Tampilkan postingan dengan label Kabar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kabar. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Oktober 2016

Putra Aceh Menebar Bakti di Belantara Papua

ZAKI kecil tidak pernah berpikir akan menginjakkan kaki di Papua. Bahkan dia tidak pernah bercita-cita bekerja di luar Aceh setelah lulus kuliah. Namun garis tangan laki-laki yang bernama lengkap Muhammad Zaki (27), lulusan FKIP Umuslim tahun 2014 tersebut membawanya menyasar pelosok Papua, menghabiskan waktu dan bertaruh nyawa di hutan belantara dengan mendidik putra-putri di provinsi ujung timur Indonesia tersebut.

Zaki mengisahkan petualangannya kepada Kabag Humas Umuslim, Zulkifly MKom yang kemudian diteruskan ke e-mail redaksi Serambi. Pada Desember 2015, kata Zaki mengisahkan perjalanannya, dia mengikuti seleksi Program Guru Penggerak Daerah Terpencil melalui program Pokja Papua. Seleksinya di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Ada ratusan peserta yang lolos, dan Zaki satu-satunya yang berasal dari Aceh. Pemuda asal Desa Cot Kruet Makmur, Kabupaten Bireuen, ini kemudian diterbangkan ke Papua. Dia ditempatkan di Distrik Mbiandoga, Kabupaten Intan Jaya, Januari 2016.

Untuk mencapai sekolah tempat dia mengajar di Distrik Mbiandoga, Zaki harus terbang dengan pesawat perintis. Lama terbangnya sekitar 20 menit dari Kabupaten Nabire dengan harga tiket Rp 2 juta sekali terbang. Setelah turun dari pesawat di sebuah landasan yang dikelilingi ilalang kawasan Intan Jaya, dia masih harus berjalan kaki naik-turun gunung sekitar dua hari dua malam. Semua jalur dan sarana transportasi ini sudah ditentukan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Intan Jaya.

“Kondisi pendidikan di Papua sangat jauh berbeda dengan apa yang saya lihat dan rasakan di daerah terpencil Aceh. Papua masih sangat tertinggal dan serbakekurangan. Topografi wilayah yang bergunung-gunung membuat provinsi ini benar-benar terisolir, bahkan tidak ada jalan akses sama sekali,” katanya.

Jika tidak ada pesawat, lanjutnya, butuh waktu seminggu berjalan kaki. Ini pun dengan asumsi tidak ada gangguan di jalan, seperti binatang buas atau sedang perang antarsuku. Bukan rahasia, lantaran banyaknya suku yang mendiami kawasan tersebut, perang kerap terjadi.

Makanan pokok di Papua sangat mahal. Beras dengan berat 25 kg harganya Rp 1,3 juta, gula Rp 50.000/kg. Sebagian besar masyarakat belum memakai baju dan belum bisa berbahasa Indonesia. Di sekolah Zaki mengajar, SD Inpres Mbiandoga, usia murid antara 15-25 tahun. Murid tersebut hanya punya satu baju sekolah di badan yang diberikan Zaki. Inilah satu-satunya baju yang mereka pakai, untuk selamanya.

“Proses belajar mengajar tanpa alat apa pun, tidak ada papan tulis, kapur, dan alat peraga lainnya,” tulisnya. Sesekali Zaki berinovasi, menggoreskan di tanah dengan kayu. Namun, ini bukanlah cara yang efektif dalam mengajar. “Embusan angin menerbangkan butir-butr debu, menghilangkan goresan yang ada.”
Dia berbelanja ke Nabire tiga bulan sekali dengan menggunakan pesawat. Namun, harga barang-barang bawaan dihitung Rp 30.000/kg yang membuat dirinya membatasi jumlah. Belum lagi ongkos pesawat yang mencapai Rp 2 juta sekali terbang.

Di tempat Zaki bertugas tidak ada listrik, jaringan HP, pasar, apalagi wifi. Untuk akses ke ibu kota kabupaten, butuh waktu tiga hari berjalan kaki. Saat tiba di Kabupaten Intan Jaya, Zaki biasanya menginap di hutan terlebih dahulu satu malam, kemudian mengirim kabar kepada siswa untuk menjemput barang bawaan. Barulah kemudian mereka bersama-sama membawa pulang barang, menuju sekolah tempat belajar. Itu pun kalau suasana daerah aman. Jika sedang perang, berarti harus menunggu dulu sampai reda.

Di Kecamatan Mbiandoga sendiri terdiri ada 8 suku dan 8 bahasa daerah, sehingga untuk berkomunikasi dengan masyarakat sangat susah, apalagi 95 persen warga belum bisa berbahasa Indonesia.

Mereka tidak mengenal mata uang dan bahkan makanan pokoknya masih ubi alias boh keupila. Pakaian yang dipakai masyarakat sangat lusuh dan koyak. Untuk mendapatkan baju kaos ke Nabire, misalnya, warga butuh biaya hampir Rp 5 juta, terutama karena mahalnya ongkos transportasi. Di sisi lain, warga tidak berpenghasilan sama sekali. “Dengan keterbatasan inilah kami coba perkenalkan pendidikan kepada masyarakat. Kami ditutut lebih aktif, kreatif, dan bersifat sosial,” kata mantan honorer di SMPN 5 Sawang ini.

Zaki mengaku mulai menikmati suasana yang serba tak normal itu. Ada kebahagiaan tak terhingga ketika berhasil menularkan ilmu untuk putra-putri Papua meskipun hanya satu abjad. Saat ditanya apakah ingin mengabdi sepanjang hayat di hutan Intan Jaya, Zaki membalasnya dengan ikon senyuman. Pemuda lajang ini mengaku mendapatkan perlakuan yang sangat baik dari warga setempat.

“Saya dua tahun kontrak di sini. Sekarang kebetulan sedang di Nabire,” kata dia dalam e-mail terbaru, Sabtu pagi kemarin.

Keberanian, keteguhan sikap, dan keikhlasan mengabdi merupakan kunci utama Pak Guru yang satu ini untuk menaklukkan belantara Papua. Dia mengaku banyak berutang budi ke kampus Umuslim. Zaki mengucapkan terima kasih kepada seluruh civitas akademika, terutama Rektor Universitas Almuslim Dr Amiruddin Idris SE MSi yang selalu memotivasi dan mewariskan keteladanan untuknya

Selasa, 11 Oktober 2016

Warga Alue Limeng Tutup Akses Jalan ke Jembatan Perbatasan Simpang Jaya

Bireuen-Warga Gampong Alue Limeng dan Salah Sirong Jaya, Kecamatan Jeumpa melakukan pemblokiran jembatan, Senin (10/10/2016) malam karena dilarangnya truk pengangkut material pembangunan Jalan Alue Limeng-Salah Sirong oleh Warga Simpang Jaya, Kecamatan Juli, Bireuen.
Pelarangan truk material proyek yang dilaksanakan oleh PT Hananan dilakukan sejak Sabtu (1/10/2016) lalu.
Akibatnya, proyek pembangunan jalan yang menghubungkan Alue Limeng dan  Sarah Sirong Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen melalui dana APBN tersebut terhenti  pelaksanaanya.
Alasan warga Simpang Jaya menghentikan truk yang melintasi jalan Gampong mereka akan rusak selama lalu lalang truk tersebut.
Pelarangan truk material melintas itu menyebabkan  pelaksanaan proyek jalan sekitar 1.450 meter yang menghubungkan kedua gampong itu saat ini terbengkalai dan tidak dilanjutkan oleh rekanan.
Pasca terbengkalainya pelaksanaan proyek itu,  warga Alue Limeng, Kecamatan Jeumpa “membalasnya”dengan menutup jalan menuju jembatan di perbatasan Simpang Jaya dan Alue Limeng.
Puluhan warga Alue Limeng kepada awak media Selasa (11/10/2016) menyebutkan, penutupan akses jalan di perbatasan di depan jembatan rangka baja ini sebagai bentuk protes warga Alue Limeng kepada warga Simpang Jaya yang melarang truk material melintas. “Kalau mereka melarang truk melintas, maka kami menutup jalan menuju jembatan agar warga Simpang Jaya juga tidak bisa melintasi kawasan kami,” ujar warga Alue Limeng.
Warga menyebutkan,  jika permasalah tersebut tak segera diselesaikan dan dicari soslusinya oleh pihak Kecamatan dan Pemkab Bireuen, maka akses jalan itu tetap akan ditutup selamanya.
Padahal, sebut warga lagi, selama ini  sebagian besar warga Simpang Jaya juga melintasi serta mencari rezeki  ke mereka serta sering melintasi jalan ke gampong tersebut saat hendak ke kebunnya.
Keuchik Alue Limeng, M Yusuf  didampingi Keuchik Salah Sirong, Muklisin Muhammad kepada KoranBireuen, Selasa (11/10/2016)  mengatakan, ditutupnya akses jalan  yang menghubungkan Simpang Jaya dan Alue Limeng,  tepatnya di jembatan rangka baja itu dilakukan warganya tadi malam.
Penutupan tersebut, katanya, adalah bentuk protes kepada warga Simpang Jaya, kerena sebelumnya sejumlah truk pengangkut material untuk pembangunan jalan ke gampongnya dilarang oleh warga Simpang Jaya.
‘Sebelum kita sudah melakukan mediasi ke Kecamatan Jeumpa dan melapor ke Camat Juli, namun Camat Juli sendiri kurang merespon terhadap laporan ini karena beralasan tak ada waktu untuk memediasai sebab sedang sibuk dengan kegiatan pameran pembangunan,” ungkap Keuchik M Yusuf mengulang pernyataan Camat Juli.

Rabu, 05 Oktober 2016

Topan Chaba Hantam Korsel, Tiga Orang Tewas

Topan Chaba menghantam kawasan selatan Korea Selatan, membawa angin kencang dan hujan lebat yang menewaskan tiga orang dan membanjiri pelabuhan utama. (AFP Photo/Yonhap)

Topan Chaba menghantam kawasan selatan Korea Selatan, membawa angin kencang dan hujan lebat yang menewaskan setidaknya tiga orang dan membanjiri pelabuhan utama serta situs-situs industri sehingga mengganggu proses produksi.

Badai itu awalnya menyapu Pulau Jeju pada Selasa (4/10) malam. Satu orang dilaporkan hilang, sementara listrik di berbagai daerah padam dan rumah-rumah hancur. Terhitung 26 penerbangan ke pulau tujuan liburan itu pun dibatalkan.

Seiring bergeraknya angin ke arah Jepang pada Rabu (5/10), pelabuhan di Kota Busan pun ditutup untuk hari kedua. Seorang petugas mengatakan kepada Reuters bahwa pelabuhan terbesar itu kemungkinan akan dibuka dalam waktu dekat.

Sementara itu, pekerjaan di dua pabrik Hyundai di Kota Ulsan juga dihentikan sementara karena "masuknya air". Menurut juru bicara Hyundai, pabrik tersebut memproduksi mobil Accent dan Sante Fe.

Penghentian operasi juga terjadi di beberapa galangan kapal di sepanjang pesisir selatan, termasuk Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering Co Ltd. di Geoje.

Di Busan dan Ulsan sendiri, lima orang tewas akibat topan ini. Kementerian Keamanan Publik Korsel melaporkan bahwa selain itu, tiga orang lainnya dinyatakan hilang.

Lebih dari 80 penerbangan menuju Busan pun dibatalkan. Layanan kereta di beberapa titik juga terpaksa dihentikan.

Potongan video yang ditayangkan di televisi memperlihatkan banjir parah di beberapa daerah Ulsan dan Busan. Mobil dan bangunan terendam dan gelombang badai terluhat menghantam apartemen di sekitar pesisir.

Menurut prakiraan Tropical Storm Risk, topan ini akan melemah dalam perjalanan menuju Jepang.

Selasa, 04 Oktober 2016

Mantan Wali Kota Rahmatsyah Gantikan Posisi Sofyan

Posisi yang ditinggalkan, Sofyan, sebagai bakal calon wali kota Lhokseumawe, kini digantikan Rahmatsyah. Ia merupakan mantan pj Wali Kota Lhokseumawe tahun 2001-2004 dan saat ini duduk sebagai Ketua DPC Partai Demokrat.
Sofyan yang telah dinyatakan gugur sebagai balon karena tidak lolos pada tes kesehatan ikut mengantarkan Rahmatsyah saat proses pendaftaran ke Kantor KIP Kota Lhokseumawe, Selasa (4/10/2016) sekitar pukul 17.30 WIB.
Datang ke KIP bersama keluarga, tim pendukung dan balon wakil wali kota, T Nouval, Rahmatsyah disambut Ketua KIP Lhokseumawe Syahrir M Daud beserta anggota.
Rahmatsyah, mengatakan, dirinya mengisi peluang yang ada agar tidak terjadi kekosongan. Selain itu adanya permintaan dan kerelaan dari Sofyan untuk menggantikannya yang telah gugur.
“Saya bersemangat untuk maju karena dukungan dari masyarakat dan teman-teman relawan dari Sofyan yang mengajak saya, ini merupakan kesempatan dan saya ingin memenuhi hajat teman-teman. Kalau untuk  persiapan terkesan mendadak. Karena sebenarnya saya tidak ada perssiapan, karena saya pikir memang sudah tidak ada peluang lagi,” katanya.
Ketua KIP Kota Lhokseumawe, Syahrir M Daud mengatakan, Rahmatsyah akan menjalani tes kesehatan pada tanggal 6 Oktober 2016, dan tes mampu baca Alquran 10 Oktober 2016a.

Sofyan mendampingi Rahmatsyah saat mendaftar ke Kantor KIP Kota Lhokseumawe, Selasa (4/10/2016)

Terungkapnya Palsu Dicetak di China, Indikasi Dimanfaatkan Kemenangan Ahok dan Migrasi Warga RRC

Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo yang mengakui, E-KTP palsu banyak dicetak di China dan Paris menjadi indikasi bisa dimanfaatkan untuk kemenangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan migrasi warga negeri Tirai Bambu ke Indonesia. 

Demikian dikatakan pengamat politik Ahmad Baidhowi kepada suaranasional, Selasa (4/10). “Apalagi untuk menjadi pemilih di Pilkada DKI Jakarta hanya dengan E-KTP, dan siapa yang sudah siap dengan E-KTP termasuk yang palsu?” kata Baidhowi. 

Kata Baidhowi, adanya E-KTP palsu yang dicetak di China makin menguatkan kecurigaan akan adanya warga RRC yang ingin tinggal di Indonesia.

“Buruh dari China di Indonesia sudah ada, kalau warga China sudah dapat E-KTP maka Indonesia Indonesia akan dibanjiri warga China,” papar Baidhowi. 

Sebelumnya Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo juga mengatakan, pasca duduk sebagai menteri, dirinya mendapat laporan dari koleganya bahwa banyak e-KTP yang dicetak di Paris dan China. 

“Persis sama termasuk hologramnya. “Jumlahnya jutaan. Ada oknum yang bermain, Mabes Polri sedang menyelidikinya dan kita tunggu saja hasilnya,” katanya beberapa waktu yang lalu. (sn)

Minggu, 02 Oktober 2016

Ikan Tangkapan Nelayan dari PPI Peudada Diekspor ke Negara Tetangga

Sejumlah pekerja tampak sibuk menimbang dan mimilah-milah ikan yang akan dimasukan ke dalam fiber.
Ikan –ikan tersebut merupakan hasil tangkapan nelayan yang berlabuh di PPI Peudada, dan juga ikan air tawar (tambak).
Beraneka jenis ikan mulai dikemas kedalam viber,. Tak lupa, untuk mengawetkannya agar tahan lama diperjalanan ke Medan, Sumatera Utara, hingga kemudian di ekspor ke Singapura, Malaysia dan Thailand itu maka diberi es batu.
Menurut sejumlah pekerja, usaha ekspor hasil ikan laut dan ikan air tawar (tambak) tersebut sudah berjalan selama 1, 5 tahun lamanya. Ikan-ikan tersebut dibeli dari nelayan.
Ikan yang dikemas untuk dikirim ke Medan tersebut diantarnya Jenaha yang harga belinya dari nelayan adalah Rp55 ribu per kg, lalu ada kepar, Rp3 ribu per kg, ikan pelatong, Rp 12 ribu per kg, ikan kambing putih, Rp 95 ribu per kg.
“Lalu selanjutnya ada ikan kambing hitam, kita beli dari nelayan Rp5 ribu per kg,  ikan pucuk, Rp 5 ribu per kg, kalau ada hasil tangkapan, juga kadang kita kemas udang laut dan udang tambak,” sebutnya.
Jumlah pengiriman ikan-ikan tersebut tergantung hasil tangkapan dari nelayan. Biasanya mereka kirim dua fiber per hari untuk kebutuhan ekspor dan dua fiber lagi untuk kebutuhan lokal.
“Dua fiber itu  dikirim pada sore harinya setelah semuanya ikan-ikan tersebut dikemas. Hasil dari usaha tersebut lumayan menguntungkan,” ungkap pemilki usah tersebut yang akrab disapa Cek Wan.

Kenaikan Pangkat Seorang Prajurit Tidak Mudah

Kenaikan pangkat bukan suatu hal yang mudah didapatkan seorang prajurit. Memerlukan perjuangan, kegigihan dan kesabaran yang sangat tinggi.
Hal itu ditegaskan Komandan Yonif Raider 112/DJ Mayor Inf Awang Danuarto, S.Sos, saat memimpin acara korp raport kenaikan pangkat Periode 01-10-2016 sebanyak 155 prajurit di lapangan hitam Yonif Raider 112/DJ, Sabtu (01/10/16). Mereka terdiri dari 2 Bintara 153 Tamtama.
Danyon mengatakan, karena kenaikan pangkat ini tidak didapatkan secara otomatis melainkan melalui seleksi yang sangat ketat, sehingga hanya orang –orang terbaik yang mendapatkan penghargaan untuk naik pangkat.
Selain itu, pangkat merupakan amanah yang harus dipikul setiap prajurit, karena semakin tinggi pangkat yang disandang, maka semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikul.
Pada kesempatan tersebut Komandan Yonif Raider 112/DJ juga mengucapkan selamat kepada seluruh prajurit yang telah menunjukkan prestasi, loyalitas dan dedikasi kerja yang baik, sehingga layak mendapat kehormatan dan penghargaan dari negara berupa kenaikan pangkat satu tingkat lebih tinggi.
“Jangan pernah berhenti untuk berbuat yang terbaik, berani, tulus dan ikhlas dalam setiap melaksanakan tugas bagi TNI khususnya Yonif Raider 112/DJ,” begitu dipesankan Awang Danuarto.