Tampilkan postingan dengan label Aceh Timur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aceh Timur. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 April 2017

Pelaku Pembacokan Warga Peureulak Aceh Tmur Diciduk

IDI - Butuh waktu 24 jam, polisi akhirnya menangkap tersangka pembacokan Muzakir berinisial KM (35), Kamis (13/4/2017) sekira pukul 07.30 WIB. Sebelumnya kemarin, Muzakir, dibacok sat duduk di warung kopi di desanya, Gampong Blang Bitra, Kecamatan Peureulak, Kabupaten Aceh Timur, sekira pukul 07.45 WIB.

Informasi didapat, tarsangka KM, warga Kecamatan Pereulak tersebut ditangkap aparat Satuan Reskrim Polres Aceh Timur di kawasan Gampong Bandrong, Kecamatan setempat. Kini tersangka telah diamankan di Polres guna penyidikan lebih lanjut.

"Saat ini pelaku sudah kami amankan di Polsek, selanjutnya akan kami lakukan penyidikan guna memngungkap motif penganiayaan terhadap korban (Muzakir)," terang Kapolsek Peureulak, AKP Simson Purba sebagaimana dikutip tribratanewspolresacehtimur.com.

Sebagai diberitakan kemarin, kasus pembacokan ini belum diketahui motifnya. Menurut informasi dihimpun, korban mengalami luka bacok di bagian leher, bahu, punggung, dan tangan.
Usai kejadian, korban dalam kondisi kritis awalnya dirujuk ke RSUD Sultan Abdul Aziz Syah, Peureulak. Kemudian, dari sana dirujuk ke RSUD Langsa dan akhirnya menghembuskan napas terakhir di sana.

Kronologi kejadian, saat korban sedang minum kopi di salah warung, tiba tiba datang pelaku dengan sepeda motor, berhenti tidak jauh dari korban. Tak menunggu lama,  pelaku langsung membacok korban dengan parang yang disembunyikan di bajunya.

Jumat, 07 April 2017

Tim Irwandi Centre Aceh Timur Ajak Masyarakat Bersatu

IDI - Ketua Tim Irwandi Centre Kabupaten Aceh Timur, Ismail Bin Amin alias Aki Rayeuk (50), mengajak seluruh elemen masyarakat Aceh Timur untuk bersatu membangun Aceh lebih baik di masa akan datang, karena tahapan pilkada 2017 telah usai.“Kami seluruh Tim Irwandi–Nova Aceh Timur, mengucapkan terimakasih kepada seluruh masyarakat Aceh Timur yang telah memberi dukungan kepada Irwandi-Nova, sehingga beliau terpilih sebagai Gubernur Aceh periode 2017-2022,” kata Aki Rayeuk, Jumat (7/4/2017) malam.

Aki Rayeuk berharap, kepada masyarakat Aceh Timur untuk bersatu dalam membangun Aceh di bawah kepimpinan Irawandi–Nova dalam masa lima tahun yang akan datang.

Seperti yang beritakan melalui GoAceh hingga “Kita tidak meragukan lagi kepimpinan Irwandi sebagai Gubernur Aceh, selain beliau telah mempunyai pengalaman, beliau juga punya ide-ide cemerlang dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Aceh,” kata Aki Rayeuk putra kelahiran Peureulak, Aceh Timur.

Katanya, usai pilkada Aceh dan ke depan masyarakat Aceh harus bersatupadu mendukung gubernur terpilih untuk membawa Aceh ke arah lebih dan maju, baik itu perekonomian rakyat, maupun pembangunan segala sektor.

“Karena tampa dukungan masyarakat, gubernur terpilih juga tidak dapat berbuat banyak untuk membangun Aceh lebih maju lagi. Untuk itu mari kita bersatu padu menuju Aceh yang taibatul warabbul ghafur,”demikian Aki Rayeuk.

Sabtu, 01 April 2017

Kesaksian Pawang Uteun Soal Suku Mante

IDI – Seorang pencari rotan di pedalaman Aceh Utara dan Aceh Timur memberi kesaksian mengejutkan. Pria ini mengaku pernah bertemu manusia bertubuh kerdil yang diduga sebagai Suku Mante dan Suku Keumeun.Dia adalah Tgk Rajab (57) alias ‘Pawang Uteun’, warga Gampong Tanoh Mirah, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara.

Pada suatu hari, kata Pawang Uteun, saat mencari rotan dan jernang di pedalaman Pante Bidari- Lhoknibong, Aceh Timur, dirinya bersama dua orang teman melihat sekelompok orang yang diduga Suku Keumeun di tepi sungai Arakundo.
“Saat itu mereka sedang mencari ikan. Kami sempat mengintip. Mereka berbicara dengan bahasa yang tidak kita mengerti. Seperti suara burung,” kata Tgk Rajab, Sabtu (1/4/2017).

Sayangnya, kata Tgk Rajab, ketika keberadaan pihaknya diketahui mereka langsung melarikan diri ke hutan belantara.

“Di belantara Aceh bukan hanya Suku Mente, tetapi ada juga Suku Keumeun. Saya ada beberapa kali bertemu dengan Suku Mante dan Suku Koemeun,” kata Tgk Rajab lagi.

Menurut Tgk Rajab, Suku Keumeun postur tubuhnya lebih kecil dari Suku Mante.
“Menurut cerita, ciri-ciri Suku Keumeun badannya lebih kecil dari Suku Mante. Suku Komeun kerdil berambut panjang, kukunya tajam seperti pisau, mulutnya sumbing, jari-jari kakinya ke belakang beda dengan kaki manusia biasa dan larinya sangat lincah,” katanya.

Suku Keumeun dan Suku Mante, menurut Tgk Rajab, hidup berkelompok-kelompok antara 15 orang hingga 20 orang.
Menurut pria asal Gayo Lues ini, keberadaan Suku Mante dan Suku Keumeun tersebar di belantara Aceh, mulai dari kaki gunung Seulawah hingga daerah pedalaman Lokop, Aceh Timur.
“Saya pernah juga bertemu dan melihat mereka di daerah pedalaman Lokop, Aceh Timur, antara belantara Lokop dengan Gayo Lues. Jadi apa yang dilihat oleh rombongan pecinta alam itu bukan tuyul, tapi itu adalah Suku Mante atau Suku Keumeun,” katanya.

Tapi dari postur tubuh mereka yang kerdil bisa saja itu Suku Keumeun. Sepengetahuan Tgk Rajab, Suku Mante dan Suku Keumeun mengonsumsi di antaranya ikan, daun-daunan, buah-buahan dan daging hewan.

“Bahkan makanan bawaan kita juga terkadang hilang diambil mereka. Kedua suku yang hidup di belantara Aceh tersebut, tidak mengusik jika melihat kita. Mereka lari dan menghidar saja,” jelasnya.

Setidaknya begitulah pengakuan Tgk Rajab kepada Ketua Asosiasi Pariwisata Indonesia, Kabupaten Aceh Timur, Masri.

Jumat, 24 Maret 2017

Minta Kepala Rutan Diganti, Napi Rutan Idi Nyaris Rusuh

IDI - Para narapidana di rumah tahanan negara (Rutan) Idi, Aceh Timur, nyaris membuat kerusuhan di Rutan tersebut, Jumat (24/3/2017).

Sambil, berteriak dan mengoncang-goncang sel tahanan dan pagar halaman dalam Rutan, mereka meminta kepala Rutan dan petugas keamanan atas nama Idris alias Nato dipindahkan dari Rutan tersebut.

"Kami tuntut kepala Rutan dan Nato diganti karena hak kami tak dipenuhi,” teriak napi sambil sesekali melempar batu ke genteng tempat tamu berkunjung yang di bawahnya dipenuhi Polisi.

Karena situasi nyaris rusuh. Kapolres Aceh Timur, AKBP Rudi Purwiyanto, didampingi Waka Polres Kompol Carlie, dan Danki Brimob BKO Polda Sumut AKP Saepul, menghampiri para napi ke dalam Rutan. Sedangkan, ratusan personel bersiaga mengantisipasi terjadinya kerusuhan.

Personel Brimo BKO Polda Sumut bersenjata
Personel Brimo BKO Polda Sumut bersenjata lengkap membackup Polres Aceh Timur, mengantisipasi terjadinya kerusuhan di Rutan Idi ()
Di hadapan Kapolres, para napi menyampaikan tuntutannya. Napi mengaku alasan mereka meminta kepada Rutan diganti karena hak-hak mereka tidak penuhi.

Diantanya, dijanjikan ompreng mereka diganti dengan tupper ware tapi tak diganti. Menu makan dijanjikan tempe, tapi selalu ikan asin. Kemudian, napi tak diizinkan pulang saat ada keluarganya yang meninggal.

Dijanjikan dipasang TV tapi tidak dipasang. Selain itu napi complain Rutan Idi yang sudah over kapasitas, setiap kamar mencapai 30 orang.

Napi tak terima keluarga yang bertamu pada sore hari dipungut biaya Rp 10 ribu. Napi yang ingin bermanja-manja dengan istrinya di ruang khusus diminta Rp 50 ribu.

Kemudian, kalau keluarga kirim uang ke napi dipotong oleh petugas. Dan barang-barang milik napi yang disita saat razia tidak dikembalikan.

Sedangkan alasan napi meminta Nato untuk dipindahkan. Karena ia diduga telah menganiaya seorang napi. Sedangkan, ia hanya petugas keamanan dan bukan pegawai Rutan.

Usai menyerap aspirasi napi. Kapolres, melakukan pertemuan dengan kepala Rutan Idi. Kemudian, kapolres kembali menemui napi.

Setelah mendengar penjelasan Kapolres, para napi dapat menerima solusinya dan suasana kembali kondusif.

Selasa, 21 Maret 2017

Ditinggal Belanja, Rumah nek Khalijah Dilalap Si Jago Merah


ACEH TIMUR- Satu unit rumah panggung berkontruksi kayu, di Dusun Blang Asam, Gampong Beuringin, Kecamatan Peureulak Barat, Aceh Timur milik ‘Nek’ Khalijah (70), ludes diamuk sijago merah, Selasa (21/3/2017) sore.Janda, sekaligus pemilik rumah berukuran 4 x 6 meter itu, hanya pasrah saat melihat sisa puing rumahnya yang masih mengepulkan asap, sesaat setelah ditinggal untuk berbelanja ke warung.
Kapolsek Peureulak Barat, Iptu Jusman mengatakan, kejadian bermula saat ‘Nek’ Khalijah, sedang memasak dengan kayu. Selesai memasak Nek Khalijah mematikan api.
Lalu, ‘Nek’ Khalijah pergi ke warung sebentar yang lokasinyanya tidak begitu jauh dari rumahnya untuk belanja.
“Ia merasa semua api bekas memasak sudah berhasil dimatikan. Ternyata masih ada kayu yang masih ada bekas apinya dan tertiup angin. Tiupan angin mengenai api yang ada di tunggul kayu tersebut dan hidup kembali, lalu membakar dinding rumah Nek Khalijah,” ungkap Kapolsek, seperti dilansir Tribrata News , Polres Aceh Timur.
Di dalam rumah ‘Nek’ Khalijah, terdapat tabung gas elpiji ukuran tiga kilogram, yang masih ada isinya. Akibat udara panas, tabung gas itu meledak bersamaan dengan kobaran api.
Warga yang tinggal di sekitar rumah ‘Nek’ Khalijah tidak bisa berbuat banyak, besarnya api ditambah kuatnya tiupan angin, menyebabkan rumah terbuat dari kayu dan beratap rumbia tersebut rata dengan tanah dalam hitungan sekitar 30 menit.
Atas kejadian tersebut, ‘Nek’ Khalijah menderita kerugian kurang lebih Rp 65 juta.

Senin, 20 Maret 2017

Hendak Lari Narapidana Rutan Idi di Lumpuhkan

Aceh Timur - Diduga mencoba melarikan diri, empat Narapidana Rumah Tahanan (Rutan) Idi, Aceh Timur dilumpuhkan petugas, kejadian sekitar pukul 01,30 wib. Senin 20 Maret 2017.

Keempat Narapida tersebut diduga mencoba melarikan diri dengan cara menaiki dinding Rutan melalui kamar tahanan, beruntung petugas Rutan cepat mengetahui aksi keempat narapidana tersebut dan berhasil menggagalkannya.
Berikut nama-nama narapidana yang mencoba kabur dari Rutan Idi, Aceh Timur

1. Marsudin (29) warga Desa Bintah Kecamatan Madat dijerat kasus Narkotika dengan Hukuman 5 Tahun Penjara.

2. Ridwan (41) warga Desa Geulempang ,Kecamatan Idi Rayeuk dijerat kasus Perlindungan Anak dengan Pidana 8 tahun 6 bulan penjara.

3.Arif (18) warga Desa Sah Raja, Kecamatan Pante Bidari dijerat kasus Peradilan Anak dengan Pidana 5 tahun 6 Bulan Penjara

4.M.Jafar,(31) warga Desa Seneubok Tutong, Kecamatan Idi Rayeuk, Kasus Narkotika divonis hukuman penjara 7 tahun 3 Bulan.

Karena dianggap membahayakan keempat narapidana tersebut direncanakan akan dipindahkan ke Lapas Kota Langsa sore ini dengan pengawalan ketat dari pihak kepolisin Polres Aceh Timur.

Teks Foto: Empat Napidana yang mencoba kabur sedang menjadi pengobatan di Rutan Idi, Aceh Timur.

OTK Jambret Guru Pakai Air Softgun di Peureulak

Aceh Timur - Seorang Guru di Jambret oleh Orang Tidak Dikenal (OTK) di Dusun Pulo Lbouh, Desa Lhok Dalam, Kecamatan Peureulak, Kabupaten Aceh Timur pada Senin 20 Maret 2017 sekitar jam 15.30 Wib
Anita Safrina (24) seorang guru Sekolah Luar Biasa Warga Desa Beringin, Kecamatan Peureulak Barat, yang menjadi korban penjambretan oleh Orang Tidak Dikenal (OTK)
Menurut informasi kejadian berawal saat korban yang sedang Mengendarai Sepeda Motor Supra X 125 akan pulang kerumahnya usai mengajar.

Setiba di TKP korban dipepet oleh pelaku yang juga mendarai motor Honda Supra X 125 warna Hitam (nomor polisinya tidak diketahui) dengan dengan mengancam menggunakan senjata pistol air Softgun.
Kemudian pelaku menodongkan senjata tersebut kearah korban dan menyuruh korban untuk berhenti, korban yang mengetahui senjata tersebut senjata mainan tidak menghiraukan nya.

Karena tidak menuruti kemauan pelaku kemudian korban ditabrak sampai terjatuh kesawah. Dan membawa kabur Tas milik korban yang berisikan Uang 5000 Rupiah, KTP,SIM, STNK atas Nama Korban dan satu buah Handphon genggam Merk Nokia.

Korban yang mengalami kejadian tersebut langsung melaporkan ke Polsek Peureulak.Kapolsek Peureulak AKP Simson Purba dan anggotanya lansung ke TKP. Setelah melakukan Penyisiran Polisi berhasil mengumpulkan barang bukti berupa air Softgun yang diduga digunakan pelaku.

Berbekal keterangan korban ,ciri ciri pelaku sudah diketahui dan sedang dilakukan pengejaran yang diduga melarikan diri kearah Desa Alue Dua ,Kecamatan Peureulak menggunakan sepeda motornya.

Teks Foto : Aparat Kepolisian melakukan penyisiran ditempat kejadian Penjambretan ,Senin 20 Maret 2017

Rabu, 08 Maret 2017

Perkembangan Kasus Penembakan di Peunaron, Polisi Sudah Memeriksa Sejumlah Saksi

IDI - Kapolres Aceh Timur , mengatakan pihaknya sudah melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi terkait kasus penembakan Juman dan Misno warga Gampong Peunaron Baru, Kecamatan Peunaron,
Aceh Timur , yang ditembak OTK Minggu (5/3/2017) dini hari sekitar pukul 03.00 WIB.
"Sebagian saksi sudah diperiksa, dan ada yang belum. Kenapa? Karena sekarang kasus penembakan ini dikaitkan ke politik sehingga orang berpikir mau ngomong (jadi saksi ). Jangan sampai saya (saksi) yang ngomong jadi korban berikutnya, itu dampaknya. Kenapa? Karena sudah dikaitkan ke politik, kalau dikaitkan ke politik sudah berbicara kelompok. Intinya masih penyelidikan untuk pengungkapan pelaku," ungkap Kapolres Aceh Timur , AKBP Rudi Purwiyanto, kepada wartawan di Idi Rayeuk, Rabu (8/3/2017).

Kapolres, mengaku bahwa ia menyatakan bahwa kasus penembakan ini tidak terkait politik saat ia dikonfirmasi sejumlah wartawan. Tapi setelah diberitakan ia menjadi sorotan sejumlah pihak.

Kenapa saya katakan ini tidak ada kaitan politik? Ungkap Kapolres , pertama apakah peristiwa tersebut bisa menambah suara? Atau bisa membatalkan sidang pleno? Kan tidak juga.
"Berarti tidak ada kaitannya dengan Pilkada. Sedangkan, sidang pleno sudah selesai dan sudah ada hasilnya, dan tinggal ditetapkan," ungkap Kapolres .
Namun, jika permasalahan ini ingin dibesarkan. Maka akan terjadi konflik,"Nah, kalau terjadi maka yang rugi siapa? Tentu masyarakat," ungkap Kapolres .

Terkait kasus penembakan ini, ungkap Kapolres pihaknya akan menerapkan Pasal 351 KUHP yaitu tentang penganiayaan yang mengakibatkan orang luka berat. Kemudian Pasal 340 KUHP yaitu tentang percobaan pembunuhan. Dan Pasal 338 juga tentang percobaan pembunuhan,
"Itu pasal yang akan kita terapkan. Mana unsur tindak pidana Pilkadanya? kan tidak ada," ungkap Kapolres .
Sementara terkait motif pelaku dibalik melakukan penembakan ini, ungkap Kapolres, pihaknya menduga karena motif dendam.

"Ya kemungkinan motifnya dendam. Karena kalau tidak dendam ngapain dia menembak korban," ungkap Kapolres.
Dalam kesempatan itu, Kapolres , juga mengajak wartawan untuk membangun opini positif di masyarakat.
"Itu harapan saya (membangun opini positif). Bukan opini negatif. Pasalnya, akibat terbentuknya opini negatif, banyak investor yang enggan masuk ke Aceh Timur ," ungkap
Kapolres , seraya mengaku sudah dua kali mengajak investor ke Aceh Timur , tapi gagal akibat terjadinya beberapa kali insiden penembakan.
"Saya sudah dua kali mengundang investor pariwisata ke Aceh Timur , tapi gagal. Karena, waktu mau datang ke Aceh Timur ada kejadian penembakan," ungkap Kapolres.

Suatu daerah akan berkembang, kata Kapolres , karena ada investor.
"Kalau pemerintah pasti akan membangun fasilitas pemerintah. Tapi, kalau investor akan membangun sarana publik, seperti mall. Tapi, kalau investor saja tidak mau datang siapa yang mau membangun," tanya Kapolres.

Selasa, 07 Maret 2017

Kapolresta Jenguk Korban Penembakan Peunaron di RSUZA

BANDA ACEH - Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol T Saladin, mengunjungi dua korban penembakan di Gampong Peunaron Baru, Kecamatan Peunaron, Aceh Timur, Juman dan Misno, yang saat ini masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin, Banda Aceh.

Saat dikunjungi Kombes Pol T Saladin, kedua korban telah selesai menjalani operasi pengangkatan proyektil peluru dan dirawat di ruangan yang bersebelahan. "Setelah dilakukan tindakan operasi, keduanya mulai stabil dan membaik," ujar Kapolresta Selasa (7/3/2017) sore.

Dalam kunjungan tersebut, mantan Kabid Humas Polda Aceh ini didampingi Kabag Ops, Kompol Jatmiko, Kasat Intel, Kompol Zainuddin, Kasat Sabhara, AKP Yusuf Hariadi dan Kasubbag Humas, Iptu Bambang Yunianto.
"Kita menjenguk keduanya secara bergantian dan berbincang kepada kedua keluarga korban. Kita minta keluarga korban untuk tetap tabah dan sabar. Kita berharap, keduanya cepat sembuh akibat luka tembak tersebut," jelasnya.

Ia menambahkan, pihaknya juga memberikan arahan kepada personel yang berjaga di seputaran rumah sakit, termasuk di sekitar kamar rawat kedua pasien. "Kita minta personel untuk selalu siaga dan harus menjamin keamanan korban beserta keluarga," tambahnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, kedua korban ditembak oleh orang tak dikenal di rumahnya dengan cara memberondong peluru ke arah rumah korban, yang diduga menggunakan senjata api laras panjang jenis M-16. Pelaku menggunakan tiga unit sepeda motor dan kabur ke arah perkebunan sawit PT Mapoli Bireuen Bayen.

Sementara itu, Kapolda Aceh, Irjen Pol Rio S Djambak, melalui Kombes Pol Goenawan mengatakan, pihaknya masih melakukan penyelidikan terkait peristiwa yang terjadi pada Minggu (5/3/2017) kemarin ini.
"Kita masih memeriksa saksi-saksi, melakukan penyelidikan dan masih menunggu hasil lab untuk mengetahui hasil pemeriksaan peluru, dengan mengetahui jenis senjata yang digunakan pelaku," ujarnya beberapa waktu lalu.
Pihaknya juga membentuk tim gabungan yang terdiri dari Densus 88 dan Dit Reskrimum Polda Aceh, untuk memburu para pelaku serta melakukan penyelidkan.

Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol T Saladin, menjenguk dua korban penembakan di Aceh Timur, di RSUZA, Banda Aceh.

Senin, 06 Maret 2017

GeMPAR Minta KemenkoPolhukam Kirim Kopassus ke Aceh Timur

ACEH TIMUR, Pemerintah Pusat melalui KemenPolhukam diminta mengeluarkan rekomendasi untuk mengirimkan pasukan Kopassus guna membantu Polisi dalam mengejar‎ pelaku penembakan terhadap warga sipil di Peunaron Aceh Timur.

Hal itu disampaikan oleh Ketua LSM GeMPAR Auzir Fahlevi SH pada Senin 6 Maret 2017, ketika dimintai tanggapannya terkait kejadian penembakan di Aceh Timur, katanya, kejadian di Peunaron Aceh Timur menunjukkan bahwa situasi Aceh tidak kondusif khususnya di Aceh Timur, kondisinya ibarat api dalam sekam.

“Keterlibatan Pasukan Kopassus‎ bukan hal yang tabu apalagi ini demi menciptakan keamanan dan kenyamanan bagi seluruh wilayah NKRI,” pinta Auzir

Menurut advokat muda tersebut, kasus Peunaron tidak serta merta dapat dianggap sebagai peristiwa kriminal‎ biasa.

“Tanpa ingin mendahului proses penyelidikan oleh aparat kepolisian, kami menganggap bahwa kasus ini cenderung mengarah kepada motif politis. ini didasarkan pada analisis dan informasi pra kejadian, Kapolres Aceh Timur semestinya mengembangkan segala lini informasi yang disampaikan oleh masyarakat,” jelasnya

Auzir menambahkan, publik masih sangat ingat dengan peristiwa di Pilkada 2012 yang lalu dalam peristiwa kasus penembakan buruh bangunan asal Jawa dan di Pileg 2014 saat penembakan posko NasDem di Matangkuli Aceh Utara, kedua peristiwa itu akhirnya terungkap pelakunya.

Walaupun begitu, GeMPAR masih memiliki sedikit kepercayaan bahwa jajaran Polda Aceh dibawah kendali Irjen Rio S Djambak memiliki kemampuan untuk menangkap pelaku.

“Kalaupun pasukan Kopassus dilibatkan ini tentunya untuk memperkuat basis pengungkapan terhadap kasus peunaron, TNI dan Polri harus bersatu,” pungkas pria yang dikenal Vokal terkait kondisi Aceh Timur tersebut.

Lokasi Penembakan di Peunaron Berjarak 40 Km dari Jalan Nasional

IDI - Lokasi rumah korban penembakan OTK (Juman dan Misno) di Dusun Simpang Tiga, Gampong Peunaron Baru, Kecamatan Peunaron, berjarak sekitar 40 Km dari Jalan Nasional Medan-Banda Aceh.

Sejumlah wartawan Aceh Timur ikut dalam rombongan Kapolda Aceh, saat meninjau rumah korban penembakan tersebut masuk dari Simpang Kampung Beusa, Kecamatan Peureulak Barat, menuju Kecamatan Peunaron, melalui jalan Peureulak-Lokop.

Untuk menuju Kecamatan Peunaron, dari Simpang Kampung Beusa (Jalan Nasinonal) harus menempuh jarak 40 Km, selain itu kondisi badan jalan yang rusak berat membuat waktu jarak tempuh ke lokasi ini mencapai dua jam.

Untuk ke rumah korban, setibanya di Simpang Tiga, Gampong Peunaron Baru, Kecamatan Peunaron, rombongan masuk lagi ke jalan lintas gampong sekitar 300 meter ke arah selatan dari jalan Peureulak-Lokop.

Setibanya di lokasi ini, di sebelah kanan jalan rombongan pertama kali menemukan rumah korban penembakan (Juman).

Di depan rumah Juman terparkir mobil offroad rusak dan lingkungannya telah dipolice line. Sebelah kanan rumah Juman terdapat gudang tandan buah segar (TBS) sawit dengan tumpukan TBS sawit yang hampir membusuk.

Kemudian sebelah kanannya lagi terdapat rumah keponakan Juman, dan di sebelah kanannya lagi terdapat rumah Misno (korban penembakan di perut). Misno merupakan adik ipar Juman.

Pihak keamanan TNI/ Polri bersenjata lengkap berjaga-jaga di lokasi ini. Sejumlah warga tampak berbincang-bincang di depan rumah Juman.

Termasuk di depan rumah keponakan Juman. Kapolsek dan Danramil serta warga ini menuggu kedatangan Kapolda Aceh.

Menurut warga paska kejadian insiden penembakan ini, warga setempat menjadi resah dan trauma. Namun aktivitas warga yang mayoritasnya petani tetap berjalan normal.

Menurut warga inisiden penembakan ini merupakan insiden penembakan pertama yang terjadi. Pasalnya, baik sesudah maupun sebelum konflik tidak pernah terjadi penembakan di daerah ini.
"Harapan kami (masyarakat) kasus ini harus tuntas dan jangan berkepanjangan serta jangan timbul lagi Juman yang kedua," ungkap warga.

Dalam kunjungannya ke rumah korban penembakan, Kapolda Aceh Irjen Pol Rio S Djambak didampingi Direskrim UM Polda Aceh, Kombes Pol Sadono, Karo Ops Polda Aceh, Kombes Pol Guntur Widodo, Kasat Brimob Polda Aceh Kombes PoNurman Widjajadi, Kaden Brimob Polda Sumsel AKBP Bachtiar Efendi.

Rombongan disambut Kapolres Aceh Timur , AKBP Rudi Purwiyanto, Kasat Reskrim AKP P Harahap, Kasat Intel AKP I Ketut Supriatna, Kapolsek Serbajadi, Iptu Tonny, dan Plh Danramil 04 Serbajadi, Letda Inf Suyudi, dan masyarakat gampong setempat.

Usai meninjau rumah korban penembakan,
Kapolda Aceh menggelar pertemuan tertutup dengan jajarannya di Mapolsek Serbajadi.

Usai melakukan pertemuan tertutup Kapolda Aceh memberikan keterangan pers kepada sejumlah wartawan. Rombongan kembali ke Idi Rayeuk, pukul 18.15 WIB.

Kapolda Aceh Kunjungi Rumah Korban Penembakan di Peunaron

IDI- Kapolda Aceh Irjen Pol Rio S Djambak bersama rombongan tiba di rumah korban penembakan (Juman dan Misno), di Dusun Simpang Tiga, Gampong Peunaron Baru, Kecamatan Peunaron, Aceh Timur , Senin (6/3/2017) sekitar pukul 16.30 WIB.

Amatan di lapangan, Kapolda Aceh didampingi Direskrim UM Polda Aceh, Kombes Pol Sadono, Karo Ops Polda Aceh, Kombes Pol Guntur Widodo, Kasat Brimob Polda Aceh Kombes Pol Nurman Widjajadi, Kaden Brimob Polda Sumsel AKBP Bachtiar Efendi.

Rombongan disambut Kapolres Aceh Timur , AKBP Rudi Purwiyanto, Kasat Reskrim AKP P Harahap, Kasat Intel AKP I Ketut Supriatna, Kapolsek Serbajadi, Iptu Tonny, dan Plh Danramil 04 Serbajadi, Letda Inf Suyudi, dan masyarakat gampong setempat.

Usai meninjau rumah korban penembakan,
Kapolda Aceh menggelar pertemuan tertutup dengan jajarannya di Mapolsek Serbajadi.
Sebelumnya diberitakan, komplotan bersenjata laras panjang diduga jenis M-16 memberondong dua warga Kecamatan Peunaron, Aceh Timur , Minggu (5/3/2017) dini hari.

Kedua korban dengan kondisi kritis akibat luka tembak itu kini dirawat di RSUDZA Banda Aceh setelah sempat ditangani di Puskesmas Peunaron dan RSUD dr Zubir Mahmud, Idi.

Kamis, 19 Januari 2017

Belanda Bantu Konservasi Tiga Aliran Sungai Aceh

BANDA ACEH - Kementerian Luar Negeri Belanda berkolaborasi dengan International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan WWF negara tersebut memberikan dukungan dana untuk program konservasi hutan alam dan mangrove di tiga kawasan daerah aliran sungai (DAS) terbesar di Aceh, yakni Peusangan, Jambo Aye, dan Tamiang (PJT).

Peresmian Program Share Resources Joint Solution (SRJS) dilakukan di Banda Aceh, Rabu (18/1) oleh Sekda Aceh diwakili Staf Ahli Gubernur Aceh Anwar Ishak. Turut hadir dalam acara ini dari Institusi Pemerintahan, Anggota DPR, LSM, dan tokoh masyarakat dari ketiga wilayah DAS itu.

Program SRJS ini secara jangka panjang bertujuan untuk memastikan fungsi ekosistem tetap terjaga guna menjamin ketersediaan air bersih, ketahanan pangan, ketahanan iklim, dan kelestarian keanekaragaman hayati.

“Di seluruh Pulau Sumatera, hanya Aceh yang masih lengkap memiliki spesies payung yang dilindungi, seperti harimau sumatera, badak sumatera, gajah sumatera, dan orangutan,” kata Direktur Sumatera dan Kalimatan WWF-Indonesia Anwar seperti dikutip lewat siaran pers yang dikirim kepada Serambi kemarin.
Anwar mengatakan program ini sangat penting untuk menjaga kelangsungan hidup satwa yang juga berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat setempat dengan tersedianya air bersih dan udara bersih, juga mendukung ketahanan pangan.

Selain Aceh, program SRJS dilaksanakan juga di Lansekap Bulungan di Kalimantan Utara dan Yapen Waropen di Papua. Program ini akan berjalan selama empat tahun. Dilaksanakan oleh WWF-Indonesia berkolaborasi dengan Forum DAS Krueng Peusangan dan Balai Syura Ureueng Inong Aceh.

Lansekap DAS Peusangan, Jambo Aye dan Tamiang (PJT) dipilih sebagai lokasi program karena wilayah padat penduduk (2,3 juta warga Aceh tinggal di lanskap yang luasnya mencapai 1,6 juta hektare) dan sangat cepat pertumbuhannya. “Daerah ini merupakan pusat investasi, pengembangan pertanian, perkebunan dan infrastruktur,” ujarnya

Minggu, 01 Januari 2017

Polisi Tangkap Penembak Ayah di Depan Anak

PETUGAS medis bersama anggota Polres Aceh Timur memasukkan jenazah korban penembakan ke mobil ambulans di Desa Meunasah Keutapang, Kecamatan Darul Aman, Aceh Timur, Selasa (6/12).
* Penembak Warga Cot Cantek Dibayar
IDI - Tim gabungan Sat Reskrim dan Sat Intel Polres Aceh Timur, telah menangkap dua dari tiga terduga penembak Muchlisin (31) warga Gampong Kuala Idi, Kecamatan Idi Rayeuk. Pria yang berprofesi sebagai tauke ikan ini ditembak di depan anaknya yang baru berumur empat tahun, di Gampong Meunasah Keutapang, Kecamatan Darul Aman, Aceh Timur, Selasa (6/12/2016) lalu.
Kapolres Aceh Timur AKBP Rudi Purwiyanto kepada Serambi Minggu (1/1) menyebutkan, kedua terduga ditangkap di dua lokasi terpisah pada Sabtu (31/12). Terduga pelaku yang pertama diamankan yakni Wahyudin alias Tgk Agam (43) warga Gampong Seuneubok Meuku, Kecamatan Idi Timur, Aceh Timur. Ia ditangkap di rumahnya, Sabtu (31/12) pukul 14.00 WIB.
“Hasil penggeledahan terhadap rumah Wahyudin alias Tgk Agam ditemukan sepucuk senpi laras pendek jenis FN merk Norico dengan jumlah amunisi 7 butir. Senjata itu disimpan di bawah bantal di tempat tidur,” jelas AKBP Rudi Purwiyanto.
Kapolres menyebut Wahyudin alias Tgk Agam merupakan DPO pelarian dari Rutan Idi Rayeuk. Ia merupakan terpidana kasus penembakan yang ditangani oleh Ditreskrimum Polda Aceh.
Kepada petugas, Wahyudin alias Tgk Agam mengakui penembakan terhadap Muchlisin dilakukan bersama Saiful alias Sipon. Berdasarkan keterangan pelaku, tim gabungan langsung bergerak ke rumah Saiful alias Sipon di Gampong Medang Ara, Kecamatan Nurussalam, Aceh Timur.
“Tim gabungan berhasil menangkap Saiful alias Sipon di rumahnya pukul 14.45 WIB. Setelah dilakukan penggeledahan badan, darinya ditemukan narkotika jenis sabu-sabu seberat 0,5 gram,” jelas AKBP Rudi Purwiyanto.
Kapolres Aceh Timur, AKBP Rudi Purwiyanto, juga menyebutkan kedua terduga terpaksa dilumpuhkan karena berusaha melarikan diri. Terduga Wahyudin alias Tgk Agam, tertembak di kaki kiri dan kanan karena berusaha melarikan diri saat tim gabungan melakukan penangkapan terhadap rekannya, Saiful alias Sipon.
Sementara Sipon ditembak di kaki sebelah kakan karena pada saat penangkapan berusaha melarikan diri dari pintu belakang. Setelah ditangkap, kata Kapolres, keduanya dibawa ke Mapolres Aceh Timur pukul 15.30 WIB. Kemudian dibawa ke rumah sakit untuk dirawat. “Terduga Wahyudin alias Tgk Agam dirujuk ke RSUD Kota Langsa, karena tertembak di kaki kiri dan kanan. Sedangkan, Saiful dirawat di RSUD dr Zubir Mahmud karena mengalami luka tembak di kaki sebelah kanan,” jelas Kapolres.
Kapolres Rudi Purwiyanto menambahkan, saat ini pihaknya masih melakukan penyelidikan terhadap satu terduga pelaku lagi berinisial T warga Aceh Utara. “Satu terduga masih kita selidiki. Karena, pembunuhan dengan menggunakan senjata api laras pendek ini diduga dilakukan oleh tiga orang pelaku,” ujarnya.
Kapolres menjelaskan, peristiwa penembakan terhadap Muchlisin terjadi pada Selasa 6 Desember 2016. Korban ditembak di kepala menggunakan senjata api laras pendek.
Berdasarkan keterangan istri korban, jelas Kapolres, waktu itu Selasa 6 Desember 2016 pukul 08.30 WIB, korban (Muchlisin) mendapat telepon dari seseorang untuk datang ke Jalan Kasih Sayang di Gampong Meunasah Keutapang, Kecamatan Darul Aman, Aceh Timur.
Selanjutnya pukul 09.30 WIB, korban bersama anak laki-lakinya menggunakan sepeda motor Scoopy berangkat menuju Jalan Kasih Sayang di Gampong Meunasah Keutapang, Kecamatan Darul Aman. “Sekitar pukul 10.30 WIB, korban bertemu dengan pelaku dan terjadi penembakan terhadap Muchlisin yang menyebabkan ia meninggal di tempat kejadian,” jelas AKBP Rudi Purwiyanto.
Diberitakan sebelumnya, Sekretaris Desa Meunasah Keutapang, Kecamatan Darul Aman, Sakya (47) mengatakan, saat ditemukan di samping jasad korban terdapat sepeda motor dan anak laki-lakinya berumur empat tahun yang sedang menangis.
Ditanya tentang motif pembunuhan tersebut, Kapolres Rudi Purwiyanto mengatakan berdasarkan keterangan sementara yang dikumpulkan dari sejumlah saksi, kasus ini terkait persoalan pribadi. “Terduga belum mau bicara terkait apa. Cuma indikasinya terkait masalah kapal, yaitu agar kapal tidak menjadi milik korban lagi. Namun demikian kita akan terus mengungkap motif sebenarnya di balik peristiwa penembakan ini,” jelas Kapolres.
Polisi juga belum bisa memastikan apakah senjata FN yang disita dari Wahyudin alias Tgk Agam merupakan senjata api yang digunakan untuk menembak korban. “Kita belum bisa memastikan apakah senjata itu yang dipakai menembak Muchlisin atau bukan, karena proyektil di kepala korban waktu itu tidak bisa diambil karena tidak diizinkan pihak keluarga. Tapi kita menduga senpi itu yang digunakan karena keterangan dari anaknya, korban ditembak pakai senpi laras pendek. Jadi, untuk kebenarannya kita akan melakukan uji balistik atau uji proyektil,” jelas Kapolres.
Sementara senpi laras pendek yang disita dari Wahyudin alias Tgk Agam, kata Kapolres merupakan buatan Cina. “Tapi dari mana mereka mendapatnya kita belum tahu. Kita belum mendapatkan banyak keterangan dari pelaku, karena masih dirawat di RSUD Langsa. Intinya senjata itu akan kita selidiki lebih lanjut asal muasalnya,” ujarnya.
Dengan tertangkap kedua terduga ini, lanjut Kapolres, pihaknya telah berhasil mengungkap semua kasus pembunuhan dengan penembakan yang terjadi di Aceh Timur selama tahun 2016.
Kasus Cot Cantek
Kapolres Pidie, AKBP M Ali Kadhafi SIK, mengatakan, eksekutor yang menembak Ibrahim Abu (48), warga Gampong Cot Cantek, Kecamatan Sakti, Pidie, Sabtu 12 November 2016 dibayar oleh Muhammad Hasballah (42), warga Gampong Lhok Panah, Kecamatan Sakti. Ibrahim Abu yang berprofesi sebagai petani selamat dari terjangan timah panah di lokasi dan hari berbeda.
Eksekutor bernama Abdu Manaf (41), warga Dusun II Mainu Tengah, Kecamatan Dollok Merawan, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumut. Dalam aksinya, Abdul Manaf menggunakan senjata api AK-56. Senjata itu diserahkan kepada Ruslan Usman (49), warga Gampong Pulo Lhoi, Kecamatan Titeu untuk disembunyikan.

“M Hasballah sebagai penyandang dana untuk Abdul Manaf dalam misi penembakan terhadap korban karena motif sakit hati masalah ternak. Dia memberikan ongkos kepada eksekutor untuk pulang ke Medan. Pertama dibayar Rp 700.000 dan kedua Rp 1,6 juta,” kata Kadhafi didampingi Kasat Reskrim Polres Pidie, AKP Samsul Bahri, kepada Serambi, Minggu (1/1).
Menurut Ali Kadhafi, Abdul Manaf bersedia menjadi eksekutor karena Zakaria alias Apa Karya (42), warga Gampong Cot Cantek dan M Hasballah mengungkit masa lalu antara Adul Manaf dengan Ibrahim. Abdul Manaf pernah ribut dengan Ibrahim sehingga yang bersangkutan pindah ke Medan. Api dendam membakar Abdul Manaf saat diceritakan masalah masa lalu.
Dalam melakukan aksi penembakan terhadap Ibrahim, komplotan itu yang berjumlah empat orang telah dibagikan tugas masing-masing. Zakaria sebagai perencana, Abdul Manaf sebagai eksekutor, Ruslan Usman menyimpan senjata, dan M Hasballah penyandang dana.
Kadhafi menjelaskan, hingga kini keempat pelaku masih bungkam soal kepemilikan senpi. Pelaku meminjam senjata api itu dari seseorang yang belum diketahui identitasnya untuk keperluan berburu.
“Semua saksi dan saksi korban serta keempat tersangka telah kita minta keterangan. Direncanakan minggu depan berkas akan kita serahkan kepada Kejari Pidie,” demikian Ali Kadhafi.

Massa Pendukung Cabup Aceh Timur Bentrok

IDI - Massa pendukung dari kedua calon bupati (cabup) dan calon wakil bupati (cawabup) Aceh Timur, terlibat bentrok. Massa dari masing-masing kandidat saling merusak atribut kampanye.

Seperti diketahui, cabup dan cawabup Aceh Timur terdiri dua pasangan yakni dari jalur independen yaitu Ridwan Abubakar alias Nek Tu dan Tgk Abdul Rani dan pasangan parpol, H Hasballah HM Thaib-Syahrul bin Syamaun dari Partai Aceh. Namun kedua pasangan sama-sama berlatar belakang mantan kombatan GAM.

Belum diketahui dasar permasalahan yang memicu terjadinya konflik antarkedua pendukung. Amatan di lapangan tadi malam, personel TNI/Polri dipimpin langsung Dandim 0104/Atim Letkol Inf Haris Amril Isya Siregar dan Wakapolres Kompol Carlie Syahputra Bustamam hingga pukul 22.00 WIB, masih berjaga-jaga mengamankan situasi di depan posko cabup Ridwan Abubakar-Tgk Abdul Rani di tepi jalan Medan-Banda Aceh di Gampong Jalan, Kecamatan Idi Rayeuk, Aceh Timur.

Selain di depan posko Nek Tu-Polem (sebutan pasangan Ridwan Abubakar-Tgk Abdul Rani), TNI/Polri berjaga-jaga di setiap kecamatan dalam kawasan Aceh Timur, untuk mengamankan situasi yang sempat mencekam.

Hingga berita ini diturunkan, suasana belum kondusif, pihak keamanan sedang berupaya memediasi agar persoalan bentrok kedua pendukung diselesaikan secara arif dan bijaksana.

Sabtu, 31 Desember 2016

Dua Mobil Dibakar, Tiga Pelaku Pencurian Hewan Ternak di Aceh Timur Babak Belur dihajar warga

Aceh Timur – Tiga orang yang diduga pelaku pencurian hewan ternak babak belur dihajar warga Gampong Matang Bungong, Kecamatan Idi Timur, Aceh Timur. Sabtu 31 Desember 2016.

Ketiganya yaitu Azhar (35 tahun) warga Gampong Blang, Kecamatan Bandar 2, Pidie Jaya, selanjutnya Zulfadli (37 tahun) warga Gampong Ketapang Areh, Kecamatan Dilima, Sigli, dan Marbawi (32 tahun) warga Gampong Ceulanga Barat, Kecamatan Ulee Glee, Pidie jaya.

Selain menghajar ketiga terduga tersebut, warga juga membakar dua unit mobil yaitu mobil jenis Xenia warna hitam nomor polisi B 1573 TRC dan Truck jenis Colt Diesel dengan nomor polisi BL 8782 Z, kedua mobil ini diduga digunakan dalam melancarkan aksi pencuriannya.

Kejadian berawal ketika mobil jenis Xenia melintas bolak balik di gampong Matang Bungoeng tersebut, melihat kondisi itu seorang pemuda menyetop dan memeriksa penumpang mobil tersebut. Karena tidak bisa memberikan keterangan jelas dan berbelit-belit, pemuda serta warga mengamuk sehingga membawa terduga pelaku dan mobilnya ke tepi pantai. 

Saat diintrogasi seorang pelaku mengaku bahwa salah seorang teman mereka yang menggunakan mobil truck di Gampong Seunebok Muku masih menunggu, kemudian warga langsung menjemput mobil truck tersebut dan akhirnya kedua mobil tersebut dibakar oleh warga.

Setelah mendapat informasi tersebut jajaran Polsek Idi Rayeuk langsung menuju TKP dan mengamankan tiga orang terduga pelaku pencurian, karena luka parah saat ini ketiganya sedang menjalani perawatan serius di RSUD Dr. Zubir Mahmud Idi Rayeuk, Aceh Timur.

Rabu, 14 Desember 2016

Aceh Timur Sudah Ada Mobil SIM Keliling

Aceh Timur – Hari perdana pihak Polres Aceh Timur melayani pembuatan dan perpanjangan Surat Izin Mengemudi (SIM) Rabu, (14/12/16) melalui mobil SIM keliling. Masyarakat Aceh Timur dapat menanti di setiap kecamatan dalam Kabupaten Aceh Timur.
Warga Kabupaten Aceh Timur yang saat ini memiliki Surat Ijin Mengemudi (SIM) A dan C yang akan habis masa berlakunya bisa melakukan perpanjangan SIM. Selain bisa melakukan perpanjangan SIM keliling di kantor Satpas SIM Polres Aceh Timur warga juga bisa melakukan perpanjangan SIM di Bus Pelayanan SIM keliling yang disediakan oleh Polres Aceh Timur.
Pelayanan SIM Keliling hanya untuk memperpanjang SIM A dan SIM C, sedangkan syarat perpanjangan SIM A atau SIM C dilayanan Mobil SIM Keliling Polres Aceh Timur yang harus disiapkan adalah adalah fotokopi KTP yang masih berlaku, fotokopi SIM lama serta SIM asli.
Informasi yang diterima media ini, jadwal, waktu dan tempat Mobil Layanan SIM Keliling Polres Aceh Timur pada Desember 2016 adalah sebagai berikut, layanan Perpanjangan SIM Online Berbasis IT Polres Aceh  Timur Beroperasi mulai Rabu, (14/12/2016).
Kapolres Aceh Timur AKBP Rudi Purwiyanto, S.I.K, M. Hum membuat terobosan dalam proses perpanjangan Surat Ijin Mengemudi (SIM) di wilayah hukum Polres Aceh Timur dengan menerapkan sistem berbasis IT dan mulai beroperasi pada hari ini (Rabu, 14/12).
“Sistem ini diyakini sangat cepat dan bebas calo, untuk menindaklanjuti kebijakan Kapolri Jenderal Tito Karnavian yaitu Polri yang Profesional, Modern dan Terpercaya atau Promoter, di program ke-2 Inovasi Pelayanan Publik Berbasis Teknologi, Polres Aceh Timur telah melakukan perbaikan Pelayanan perpanjangan SIM yang berbasis IT,” terang Kapolres.
Kapolres melanjutkan, pembenahan sistem dan infrastruktur Satpas SIM juga dilakukan.
“Ini untuk meningkatkan pelayanan, kenyamanan, kecepatan, kepastian dan objektifitas serta bebas calo dalam rangka perpanjangan SIM hanya kurang dari 30 menit,” ujarnya.
Kapolres memaparkan, selama ini, untuk perpanjangan SIM para pemohon harus mendaftar dan bersamaan dengan pemohon SIM baru. Hal itu seringkali dikeluhkan masyarakat. Masalah yang kerap terjadi di antaranya, antrian waktu giliran yang panjang,  peluang interaksi dengan para calo yang besar, serta penumpukan pemohon SIM yang menimbulkan ketidaknyamanan di lokasi.
“Berbagai alasan itulah yang menjadi dasar kenapa Polres Aceh Timur melakukan perubahan pola yang lebih bersahabat bagi para pemohon perpanjangan SIM di wilayah Kabupaten Aceh Timur,” kata Kapolres.
Ia menambahkan, sistem SIM Online tersebut memanfaatkan basis data KTP elektronik, di mana nomor induk kependudukan (NIK) yang dimiliki masing-masing warga akan menjadi kode kunci untuk membuka akses SIM Online tersebut.
“Dengan demikian jika ada masyarakat yang memiliki SIM di luar Aceh Timur (seluruh Indonesia) dan sebelum habis masa berlakunya bisa melakukan perpanjangan di mobil SIM Keliling kami” terang Kapolres.
Menurut Kapolres, Mobil SIM Online ini akan berkeliling dan hanya melayani perpanjang an masa aktif SIM, dan pembuat untuk permohonan pembuatan SIM baru.
“Kalau mau buat SIM baru yang ber-KTP luar Aceh,  juga bisa dilayani atau datang langsung ke kantor Satpas SIM Polres Aceh Timur. Mobil SIM keliling ini untuk sementara melayani perpanjang SIM A, dan SIM C. Mobil SIM keliling ini akan beroperasi di wilayah Aceh Timur yang ramai dikunjungi masyarakat seperti, pasar, fasilitas umum dan pusat pemerintahan,” kata Kapolres.
“Saat ini kami juga sedang melakukan sosialisasi melalui media massa dan media sosial termasuk membuat infografis lokasi Mobil SIM Keliling ini,” lanjut Kapolres Aceh Timur AKBP Rudi Purwiyanto, S.I.K, M. Hum.

Kamis, 08 Desember 2016

Pria Mengaku Nabi Isa Hari ini Akan Diperiksa Kejiwaannya di RSJ

Aceh Timur – Zulkifli (33) yang mengaku Nabi Isa akan diperiksa kesehatan jiwanya di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Banda Aceh hari ini, Jumat (9/12/2016). Hal tersebut berdasarkan hasil pertemuan polisi dan tokoh masyarakat setempat Kamis, (8/12/2016) kemarin.

Dalam pertemuan tersebut dibahas bahwa, Zulkifli akan dibawa ke RSJ Banda Aceh guna dilakukan pemeriksaan kejiwaannya. Karena jika dilihat dari prinsip Zulkifli yang aneh dan tidak masuk akal, yang mengatakan lebih baik tidak makan daripada tidak punya paket internet di HP nya.
Hasil dari pemeriksaan dari RSJ Banda Aceh nantinya akan dibuka bersama di Polres Aceh Timur dan dari hasil tersebut jika diketahui kondisi kejiwaan Zulkifli normal maka MPU akan segera membuat laporan polisi agar memepermudah polisi dalam melakukan proses hukum.

Sekedar informasi, pada bulan Juni 2015 lalu Zulkifli sempat menghina ulama Aceh Timur, lantas keluarga Zulkifli pada saat itu membuat pernyataan di Polsek Idi Rayeuk akan membawa Zulkifli ke RSJ untuk memeriksa kejiwaannya, akan tetapi hingga saat ini tidak dilakukan, bahkan setelah kejadian tersebut keluarga tidak pro aktif dengan pihak Kepolisian Sektor Idi Rayeuk tentang perkembangan Zulkifli. Hal ini diungkapkan Kasat Reskrim Aceh Timur AKP Parmohonan Harahap Kamis, (8/12/2016) kemarin.

Lanjut Kasat, setelah melihat potingan di akun FB Zulkifli yang menuliskan bahwa dia adalah Nabi Isa, anaknya Maryam, sontak membuat masyarakat gusar, dan diketahui Zulkifli ini merupakan warga Desa Teupin Batee, Kecamatan Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur.

Selanjutnya pagi kemarin Zulkifli diamankan oleh anggota Opsnal Polres bersama anggota Polsek Peureulak di tempat ia bekerja di sebuah sablon di kawasan Peureulak dan kemudian Zulkifli diserahkan ke Polres Aceh Timur guna penanganan lebih lanjut,” pungkas Kasat.

Polres Aceh Timur Amankan Pria yang Mengaku Diri Sebagai Nabi Isa

ACEH TIMUR – Pihak kepolisian mengamankan Zulkifli, 33 tahun, setelah sebelumnya yang bersangkutan membuat heboh dunia maya dengan sejumlah postingan yang menimbulkan keresahan masyarakat.

Betapa tidak, melalui akun media sosial faebook nya, Zulkifli menuliskan postingan bahwa dia adalah Nabi Isa, anaknya Maryam. Tak pelak, pengakuan ini membuat netizen geram dan bahkan ada yang ingin mencari keberadaan si pembuat postingan.

“25 orang pasukan ini kami beri nama nabi 25, saya nabi ke 24,” tulisnya.

Atau, “Saya Nabi Isa, ikutilah saya maka kalian Islam sebenar yaitu selamat,”.

Kemudian, ada lagi postingan yang sempat menyentil kejadian gempa di Pidie Jaya dengan menuliskan status ‘Kiban ku tamah lom dosis gempa, nyoe mantong watee nahas’ ,” tulisnya lagi.

Zulkifli yang mengaku berdomisili di Aceh Timur, kini sudah berada di Mapolres Aceh Timur dan dipertemukan dengan tokoh agama dari Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) setempat.

Hingga berita ini diturunkan, pria yang mengaku sebagai Nabi Isa itu masih menjalani pemeriksaan dan belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian.

Minggu, 06 November 2016

Bocah Aceh Timur Tewas Tersengat Listrik

LHOKSUKON - M Aulia (4) bocah asal Makmur, Kecamatan Julok, Aceh Timur, tewas tersengat listrik, Sabtu (5/11/2016) sore. Kejadian naas itu berlangsung di halaman sebuah pabrik padi di Desa Biram Rayeuk, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara. Kapolres Aceh Utara, AKBP Wawan Setiawan mengatakan, bocah tersebut bersama anak-anak lainnya sedang bermain di halaman sebuah kilang padi di Desa Biram Rayeuk. Tiba-tiba, dia memegang tiang besi yang digunakan sebagai penyangga kabel listrik.‎
"Diduga kuat, tiang besi tersebut sudah teraliri arus listrik dari kabel yang sudah tergelupas, maka arusnya langsung menyetrum bocah trersebut hingga tewas," kata Kapolres Aceh Utara AKBP Wawan Setiawan, melalui Kapolsek Tanah Jambo Aye AKP Teguh Yano Budi, Minggu (6/11/2016).(Serambinews)