Tampilkan postingan dengan label Bireuen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bireuen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 April 2017

Edi Obama Ketua DPC Partai Demokrat Bireuen


BIREUEN - Edi Saputra (Edi Obama) terpilih sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat (PD) Kabupaten Bireuen. Edi terpilih secara aklamasi dalam Musyawarah Cabang (Muscab) yang diselenggarakan serentak dengan 11 DPC PD lainnya, di Kantor DPD Partai Demokrat Aceh, Banda Aceh, Selasa (18/4/2017).

Direktur Obama Market ini terpilih sebagai ketua DPC PD Bireuen, setelah dua rivalnya, Zulfikar Jufri Alba dan Jasman Rani mengurungkan niatnya maju pada Muscab yang dihadiri Ketua Badan Pembinaan Organisasi, Keanggotaan dan Kaderisasi (BPOKK) Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat (DPP-PD) Jenderal TNI (Purn) Pramono Edhie Wibowo.
Turut hadir pada Muscab, Wakil Sekjen DPP-PD Teuku Riefky Harsya, anggota DPR-RI Muslim dan sejumlah fungsionaris Partai Demokrat lainnya.

Acara Muscab ini sendiri dibuka secara resmi oleh Ketua DPD Partai Demokrat Aceh Ir. H. Nova Iriansyah Nurdin MT, yang merupakan Wakil Gubernur Aceh terpilih Untuk periode 2017-2022.

Menurut pria berkacamata yang memiliki wawasan dan pergaulan luas di berbagai kalangan itu mengatakan, awalnya Zulfikar Jufri Alba dan Jasman Rani sudah menyatakan tekad maju sebagai calon Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Bireuen. Namun, pada saat Muscab, keduanya batal mencalonkan diri.

"Benar, pak Zulfikar dan pak Jasman mengurungkan niatnya maju sebagai calon ketua saat Muscab. Alhamdulillah keduanya memberi dukungan kepada saya, dan saya siap bekerjasama untuk membesarkan partai," kata Edi Obama.

Politisi muda Bireuen ini menuturkan, dirinya tidak  dapat berbuat apa-apa tanpa dukungan dari rekan-rekan pengurus partai. "Saya tidak ada apa-apanya tanpa dukungan dari kawan-kawan. Saya mengajak segenap pengurus dan kader Partai Demokrat Bireuen untuk sama-sama membesarkan partai, " ujar pengusaha muda itu merendah.

Dikarenakan partai butuh orang yang mampu membesarkan partai, maka mereka menilai pak Edi adalah orang yang tepat. “Apalagi beliau kontribusinya untuk partai sangat besar," kata Zulfikar yang diiyakan Jasman Rani.

Edi Obama yang juga Ketua PMI Bireuen, mengawali karier politiknya sebagai anggota Partai Demokrat Kabupaten Bireuen. Meskipun terbilang muda, tapi telah sukses mengukir prestasi. Lihat saja, walaupun baru bergabung dalam partai Demokrat, Edi sudah dipercaya menjadi Ketua Tim Pemenangan Internal Partai Demokrat Bireuen untuk memimpin rekan rekannya dalam memenangkan pasangan Irwandi -Nova pada Pilkada Gubernur-Wakil Gubernur Aceh 2017, Edi Obama yang juga Sekretaris Sekber Irwandi-Nova Kabupaten Bireuen, telah bekerja keras bersama rekan-rekannya memenangkan pasangan Gubernur-Wakil Gubernur Aceh Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah yang diusung Partai Demokrat.

Ini membuktikan bahwa Edi Obama patut diperhitungkan dalam dunia perpolitikan, baik daerah, maupun nasional sekalipun.

Pengusaha muda yang baru-baru ini memperoleh penghargaan 'Sahabat PWI' dikarenakan hubungan baiknya dengan insan pers, juga mampu bekerjasama dengan tim dan rekan-rekannya dalam membesarkan partai.

“Dengan dipercayakannya saya sebagai Ketua DPC Partai Demokrat Bireuen, saya akan bekerja dengan baik dan akan selalu berkoordinasi dengan rekan-rekan pengurus partai, baik tingkat DPC, DPD, dan DPP Partai Demokrat, serta masyarakat dalam mempersiapkan kader-kader terbaik partai,” ujar Pemilik Swalayan Obama Market Matang Glumpangdua ini.

Pengusaha muda ini juga berharap agar masyarakat dan pengurus partai dapat bersama-sama memberikan dukungan penuh kepada dirinya, untuk membesarkan Partai Demokrat kearah yang lebih baik.

Sabtu, 15 April 2017

Sekcam Kutablang Harapkan Pemkab Bireuen Segera Bangun Rumah Warga Gle Putoh yang Tertimpa Pohon


Sekcam Kutablang Mukhsen S, Ag dengan sigap langsung turun ke lokasi di Desa Glee Putoh Kecamatan Kutabalang saat mendapat laporan dari masyarakat ada rumah warga yang tertimpa pohon, Sabtu(15/4/2017).

Mukhsen menyebutkan, rumah milik Bukhari Yahya (39) yang sehari-harinya sebagai tukang bangunan dan istrinya Anidar (37) guru mengaji  itu rusak parah akibat tertimpa pohon.

Dikatakannya, kejadian naas tersebut terjadi sekira pukul 7. 30 Wib, tiba-tiba sebuah pohon mancang yang sudah tua dan akarnya lemah menimpa rumah warga miskin tersebut.

“Beruntung pemilik rumah berhasil menyekoralamatkan diri ke luar rumah setelah mendengarkan suara runtuhan pohon akan roboh,” ungkap Mukhsen.

Dikatakannya, akibta peristiwa itu, anak pasangan tersebut bernama Nurul Fajri (16) mengalami lecet ringan terkena serpihan runtuhan rumah, kemudian dilarikan ke pukesmas untuk medapatkan perawatan medis.

“Warga setempat mulai berdatangan untuk membantu membersihkan dan memotong pohon yang menimpa rumah warga itu, bantuan masa panik juga mulai disalurkan oleh dinas terkait,” jelas Sekcam Kutablang itu.

Mukhsen sangat mengharap bantuan rumah layak huni dari Pemeritah Kabupaten Bireuen untuk segera dibangun, mengingat rumah tersebut sangat dibutuhkan.

“Apalagi selama ini rumah tersebut digunakan sebagai tempat pengajian anak-anak,” pungkasnya.

Jumat, 07 April 2017

Saat Umrah Hati Harus Bersih, Jangan Sibuk Selfie, itu Riya


BIREUEN - Pimpinan Dayah Harapan Umat Arongan, Kabupaten Bireuen,Teungku Luthfi Sofyan Arongan atau akrab disapa Ayah Panti mengingatkan jamah haji atau umrah, saat melaksanakan ibadah jangan disibukkan dengan selfie atau foto narsis."Dewasa ini masyarakat kita untuk mengabadikan gambar diri sendiri atau yang biasa disebut selfie pada momen-momen tertentu sudah menjadi lumrah dan ngetren saat ini. Tidak terkecuali di Haramain, dua Tanah Suci umat Islam yaitu Makkah dan Madinah," ujar Ayah Panti.

Beliau menyebutkan saat ini banyak jamaah haji maupun umrah yang ber- selfie di tempat-tempat, waktu dan kondisi tertentu. " Selfie memang tidak dilarang, namun melakukan selfie seenaknya di Tanah Suci bukan tindakan bijak mengingat Haramain merupakan tanah sakaral bagi umat Islam, jadi hendaknya jamaah haji mempertimbangkan beberapa hal sebelum ber-selfie di Haramain," imbaunya kepada jamaah yang akan umrah bersamanya.

Ayah Panti menjelaskan Allah SWT memerintahkan manusia sebagai jamaah umrah agar menunaikan ibadah itu tanpa riya atau memamerkannya kepada orang lain. "Walaupun esensial riya' itu patronnya dalam hati kita masing-masing, namun kita tidak membuka jalan ke arah riya' tersebut," ucap kandidat master komunikasi IAIN Malikussaleh Lhokseumawe.
"Kita harus merenungkan diri kita masing-masing dengan sebuah pesan baginda Nabi ketika tiba di Miqat, Rasulullah Saw bersabda: “Allah memerintahkan ibadah haji dilakukan tanpa riya’ dan tidak dipublikasikan kepada publik," katanya.
Beliau menambahkan bahwa sabda Rasulullah SAw itu disampaikan ketika beliau tiba di Miqat diikuti dengan tindakan dan praktik membersihkan rohani.

“Budaya sebagian jamaah haji dan umrah sekarang gemar mengambil gambar (selfie) ketika tiba di Miqat. Tidak hanya itu, mereka juga mengambil gambar saat melakukan tawaf, saat bermalam di Padang Arafah dan saat melempar jumrah,” kata sang pelopor RTA itu.
Hendaknya jika yang ingin melakukan perjalanan umrah atau berangkat ke Makkah tidak hanya mengingat soal selfie atau belanja melainkan fokus juga untuk beribadah.

"Bek di gampong galak selfie-selfie , jeut ta kubah HP siat wate ka u Tanah Haramain. Bek le gadoeh dengon selfie , tapi fokuskan beribadah. (Waktu di kampung gemar selfie-selfie, sudah waktunya menyimpan HP sebentar kalau sudah sampai ke Tanah Suci. Jangan lagi disibukkan dengan
selfie, " pesan Ayah Panti.
Ayah Panti mengingatkan, jamaah telah menghabiskan waktu dan belanja serta meninggalkan keluarga dan umat di daerah masing-masing, selayaknya jamaah di sana pergunakan waktu dan fokus beribadah dalam menggapai mardhatillah di tempat yang paling mulia di dunia.

Mencoba Peruntungan Melalui Jasa Angkutan Boat di Krueng Tingkeum

Pengoperasian boat di Krueng Tingkeum sejak jembatan rangka baja tersebut ditutup total dan dibongkar, tentu saja sangat membantu warga sekitar jembatan kutablang tersebut.

Karena, jika memutar arah melalui jalur alternatif, maka kana makan waktu yang lebih lama dan jauh. Karena itu, satu-sdatunya cara yang cepat untuk sampai tujuan. Konsekwensinya tentu saja mereka harus mengeluarkan duit tambahan untuk ongkos menumpang boat atau perahu.

Meski, sebagian diantara mereka sempat mengeluhkan besaran tarif yang ditetapkan dan meminta Pemerintah Kabupaten Bireuen menyediakan rakit penyeberangan gratis. Tapi sebagian yang lain tak merasa keberatan.

Salah seorang warga sekitar Jembatan Kutablang, Mukhlis Munir yang mencoba peruntungan jasa transportasi penyeberangan di Krueng Tingkeum, Jumat (7/4/2017) sore menyebutkan,  dia mengoperasikan dua buah boat untuk mengangkut penumpang dan motor. Boat tersebut merupakan boat sewaan yang digunakan untuk mengangkut penumpang.

Satu boat muat, 6 motor  ditambah dengan 10 orang penumpang. Sementara yang satunya lagi muat 10 motor ditambah 15 orang penumpang.

“Tarif yang dikenakan untuk motor  200cc ke bawah Rp 5000 per unit plus satu orang. Sementara  untuk  motor 200 cc ke atas, ongkosnya Rp  8000 ditambah satu orang. Khusus vixion Rp7000 per unit dan satu orang penumpang,” rincinya

Untuk ongkos penumpang orang dewasa, katanya, dia mematok Rp 3000 per orang, namun kebanyakan penumpang boat hanya membayar Rp 2000. “Tapi kita tak persoalkan meski dibayar segitu, karena mereka merupakan pelanggan tetap,” sebutnya.

Sementara untuk  anak sekolah, tarif boat yang dikenakan hanya Rp 1000 saja, tapi jika ada anak yang tak punya uang untuk ongkos membayar gethek, maka  digratiskan.

Boat tersebut mulai beroperasi dari pukul  6.30 -18.30 Wib. Dilanjutkan pengoperasiaannya pada malam hari mulai pukul 19.00- 23.00 Wib.

Siswa kelas 1 SMP Dayah Arongan Hilang


Kasyandy (13) siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Dayah Arongan, Kecamatan Simpang Mamplam, Kabupaten Bireuen dikabarkan hilang.

Korban yang tinggal di asrama dayah tersebut diinformasikan sudah menghilang dari dayah sejak Kamis (30/3/2017) dan baru diketahui oleh pihak keluarga pada Rabu (5/4/2017).

Korban memiliki ciri – ciri, memiliki kulit sawo matang, tinngi badan 155 dan rambut lurus. Diperkirakan memakai baju berwana Biru corak coklat (seperti pada foto) dan dipastikan tidak membawa pakaian lain saat hilang.

Anak bungsu dari tiga bersaudara ini merupakan putra dari pasangan Kalim (41) dan Itawari (40), warga Desa Balang Rakal, Kecamatan Pinto Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah. Korban sudah tinggal di Dayah Arongan sejak pertama masuk sekolah.

Bagi yang menemukan atau mengetahui tentang keberadaan korban, mohon bisa menghubungi pihak berwajib ataupun redaksi. Bisa juga menghubungi kakak kandung korban, Mardiana ke nomor handphone : 082362424619. 

Kamis, 06 April 2017

Pemadaman Listrik Bergilir, Penjualan Genset di Bireuen Laris Manis

Ternyata tidak semua lapisan masyarakat merugi akibat pemadaman listrik bergilir oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) di Kabupaten Bireuen.

Sebagian besar pedagang genset di jalan T Panglima Polem (Jalan Andalas) Bireuen justru menuai keuntungan akibat sering terjadinya pemadaman arus listrik dari PLN secara bergiliran selama tiga jam lebih bahkan pemadaman dilakukan sampai 11 jam lamanya.

Pasalnya penjualan mesin genset di beberapa toko sparepark di kawasan itu, melonjak sejak sepekan ini.

Salah satu pekerja di toko sparepark yang menyediakan mesin genset di kawasan Jalan Panglima Polem/Andalas Bireuen mengaku, selama terjadinya pemadaman arus listrik bergiliran, permintaan mesin genset sangat tinggi.

“Di toko tempat saya berkerja berhasil menjual 5 hingga 7 unit genet berbagai merek dalam sehari. Harganya bervariasi sesuai dengan merek dan kapasitas genset,” ujarnya kepada KoranBireuen, saat ditemui di tokonya, Kamis (6/4/2017) sore.

Namun, lanjutnya, para pedagang tidak melakukan aji mumpung dengan menaikkan harga pembangkit listrik mini tersebut, meski terdapat lonjakan permintaan.

Sementara itu, Mulyadi, warga Kota Juang, saat sedang membeli genset, kepada KoranBireuen mengaku lebih memilih mengeluarkan uang untuk genset daripada harus menggerutu dalam kegelapan.

“Pihak PLN melakukan pemadaman secara tiba-tiba, dan tidak jelas berapa lama diberlakukan lagi. Kadang-kadang pemadaman bergilir selama tiga jam, bahkan sampai 10 jam lamanya belum juga di nyalakan. Ketimbang gelap-gelapan, mending membeli mesin genset,” jelasnya .

Tersangka Diamuk Massa di Bireuen, Juga Lakukan Pencurian di Takengon

BIREUEN - Setelah diamankan usai diamuk massa di Bireuen atas dugaan pencurian, M Is (32), warga Kecamatan Bies Baru, Aceh Tengah ini juga terlibat hal yang sama di kawasan Takengon. itu dikatakan Kapolres Bireuen AKBP Heru Novianto pada konferensi pers di Mapolres setempat, Kamis (6/4/2017).
Menurutnya, setelah kejadian di Bireuen, pihaknya telah menerima laporan pencurian di empat titik di kawasan Takengon, Aceh Tengah dengan memanfaatkan keluarganya sendiri. Di Bireuen sendiri, selain tersangka M Is (32), dirinya juga melibatkan Has (27) dan dua anaknya. Lalu Ham (37), kakak M Is serta dua anak Ham.

Ketujuh warga asal Kecamatan Bies Baru, Aceh Tengah ini masih satu keluarga dengan berpura-pura membeli makanan di kios. Kronologis kejadian di Bireuen sendiri, berawal terjadi saat tersangka yang menumpangi minibus Carry merah BL 475 GD, dikejar warga.

“Karena takut tertangkap saat pengejaran setelah turun di sebuah kios, tersangka M Is tancap gas. Akibat terburu-buru dan hilang kendali, mobilnya bertabrakan dengan satu unit mobil jenis Jazz di simpang Adam Batre, Bireuen."

Saat itulah, tambah Heru, mobilnya berhenti, kemudian warga langsung mengerubuti sehingga terjadi pemukulan terhadap tersangka. Saat pengejaran yang dilakukan warga, sebagian sempat menyoraki, kalau tersangka itu penculik anak, apa lagi didalam mobil tersangka tersendiri ada anak-anak.

Beruntung tersangka dan mobilnya berhasil diamankan, setelah anggota dari Polsek Kota Juang langsung ke lokasi, karena massa sudah cukup banyak.
“Terkait pencurian yang dilakukan di Bireuen dan laporan dari Takengon sendiri hingga kini masih kita dalami. Ketiganya hingga kini masih ditahan di Polres Bireuen untuk pengusutan lebih lanjut,” kata Kapolres Bireuen.

Tersangka M Is (32) dan Has (33), Ham (37) warga Bies Baru, Kabupaten Aceh Tengah, saat akan digelarnya konferensi pers, di Mapolres setempat, Kamis (6/4/2017).

Rabu, 05 April 2017

Kronologis Yang Sebenarnya Tentang Isu Penculikan Anak di Bireuen


BIREUEN - Isu penculikan anak kembali membuat orang tak bersalah menjadi sasaran amuk massa. Korban kali ini adalah M Isa (32), warga Pegasing, Aceh Tengah. Ia diamuk massa di Jalan Simpang Adam Batre, Desa Reuleut, Kota Juang, Bireuen, Rabu (5/4) siang gara-gara diteriaki maling dan penculik anak.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, awalnya M Isa bersama istri dan dua anaknya beserta kakak plus dua anak kakaknya (jumlah seluruhnya tujuh orang) datang dari Aceh Tengah untuk rekreasi ke Pantai Kuala Jeumpa, Bireuen. Mereka menumpangi minibus Suzuki Carry merah.

Dalam perjalanan ke Kuala Jeumpa, keluarga ini berhenti sesaat untuk membeli makanan ringan di sebuah kedai kelontong di Kecamatan Jeumpa. Namun, salah seorang dari anak kakaknya disebut-sebut mengambil uang dari dalam laci kedai kelontong itu, sehingga diteriaki maling.

Karena tak merasa anaknya mencuri uang, tapi tak punya kesempatan untuk membela diri, keluarga itu langsung tancap gas ke arah Kota Bireuen. Saat tiba di Jalan Simpang Adam Batre, mobil Suzuki Carry yang mereka tumpangi bersenggolan dengan mobil Honda Jazz. Warga yang sebelumnya mengejar mereka spontan meneriaki maling, bahkan ada juga yang berteriak penculik anak.

Mendengar teriakan ada penculik anak, warga pun ramai-ramai menggebuk M Isa. Massa telanjur mengira bahwa ia telah menculik anak. Di dalam mobil itu memang ada empat anak dan dua perempuan dewasa. Tapi salah satu wanita itu adalah istrinya, sedangkan yang satu lagi kakaknya. Adapun anak-anak itu, dua orang merupakan anak kandung M Isa, dua orang lagi anak kakaknya. Jadi, tidak ada anak yang diculik di dalam mobil tersebut.

Dalam situasi segenting itu, polisi pun tiba di lokasi dan langsung melerai massa. M Isa yang telanjur babak belur dievakuasi bersama istri, anak, kakak, dan keponakannya ke Mapolsek Kota Juang.

Selanjutnya, keluarga M Isa diamankan ke Mapolres Bireuen demi menghindari amuk massa. Sedangkan M Isa harus mendapat pertolongan medis di Unit Dokkes Polres lalu dibawa ke RSUD dr Fauziah Bireuen.

Menurut dokter yang menanganiya, korban mengalami bengkak tulang dada, bibir pecah dan bengkak, serta giginya berdarah.

Selain itu, massa juga merusak minibus yang ditumpangi keluarga tersebut, sehingga kaca mobil hampir seluruhnya pecah. Bagian depan mobil itu juga rusak berat. Mobil itu telah diamankan di Mapolres Bireuen.

Kapolres Bireuen, AKBP Heru Novianto SIK, melalui Kapolsek Kota Juang, Iptu Marzuki menerangkan, karena diuber massa dan diteriaki maling, keluarga yang menumpangi minibus itu langsung tancap gas kembali ke arah Kota Bireuen. Alhasil, mereka tak jadi ke pantai Kuala Jeumpa untuk rekreasi.

Saat tiba di jalan Simpang Adam Batre, mobil korban pun bersenggolan dengan mobil pelintas. Saat itulah warga tak lagi meneriakkan maling atau pencuri, melainkan penculik anak-anak, sehingga diamuk massa.

“Korban bukan penculik anak. Anak-anak yang ada di mobilnya adalah anak kandungnya dan anak kakaknya. Di dalam mobil ada tujuh orang, terdiri atas M Isa, istri dan dua anaknya, juga kakaknya serta dua orang anak kakaknya,” kata Kapolsek Kota Juang, Iptu Marzuki.

M Isa (32), korban amuk massa saat ditemui di Unit Dokkes Polres Bireuen mengatakan, ia bersama keluarganya dari Aceh Tengah hendak rekreasi ke Pantai Kuala Jeumpa. Dalam perjalanan mereka berhenti di kedai kelontong untuk membeli makanan ringan.

Ia kemudian melarikan diri ke arah Bireuen untuk mengamankan diri dari kejaran warga yang meneriaki mereka maling. Saking paniknya, mobil yang disopirinya bersenggolan dengan mobil pelintas di jalan Simpang Adam Batree. Pada saat itulah M Isa babak belur diamuk massa karena diteriaki sebagai penculik anak.

“Saya tidak melihat anak kakak saya mengambil uang dalam laci kedai itu. Kami tidak ada niat sedikit pun untuk mencuri, apalagi menculik anak-anak. Yang saya bawa di dalam minibus itu justru anak kandung saya dan dua lagi anak kakak saya,” kata M Isa terbata-bata. 

Dituding Penculik Anak, Satu Keluarga Diamuk Massa


Massa mengamuk dan merusak mobil M Isa (32), asal Pegasing Aceh Tengah, yang diteriaki penculik anak di Jalan Simpang Adam Batre, Kota Juang, Bireuen, Rabu (5/4). M Isa yang babak belur dihajar massa, bukan penculik anak. Tapi anak- anak dalam mobilnya adalah anak kandungnya sendiri bersama istri dan kakaknya.

Isu penculikan anak kembali membuat korban tak bersalah menjadi sasaran amuk massa warga di sekitar Jalan Adam Batree , Kota Juang, Bireuen, Rabu (5/4/20170 siang.
Korban yang merupakan satu keluarga asal Aceh Tengah yang hendak rekreasi ke laut Kuala Jeumpa dengan menggunakan mobil carry merah itu berisi tujuh penumpang itu dihentikan warga dan kemudian digebukin massa yang mengira mereka penculik anak.
Tak berapa lama, aparat kepolisian tiba di lokasi dan sempat menembak senjata ke udara untuk membubarkan massa, dan kemudian membawa korban ke Polsek Kota Juang.
Kapolsek Kota Juang, Iptu Marzuki Oesman kepada media menyebutkan, hasil pemeriksaan sementara, mereka bukan penculik anak, melainkan satu keluarga asal Aceh Tengah.
“Massa mengejar mobil yang ditumpangi korban dari arah Blang Bladeh, Kecamatan Jeumpa sampai ke Jalan Adam Batree, lalu mobil dihentikan dan korban dipukul massa,” sebut Marzuki.
Dikatakan, Marzuki, warga curiga karena, anak itu keluar masuk dari mobil dan berhenti untuk beli makanan, kemudian dikejar warga.
“Kondisi korban saat ini sedang menjalani perawatan sementara, kondisinya lumayan parah, karena digebukin massa,” ungkap Marzuki.
Pantauan KoranBireuen, dua perempuan  yang masih bersaudara itu  bersama tiga anaknya diamankan di sebuah ruangan di Polsek Kota Juang, salah seorang anak korban terus menangis.
Sementara, sopir mobil, dan seorang anak  perempuan yang sempat diamuk massa diamankan dan menjalani perawatan di ruang terpisah di Polsek Kota Juang.
Korban dan keluarganya yang terdiri dari dua perempuan dan tiga anaknya lalu dibawa ke Polres Bireuen untuk pemeriksaan lebih lanjut. 

Naas, Sekeluarga di keroyok massa akibat diteriaki Penculik Anak di Bireuen

Bireuen - Sekeluarga dikeroyok massa akibat diteriaki Penculik Anak di Simpang Adam Batre, Kota Juang Bireuen, Rabu (5/4/2017). Mobil yang mereka tumpangi mengalami rusak parah dan supir harus dilarikan ke rumah sakit. Sedangkan empat penumpang perempuan, dua diantaranya adalah anak-anak, diamankan oleh polisi.

Informasi yang dikabarkan melalui media online aceHTrend, Peristiwa berawal dari teriakan seseorang yang mengatakan bahwa dalam mobil minibus itu ada anak-anak yang diculik. Mobil yang terus melaju itu tiba-tiba mengalami insiden di depan SPBU, Simpang Adam Batre, Bireuen. Ketika berhenti, warga sekitar yang terperovokasi dengan teriakan dari seseorang yang tidak diketahui tersebut, mengamuk dan menghancurkan mobil. Sopir mobil dihajar oleh massa yang marah. Tak terkecuali wanita dewasa yang ada di dalam mobil itu.

Kepada sejumlah wartawan, Kapolsek Kota Juang, Iptu Marzuki Oesman mengatakan , insiden berdarah itu diawali dari kecurigaan beberapa orang yang melihat anak-anak yang naik turun mobil, ketika keluarga itu sedang berbelanja di sebuah warung. Ketika dipanggil, anak itu ketakutan dan lari. 

Mereka satu keluarga yang bertujuan hendak ke pantai. Peristiwa ini diawali saat mereka sedang berbelanja di warung. Warga curiga saat melihat ada anak-anak yang naik turun dari mobil,” terang Kapolsek.


Sopir mobil yang identitasnya belum dibuka itu, kini dirawat di RSUD Fauziah. Sedangkan dua perempuan dewasa dan dua anak-anak yang merupakan anak korban, kini diamankan di Polres Bireuen. Mobil yang mereka tumpangi rusak parah.

Sejumlah warga yang mengetahui peristiwa itu meminta polisi mencari provokator yang meneriakkan keluarga malang itu sebagai kelompok penculik anak.

Ini tidak bisa dibiarkan. Gara-gara kebodohan satu dua orang, orang lain jadi korban. Polisi harus usut tuntas kasus ini. Siapa yang menjadi dalang peristiwa memilukan ini, harus ditangkap,” kata Muslim, warga Bireuen.


Namun Di Media Sosial Tersebar Video Pencurian Sebuah Toko Serba Ada Oleh Pihak Yang Dikeroyok Masa.

Sabtu, 01 April 2017

Rumah Bocor, Warga Miskin Ini Harapkan Bantuan Atap Rumbia

KoranBireuen- Sudah setahun lamanya atap rumah Khatimah bocor, namun karena keterbatasan biaya, tak juga mampu diperbaiki.

Pekerjaan suaminya Marhaban (53) yang hanya seorang tukang becak, hanya bisa memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Bahkan, pernah keluarganya ini tak makan seharian.

Sementara sang istri, Khatimah (45) hanya bekerja sebagai pencuci baju di rumah tetangga.

Hal itu seperti dituturkan Azhari, relawan sosial yang peduli kaum dhuafa, Minggu (2/4/2017).

Dikatakannya, Khatimah bersama suami dan empat anaknya tinggal di Dusun Paya Karing, Desa Seuneubok Aceh, Kecamatan Peusangan, Bireuen itu di rumah yang sangat sederhana dan atapnya sudah bocor.

“Kalau hujan turun tengah malam, terpaksa harus bangun dari tempat tidur karena kehujanan akibat atap rumah yang bocor tersebut. Tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali berdoa kepada Allah SWT dan bersabar menghadapi semua itu,” ungkap Azhari.

Rumah keluarga tersebut, kata Azhari, dibangun diatas tanah saudaranya dengan status hak pakai. Keluarga tersebut tak punya harta apapun , kecuali hanya satu unit becak yang digunakan sang suami untuk mencari nafkah.

Disebutkan Azhari, Khatimah tak berharap muluk-muluk agar rumahnya dibangun, tapi dia hanya memohon bantuan ada yang menyumbangkan daun rumbia untuk memperbaiki atap rumah mereka yang bocor tersebut. Hanya itu saja bantuan yang diharapkan Khtaimah.
“Rumah mereka selalu didata untuk bisa mendapatkan bantuan pemerintah melalui pihak kecamatan, namun sampai hari ini tak juga mendapatkan bantuan,” sebut Azhari.

Azhari berharap pada semua pihak dan pemerintah agar dapat membantu keluarga ini.”Saya sudah ke rumah tersebut dan melihat langsung kondisi keluarga tersebut. Mereka sangat pantas dibantu dan untuk mendapat kehidupan yang layak,” harap Azhari.

Selasa, 28 Maret 2017

Pemkab Bireuen Segera Bangun Dermaga Darurat di Krueng Tingkeum

BIREUEN - Dalam waktu dekat ini, Pemerintah Kabupaten Bireuen melalui Dinas Sosial setempat segera membangun dermaga darurat di kawasan bantalan Krueng Tingkeum, Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen.
Dinas Sosial Bireuen segera membangun dermaga darurat, di dua titik bantalan sungai Krueng Tingkeum, Kutablang, Bireuen, Selasa (28/3/2017)

Dermaga tersebut dapat dimanfaatkan untuk pendaratan atau merapatnya boat-boat tradisional, alat penyeberangan anak sekolah dan masyarakat di kawasan jembatan Krueng Tingkeum, Kutablang.

Kadis Sosial Bireuen, Murdani, Selasa (28/3/2017) menjelaskan, dermaga itu diharapkan dapat dimanfatkan dan memudahkan naik turunnya para penumpang, terutama anak-anak.

“Kita akan mengupayakan membangun dermaga di dua titik bantalan sungai, baik arah barat maupun arah timur dan berdekatan dengan jembatan Krueng Tiungkeum,” katanya usai menyerahkan satu unit speedboat kepada Camat Kutablang, Rusli.

Tujuan dibangunya dermaga darurat ini, tambah Murdani, sebagai bentuk kerjasama dengan para pengelola boat di Krueng Tingkeum.

“Bahkan pengelola boat di sana juga akan menggratiskan ongkos angkutan bagi anak sekolah yang bereda di kawasan itu,” katanya.

Sementara untuk penumpang umum, atau masyarakat biasa tetap boleh dipungut ongkos biaya sekadarnya, untuk kebutuhan operasional sebesar Rp 3000 per orang.

Baca juga: Jembatan Kutablang Bireuen Hampir Rampung Dibongkar

“Agar dapat menjaga keselamatan angkutan sungai ini, bagi pemilik boat di Krueng Tingkeum juga tetap akan kita membekali dengan memberikan baju pelampung,” kata Murdani.

Selasa, 21 Maret 2017

Diduga PT Takabeya Kerjakan Jalan Alternatif Sebelah Barat Utara Asal Jadi

Bireuen - Setelah jembatan penghubung Banda Aceh Medan ini di bongkar sejumlah kendaraan roda dua maupun roda empat dialihakan ke jalan aternatif sesuai dengan hasil rapat para unsur forkopimda kebupaten Bireuen beberapa waktu yang lalu, Selasa (21/03).

"M.nasir (40) warga gampong rancong kecamatan kutablang mungunggkapkan kekecewan terhadap kenerja kontraktor yang dinilai pekerjaan proyek pengerasan jalam alternatif, yang saat pengerjaan nya dinilai asal jadi, menurutnya ini sangat merugikan para pengguna jalan tersebut.

Menurutnya, Proyek yang dikerjakan dengan anggaran puluhan milyaran tersebut terkesan pengerjaannya asal jadi, yang dikerjakan oleh PT. Takabeya.

Tambahnya, jalan yang saat ini digunakan untuk melintas itu belum lama digunakan. Dan di jalan yang baru digunakan ini sudah banyak menelan korban, yang diakibatkan oleh badan jalan sudah mereng dan juga banyak yang sudah berlumbang ini dikarnakan faktor pengerjaan nya asal jadi.

Padahal jalan tersebut sudah menghubakan anggaran puluhan milyar ini sungguh sangat disayangkan karena belum bisa digunakan secara efektif oleh para pengguna jalan,"ungkapnya.

Ia juga menambahkan apabila hal tersebut tidak segera di indahkan oleh pihak rekanan maka kami akan melakukan blokade jalan aternatif yang selama ini digunakan oleh para pengguna jalan tersebut,"ungkapnya dengan nada kesal.

Saat dikomfirmasi pihak rekanan dari PT Takabeya melalui pesan WA, mengatakan dalam pesan yang dikirimnya dalam bahasa Aceh yang mengatakan,"Kamoe melaksanakan jalannya ka sesuai arahan dinas, mohon konfirmasi mantong ke dinas terkait bahna info yang lengkap, "kami laksanakan jalan itu sudah sesuai arahan dinas mohon komfom aja ke dinas terkait biar infonya lengkap dalam pesan yang dikirim ke wartawan media ini
Dan saat berita ini di terbitkan wartawan media ini belum bisa melakukan komfirmasi dengan pihak dinas terkait.

Senin, 20 Maret 2017

Konflik Pilkada Jangan Hambat Pembangunan Bireuen

BIREUEN - Sengketa Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Aceh sangat merisaukan masyarakat. Karena sengketa itu dikhawatirkan akan turut berdampak pada realisasi anggaran dan pembangunan yang ujung-ujungnya merugikan publik.

"Kondisi ini membuat hati saya jadi galau. Apalagi jika kericuhan ini kemudian memicu emosi elit politik maka otomatis akan berdampak terhadap tata kelola pemerintahan, termasuk realisasi anggaran," terang Edi Saputra, Bos dari Obama Market yang akrab disapa Edi Obama.

Hampir di seluruh Aceh, pemenang Pilkada tidak diterima oleh rival politik masing-masing. Namun menurut Edi, fakta itu bukan masalah besar seandainya tiap elit mampu meposisikan dirinya secara lebih arif dan bijak.

"Yang jadi masalah dan ditakutkan semua orang adalah terjadinya gejolak ala preman kampung. Gaduh sesama sendiri, orang Aceh lawan orang Aceh, siapa pun yang menang pada ujung-ujungnya yang kalah tetap orang Aceh," ujarnya, Senin (20/3/2017.

Obama sang bos Market ini menitikberatkan perhatiannya terhadap kebijakan dan realisasi anggaran agar tidak terhambat akibat konflik tersebut. "Jangan hanya gara-gara konflik Pilkada, anggaran pembangunan Aceh teronggok di kas daerah, dibiarkan beku sehingga menghambat pembangunan.

Jangan korbankan publik, rakyat Aceh butuh pembangunan," ujar putra salah seorang penggiat bisnis di Aceh asal Bireuen ini.

Kegaduhan politik yang terjadi selama ini disebut hanya sebagai urusan pergantian pejabat pemerintahan di Aceh. Oleh karenanya tidak boleh merugikan kepentingan masyarakat.

"Untuk apa pemerintah kalau toh akhirnya membuat masyarakat sengsara?," kata Edi

Selain mengulas dampak yang timbul akibat tidak berjalannya anggaran, Edi juga menyorot kebijakan birokrasi yang telah secara sengaja membiarkan kondisi itu terjadi. "Banyak rekan-rekan sesama pebisnis bertanya kepada saya soal isu anggaran di pemerintahan Aceh agar jangan dipakai dulu.

Saya bilang itu salah. Kalau sekarang tidak digunakan, kapan lagi?
Sementara ini sudah hampir bulan April, sayangilah masyarakat kita," ucapnya. Untuk itu, Edi Obama mengingatkan para pemangku kebijakan agar berpikir jauh ke depan demi kemajuan daerah.

"Saya berharap seluruh aparatur pemerintah mengutamakan kepentingan rakyat dari pada kepentingan pribadi dan kelompok masing-masing," tandasnya.(M. REZA)

Gunakan Uang Palsu, Dua Warga Bireuen Dibekuk Polisi

BIREUEN - Dua pengedar uang kertas palsu, berhasil dibekuk Tim Opsnal Polres Bireuen. Keduanya warga Gampong Geurugok, BY, (38)  dan warga Pulo Gisa, Kecamatan Gandapura, Bireuen, AM (38). Dari keduanya, disita enam lembar uang kertas palsu pecahan Rp20 ribu serta satu lembar uang kertas palsu pecahan Rp50 ribu.

Kapolres Bireuen, AKBP Heru Novianto, melalui Kasat Reskrim, Iptu Riski Adrian kepada GoAceh, Senin (20/3/2017) menjelaskan, kedua ditangkap pada Minggu (5/3/2017) sekira pukul 11.00 WIB di kawasan Lingka Kuta, Gandapura, Bireuen. Menurut Riski Adrian, sebelum ditangkap, Sabtu (4/3/2017) sekira pukul 09.00 WIB, kedua tersangka ini sempat membeli rokok di tiga unit  kios di kawasan Lingka Kuta, Gandapura dengan menggunakan uang kertas palsu.
"Di kios pertama kedua tersangka ini membeli sebungkus rokok Marlboro serta melunasi hutangnya sebesar Rp10 ribu dengan lembaran uang kertas palsu pecahan Rp20 ribu terbaru," ungkapnya.
Selanjutnya,  pada kios kedua, tersangka kembali membeli sebungkus rokok Surya dan sebungkus rokok Marlboro menggunkan dua lembar uang kertas palsu pecahan Rp20 ribu.
Ads
"Lalu di kios ketiga dan masih di kawasan Lingka Kuta, tersangka ini kembali membeli sebungkus rokok Marlboro, rokok Surya dan dua bungkus rokok Djisam Soe serta satu bungkus rokok Djisam Soe Black, dan satu kilo minyak goreng Bimoli," terangnya.
Dalam transaksi itu, kedua tersangka ini juga membayar dengan menggunakan dua lembar uang kertas palsu pecahan Rp20 ribu serta pecahan Rp50 ribu.
Setelah melakukan pembayaran, tambah Riski Adrian, pemilik kios pertama merasa curiga dengan uang yang dibayarkan tersangka, lalu pemilik kios pertama menghubungi pemilik kios kedua dan ketiga.
“Ternyata benar uang yang serahkan oleh tersangka ini adalah uang kertas palsu, setelah itu pemilik kios melaporkan hal tersebut ke Polsek Gandapura,” katanya.
Sekira pukul 21.00 WIB, kedua tersangka ini ditangkap  oleh Tim Opsnal Polres Bireuen dan diserahkan kepada unit Tipiter Sat Reskrim untuk proses lebih lenjut.

Sabtu, 18 Maret 2017

Melawan Derasnya Arus Krueng Tingkeum

MURID sekolah dasar menumpang boat untuk menyeberangi Krueng Tingkeum, Kutablang, Bireuen, saat pulang sekolah, Sabtu (18/3).

DERU mesin boat kayu meraung membelah derasnya arus sungai Krueng Tingkeum, Kutablang, Bireuen, Sabtu (18/3) siang. Raut cemas terlihat jelas di wajah beberapa bocah perempuan berseragam Pramuka sekolah dasar yang baru pulang dari sekolah. Tangan-tangan mungil mereka menggenggam erat bagian sisi boat. Sementara bocah-bocah laki-laki justru menikmati momen tersebut, bercengkrama dengan teman. Ada juga yang duduk di atas sebilah papan, sambil menyilangkan kaki.
Perjuangan para bocah SD ini masih berlanjut saat boat itu merapat ke sisi lain Krueng (sungai) Tingkeum. Satu persatu anak-anak ini naik ke daratan yang tak bersemen. Tangan-tangan mungil mereka disambut oleh penyedia jasa angkutan boat yang berada di darat. Satu-persatu mereka menyetorkan uang Rp 2.000, untuk ongkos jasa menyeberang sungai.
Rutinitas baru di Krueng Tingkeum ini mulai berlangsung sejak Rabu (15/3), tiga hari setelah jembatan yang membelah sungai ini ditutup total pada, Minggu (12/3). Amatan Serambi Sabtu (18/3), jembatan rangka baja yang membelah Sungai Tingkeum ini, tidak bisa dilintasi lagi, termasuk oleh pejalan kaki. Seluruh lantai jembatan ini sudah dibongkar untuk dibangun baru. Jembatan itu sudah sangat miring dan hampir patah dihantam arus Krueng Tingkeum beberapa waktu lalu.
Semenjak jembatan ini ditutup total, arus kendaraan dialihkan ke jalur alternatif dengan jarak tempuh bertambah hingga 8 kilometer untuk kembali tiba di ujung (seberang) jembatan. Jarak tempuh yang sangat jauh, ditambah kondisi jalan alternatif yang jelek dan berdebu ini, membuat warga sekitar lebih memilih menyeberangi sungai untuk pergi ke pasar Kutablang. Meski resiko yang dihadapi lebih besar, karena arus sungai Tingkeum tergolong cukup deras.
Sabtu kemarin, di bantaran Krueng Tingkeum, tepatnya di bawah jembatan rangka baja yang sudah dibongkar itu, terdapat dua kapal motor (boat) yang masing-masingnya berkapasitas 10 orang penumpang. Kedua boat itu mengangkut anak sekolah dan warga yang bermukim di bagian barat jembatan (Krueng Tingkeum Manyang) untuk keperluan berbelanja maupun bersekolah di kawasan pasar Kutablang.
Bocah-bocah SD itu nekad mengarungi derasnya arus Krueng Tingkuem agar bisa cepat sampai di sekolah. Karena jika menumpang angkutan umum darat melalui jalur alternatif, jarak tempuhnya mencapai 8 kilometer, belum lagi jalannya berdebu karena tidak beraspal. Sementara dengan menyeberangi sungai, jarak tempuh ke sekolah mereka hanya sekitar 1 kilometer.
Anak-anak ini hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 2.000 untuk ongkos sekali menyeberangi sungai. Sementara bagi orang dewasa, dipatok ongkos Rp 3.000 per penumpang.
Pantauan Serambi kemarin, selain anak-anak sekolah, beberapa ibu-ibu yang hendak pergi ke sawah terlihat menaikkan sepedanya ke atas boat. Beberapa warga yang hendak berbelanja di pasar Kutablang, juga menggunakan jasa kedua boat itu. Beberapa balita terlihat menangis saat mesin boat meraung menyeberangi sungai tersebut.
“Sejak jembatan Krueng Tingkeum ini dibongkar tiga hari lalu, untuk pergi dan pulang sekolah kami terpaksa naik boat. Kami sangat takut saat menyeberangi sungai karena arus air sungai cukup deras,” ujar Ikhsan (10), murid kelas IV MIN Kutablang, saat ditemui Serambi bersama teman-temannya di bantaran Krueng Tingkeum usai pulang sekolah kemarin.
Hal hampir senada juga dikatakan Rohana (52), warga Desa Blang Panjoe, Kutablang. Ibu yang bekerja sebagai petani ini mengaku sejak tiga hari lalu terpaksa menaikkan sepedanya ke atas boat saat menyeberangi sungai, untuk bisa sampai ke sawah guna mengasapi dapur keluarganya.
“Kalau saya naik sepeda hingga ke sawah lewat jalan alternatif jaraknya mencapai 10 kilometer lebih, saya tidak sanggup dayung sepeda. Mau tidak mau saya harus naikkan sepeda ke dalam boat,” kata Rohana.
Sementara Saiman (38), warga Desa Kulu mengatakan, warga desanya sangat mengharapkan kepada pemeritah untuk menyediakan boat khusus tanpa harus bayar dan bus sekolah untuk anak-anak sekolah.
“Biasanya anak-anak naik sepeda ke sekolah, sekarang naik boat harus bayar dan mengancam jiwa anak-anak saat menyeberang sungai. Kami butuh bantuan boat gratis dari pemerintah untuk membantu anak sekolah dan warga kurang mampu, karena kalau menggunakan jasa boat pribadi, warga harus menambah biaya untuk ongkos boat pulang pergi setiap hari,” kata Saiman.

Hasanuddin Darjo: Petani di Aceh Butuh Perhatian Serius Pemerintah

BIREUEN - Untuk meningkatkan hasil usaha dan adanya putaran ekonomi di tengah masyarakat, maka petani harus mendapat perhatian serius dari Pemerintah Aceh dan pihak terkait lainnya.

Demikian dikatakan Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Hasanuddin Darjo kepada GoAceh, Sabtu (18/3/2017).

"Apapun pekerjaan yang dilakukan, semuanya harus berangkat dari hal yang kecil dan tetap dimulai dari bawah baru ke hal-hal yang lebih besar," kata Hasanuddin.

Ia mengakui, hasil pertanian seperti lada, cabai, bawang, sayur dan buah-buahan di beberapa daerah di Aceh merupakan rangkaian kecil,  tapi bisa mendatangkan hasil serta dapat meningkatkan taraf hidup semua kalangan, tidak terkecuali para petani.

Untuk mendapatkan hasil usaha petani dan berdampak pada putaran ekonomi di Aceh, maka pemerintah harus segera mengubah pola lama dengan lebih fokus memperhatikan sektor pertanian di Aceh yang mulai redup.

Saat disinggung masalah perombakan kabinet di Pemerintah Aceh saat ini, Hasanuddin Darjo mengatakan, kalau itu bukan ranah dirinya.

Menurutnya, setelah diberi amanah, tugasnya adalah bekerja dengan baik, taat pada pimpinan, dan harus mampu meningkatan hasil yang dicapai di lapangan.

“Dengan harapan, sektor ekonomi Aceh mampu bangkit melalui dunia pertanian,” pungkasnya.

Jumat, 17 Maret 2017

Agen Judi Togel Dicambuk 4 Kali di Halaman Masjid Agung Bireuen

Eksekutor menghujani cambukan ke tubuh, Sai terpidana jarimah maisir dengan 4 kali cambuk, di halaman Masjid Sultan Jeumpa, Bireuen, Jumat (17/3/2017).

BIREUEN - Terpidana jarimah maisir agen judi togel berinisial Sai, mendapatkan 4 kali cambukan, setelah dikurangi 2 kali cambukan sesuai putusan Mahkamah Syariah Bireuen di halaman Masjid Agung Sultan Jeumpa, Kabupaten Bireuen, Jumat (17/3/2017) petang.

Bupati Bireuen dalam sambutannya yang diwakili Assisten I Setdakab Bireuen, Mursyid menyebutkan, hukuman cambuk yang dilakukan tersebut bukanlah sebuah penzaliman tapi edukatif kepada masyarakat, menjaga keluarga dari perbuatan yang tercela.

“Kepada yang tercambuk menjadikan pelajaran beharga serta tidak mengulangi perbuatannya kemuadin hari. Ini juga salah satu pembelajaran bagi masyarakat, agar tidak terlibat dengan judi togel dan hal lain yang dilarang agama dan hukum negara,”  harapnya.

Terdakwa Sai mendapat 4 kali cambukan, setelah amar putusan sebanyak 6 kali cambuk, dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan sementara, masing-masing 2 kali cambuk, menjadi 4 kali cambuk.

Sebelumnya terdakwa ini ditangkap Kamis 2 Februari 2017, sekira pukul 18.30 WIB, akibat terlibat pidana jarimah maisir (judi togel), di depan Toko MHDS, Meunasah Capa, Kota Juang, Bireuen.
Sai diketahui sebagai agen togel yang mendapat keuntungan sebanyak 20 persen dari hasil penjualan togel yang dibeli dari pemain judi tersebut.

Saat ditangkap, ditemukan barang bukti beruapa uang hasil penjualan togel sebesar Rp 365.000, perbuatan terdakwa melanggar Pasal 18 Qanun Aceh, nomor 6 Tahun 2014.

Sebelum dan hingga berakhirnya proses ukhubat cambuk itu, di halaman Masjid Agung Sultan Jeumpa itu sepi dari pengunjung, kecuali petugas Satpol PP dan WH dan undangan.

Bocah SD Ini Dagang Asongan Buat Tabungan Lebaran

Bocah laki-laki itu menenteng dagangannya di tangan sambil melewati satu meja ke meja lainnya. “Ranup Bang” tawarnya singkat kepada sejumlah pria pelanggan sebuah warkop di seputaran Jalan T Hamzah Bendahara, Bireuen.

Seorang pemuda kemudian membeli sirih yang ditawarkan anak lelaki penjaja asongan itu. “Tiga lima ribu rupiah Bang,” katanya, sambil menyodorkan sirih serta mengambil uang pecahan lima ribuan dari tangan pemuda tersebut.

Muhammad Mirza, begitu nama lengkap siswa SD Bukit Teukuh, Kota Juang Bireuen itu memperkenalkan dirinya saat ditanyai sejumlah wartawan yang sedang nongkrong di warkop yang menjadi “markas” para kuli tinta di Bireuen tersebut, Kamis (16/3/2017) sore kemarin.

Pelajar kelas 5 SD itu mulai berjualan asongan berupa sirih manis, kacang, telur puyuh serta kuaci dan sejak pukul 16.00-18.00 Wib di seputaran jalan tersebut, kadang juga dia menjual daganganya di pantai terdekat, seperti Kuala Raja dan Ujong Blang, Kecamatan Kuala, Bireuen.”Biasanya jualan di laut pada Sabtu dan Minggu,” sebutnya.

Dari hasil berdagang asongan milik orang lain itu, setiap hari dia memperoleh keuntungan bersih Rp35 ribu, kalau hasil penjualnya Rp180 ribu.”Kalau dagangan yang laku hanya Rp50 ribu, maka saya mendapatkan Rp 7 ribu saja,” ungkapnya singkat.

Anak ketiga dari lima bersaudara itu, tinggal bersama ibunya, Salwani, yang sehari-harinya membuat tepas bambu, dan ayah tirinya, pekerja di warung kopi.
Dia bersama adiknya, yang satu kelas 2 SD, satunya lagi masih 4 tahun itu dan keluarganya tinggal di Gampong Blang Reulieng, Kota Juang, Bireuen.

Sementara abangnya yang tamatan SMA bekerja di Kutacane, Aceh Tenggara, berjualan mie.

Ayah kandung Mirza sudah lama meninggal dunia sejak dia masih berusia 3 tahun. Dia mau menjadi pedagang asongan demi membeli pakaian, jajan dan kebutuhan lainnya saat lebaran nantinya. “Uang hasil berjual saya tabung untuk persiapan lebaran,” ujarnya singkat.

Mirza mengatakan, dia pernah menjadi juara hafalan surat pendek di sekolahnya. Menurut bocah 11,5 tahun itu, selama ini berjualan asongan itu tak menggangu sekolahnya. Karena dia berjualan sore hari. “Saya gak malu berjualan seperti ini, harapan saya cuma agar dagangan setiap harinya laku, itu saja,” pungkas polos.

Anak-Anak Turut Saksikan Prosesi Uqubat Cambuk di Bireuen

BIREUEN- Eksekusi hukuman cambuk terhadap satu terpidana maisir (judi) di halaman Mesjid Agung Bireuen, Jumat (17/3/2017) disaksikan anak-anak dibawah umur.

Pantauan di lokasi, tampak anak-anak di bawah umur berbaur dengan orang dewasa dikursi para undangan yang disediakan panitia.

Meski akhirnya petugas dapat menghalau atau melarang mereka untuk menyaksikan eksekusi hukuman cambuk tersebut.

Seharusnya panitia sebelum eksekutor melaksanakan tugasnya, panitia terlebih dahulu harus melakukan sterilisasi lokasi, supaya anak-anak dibawah umur tidak berada di lokasi itu, pada saat eksekusi dilaksanakan.

Dikhawatirkan bagi anak-anak yang ikut menyaksikan eksekusi hukuman cambuk tersebut, bisa berdampak buruk terhadap psikologis mereka nantinya, selain itu, juga melanggar aturan yang sudah ditetapkan dalam qanun.