari Aceh yang memiliki daratan dengan gunung mencuat, yang dia beri sebutan Gunung Mao. Di natural terdapat sekitar 30 family. Banyak para ahli sejarah menegaskan bahwa yang dituju Gunung Mao itu merupakan Pulau Weh.

Dalam bukunya Ying Yai Sheng Local area network yang kemudian diterjemahkan jadi The Overall Survey of The Ocean's Shores, Mother Huan menceritakan bahwa daratan itu menjadi salah 1 tempat persinggahan para saudagar dari berbagai negara. Gunung Mao yang tampak mencolok dari lautan itu akhirnya menjadi suar atau petanda teruntuk para saudagar. Sabang sendiri merupakan penghasil kayu landa terbaik serta penghasil bunga teratai.

Erond juga menduga bahwa Sabang saat tersebut menjadi salah satu periode dari jaringan perdagangan maritim yang membentang dari Teluk Persia sampai China Selatan pada abad ke-12 Meters sampai ke-15 M. Asia, Sri Lanka, dan India termasuk di dalamnya.

Gegabah Mula Nama Sabang kemudian Pulau Weh

Nama Sabang sendiri, berasal dari kode Aceh "Saban", yang bertanda sama rata atau dengan tidak diskriminasi. Kata itu berangkat dari karakter orang Sabang, yang cenderung mudah menerima pendatang atau pengunjung.


Cara lain menyebutkan bahwa status Sabang berasal dari kode arab, yaitu "Shabag" yang artinya gunung meletus. Dulu kala masih banyak gunung berapi yang masih hidup di Sabang, hal di sini. masih bisa dilihat dalam gunung berapi di Jaboi dan Gunung berapi pada dalam laut Pria Laot.

Sedangkan Pulau Weh bermula dari kata dalam kode Aceh, "weh" yang maksudnya pindah, menurut sejarah yang beredar Pulau Weh di mulanya merupakan satu kesatuan dengan Pulau Sumatra, seperti penyatuan daratan sabang dengan daratan Ulee Lheue.

Ulee Lheue di Banda Aceh, berasal dari kata Ulee Lheueh ("Lheueh"; yang terlepas). Syahdan, bahwa letusan Gunung berapilah yang menyebabkan kawasan  di ulele ini terpisah. Seperti halnya Pulau Jawa dan Sumatera dulu, yang terpisah gara-gara Krakatau meletus. Dalam Cara lain, Pulau Weh pun terkenal dengan pulau "We" tanpa h. Ada yang berasumsi jika pulau pein diberi nama pulau "we" karena bentuknya seperti huruf "W".

Legenda Sabang


Berdasarkan sebuah legenda menceritakan putri cantik jelita yang mendiami pulau ini meminta pada Sang Pencipta agar tanah di pulau-pulau ini dapat ditanami. Untuk itu, rato membuang seluruh perhiasan miliknya sebagai bukti keseriusannya. Sebagai balasannya, Sang Pencipta lalu menurunkan hujan dan gempa bumi di kawasan ini.

Kemudian terbentuklah danau yang lalu diberi nama Aneuk Laot. Danau seluas berlimpah kurang 30 hektar tersebut hingga saat ini jadi sumber air bagi penduduk Sabang meski ketinggian airnya terus menyusut. Setelah keinginannya terpenuhi terus sang putri menceburkan diri ke laut.

Walaupun tidak ada sumber tertulis yang jelas, keinginan did putri agar Sabang akhirnya menjadi daerah yang subur lalu indah setidaknya tecermin dri adanya taman laut yang indah di sekitar Sabang namun Kondisi yang demikian kenyataannya juga telah memberi penghidupan bagi masyarakat.

Pulau Weh atau Sabang sudah dikenal dunia sejak depan abad ke-15. Sekitar tahun 1900., Sabang merupakan sebuah desa nelayan dengan pelabuhan dan iklim yang benar. Kemudian belanda membangun lager batubara di sana, pelabuhan diperdalam, mendayagunakan dataran, hingga tempat yang bisa menampung 25. 000 ton batubara telah terbangun.

Kapal Uap, kapal laut yang digerakkan oleh batubara, dari melimpah negara, singgah untuk menempuh batubara, air segar lalu fasilitas-fasilitas yang ada lain, hal ini dapat disimpulkan dengan masih banyaknya bangunan-bangunan peninggalan Belanda dan sebelum Perang Dunia II, pelabuhan Sabang sangat penting dibanding Singapura. Namun, di saat Kapal laut bertenaga diesel dipakai, maka Singapura menjadi jauh dibutuhkan, dan Sabang juga mulai dilupakan.

Pada tahun 1970, pemerintahan Republik Philippines merencanakan untuk mengembangkan Sabang di berbagai aspek, termasuk perikanan, industri, perdagangan lalu lainnya. Pelabuhan Sabang sendiri akhirnya menjadi pelabuhan bebas dan menjadi salah 1 pelabuhan terpenting di Dalam negri. Tetapi akhirnya ditutup di dalam tahun 1986 dengan dasar menjadi daerah yang rawan untuk penyelundupan barang.

Pokok Januari 2000 Presiden Abdurrahman Wahid menegaskan Sabang sebagai pelabuhan bebas dan juga kawasan perdagangan bebas semua barang-barang yang diimpor lewat Sabang bebas pajak. Mobil-mobil mewah dasar Singapura dijual murah dalam kota itu.

Namun, waktu Aceh ditetapkan sebagai kota operasi militer, aktivitas Sabang sebagai pelabuhan bebas terhenti dan aktivitas pelabuhan bebas semakin sepi dengan terbitnya Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan (Menperindag) Nomor 610/MPP/Kep/ 10/2004 tentang Perubahan atas Keputusan Menperindag Nomor 756/MPP/Kep/12/2003 terhadap Impor Barang Modal Tidak merupakan Baru. Tak boleh juga ada barang bekas yang boleh masuk dari semua daerah perbatasan Indonesia, termasuk Sabang

Beginilah Nasip Aceh Setelah Perjanjian Damai

Beginilah Nasip Aceh Setelah Perjanjian Damai

Jangan serahkan senjata awak sebelum segala sesuatuya terang. Implikasinya menyedihkan.

Pasukan-ishak-daud

"Don't Lay Down Your Biceps and triceps, Aceh Edition. " Gak usah serahkan senjata Kalian...! Begitulah Jason Sorens memberi judul tulisannya yang dipublikasikan kebelakang, 21 Agustus 2014. Jer adalah peneliti dari Dartmouth College: perguruan tinggi swasta di Hanover, New Hampshire, Amerika Serikat. Ia anyar saja menyelesaikan penelitian terhadap federasi dan desentralisasi dalam negara berkembang. Salah 1 perhatiannya adalah kasus Aceh.

Pasukan GAM  adalah sejarah aceh

Judul itu terasa menarik, jika tak mau dianggap ekstrem. Dari sudut pandang pemerintah Indonesia, barangkali mengenai disematkan label provokatif. Trik tidak, ia menyimpulkan, walaupun\ Aceh berstatus otonomi istimewa sejak perjanjian damai diteken pada 15 Agustus 2004, namun nyatanya, hingga sekarang hak-hak Aceh sebagai kota otonom masih ditahan-tahan dengan Pemerintah Pusat. Padahal, damai memasuki tahun ke 10. Yang paling kasat mata: meski MoU Helsinki menyebut Aceh berhak mendapat 70% dari hasil kekayaan alamnya, nyatanya hingga sekarang pusat masih tawar-menawar reguest bagi hasil 50: 40.

"Aceh bahkan tidak mempunyai hak menikmati pajak sendiri. Indonesia berarti otonomi Aceh dalam lebih sedikit dari, katakanlah, apa yang dinikmati dengan Rhode Island. Satu-satunya yang dinikmati Aceh adalah hak membentuk partai lokal.

"Secara sepihak pemerintah Indonesia telah mengkhianati Rakyat Aceh dan mantan pejuang GAM dalam situasi kebijakan ekonomi disertai ancaman eksplisit: yaitu terima (aturan kami), atau kami ambil balik.
Bagaimana hal tersebut bisa terjadi? " Biasa: pemberontak turun dari gunung dan menyerahkan semua senjata mereka sebelum undang-undang otonomi diselesaikan. Bahkan, GAM tak dapat melakukan apapun untuk membalas pengkhiatan pemerintah.

Jika merunut dalam proses perjanjian damai yang benar. Usai MoU Helsinki diteken maka baru berlanjut dengan penyerahan senjata GAM dan withdraw tentara Indonesia yang diaplikasikan bertahap. Setelah itu maka barulah Undang-Undang Pemerintahan Aceh digodok. Ini pun tak sebaik-baiknya sama dengan MoU Helsinki. Ada debat panjang sebelum akhirnya UUPA disahkan dalam parlemen.

Maka artikel Jerr ditutup dengan satu nasehat bagi para pemberontak dalam seluruh dunia: jangan serahkan senjata anda sebelum seluruh sesuatuya jelas. Implikasinya menyedihkan!
Dua tahun terakhir di sini, ketika para pimpinan GAM duduk di puncak Pemerintahan Aceh, kita menyaksikan sendiri apa yang disebut Jerr menyedihkan itu. Lihatlah, trik Gubernur Aceh Zaini Abdullah dengan nada putus manubrio berkata dalam sebuah discussion board di Jakarta, awal bulan ini, "damai telah di sepakati, mimpi memerdekakan Aceh sudah kami lupakan dan Senjata GAM sudah kita potong bersama-sama. Apalagi yang hendak kami korbankan supaya turunan UUPA dapat dikeluarkan?

Kalimat itu tentu bukan lahir dari ruang hampa. Sudah berkali-kali tim Pemerintah Aceh bolak-balik ke Jakarta untuk menuntut haknya sebagai yang dijanjikan ketika Aceh menerima Otonomi Khusus. Padahal, semasa perjanjian itu diteken, yang dibayangkan adalah Aceh memiliki pemerintahan sendiri, self goverment, serupa daerah otonom yang lain di dunia. Katakanlah misalnya Macau atau Hongkong pada China. Nyatanya, hingga sekarang persoalan bendera saja tidak kunjung usai. Ini kaga lagi kita bicara butir perjanjian lain yang menyebutkan Aceh berhak mengatur sukubunga bank sendiri.

Dan yang menyedihkan lagi adalah ketika Aceh menuntut hak-hak politik di sini., Jakarta membenturkannya dengan isu kesejahteraan Namun seolah-olah Pemerintah Aceh lebih peduli bendera daripada kesejahteraan. Padahal, logika putra kecil pun tahu, hak kesejahteraan itu tersimpan pada bagi hasil 70: 40 persen yang tak kunjung diwujudkan. Tentu, tanpa mengenyampingkan semua pengelolaan dana oleh Pemerintah Aceh yang juga kag fokus arahnya kemana. Namun itu soal lain.

Saat isu bendera memanas tahun lalu, barulah pemerintah induk menggelar pertemuan membahas Aceh. Lalu ketika isu bendera meredup dan pembahasan tentang Aceh kembali menghilang di Jakarta.

Membaca Jason, saya teringat dengan pertemuan pada salahsatu sore dengan delegasi pemerintah Filipina dan pemberontak Bangsamoro sebelum mereka meneken perjanjian damai pada akhir Maret lalu. Pertemuan itu berjalan di sebuah warung kopi di Banda Aceh. Masa itu, mereka datang ke Aceh untuk menelisik apa yang diperoleh Aceh sesudah GAM merelakan senjatanya dipotong-potong.

"Kami ingin mengetahui apa saja persoalan yang nampak di Aceh sebelum kami menandatangani perjanjian damai, kata perwakilan Bagsamoro pada saya sore itu.
Pesan dari kalimat itu benar: mereka tak ingin ditipu setelah perjanjian diteken!
Kindertagesstätte tahu perjanjian damai Aceh diteken dengan tergesa-gesa sesudah bencana tsunami mahadahsyat. Pimpinan GAM, meski awalnya ragu-ragu dan berupaya percaya pada janji Indonesia.

Kita percaya perdamaian adalah langkah tepat. Namun yang paling tepat, semestinya, adalah memastikan perjanjian yang disepakati benar-benar dijalankan.
Kindertagesstätte menghormati Jusuf Kalla sebagai inisiator damai Aceh. Akan tetapi di mata saya, Kalla adalah tukang PHP. Pemberi harapan palsu, kata putra muda sekarang. Satu kalimat Jusuf Kalla yang tena membekas di benak ya, "yang penting, bikin mereka teken dulu, urusan nanti belakangan. "

Kini, 15 tahun berlalu, "urusan nanti belakangan" itu tak kunjung selesai.
Sementara di Aceh, Muzakir Manaf, mantan Panglima GAM yang kini berada sebagai Wakil Gubernur Aceh, masih memegang teguh janji damai itu. Yang ya kuatir, jika suatu semasa lelaki pendiam itu kelenyapan kesabarannya.

Rabu, 11 Mei 2016

Teungku Chik di Tiro Pahlawan Nasional Dari Aceh

Teungku Chik di Tiro Pahlawan Nasional Dari Aceh

Teungku Chik di Tiro bernama lengkap Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman

Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman (Tiro, Pidie, 1836 - Aneuk Galong, Aceh Besar, Januari 1891) beliau seorang pahlawan nasional dari Aceh.

Teungku Muhammad Saman adalah putra dari Teungku Syekh Ubaidillah dan ibunya bernama Siti Aisyah, putri Teungku Syekh Abdussalam Muda Tiro. Ia lahir pada tahun 1836 dan bertepatan dengan 1251 Hijriah di Dayah Jrueng kenegerian Cumbok Lam Lo, Tiro, daerah Pidie, Aceh. Beliau dibesarkan dalam lingkungan agama yang ketat.
Ketika ia menunaikan ibadah haji di Mekkah, ia memperdalam lagi ilmu agamanya dan selain itu tidak lupa beliau menjumpai pimpinan-pimpinan Islam yang ada di sana, sehingga ia mulai tahu tentang bagaimana perjuangan para pemimpin tersebut dalam berjuang melawan imperialisme dan kolonialisme. Sesuai dengan ajaran agama yang diyakininya dan Muhammad Saman sanggup berkorban apa saja baik harta benda, kedudukan, maupun nyawanya demi tegaknya agama dan bangsa. Demi keyakinan ini dibuktikan dengan kehidupan nyata, yang kemudian lebih dikenal dengan istilah Perang Sabil.

Memimpin Perjuangan

Dengan motivasi perang sabilnya maka satu persatu benteng Belanda dapat direbut dan juga wilayah-wilayah yang selama ini diduduki oleh Belanda dengan mudah jatuh ke tangan pasukannya. Pada bulan Mei tahun 1881 pra pasukan Muhammad Saman dapat merebut benteng Komunis Belanda Lam Baro serta Aneuk Galong dan lain-lain hingga  akhirnya Belanda terjepit di sekitar kota Banda Aceh dengan mempergunakan taktik-taktik lini konsentrasi (concentratie stelsel) yaitu membentuk benteng yang mengelilingi wilayah yang masih dikuasainya.

Teungku Chik di Tiro beliau tokoh yang kembali menggairahkan Perang Aceh pada tahun 1881 setelah menurunnya kegiatan penyerangan terhadap Belanda.

Bukti kehebatannya dapat dibuktikan dari banyaknya pergantian gubernur Belanda untuk Aceh semasa perjuangannya (1881-1891) hingga4 kali, yaitu:
  • Abraham Pruijs vehicle der Hoeven (1881-1883)
  • Philip Franz Laging Tobias (1883-1884)
  • Henry Demmeni (1884-1886)
  • Henri Karel Frederik vehicle Teijn (1886-1891)

Belanda yang merasa kewalahan akhirnya memakai "siasat liuk" dengan meracuni Tgk. Muhammad Saman dan beliau meninggal pada bulan Januari 1891 di benteng Aneuk Galong.

Senin, 09 Mei 2016

Perjanjian Damai RI dan GAM

 Perjanjian Damai RI dan GAM


Umum menganggap bahwa GAM dilahirkan pada 4 Desember 1976. Sebenarnya GAM sendiri sebagai wahana pergerakan baru didirikan pada 20 Mei 1977. Namun Hasan Tiro sendiri memilih hari lahir GAM adalah pada tanggal yang disebut paling awal, disesuaikan dengan proklamasi kemerdekaan Aceh Sumatera. Proklamasi ini dilangsungkan di Bukit Cokan, pedalaman Kecamatan Tiro, Pidie. Prosesi ini dilakukan secara sederhana, dilakukan di suatu tempat yang tersembunyi, menandakan bahwa awal-awalnya, gerakan ini adalah gerakan bawah tanah yang dilakukan secara diam-diam.
Terdapat berbagai pendapat yang telah menjelaskan beberapa hal yang menjadi kausa peristiwa ini. Pertama, bahwa GAM merupakan lanjutan perjuangan - atau setidaknya terkait - Darul Islam (DI) Aceh yang sebelumnya pernah meletus pada 1950-an. Dukungan para tokoh DI pada awal lahirnya GAM memperkuat tesis bahwa ada yang belum selesai pada upaya integrasi yang dibangun oleh Sukarno untuk menyelesaikan pemberontakan DI/TII Daud Beureueh. Kita akan lanjutkan Sejarah Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ini ke faktor yang kedua. 
Kedua, faktor ekonomi, yang berwujud ketidakadilan dan ketimpangan ekonomi antara pusat dengan daerah. Pemerintahan sentralistik Orde Baru menimbulkan kekecewaan berat terutama di kalangan elite Aceh. Pada era Soeharto, Aceh menerima 1% dari anggaran pendapatan nasional, padahal Aceh memiliki kontribusi 14% dari GDP Nasional. Terlalu banyak pemotongan yang dilakukan pusat yang menggarap hasil produksi dari Aceh. Sebagian besar hasil kekayaan Aceh dilahap oleh penentu kebijakan di Jakarta. Meningkatnya tingkat produksi minyak bumi yang dihasilkan Aceh pada 1970-an dan 1980-an dengan nilai 1,3 miliar US Dolar tidak memperbaiki kehidupan sosial ekonomi masyarakat Aceh. Ketidakadilan di bidang ekonomi, politik, dan berbagai ketidakadilan lainnya merupakan faktor ketiga dari sebab kelahiran GAM.
Penyelesaian konflik Aceh oleh pemerintah RI pada masa Orde Baru sampai era Reformasi. Pada masa Presiden B.J.Habibie, pemerintah tetap mengedepankan pendekatan keamanan dengan menggunakan militer dan polisi dalam menjaga keamanan di Aceh. Pada masa Presiden Abdurahman Wahid mencoba melakukan pendekatan baru, yang disebut dengan pendekatan ekonomi dan politik, dan mencoba membuka dialog damai dengan GAM.

Pada masa Presiden Megawati Soekarnoputri berlaku Kesepakatan Penghentian Kekerasan. Pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla, tampak keduanya memilih cara non-militer untuk menyelesaikan persoalan. Terlebih inisiatif, Jusuf Kalla dengan cara bekerja di balik layar (second track diplomacy) agar dapat masuk ke pusat pimpinan GAM, dalam rangka melakukan komunikasi politik di satu sisi dan sekaligus membangun kepercayaan. Musibah yang mendatangkan berkah akhirnya terjadi, tsunami 26 Desember 2004 telah turut mengambil peran untuk mendamaikan para pihak yang bertikai. Musibah tersebut menuntut pemerintah dan GAM untuk lebih memikirkan solusi damai dalam menyelesaikan pemberontakan bersenjata di Aceh. 
Faktor-faktor perdamaian di Aceh:
1. Bencana Alam Tsunami
Posisi pemerintah sangat jelas disini. Wakil Presiden M. Jusuf Kalla, beberapa hari setelah tsunami dengan jelas mengumumkan bahwa perdamaian harus segera dilakukan. Bagi Jusuf Kalla, sangat mustahil membangun puing-puing reruntuhan Aceh apabila pemerintah dan GAM masih bersebrangan.
2. Keseriusan Pemerintahan SBY-JK
Keseriusan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla, telah menunjukkan keseriusan untuk memulai perundingan damai dengan GAM. Keinginan kedua pemimpin ini bukan sekedar retorika tetapi aksi nyata, Sejarah Singkat Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
3. Dukungan TNI
TNI sendiri amat sangat mendukung dan mendorong terciptanya perdamaian di Aceh. Dalam konteks ini peranan presiden SBY sangat dominan. SBY dengan tegas menyatakan bahwa TNI harus ikut keputusan politik yang dilakukan pemimpin.
4. Perubahan semangat GAM
Hasil operasi pasukan TNI yang besar-besaran sebelum tsunami membuat pasukan GAM mengendur. Pasukan GAM mengalami kekalahan yang signifikan dan membuat semangat tempur orang-orang GAM di lapangan mengalami perubahan.
5. Peranan Martti Ahtisaari
Kepemimpinan mantan Presiden Finlandia, Martti Ahtisaari, dalam memediatori dan memfasilitasi perundingan damai tersebut sangat menentukan. Ia amat tegas dalam, penuh siasat dan ia juga memiliki rencana yang matang pada setiap perundingan. Ia selalu berkomunikasi langsung dengan Sekjen PBB, Koffi Annan selama perundingan. Dengan demikian ia amat gampang memobilisasi segala keperluan untuk mencapai perdamaian di Aceh.
6. Agenda Konkret Pemerintah
Faktor ini sangat menentukan sebab tawaran konkret tersebut membuat posisi pemerintah Indonesia di meja perundingan, sangat menguntungkan. Manakala pihak GAM masih berputar-putar damal mengadu argumentasi dan berusaha mengelak memasuki subtansi persoalan, Ahtisaari selalu menggunakan tawaran konkret itu untuk menekan GAM.
7. Dukungan Internasional
Dunia internasional amat mendukung ikhtiar damai yang dilakukan oleh pemerintahan baru SBY-JK. Dukunga internasional untuk mempercepat perdamaian di Aceh ini tidak terlepas dari tsunami. Dunia internasioal secara serentak membantu melakukan rekonstruksi Aceh pasca bencana tsunami. Dunia internasional lebih rasional dan realistis bahwa adalah tidak mungkin melakukan bentuan kemanusiaan dan melakukan rekonstruksi Aceh tanpa adanya perdamaian antara pemerintah Indonesia dengan GAM.
8. Format Dialog
Kali ini pihak pemerintah Indonesia dan GAM bertemu langsung di sebuah meja perundingan. Tak ada perantara yang menyampaikan masing-masing pesan. Denga demikian, tak ada kata yang ditafsirkan lain. Pertemuan langsung memang sangat efektif sebab selain masing-masing pihak mendengar secara langsung, juga segala rencana dan isi pikiran dengan mudah dikemukakan.
9. Lobi Personal yang Intensif
Kontak person dengan para petinggi GAM yang dilakukan oleh pemerintah menjadi sangat signifikan. Hal yang sama juga dilakukan Wapres terhadap Ahtasaari. Dengan berkomunikasi langsung tersebut, baik dengan petinggi GAM maupun Ahtasaari, amat yakin tentang kesungguhan pemerintah untuk mencapai perdamaian.
10. Kesabaran dan Toleransi Negositator Pemerintah
Daya tahan para perunding pemerintah untuk bersikap sabar dan toleransi terhadap serangan GAM, turut menentukan kelancaran perundingan. Dan sikap ini tidak terjadi begitu saja, sebab, setiap saat JK selalu mengingatkan agar berlatih menahan emosi dan reaksi. Ajaran JK tersebut bukan tanpa alasan. Pengalaman menyelesaikan konflik kekerasan di Poso dan Ambon beberapa tahun silam, membuat JK percaya bahwa bagian kesuksesan mendamaikan oranng adalah kesabaran.
Sejarah Singkat Gerakan Aceh Merdeka (GAM)
11. Komitmen Kedua Belah Pihak
Kepatuhan kedua belah pihak untuk menjaga komitmen bahwa subtansi pembicaraan selama dialog berlangsung, tidak boleh diketahui public. Baik pihak pemerintah maupun GAM, keduanya tunduk pada aturan main ini. Pihak mediator juga demikian. Ia hanya melakukan jumpa pers pada akhir tiap putaran dialog. Itu pun atas persetujuan kedua belah pihak.
12. Kedisiplinan GAM
Kerapihan struktur organisasi GAM memungkinkan mereka amat disiplin. Selama perundingan berlangsung, tak ada satu un aktivis GAM yang melenceng dari perintah pemimpin mereka yang tengah berunding di Helsinki. Semuanya tunduk pada kepemimpinan Malik Mahmud dan Zaini Abdullah.

Minggu, 08 Mei 2016

Sepak Terjang GAM Mengembalikan Harkat dan Martabat Aceh

Sepak Terjang GAM Mengembalikan Harkat dan Martabat Aceh 

Masih mengingat deadline maklumat pemerintah 12 Mei lalu. Hingga batas waktu ultimatum, pemerintah tak juga mengeluarkan keputusan sebagai tanda awal operasi militer di Aceh. Konon, saat itu pemerintah menghitung kekuatan TNI di sana. Ada kekhawatiran karena TNI bakal dilibas habis oleh GAM melalui perang gerilya.

Secara tidak langsung, kabar ini menyiratkan ketangguhan kekuatan bersenjata Tentara GAM dan Sesungguhnya jumlah anggota GAM itu sebagian besar rakyat Aceh pasti akan terus bertambah. Jika rakyat terus ditindas tentu seluruh rakyat itu akan bangkit melawan. Dan, hal seperti inilah yang terjadi di bumi Serambi Mekah itu dan perlawanan GAM mendapat simpati luar biasa dari rakyat Aceh. Rakyat yang lama telah ternista dan teraniaya.

Sambil berkelakar sang Panglima Tertinggi dari GAM dan Wakil Wali Negara Aceh Tengku Abdullah Syafei sempat mengatakan bahwa bayi-bayi warga Aceh telah disiapkan senjata AK-47 oleh GAM. Mereka akan dididik dan dilatih sebagai tentara GAM akan segera pergi berperang melawan Kafe (intilah penindas islam).

Sejatinya, basis perjuangan GAM dilakukan dalam dua sisi yaitu diplomatik dan bersenjata dan Jalur diplomasi langsung dipimpin Hasan Tiro dari Swedia dan Opini dunia dikendalikan dari sini. Sementara basis militer dikendalikan dari markas sendiri di perbatasan Aceh Utara hingga Pidie. Seluruh kekuatan GAM dioperasikan dari tempat ini juga termasuk seluruh komando di sejumlah wilayah di Aceh juga beberapa negara seperti Malaysia, Afghanistan, dan Kazakhstan, Pattani (Thailand), Moro (Filipina), . Namun sering GAM menipu TNI dengan cara mengubah-ubah lokasi markas utama mereka.

Seluruh wilayah Ace GAM membuka tujuh komando, yaitu komando wilayah Pase Pantebahagia, Tamiang,Peurulak, Bateelik, Pidie, Aceh Darussalam dan Meureum dan masing-masing komando dibawahi panglima wilayah.

Sejak berdirinya pada tahun 1977, GAM sangat cepat melakukan pendidikan militer bagi anggota-anggotanya. Setidaknya tahun 1980-an, ribuan anak muda aceh dilatih di camp militer di Libia. Saat itu, Presiden Libia Mohammar Khadafi mengadakan pelatihan militer bagi yang ingin berjihad. Hasan Tiro berhasil memasukkan nama GAM sebagai salah satu peserta pelatihan dan Pemuda kader GAM juga berhasil masuk dalam latihan di camp militer di Kandahar, Afghanistan yang dipimpin Osama bin Laden.

Gelombang pertama masuk pada tahun 1986 dan selanjutnya terus dilakukan hingga akhir 1990. Selama DOM, pengiriman tersendat. nmun angkatan 1995-1998 telah mendapat latihan intensif. Ketika DOM dicabut, prajurit dari Libia ini ditarik ke Aceh. Jumlahnya sekitar 5.000 pasukan dan dijadikan pasukan elite GAM (semacam Kopassus).

Jalur ke Libia memang agak mudah. Para pemuda Aceh itu dikirim melalui Malaysia lalu menuju Libia. Jalur lainnya dari Aceh lalu ke Thailand menuju Afghanistan kemudian melanjutkan ke Libia. Dari jalur ketiga, yakni melalui Aceh menuju Filipina Selatan dan ke Libia. Tiga jalur penting ini hampir selalu jebol dari jangkauan petugas imigrasi, polisi, dan patroli TNI-AL.

Wakil Panglima GAM Wilayah Pase Almarhum Akhmad Kandang  pernah mengklaim, jumlah personel GAM 70 ribu. Anggota GAM 490 ribu. Jumlah itu juga termasuk jumlah korban kala DOM 6.169 orang.

Sumber resmi Mabes TNI cuma menyebut sekitar enam ribu orang. Mantan Menhan Machfud MD menyebut 4.869 personel itu. Dari jumlah itu,804 di antaranya dididik di Libia dan 115 dilatih di Filipina — Moro dan persediaan senjatanya terdiri atas pistol, senapan, GLM, mortir, granat, pelontar granat, pelontar roket, RPG, dan bom rakitan dan jenis senapan di antaranya AK-47, M-16, FN, Colt, dan SS-1.

Persenjataan itu diperoleh melalui jalur internasional yang menyuplainya serta sejumlah negara disebut antara lain, gerakan Islam Moro Filipina, gerakan Pattani Thailand, Malaysia, eks pejuang Kamboja, gerakan Sikh India, gerakan Elan Tamil, dan Kazhakstan serta Libia dan Afghanistan. GAM juga membuat pabrik produksi senjata. Di antaranya, di Kreung Sabe, Teunom — Aceh Barat — dan di Lhokseumawe dan Nisau-Aceh Utara dan di Aceh Timur. Jenis senjata yang diproduksi seperti bom, amunisi, senjata laras panjang juga pendek dan pabrik senjata ini bisa dibongkar pasang sesuai dengan kondisi medan. Jika akan diserbu TNI, pabrik senjata ternyata telah dipindahkan ke daerah lain yang aman. Para ahli senjata disekolahkan ke Afghanistan dan Libia.

Senjata-senjata GAM juga disuplai dari Jakarta dan Bandung.
Pasar gelap senjata ini dilakukan oleh oknum TNI dan Polri yang haus kekayaan. Bagi GAM yang penting ada senjata, uang tidak masalah karena faktanya GAM ternyata menyimpan sumber dana yang sangat besar. Jumlah pembelian ke oknum TNI/Polri ini bisa mencapai trilyunan rupiah. Sebuah penggerebekan pada tahun 2000 oleh Polda Metro Jaya dan menemukan kuitansi senilai Rp 3 milyar untuk pembelian senjata GAM melalui pasar gelap dari oknum TNI.

Kinipun senjata yang dimiliki TNI juga dimiliki GAM. Yang tak dimiliki GAM adalah senjata berat. Karena sifatnya yang lamban. Prinsip GAM maka senjata itu harus memiliki mobilitas tinggi, mudah dibawa ke mana-mana. Karena strategi perangnya yang hit and run dan  GAM bahkan mengaku memiliki senjata yang lebih modern daripada TNI. Misalnya, senjata otomatis yang dimiliki para karades, Senjata otomatis, berbentuk kecil mungil itu bisa tahan berhari-hari dalam air. Anggota karades inilah yang sering menyusup ke kota-kota dan menyergap anggota TNI/Polri yang teledor.

Membeli senjata tentu dengan uang sangat melimpah karena harganya yang tak murah. Lantas, dari mana mereka mendapatkan dana? GAM memiliki donatur tetap dikumpulkan dari pengusaha-pengusaha Aceh yang sukses di luar negeri. Di antaranya, di Thailand, Malaysia, Singapura, Amerika dan Eropa. Dana juga diperoleh dari sumbangan wajib yang diambil dari perusahaan-perusahaan lokal dan multinasional di  wilayah Aceh.

Sebagai gambaran, pada tahun 2000 lalu, GAM meminta sumbangan wajib kepada seorang pengusaha lokal bernama Tengku Abu Bakar senilai Rp 100 juta dan Abu Bakar diberi surat berkop Neugara Atjeh-Sumatera tertanggal 15 Februari tahun 2000 yang ditandatangani oleh Panglima dari GAM Wilayah Aceh Rajek Tengku Tarzura.

Mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah menyebut Pupuk Iskandar Muda pernah mencairkan Rp 10 milyar ke GAM untuk biaya keamanan. GAM kerap melakukan kegiatan sosial bagi msyrakat, membantu masyarakat yang kesusahan, melindungi warga dari kekejaman TNI. Makanya, setiap bulan, GAM mendapat upeti dari para pengusaha sahabat GAM itu.

Sistem komunikasi GAM tergolong canggih. Sistem komunikasi berlapis dilakukan GAM sebagai benteng pertahanan dan propaganda dan Selain handytalky, GAM juga memiliki radio tranking, radar dan telepon satelit. GAM juga memiliki penyadap telepon. Sering kali gerakan TNI/Polri dimentahkan aksi-aksi penyadapan ini. Penggerebekan sering kali gagal total.