Jumat, 07 April 2017
Mencoba Peruntungan Melalui Jasa Angkutan Boat di Krueng Tingkeum
Selasa, 28 Maret 2017
Pemkab Bireuen Segera Bangun Dermaga Darurat di Krueng Tingkeum
Dermaga tersebut dapat dimanfaatkan untuk pendaratan atau merapatnya boat-boat tradisional, alat penyeberangan anak sekolah dan masyarakat di kawasan jembatan Krueng Tingkeum, Kutablang.
Kadis Sosial Bireuen, Murdani, Selasa (28/3/2017) menjelaskan, dermaga itu diharapkan dapat dimanfatkan dan memudahkan naik turunnya para penumpang, terutama anak-anak.
“Kita akan mengupayakan membangun dermaga di dua titik bantalan sungai, baik arah barat maupun arah timur dan berdekatan dengan jembatan Krueng Tiungkeum,” katanya usai menyerahkan satu unit speedboat kepada Camat Kutablang, Rusli.
Tujuan dibangunya dermaga darurat ini, tambah Murdani, sebagai bentuk kerjasama dengan para pengelola boat di Krueng Tingkeum.
“Bahkan pengelola boat di sana juga akan menggratiskan ongkos angkutan bagi anak sekolah yang bereda di kawasan itu,” katanya.
Sementara untuk penumpang umum, atau masyarakat biasa tetap boleh dipungut ongkos biaya sekadarnya, untuk kebutuhan operasional sebesar Rp 3000 per orang.
Baca juga: Jembatan Kutablang Bireuen Hampir Rampung Dibongkar
“Agar dapat menjaga keselamatan angkutan sungai ini, bagi pemilik boat di Krueng Tingkeum juga tetap akan kita membekali dengan memberikan baju pelampung,” kata Murdani.
Selasa, 21 Maret 2017
Diduga PT Takabeya Kerjakan Jalan Alternatif Sebelah Barat Utara Asal Jadi
Bireuen - Setelah jembatan penghubung Banda Aceh Medan ini di bongkar sejumlah kendaraan roda dua maupun roda empat dialihakan ke jalan aternatif sesuai dengan hasil rapat para unsur forkopimda kebupaten Bireuen beberapa waktu yang lalu, Selasa (21/03).
"M.nasir (40) warga gampong rancong kecamatan kutablang mungunggkapkan kekecewan terhadap kenerja kontraktor yang dinilai pekerjaan proyek pengerasan jalam alternatif, yang saat pengerjaan nya dinilai asal jadi, menurutnya ini sangat merugikan para pengguna jalan tersebut.
Menurutnya, Proyek yang dikerjakan dengan anggaran puluhan milyaran tersebut terkesan pengerjaannya asal jadi, yang dikerjakan oleh PT. Takabeya.
Tambahnya, jalan yang saat ini digunakan untuk melintas itu belum lama digunakan. Dan di jalan yang baru digunakan ini sudah banyak menelan korban, yang diakibatkan oleh badan jalan sudah mereng dan juga banyak yang sudah berlumbang ini dikarnakan faktor pengerjaan nya asal jadi.
Padahal jalan tersebut sudah menghubakan anggaran puluhan milyar ini sungguh sangat disayangkan karena belum bisa digunakan secara efektif oleh para pengguna jalan,"ungkapnya.
Ia juga menambahkan apabila hal tersebut tidak segera di indahkan oleh pihak rekanan maka kami akan melakukan blokade jalan aternatif yang selama ini digunakan oleh para pengguna jalan tersebut,"ungkapnya dengan nada kesal.
Saat dikomfirmasi pihak rekanan dari PT Takabeya melalui pesan WA, mengatakan dalam pesan yang dikirimnya dalam bahasa Aceh yang mengatakan,"Kamoe melaksanakan jalannya ka sesuai arahan dinas, mohon konfirmasi mantong ke dinas terkait bahna info yang lengkap, "kami laksanakan jalan itu sudah sesuai arahan dinas mohon komfom aja ke dinas terkait biar infonya lengkap dalam pesan yang dikirim ke wartawan media ini
Dan saat berita ini di terbitkan wartawan media ini belum bisa melakukan komfirmasi dengan pihak dinas terkait.
Sabtu, 18 Maret 2017
Melawan Derasnya Arus Krueng Tingkeum
MURID sekolah dasar menumpang boat untuk menyeberangi Krueng Tingkeum, Kutablang, Bireuen, saat pulang sekolah, Sabtu (18/3).
DERU mesin boat kayu meraung membelah derasnya arus sungai Krueng Tingkeum, Kutablang, Bireuen, Sabtu (18/3) siang. Raut cemas terlihat jelas di wajah beberapa bocah perempuan berseragam Pramuka sekolah dasar yang baru pulang dari sekolah. Tangan-tangan mungil mereka menggenggam erat bagian sisi boat. Sementara bocah-bocah laki-laki justru menikmati momen tersebut, bercengkrama dengan teman. Ada juga yang duduk di atas sebilah papan, sambil menyilangkan kaki.
Perjuangan para bocah SD ini masih berlanjut saat boat itu merapat ke sisi lain Krueng (sungai) Tingkeum. Satu persatu anak-anak ini naik ke daratan yang tak bersemen. Tangan-tangan mungil mereka disambut oleh penyedia jasa angkutan boat yang berada di darat. Satu-persatu mereka menyetorkan uang Rp 2.000, untuk ongkos jasa menyeberang sungai.
Rutinitas baru di Krueng Tingkeum ini mulai berlangsung sejak Rabu (15/3), tiga hari setelah jembatan yang membelah sungai ini ditutup total pada, Minggu (12/3). Amatan Serambi Sabtu (18/3), jembatan rangka baja yang membelah Sungai Tingkeum ini, tidak bisa dilintasi lagi, termasuk oleh pejalan kaki. Seluruh lantai jembatan ini sudah dibongkar untuk dibangun baru. Jembatan itu sudah sangat miring dan hampir patah dihantam arus Krueng Tingkeum beberapa waktu lalu.
Semenjak jembatan ini ditutup total, arus kendaraan dialihkan ke jalur alternatif dengan jarak tempuh bertambah hingga 8 kilometer untuk kembali tiba di ujung (seberang) jembatan. Jarak tempuh yang sangat jauh, ditambah kondisi jalan alternatif yang jelek dan berdebu ini, membuat warga sekitar lebih memilih menyeberangi sungai untuk pergi ke pasar Kutablang. Meski resiko yang dihadapi lebih besar, karena arus sungai Tingkeum tergolong cukup deras.
Sabtu kemarin, di bantaran Krueng Tingkeum, tepatnya di bawah jembatan rangka baja yang sudah dibongkar itu, terdapat dua kapal motor (boat) yang masing-masingnya berkapasitas 10 orang penumpang. Kedua boat itu mengangkut anak sekolah dan warga yang bermukim di bagian barat jembatan (Krueng Tingkeum Manyang) untuk keperluan berbelanja maupun bersekolah di kawasan pasar Kutablang.
Bocah-bocah SD itu nekad mengarungi derasnya arus Krueng Tingkuem agar bisa cepat sampai di sekolah. Karena jika menumpang angkutan umum darat melalui jalur alternatif, jarak tempuhnya mencapai 8 kilometer, belum lagi jalannya berdebu karena tidak beraspal. Sementara dengan menyeberangi sungai, jarak tempuh ke sekolah mereka hanya sekitar 1 kilometer.
Anak-anak ini hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 2.000 untuk ongkos sekali menyeberangi sungai. Sementara bagi orang dewasa, dipatok ongkos Rp 3.000 per penumpang.
Pantauan Serambi kemarin, selain anak-anak sekolah, beberapa ibu-ibu yang hendak pergi ke sawah terlihat menaikkan sepedanya ke atas boat. Beberapa warga yang hendak berbelanja di pasar Kutablang, juga menggunakan jasa kedua boat itu. Beberapa balita terlihat menangis saat mesin boat meraung menyeberangi sungai tersebut.
“Sejak jembatan Krueng Tingkeum ini dibongkar tiga hari lalu, untuk pergi dan pulang sekolah kami terpaksa naik boat. Kami sangat takut saat menyeberangi sungai karena arus air sungai cukup deras,” ujar Ikhsan (10), murid kelas IV MIN Kutablang, saat ditemui Serambi bersama teman-temannya di bantaran Krueng Tingkeum usai pulang sekolah kemarin.
Hal hampir senada juga dikatakan Rohana (52), warga Desa Blang Panjoe, Kutablang. Ibu yang bekerja sebagai petani ini mengaku sejak tiga hari lalu terpaksa menaikkan sepedanya ke atas boat saat menyeberangi sungai, untuk bisa sampai ke sawah guna mengasapi dapur keluarganya.
“Kalau saya naik sepeda hingga ke sawah lewat jalan alternatif jaraknya mencapai 10 kilometer lebih, saya tidak sanggup dayung sepeda. Mau tidak mau saya harus naikkan sepeda ke dalam boat,” kata Rohana.
Sementara Saiman (38), warga Desa Kulu mengatakan, warga desanya sangat mengharapkan kepada pemeritah untuk menyediakan boat khusus tanpa harus bayar dan bus sekolah untuk anak-anak sekolah.
“Biasanya anak-anak naik sepeda ke sekolah, sekarang naik boat harus bayar dan mengancam jiwa anak-anak saat menyeberang sungai. Kami butuh bantuan boat gratis dari pemerintah untuk membantu anak sekolah dan warga kurang mampu, karena kalau menggunakan jasa boat pribadi, warga harus menambah biaya untuk ongkos boat pulang pergi setiap hari,” kata Saiman.
Jumat, 17 Maret 2017
Pengerjaan Proyek Jembatan Buket Linteung Terhenti
LHOKSUKON - Warga Gampong Buket Linteung, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara mengeluh perihal pembangunan jembatan yang belum rampung. Menurut warga, pembangunan jembatan terhenti akibat tidak ada anggaran.
"Saya tidak tahu persis kenapa tidak dikerjakan lagi. Namun dari informasi yang saya peroleh dari pihak rekanan, pembangunan jembatan itu terhenti karena tidak ada lagi anggaran," kata Keusyik Buket Linteung, Yasin saat dihubungi wartawan, Jumat (17/3/2017).
Belum diketahui berapa anggaran yang digunakan untuk pembangunan jembatan itu. Namun sepengetahuan Yasin, pembangunan jembatan tersebut menelan anggaran Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (APBA).
"Pembangunannya, kalau tidak salah terhenti sementara sejak Desember 2016 lalu. Jembatan itu mulai dibangun pada tahun 2015. Kabar yang saya terima, pembangunannya akan dilanjutkan kembali pada bulan April 2017 jika ada anggaran lanjutan," ujarnya.
Warga desa itu, Muhammad (32), juga menyampaikan hal yang sama. Namun menurut dia, selama pembangunan jembatan tersebut, akses jalan agak sulit.
"Adapun jembatan darurat yang dibangun untuk sementara, tidak mudah dilalui. Harus Hati-hati. Yang kita sayangkan khususnya anak sekolah," kata Muhammad.
Belum berhasil mendapat keterangan dari pihak rekanan pengerjaan proyek tersebut, namun menurut Camat Langkahan, M Jamil, pembangunan jembatan itu akan dilanjutkan kembali pada tahun 2017 ini.
"Jembatannya sudah selesai, hanya saja belum ditimbun di poros pangkal dan ujungnya. Dan menyangkut anggaran tambahan, sudah kita bicarakan di Bappeda. Insyaallah dilanjutkan kembali tahun ini untuk tahap penyelesaian," kata M Jamil.
Kamis, 16 Maret 2017
Jembatan Dibongkar, Siswa Menyebrang Gunakan Perahu Panambang Pasir
BIREUEN - Akibat terlalu jauh memutar untuk beranjak ke sekolah, sebagian besar siswa SMP, MTsN dan tingkat SMA di kawasan pinggir jembatan Krueng Tingkuemn, Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen lebih memilih menumpang perahu milik penambang pasir.
Menurut sejumlah warga selama dibongkarnya jembatan, sebagian besar anak-anak, terutama siswa yang rumhanya di bagian barat jembatan memilih naik perahu panambang pasir, agar bisa menyeberang ke arah timur untuk bersekolah.
“Kalau mereka berangkat ke sekolah melalui jalur jalan anternatif, arah utara Krueng Tingekum, Cot Mee hingga ke pusat Kota Kecamatan Kutablang terlalu jauh, belum lagi saat pulang,” kata seorang warga Krueng Tingkeum, Amiruddin, Kamis (16/3/2017).
Bahkan selama pembokaran jembatan ini, tambahnya, sebagian siswa tingkat MTSN dn SMP banyak yang libur sekolah. Lantaran terlalu jauh memutar untuk tiba di sekolah. Sementara letak sekolah mereka hanya terpaut 1 kilometer dari rumahnya.
Selain Amiruddin, hal yang sama juga dikatakan warga Kutablang lainnya, Helmi. Seharusnya, kata Dia, sebelum jembatan itu di bongkar, pemerintah daerah atau pemerintah provinsi membangun satu unit jembatan darurat yang bisa dilintasi kendaraan roda dua, atau untuk jalur siswa sekolah.
“Yang kita sayangkan, anak-anak yang mau mengaji malam. Apakah mereka juga harus berangkat memutar arah dengan begitu jauh setiap malamnya,” keluhnya.
Anehnya, kata warga, kesulitan masyarakat ini tidak membuat anggota DPRK Bireuen bersuara. “Kadang kami heran, fungsi DPRK Bireuen itu sebenarnya untuk apa, apakah duduk manis dan terima gaji saja. Sementara rakyatnya tidak ada yang peduli,” sebut bebarapa warga lainnya di sebuah warung di Kutablang.
Pemilik perahu penambang pasir, di aliran sungai Krueng Tingkeum, Kutablang, Kabupaten Bireuen menuntun siswa saat pergi dan pulang sekolah, pascadibongkarnya jembatan tersebut, Kamis (16/3/2017).
Rabu, 15 Maret 2017
Pembongkaran Lantai Jembatan Kutablang Jadi Tontonan Warga
BIREUEN - Pembongkaran lantai jembatan rangka baja, Krueng Tingkeum, Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen menjadi tonton warga di kawasan itu, Rabu (15/3/2017). Selain warga, para siswa usai sekolah, juga ikut menyaksikan pembongkaran tersebut.
“Menarik juga dilihat saat dibongkar lantainya, apa lagi kami jarang melihat alat berat yang bekerja seperti ini,” ujar seorang warga Kutablang, Bireuen.
Sementara itu, hingga hari ketiga ditutupnya jalur jembatan tersebut, proses pembongkaran sudah berjalan hampir 20 persen.
Menurut sejumlah tim di lapangan, setelah pembongkaran aspal, pihaknya kembali membongkar besi bantalan jembatan, sehingga memudahkan saat pemindahan pilar penyangga samping dan di bawah jembatan.
“Setelah seluruhnya selesai, baru dilakukan pembongkaran tiang penyangga jembatan dan ini butuh waktu lama,” kata sejumlah pekerja di lokasi.
Sebelumnya, Satker Kerja Pelaksana Jalan Nasional Wilayah I Provinsi, melalui Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) PU Aceh Wilayah Bireuen, Amri Mirza kepada wartawan mengatakan, pembongkaran jembatan rangka baja, Krueng Tingkeum, Kecamatan Kutablang, Bireuen membutuhkan 45 hari kerja.
“Setelah pembongkaran, jembatan ini langsung dibangun baru. Saat ini sedang dalam proses tender di Kementerian Pekerjaan Umum Jakarta,” katanya.
Selasa, 14 Maret 2017
HO-JAK Tranfortasi Online Aceh
BANDA ACEH - Bisnis transportasi berbasiskan aplikasi online telah hadir di Banda Aceh. Aplikasi ini memanfaatkan kecanggihan teknologi android guna memudahkan pelanggannya mengakses transportasi. HO-JAK nama aplikasi tersebut sudah didownload sebanyak 10 ribu kali oleh pengguna di Play Store.
CEO HO-JAK, Chairul Mubarak, mengatakan, bisnis ini bertujuan untuk meningkatkan bisnis masyarakat dengan cara mengurangi angka pengangguran. Sampai sekarang orang yang telah bergabung menjadi driver HO-JAK mencapai sekitar 500 orang. "Kita ingin mengajak masyarakat untuk menambah penghasilan melalui bisnis ini," ujarnya saat acara temu ramah CEO HO-JAK dengan komunitas masyarakat dan wartawan di Pango, Banda Aceh, Selasa (14/3/2017).
Ia menjelaskan, alat transportasi HO-JAK terdiri dari becak, sepeda motor dan mobil. Masyarakat yang ingin mendaftar menjadi driver bisa langsung mendaftar melalui aplikasi. Bila driver tidak ingin bekerja mereka harus mematikan aplikasi HO-JAK. Ia mengakui, bisnis ini masih memiliki banyak kekurangan. Tapi Ia mencoba terus memperbaiki kekurangan itu.
Manager Director, Azhari Idris menuturkan, HO-JAK memastikan kejelasan identitas drivernya. HO-JAK akan meminta kartu identitas yang jelas para drivernya. Tarif HO-JAK sendiri berdasarkan ketentuan yang sudah diatur oleh pemerintah berdasarkan jarak tempuh. Oleh karena itu HO-JAK memanfaatkan aplikasi google maps. Sehingga jalur driver saat mengantar penumpang bisa dipantau oleh tim IT HO-JAK.
Lanjutnya, driver nantinya tidak perlu keliling mencari calon penumpang. Sambil duduk pun mereka bisa mendapatkan orderan melalui aplikasi ini. Ia mengatakan daripada kenderaan tidak terpakai di rumah bisa dimanfaatkan menjadi driver HO-JAK. "HO-JAK berupaya mengatasi tarif transportasi saat ini yang bervariasi. Gaji driver dibayar berdasarkan kerjanya," pungkasnya.
Ia menjelaskan driver HO-JAK terdiri dari laki-laki dan perempuan. Katanya, bisnis ini turut mengutamakan driver perempuan. Mereka diharapkan tidak mengangkut penumpang pada malam hari.
Pada Mei 2017, Pekan Nasional (Penas) akan diselenggarakan di Stadion Harapan Bangsa Lhong Raya. Dikatakan, HO-JAK akan siap menjadi transportasi bagi peserta Penas yang datang dari berbagai daerah di Aceh. Selain itu ia mengharapkan HO-JAK bisa meningkatkan kemajuan parwisata di Aceh. "Wisatawan yang datang ke Aceh akan lebih mudah keliling Banda Aceh tanpa harus bingung mencari alat transportasi," tambahnya.
Jalur Utara Jauh dan Berdebu, Kendaraan Pilih Jalur Lawan Arah
Jalur anternatif di bagian utara jembatan Krueng Tingkeum, Kutablang, Bireuen jauh dan berdebu, kendaraan lebih memilih jalur selatan dan berlawanan arah, Rabu (15/3/2017).
BIREUEN - Akibat jalur anternatif di utara jembatan Krueng Tingkeum, Kutablang, Kabupaten Bireuen jauh dan berdebu, kendaraan memilih jalur selatan sehingga berlawanan arah, Rabu (15/3/2017).
Menurut sejumlah warga mengatakan, se
lama diberlalukan jalur anternatif di bagian utara setelah jembatan Kutablang dibongkar, kendaraan lebih memilih jalur selatan meski berlawanan arah.
"Hingga saat ini jalan sebelah utara jembatan Kutablang berdebu dan jauh, beberapa angkutan umum jenis L300 dari arah Banda Aceh ke Medan memilih melintasi Simpang Empat Gle Kapai, Peusangan hingga ke Kutablang," kata sejumlah warga Glee Kapai, Peusangan, Jailani Amin.
Sebenarnya, tambahnya jalur selatan jembatan itu diperuntukkan khusus kendaraan dari arah Medan ke Banda Aceh dengan kondisi telah teraspal.
"Hingga saat ini jalan alternatif sebelah selatan jembatan lancar dan sudah diaspal, tapi belum maksimal karena belum dipasangnya rambu lalu lintas sebagai penunjuk arah," kata warga Gampong Raya Datang, Peusangan, Zahrul.
Warga sangat berharap di jalur alternatif arah selatan jembatan agara dipasang rambu lalu lintas dan lampu jalan, sehingga memudahkan pengguna jalan.
Sementara pantauan di jalan alternatif arah selatan jembatan Krueng Tingkeum, Kutablang hingga ke Simpang Empat Gle Kapai, Kecamatan Peusangan, dipadati berbagai kendaraan, namun belum adanya petugas dari Satuan Lalu Lintas.
Sabtu, 11 Maret 2017
Kekurangan Dana, Masjid Cot Teubee Tak Kunjung Selesai
BIREUEN – Pembangunan Masjid Hasanul Basri yang beralamat di Desa Cot Teubee, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen telah mencapai 30 persen. Namun penyelesaiannya terhambat dikarenakan dana yang dibutuhkan masih kurang.
Ketua panitia pembangunan, Muhadi M.Thaib mengatakan, masjid tersebut dibangun pada tahun 2012, awalnya masjid tersebut dibangun atas swadaya masyarakat.
Namun, karena dana ala kadarnya, sehingga pembangunan terhambat lantaran dana yang tidak mencukupi.
“Dulu pada tahun 2006 masjid ini didirikan, namun semakin tahun semakin bertambah jamaah membuat kita sebagian terpaksa shalat di luar, jadi kita bangun kembali dengan kapasitas 600 jamaah,” ujar Muhadi seraya mengatakan awalnya masjid tersebut hanya berkapasitas 150 jamaah.
Dikatakannya, selama proses pembangunan, masjid tersebut pernah menerima bantuan dari salah seorang anggota DPRA dari Dapil Bireuen. Namun demikian, dana tersebut belum mencukupi untuk pembangunannya.
“Ada bantuan dari anspirasi Pak Murdani, tapi belum mencukupi untuk pembangunan,” katanya, Jum’at, 11 Maret 2016.
Selain itu, lanjut Muhadi, dengan diperluasnya masjid ini diharapkan agar jamaah saat menjalankan ibadah tidak ada lagi yang di luar masjid seperti sebelum-sebelumnya.
“Selama ini jamaah yang menjalankan shalat Jum’at, shalat idul fitri dan idul adha serta shalat verhana yang seperti kemaren sangat banyak yang masih di luar, mereka terpaksa menggunakan tikar dan sajadah untuk bisa Shalat bahkan di bawah terik matahari sekalipun,” imbuh Muhadi.
Muhadi juga menambahkan kalau masjid ini juga biasa digunakan untuk pengajian ibu-ibu, bapak-bapak dan juga untuk peringatan hari besar Islam.
Dikatakan Muhadi, bagi masyarakat atau donatur yang ingin memberikan bantuan berupa barang juga bisa.
“Saat ini bahan-bahan yang dibutuhkan berupa semen karena ini kita baru proses pembangunan,” jelas Muhadi.
Bagi masyarakat yang ingin memberikan bantuan berupa dana maupun barang, bisa langsung menghubungi nomor Tgk Rasyidin A Gani selaku Tgk Imum Syik Masjid yang juga pimpinan Dayah Darussa’dah Cot Jabet, Gandapura (085260678768) atau juga bisa menghubungi Muhadi selaku ketua panitia pembangunan (085262081828).
“Mesjid ini meliputi 4 Desa yaitu Cot Teubee, Tanjong Bungong, Cot Rambat dan Cot Jabet,” tutup Muhadi.
Jumat, 10 Maret 2017
Alumni Politeknik Negeri Lhokseumawe : Rakyat Aceh Butuh Pembangunan Infrastruktur
BIREUEN - Salah satu langkah mempercepat pembangunan dan mendongkrak perekonomian rakyat Aceh, maka perlu dibangun infrastruktur yang memadai, tepat sasaran dan tansparan.
Hal itu dikatakan Anggota DPR Aceh, Zulfadhil Sabtu (11/3/2017).
Menurut lelaki asal Samalanga, Bireuen ini, di samping pembangunan dan pendidikan moral, juga harus dibarengi dengan pembangunan infrastruktur.
"Pembangunan infrastruktur merupakan urat nadi, dengan sendirinya akan berdampak terhadap tumbuhnya ekonomi bagi masyarakat. Yang penting, pembangunan itu sesuai serta benar-benar ditempatkan di lokasi yang diperlukan rakyat, bukan karena kepentingan segelintir orang," katanya.
Menurut mantan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tersebut, saat ini Aceh butuh pembangunan yang bener-benar untuk mensejahterakan rakyat dan bukan sebaliknya.
"Infrastruktur menjadi langkah penting menuju kemandirian dan tumbuhnya ekonomi masyarakat Aceh secara cepat, tanpa hal itu, Aceh tetap morat-marit," terangnya.
Alumni Politeknik Lhokseumawe ini mengungkapkan, bagaimana bisa membangun sebuah kawasan, sementara infrastruktur jalan, listrik, telekomunikasi dan air tidak tersedia dengan sempurna.
"Ini harus menjadi perhatian serius semua pihak di Aceh, terutama pejabat di pemerintahan Aceh ke depan," harapnya.
Menurut Zulfadhil, saat ini, rakyat hanya ingin diberi kemudahan dalam mencari nafkah, bukan menuntut yang lain.
"Dengan adanya fasilitas dan insfratruktur yang memadai, maka akan lahir kemudahan, sehingga berujung pada percepatan dan peningkatan ekonomi bagi rakyat kecil di Aceh," tegasnya.
Senin, 27 Februari 2017
Air Saluran Di Blang cot Tunong Tiba-Tiba Menjadi Merah
Seorang warga desa Blang Cot Tunong kec.Kota Juang Bireuen dikejutkan oleh Air Saluran Yang Tiba-Tiba Menjadi Merah, Senin 27/2/2017. Akibatnya banyak warga yang memadati tempat tersebut karena ingin memastikan sendiri kejadian tersebut. Ternyata memang benar air saluran berubah warna menjadi merah.
Tidak ada yang mengetahui penyebab berubahnya warna air tersebut, namun sebagian warga yang menduga perubahan warna air dikarenakan karena tercampur dengan cat. Tetapi warga tidak yakin karena bau airnya tidak menunjukkan bau khas cat sebagaimana yang diketahui warga.
Hingga berita ini diturunkan belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas kejadian di desa Blangcot tunong.
Minggu, 26 Februari 2017
Kodim Bireuen Tangani Tanggul Irigasi Jebol di Paya Abo, Haji Saifan Mana?
Bireuen -Dandim 0111/Bireuen memerintahkan Danramil Peusangan untuk menangani pembangunan darurat tanggul irigasi jebol akibat banjir di Paya Abo, Kecamatan Peusangan.
Dandim 0111/Bireuen, Letkol Arm. Adekson melalui Danramil Peusangan, Kapten Arh. Ronal Samosir, Senin (27/2/2017) mengatakan, jika tidak segera ditangani pembangunan secara darurat irigasi yang jebol tersebut, 3 kecamatan terancam gagal panen.
“Kalau tidak kita tangani segera, hampir 4 ribu hektare sawah di 3 kecamatan terancam gagal panen. Kalau gagal panen dampaknya kan besar terhadap petani,” ujar Ronal Samosir.
Tiga kecamatan yang berdampak kekeringan sawah, lanjut Danramil Peusangan, Kecamatan Peusangan sekitar 1.500 ha, Jangka 1.600 ha dan Kutablang 600 ha.
Menurutnya, untuk menangani tanggul tersebut, biayanya atas inisiatif Dandim dan bantuan material H. Saifannur.
“Semua biaya untuk pengerjaan tanggul ini atas inisiatif Dandim yang memerintahkan saya harus selesai satu hari dikerjakan. Dan ada bantuan material dari H. Saifan. Untuk alat berat kami yang cari,” ungkap Danramil Peusangan.
Selama tahun 2017, tambahnya, Kodim Bireuen telah menangani tiga masalah yang sama. Dua di Gampong Cot Nga dan terakhir di Paya Abo (sebelumnya ditulis Alue Peuno).
“Beliau (Dandim) tidak mau masalah seperti ini dibiarkan berlarut-larut nunggu ada biaya dulu baru ditangani, karena kasihan rakyat yang rugi dan menderita karena gagal panen,” terangnya.
Untuk diketahui, banjir Selasa lalu di Kabupaten Bireuen, menerjang saluran irigasi sekunder di Paya Abo, Kecamatan Peusangan, yang mengairi sawah di tiga kecamatan.
Atas inisiatif Kodim 0111/Bireuen melalui Danramil Peusangan, selesai menangani secara darurat dalam waktu satu hari, dan hari ini sudah bisa dialiri air kembali.
Danramil Peusangan beserta sejumlah Babinsa turun langsung mengerjakan tanggul tersebut, dibantu Kepala BP3K Peusangan, Hafni, SP dan petugas dari Dinas Pertanian Kabupaten Bireuen.
Jumat, 24 Februari 2017
Tiang Pilar Jembatan Krueng Peudada Terancam Terkikis Erosi Tebing Sungai
Jembatan rangka baja Krueng Peudada di lintas jalan nasional kawasan Peudada, Kabupaten Bireuen, mulai terancam miring akibat erosi tebing sungai di hulu jembatan sebelah timur Desa Pulo semakin meluas.
Tiang pilar jembatan mulai terkikis akibatnya derasnya banjir arus sungai jika tidak segera ditangani, jembatan Krueng Peudada sepanjang 250 meter dikhawatirkan bisa ambruk.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Bireuen, Ismunanda ST MT menjelaskan hal itu usai melaporkan kondisi jembatan rangka baja Peudada dan kerusakan badan jalan nasional di Kabupaten Bireuen kepada Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) I Banda Aceh, Ir Fathurrahman
Dikatakan, kondisi erosi Krueng Peudada kian meluas, badan jalan dan abutment jembatan Krueng Peudada terancam rusak.
Erosi tebing sungai Krueng Peudada telah menenggelamkan belasan hektar kebun warga termasuk tanaman kelapa dan kini tiang jembatan juga terus terkikis arus sungai.
“Jika tidak segera ditangani, jembatan diperkirakan bisa ambruk ke sungai yang beresiko terhadap putusnya sarana perhubungan Jalan Lintas Sumatera,” sebutnya.
Beberapa jembatan rangka baja lainnya di Kabupaten Bireuen yang terancam ambruk akibat erosi yang terparah saat ini Jembatan Krueng Tingkuem Kutablang.
“Selain jembatan, banyak badan jalan nasional rusak, dan di beberapa kawasan badan jalan nasional masih sempit perlu pembukaan jalan dua jalur,” ujar Ismunandar.
BPJN-I Banda Aceh, Ir Fathurrahman mengakui kondisi jembatan Krueng Peudada juga sudah mulai terancam miring akibat erosi yang semakin meluas, badan jalan berlubang serta pelebaran ruas jalan akan menjadi skala prioritas untuk ditangani, ujarnya.
Tahun ini, penanganan difokuskan pada kerusakan badan jalan yang berlubang, pelebaran ruas jalan yang masih sempit, serta penanganan antisipasi kerusakan jembatan rangka baja.
“Sedangkan pembukaan ruas jalan dua jalur akan ditangani pada tahap berikutnya,” sebut Faturrahman.
Jembatan Krueng Ayon Rusak Diterjang Banjir
CALANG - Banjir yang menerjang Kecamatan Sampoiniet, Aceh Jaya, Kamis (23/2) malam sekitar pukul 22. 00 WIB mengakibatkan abutment jembatan Krueng Ayon rusak parah. Kerusakan tersebut menyebabkan arus transportasi melalui jembatan itu tak bisa dimanfaatkan untuk sementara waktu.
Rimbawan, Kabid Kedaruratan dan Logistik pada Kantor Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten (BPBK), Aceh Jaya kepada Serambi, Jumat (24/2) mengatakan, ekses banjir yang terjadi di kawasan Sampoiniet telah menyebabkan satu abutment jembatan rusak. Sehingga akses dari Krueng Ayon menuju ibukota kecamatan harus melalui Alue Gajah.
Menurutnya, hujan yang melanda kawasan itu sempat mengakibat banjir sesaat dengan ketinggian air mencapai 30 hingga 50 cm di sebagian desa. Sementara sebagian rumah yang sempat tegenang air pada malam itu masing-masing di Desa Krueng Ayon, Ie Jeureungeh, Ranto Sabon, Ligan dan Seumantok.
Iskandar, warga Ligan, Kecamatan Sampoiniet membenarkan terjadinya banjir sesaat itu. Namun dalam peristiwa tersebut tidak ada warga yang mengungsi, sebab air naik secara tiba dan tidak bertahan lama seperti banjir sebelumnya.
“Banjir yang menerjang kemukiman Pante Purba sempat membuat kami waswas, sebab air naik secara tiba-taba seusai hujan mengguyur daerah kami, akan tetapi tidak ada korban dan tidak ada warga yang mengungsi,” jelas Iskandar. Dia menambahkan banjir yang surut secara cepat itu diduga akibat kemarau panjang belakangan ini, sehingg tanah yang gersang mempercepat air terhisap
Selasa, 21 Februari 2017
Irigasi Peusangan Terputus, H. Saipannur Langsung Menuju Lokasi
Irigasi sumber perairan warga di Gampong Paya Aboe, kecamatan Peusangan mengalami kerusakan akibat dihantam air deras setelah diguyur hujan semalam penuh Rabu 22/2/17. Akibatnya air menjadi meluap ke persawahan dan merusak padi petani di desa tersebut.
Mendengar berita tersebut Calon Bupati Bireuen yang baru saja memenangkan pilkada calon Bupati Bireuen didampingi perangkat desa dan anggota TNI langsung terjun ke tempat kejadian dan meninjau langsung untuk memastikan kerusakan yang diakibatkan oleh derasnya air.
Menanggapi hal tersebut H. Saipannur S.Sos secepatnya akan menurunkan alat berat untuk memperbaiki irigasi yang sudah rusak parah, tanggul yang menahan arus air terputus.
"Irigasi putoh di gampong paya aboe, kecamatan peusangan
Gepegah le H.saifannur, singeh langsong ta peutreun beko," jelasnya.
Warga Gampong setempat juga berharap pemerintah segera turun tangan untuk memperbaiki irigasi yang rusak.
" Kami harap pemerintah segera turun tangan untuk memperbaiki irigasi ini, karena dapat membahayakan padi petani" jelas petani Gampong setempat.
Sampai saat ini belum diketahui kerugian petani akibat kejadian tersebut. Dan masyarakat hanya bisa menunggu bantuan alat berat segera datang untuk mengatasi masalah ini.
Sabtu, 11 Februari 2017
Jembatan Kutablang Ditutup 18 Februari
BIREUEN - Jembatan Krueng Tingkeum (Jembatan Kutablang) yang berada di lintas Banda Aceh-Medan kawasan Kutablang, Bireuen, akan ditutup total mulai 18 Februari mendatang. Jembatan yang rusak/miring sejak 20 Januari 2017 itu akan ditutup sampai selesainya pembangunan jembatan yang baru.
Kepastian jadwal penutupan jembatan itu ditetapkan berdasarkan hasil investigasi tim teknis Direktorat Jembatan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), serta hasil rapat koordinasi Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Wilayah I Provinsi Aceh dan berbagai instansi terkait di Bireuen.
Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah I Provinsi Aceh melalui Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) PU Aceh Wilayah Bireuen, Amri Mirza mengatakan, setelah ditutup nanti, arus lalu lintas akan dialihkan ke jalur alternatif. Selama ini, pengalihan arus lalu lintas sudah dilakukan untuk kendaraan dari arah Medan ke Banda Aceh.
Sementara jalur alternatif sebelah utara, akan difungsikan beberapa hari lagi sebelum penutupan jembatan dilakukan. Nantinya kendaraan dari Banda Aceh ke Medan diarahkan belok ke kiri sebelum jembatan. Lalu mengikuti rambu-rambu yang sudah dipasang hingga tembus kembali ke lintas nasional.
Kedua jalan alternatif itu, kata Amri, sudah layak jalan. Namun, kemampuan atau daya tahan badan jalan sangat terbatas. Batas maksimalnya 20 ton sudah termasuk berat kendaraan, dengan kecepatan maksimal 20 kilometer/jam. “Berbagai persiapan terus dilakukan termasuk pemasangan rambu-rambu di jalur alternatif, serta koordinasi dengan berbagai pihak agar saat penutupan total nanti berjalan lancar,” demikian Amri Mirza.
Seperti diberitakan, Jembatan Krueng Tingkeum sejak Jumat (20/1) pukul 02.00 WIB, posisinya miring. Penyebabnya, pilar bawah jembatan dihantam tumpukan balok kayu yang dibawa arus deras di sungai itu. Awalnya, terdengar suara seperti gesekan besi. Warga yang rumahnya berdekatan dengan jembatan itu langsung keluar untuk memastikan dari mana sumber suara tersebut.
Ada yang menduga suara itu adalah suara kecelakaan lalu lintas di jembatan itu. Setelah dicek, suara itu ternyata berasal dari besi siku atas jembatan posisinya sudah miring, pilar utama di tengah jembatan juga sudah miring, dan terdapat tumpukan kayu bawaan air di dalam sungai.
Sementara jalur alternatif sebelah utara sudah diuji coba dan diharapkan tidak ada kendala saat digunakan dalam waktu dekat ini. Hal itu dikatakan Direktur Utama PT Takebeya Grup, Mukhlis AMd selaku pelaksana pembangunan ruas jalan alternatif tersebut. Sabtu (11/2).
Beberapa waktu lalu, tim PUPR Provinsi Aceh, Ditlantas Polda Aceh, unsur kementerian terkait, PUPR Bireuen, dan Kapolres Bireuen sudah melakukan uji coba lintasan tersebut.
Jaringan pipa PDAM yang ada di Jembatan Krueng Tingkeum, Kutablang, Bireuen, juga segera dibongkar. Proses pembongkaran atau pemindahan jaringan PDAM tersebut dalam proses tender di Banda Aceh.
Direktur PDAM Krueng Peusangan, Isfadli Yahya SE kepada Serambi mengatakan, pipa tersebut mendistribusikan air kepada 3.000 lebih pelanggan di Desa Krueng Panjoe, Bugak, Kuala Ceurape, dan Kapa, Kecamatan Peusangan.
Pemindahan jaringan pipa tersebut ditangani Satker Pengembangan Air dan Sanitasi PUPR Aceh. “Pemindahan jaringan PDAM segera dilakukan, agar saat pembangunan jembatan yang baru, suplai air bersih kepada masyarakat tidak terganggu,” demikian Isfadli Yahya.
Jumat, 03 Februari 2017
Pemkab Pidie Jaya Bangun Jembatan Rangka Baja di Lhok Duek
Sabtu, 28 Januari 2017
Minggu, 22 Januari 2017
Jembatan Krueng Tingkeum Hari Ini Jalan Mulai Dialihkan
Jembatan Krueng Tingkeum, Kutablang Bireuen miring sejak Jumat dinihari, besi siku bagian atas terlihat jelas bengkok karena tertarik miring, polisi memasang police line agar kendaraan tidak melintasi lantai jembatan yang sudah miring.
BIREUEN - Posisi jembatan Krueng Tingkeum, Kecamatan Kutablang, Bireuen semakin miring. Karena itu, mulai Senin (23/1) hari ini kendaraan dari arah Medan ke Banda Aceh akan dialihkan melalui jalur alternatif yaitu ke arah selatan jembatan tersebut tembus ke Simpang Empat Gle Kapai, Kecamatan Peusangan, Bireuen. Pengalihan rute kendaraan itu bertujuan untuk mengurangi beban jembatan yang mulai miring akibat pilar bawahnya dihantam tumpukan balok kayu yang dibawa arus sungai itu, Jumat (20/1) dini hari WIB.
Kabid Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Bireuen kemarin, mengatakan, menjelang pengalihan rute, jalan alternatif itu sedang diperbaiki pada beberapa titik yang rusak. Tujuannya, untuk kelancaran arus kendaraan yang akan melintas nanti. Selain itu, juga sedang dipasang rambu-rambu penunjuk arah.
Jalan alternatif sebelah selatan jembatan Krueng Tingkeum itu, menurut Fadli, akan melintasi jalan Tingkeum Manyang, Blang Mee, Pante Baro, dan Desa Kubu. Kemudian, kendaraan harus melewati jembatan rangka baja Pante Lhong, lalu ke Simpang Empat Gle Kapai, Peusangan, hingga kembali ke jalan Medan-Banda Aceh. “Kami berharap pengendara berhati-hati saat melintasi jalan alternatif itu.
Sedangkan untuk kendaraan dari arah Banda Aceh, menurut Fadli, akan dialihkan melalui jalan sebelah utara jembatan Krueng Tingkeum dalam beberapa hari ke depan. Saat ini, jalur alternatif untuk kendaraan dari arah barat sudah disurvei untuk diperbaiki. Dikatakan, pada kedua jalan tersebut, sebagian yang rusak sudah diaspal.
“Jika jalur alternatif daru dua arah itu sudah berfungsi, maka jembatan Krueng Tingkeum akan ditutup untuk dibangun baru,” ungkap Fadli didampingi Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) PU Aceh Wilayah Bireuen, Amri Mirza.
Kemarin, kendaraan dari arah Banda Aceh (barat) dan Medan (timur) masih melintasi jembatan tersebut karena belum dibukanya jalan alternatif baik yang di sebelah selatan maupun utara jembatan. Warga setempat bersama tim lain membantu kelancaran arus lalu lintas di jembatan itu yang menggunakan sistem buka tutup.
Jembatan Krueng Tingkeum, Kutablang, Bireuen yang dibangun tahun 1991 akan segera dibongkar. Kepala Balai Besar Pelaksanaan
Jalan Nasional (BBPJN)I Dinas PU Aceh, Thabrani ST MT, Sabtu (21/1) malam mengatakan, jembatan itu harus segera dibongkar karena
tiang dan lantainya semakin miring, patahan bagian tengah jembatan terus bergeser, dan ikatan bagian atas jembatan makin melengkung dan patah pada kedua segmen.
Seharusnya, menurut Tabrani, jembatan itu sudah harus ditutup sejak Jumat (20/1) karena kondisinya tak mungkin dipertahankan lagi untuk dilintasi oleh berbagai jenis kendaraan. Namun, ia belum bisa memastikan apakah jembatan tersebut akan dibongkar seluruhnya atau sebagian saja.
“Saya akan melapor ke Jakarta agar kementerian bisa segera melaksanakan tender. Sehingga dalam waktu yang tak terlalu lama bisa membongkar dan membangun kembali jembatan tersebut,” jelas Tabrani.
Sementara itu, Pemkab Bireuen, Sabtu (21/1) malam, mengadakan rapat membahas penanganan jembatan tersebut. Rapat itu dihadiri Kapolres Bireuen, Dandim, Kajari, PDAM, PLN, kepala SKPK, serta Camat Peusangan, Kutablang, dan Camat Peusangan Siblah Krueng.
Plt Bupati Bireuen, Ir Mukhtar MSi mengatakan, hasil rapat itu akan segera dibawa Banda Aceh dan Kementerian PU. Menurut Mukhtar, jembatan Krueng Tingkeum ditangani dengan dana tanggap darurat dari APBN. “Jika sudah keputusan dari pusat, jembatan tersebut segera dibongkar,” ujarnya.
Kapolres Bireuen, AKBP Heru Novianto SIK menambahkan, pihaknya siap membantu mengatur arus lalu lintas dan kegiatan lain terkait pembongkaran jembatan Krueng Tingkeum. “Sehingga semua hal yang terkait dengan masalah ini akan berjalan lancar,” kata Kapolres.









