Tampilkan postingan dengan label Pijay. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pijay. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 April 2017

Terkesan Asal Jadi, Warga Trienggadeng Keluhkan Mutu Rumah Dhuafa

MEUREUDU - Martonis (49) selaku penerima manfaat rumah dhuafa di Gampong Mee Peuduek, Kecamatan Trienggadeng, Pidie Jaya (Pijay) mengeluhkan mutu rumah bantuan dhuafa yang dibangun 2016 lalu dengan kualitas asal jadi.

"Plasteran dinding rumah tidak rata, kosen kamar mandi tidak ada sehingga engsel pintu disangkut pada dinding jadi mudah copot,"sebut Martonis, Senin (17/4/2017).

Selain itu, kata ayah enam anak itu, loteng (plafon) dari triplek dipasang dengan banyak sambungan sehingga terkesan kurang rapi.

Demikin juga kayu profil dengan banyak sambungan. Padahal rumah bantuan serupa di Pijay yang dibangun pada program 2016 lalu rata-rata dengan kondisi lebih sempurna.

M Yusuf Mahmud, di Dusun Bakti Gmpong Bate Puteh, Kecamatan Langsa Lama, berharap rumah gubuknya itu bisa tergantikan dengan bantuan rumah duafa pemerintah.

Sabtu, 04 Maret 2017

Kodim Pidie Bangun 14 Unit Rumah Layak Huni di Pidie dan Pijay

SIGLI - Kodim 0102/Pidie membangun 14 unit rumah layak huni yang diperuntukkan bagi masyarakat miskin Lanjut Usia (Lansia) di dua Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya pada programkerjasama Kodam Iskandar Muda (IM) dengan Kementerian Sosial RI dalam wilayah Kodim 0102/Pidie Tahun Anggaran 2017.

Ke-14 pembangunan rumah layak huni Lansia itu masing-masing di Kabupten Pidie dengan jumlah delapan unit yang tersebar di Kecamatan Padang Tiji satu unit, Indra Jaya satu unit, Mutiara Barat dua unit, Glumpang Tiga satu unit, dan Batee dua unit. Sementara di Kabupaten Pidie Jaya, hanya enam unit yang disebar di Kecamatan Bandarbaru empat unit, dan Kecamatan Meurah Dua dua unit.
"Ke-14 unit rumah layak huni yang diperuntukkan bagi Lansia miskin pada tahun ini diperkirakan rampung dalam tempo sepuluh hari dengan melibatkan sebanyak 50 personel TNI dari jajaran Kodim 0102/Pidie,"sebut Dandim 0102/Pidie, Letkol Inf Usik Samwa Parana Minggu (5/3/2017) setelah prosesi peletakan batu pertama di Gampong Dayah Syaref, Mutiara, Pidie .

Pembedahan rumah Lansia ini mencakupi seluruh fisik bangunan berupa dinding papan, lantai semen, atap seng serta dilengkapi Mandi Cuci Kakus (MCK). Diperkirakan masih ada 30 unit lagi pembangunan rumah Lansia ini dibangun kembali setelah dilakukan pendataan lebih lanjut yang direncanakan pada program tahun berikutnya.
"Program ini sebagai wujud nyata kontribusi TNI dalam mensejahterakan rakyat miskin,"jelasnya.

Sabtu, 25 Februari 2017

Warga Pijay Kembali Tersentak Diayun Gempa

MEUREUDU - Menyusul terjadinya gempa bumi, Sabtu (25/2) sekitar pukul 15.20 WIB, warga Pidie Jaya (Pijay) kembali tersentak.

Mereka yang berada dalam rumah, pertokoan atau sejenisnya berhamburan keluar untuk menghindari hal-hal yang tak diingini.

Kendati guncangannya tidak seberapa dan berlangsung dalam waktu relatif singkat (hanya beberapa detik), namun cukup membuat warga terkejut.

Terlebih lagi mereka yang saat kejadian kebetulan sedang dalam pertokoan atau rumah berkontruksi permanen serta bertingkat.

Begitu merasakan guncangan, spontan terkejut dan berucap, “gempa, gempa,” ucap sejumlah warga sambil berlarian keluar.

Setelah kondisinya terlihat aman, warga pun kembali beraktivitas, walau sebagian mereka kelihatan agak pucat dan trauma.

Sebagian warga yang tadinya baik di ibukota kecamatan, di perjalanan atau sedang duduk-duduk sesama teman bergegas pulang ke rumah untuk mencari tahu kondisi yang dialami pasca gempa.

“Tadi saya bergegas pulang dan Alhamdulillah, suasana aman-aman saja,” kata Yunus seorang warga Muaradua.

Ratusan Bidan Dinkes Pijay yang sedang melaksanakan sebuah acara di lantai dasar kantor bupati setempat, juga berlarian ke pintu keluar.

Tak ayal sebagian mereka sempat terbentur sesama karena berebutan keluar. Menyadari suasana kembali normal, mereka pun kembali masuk.

Hasil penelusuran ke sejumlah kawasan termasuk mencari tahu pada beberapa sumber seperti di Meureudu, Meurahdua, dan Ulim, pasca gempa tidak ditemui korban jiwa serta bangunan yang roboh.

Di sejumlah warung kopi warga masih membicarakan gempa yang baru saja terjadi.

Selasa, 07 Februari 2017

Warga Bireun Meninggal Akibat Kecelakaan di Pidie Jaya

MEUREUDU - Insiden Kecalakaan Lalulintas (Lakalantas) di Gampong Reudeup, Kecamatan Panteraja, Pidie Jaya (Pijay) merengut nyawa warga Kabupaten Bireun, NR binti H Syeh (50). Warga Gampong Tingkem Manyang, Kecamatan Kuta Blang itu menghembuskan nafas terakhir akibat sepeda motor yang dikendarainya bersenggolan dengan sepeda motor jenis honda Beat, Selasa (7/2) sekira pukul 12.30 WIB.

Kapolres Pidie, AKBP M Ali Kadhafi SIK melalui Kapolsek Panteraja, Iptu Mahyuddin, Rabu (8/2/2017) mengatakan, insiden kecelakaan lalulintas hingga berujung merengut korban jiwa itu terjadi persis di ruas jalan nasionl Banda Aceh – Medan, tepatnya di Gampong Reudep Kecamatan Panteraja, Pidie Jaya.

Kecelakaan melibatkan Sepmor jenis honda beat, BL 3730 LAP bersenggolan dengan Sepmor sejenis B 4714 TFS, Selasa (07/02) sekira pukul12.30 WIB. Kedua kendaraan ini melaju dari satu arah.
"Sepmor Beat BL 3730 LAP yang dikendarai oleh NR binti Syeh ( 50) Warga Gampong Tingkem Manyang, Kecamatan Kuta Blang, Bireuen yang berboncengan dengan INS (20) bersenggolan dengan Sepmor sejenis, B 4714 TFS yang dikendarai oleh M Y bin Raman (59) warga Gampong Reudep, Panteraja, Pijay,"sebut Iptu Mahyuddin.

Ekses dari lakalantas itu,  pengemudi Sepmor BL 3730 LAP, NR bin H Syeh (50) meninggal dunia ditempat kejadian perkara akibat berbenturan dengan badan jalan hingga mengalami luka dan pendarahan hebat sehingga, nyawanya tak tertolong. Sementara pengedara Sepmor,  B 4714 TFS yang dikendarai oleh M Y bin Raman (59), hanya mengalami luka lecet dibagian lengan kanan.

Jumat, 03 Februari 2017

Pemkab Pidie Jaya Bangun Jembatan Rangka Baja di Lhok Duek

MEUREUDU - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pidie Jaya (Pijay) membangun jembatan rangka baja atau Bailey di Gampong Lhok Duek, Kecamatan Bandarbaru karena jembatan gantung yang telah berusia puluhan tahun ini kondisinya tak layak lagi.

Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pijay, Rizal Fikar ST Jumat (3/2/2017) mengatakan, pembangunan jembatan rangka baja di pedalaman Kecamatan Bandarbaru itu guna mendukung akses kelancaran mobilisasi bagi ribuan warga di lima gampong. "Terutama warga Gampong Lhok Duek, Cubo, Blang Baro, Alue Mirah, dan Jinjiem,"ujarnya.

Dijelaskan‎, selama puluhan tahun, ribuan warga terpaksa melintasi akses jembatan gantung sepanjang 70 meter yang menyeberangi sungai Krueng Cubo dengan kondisi memprihatinkan.
Sehingga dengan dasar pertimbangan itulah, Pemkab pada 2016 lalu mengalokasikan dana Anggaran Pendapatan Belanja Kabupaten (APBK) Rp 10 miliar untuk membangun akses penyeberangan bagi warga dipedalaman kecamatan paling barat di Pijay itu.


Ditargetkan jembatan itu rampung pada Maret 2017 setelah melalui proses Adendum (Perpajangan masa kerja) dan pihak dinas mengharapkan kepada rekanan pelaksana dapat menyelesaikan tepat waktu‎.


Jumat, 20 Januari 2017

Enam Gampong di Bandarbaru Tergenang

MEUREUDU - Akibat hujan deras sepanjang Jumat (20/1) malam serta luapan sungai Krueng Putu, Kecamatan Bandarbaru, Pidie Jaya, sebanyak enam gampong di kecamatan setempat tergenang air luapan sungai.


Sekira pukul 21.30 WIB malam telah menyebabkan enam gampong, tiga sekolah, dan dua kantor tergenang air setinggi 25 sampai 40 Cm. Meski tidak ada korban jiwa dan harta benda, hingga saat ini air secara perlahan-lahan telah mulai surut sejak Sabtu (21/1/2017) dini hari pukul 03.00 WIB.

Keenam gampong yang tergenang diantaranya Gampong Ara, Udeung, Baroh Cot, Sagoe Langgien, Keudee Lueng Putu, dan Cut Langgien.

Sementara dua kantor yang ikut tergenang yaitu Polsek Bandarbaru, dan Koramil Bandarbaru. Selebihnya, tiga kompleks pendidikan atau sekolah yang ikut terendam yaitu SMPN 1 Bandarbaru, SMAN 1 Bandarbaru, dan Dayah Jeumala Amal.

Selasa, 27 Desember 2016

Aneh, Pasca Gempa Mesjid di Aceh Ini Tidak bisa di robohkan alat Berat

Kondisi Masjid Paru di Desa Paru Keude, Kec. Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya - Aceh Pasca gempa

Pidie Jaya –Masjid Paru atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Krak Aceh bikin geger warga Pidie Jaya Aceh, Pasalnya masjid yang terletak di Desa Paru Keude, Kec. Bandar Baru Kab. Pidie Jaya, aceh itu tidak dapat dirobohkan oleh alat berat sekalipun.

Gempa yang melanda Kabupaten Pidie Jaya pada 7 Desember 2016 lalu telah membuat bangunan masjid rusak berat, beberapa tiang penyangga masjid  patah dan bagian atas bangunan bergeser parah sehingga bangunan Masjid tidak dapat digunakan untuk beribadah lagi.

Hal itu membuat warga dan pemerintah desa setapat mengambil keputusan untuk merubuhkan Masjid ini dengan mendatangkan alat berat pada Minggu (25/12/2016).

Ibrahim warga paru menerangkan, Kejadian aneh terjadi ketika Beko menyentuh bangunan tiba tiba alat berat itu mati dan mengepulkan asap dari bagian mesinnya.

Tak putus asa, warga kembali mendatangkan 2 unit alat berat lain, Selasa (27/12/2016) tapi  lagi lagi keanehan terjadi karena kedua Becho itu tiba tiba rusak dan  beberapa gigi becho rontok saat menggeruk bangunan Masjid.

Pasca kejadian, salah seorang operator alat berat bernama Zainal Abidin dirawat di Rumah Sakit Chiek ditiro Sigli Aceh, ia mengalami sakit dan bengkak pada wajahnya.

Pimpinan Pondok pesantren Darussa’dah, Ustadz Waled Sanusi mengaku bermimpi  dan diwasiatkan agar Masjid Paru tidak boleh dirobohkan. ia kemudian menceritakan mimpinya ke aparat desa dan warga Paru dan menyarankan agar tidak membongkar Masjid sesuai wasiat dalam mimpinya.

Aparat desa dan warga kemudian menggelar Musyawarah, disepakati Masjid Paru tidak dirobohkan dan akan dipagar, selanjutnya disepakati pembangun Masjid baru disampingnya.

Desa Paru merupakan salah satu daerah yang mengalami kerusakan cukup parah akibat gempa, tercatat 80 unit rumah Roboh atau rusak total. dan hingga saat ini warga masih mengungsi dan tidur ditenda-tenda di halaman masjid Paru.

Senin, 19 Desember 2016

Warga Tutup Objek Wisata Pantai Manohara Karena banyak muda-mudi Melanggar Syariat


Pidie Jaya- Objek wisata bahari Manohara yang terkenal di Kabupaten Pidie Jaya kini tidak bisa lagi dikunjungi wisatawan setelah warga setempat menutup total akses menuju ke lokasi tersebut paska musibah gempa menimpa kabupaten itu

Geuchik Gampong Balek Azhar M. Gade kepada wartawan, Minggu (17/12) mengatakan, penutupan wisata Manohara karena selama ini banyak muda-mudi yang berkunjung ke pantai itu melakukan perbuatan melanggar Syariat Islam sehingga mengundang mala petaka.

“Warga telah sepakat untuk menutup lokasi wisata pantai Manohara dan kemungkinan besar tidak akan dibuka lagi,”katanya.

Pasca musibah gempa sambung Azhar, tanah di lokasi wisata Manohara terbelah membentuk garisan lobang dengan kedalaman beberapa meter. Bahkan, mengeluarkan air belerang.

“Tentunya musibah ini sebuah peringatan untuk kita semua, jadi kami sepakat menutup lokasi wisata ini,"ujarnya.

Dari Pantauan di jalan menuju lokasi wisata telah dipasang spanduk yang bertuliskan "Stop!!! Pantai Manohara ditutup selama-lamanya, mohon maaf bagi seluruh pengunjung."

Sebagaimana diketahui, pantai Manohara merupakan salah satu objek andalan di Pidie Jaya, maka tak heran setiap hari libur sangat ramai dikunjungi wisatawan lokal mupun luar daerah.

Manohara Titik Gempa Pijay

MEUREUDU - Tim Ahli Geologi dan Geofisika BMKG menyatakan, gempa bumi yang berpusat di Pidie Jaya, Rabu (7/12) pekan lalu, diakibatkan oleh adanya pencairan tanah (soil liquefaction) di Kawasan Pantai Manohara, Gampong Meunasah Balek, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya.

“Kerusakan terparah pascagempa bumi yang berpusat di Pidie Jaya terdapat di daerah Kecamatan Meureudu, yang diakibatkan oleh adanya liquefaction yang terletak di kawasan Pantai Manohara,” ungkap ahli geologi Dr Sri Hifayati, seperti dilansir dalam siaran pers Bagian Humas dan Protokoler Pemkab Pidie Jaya, Sabtu (17/12).

Dikatakan, hasil pengkajian Tim Ahli Geologi dan Geofisika BMKG ini, dipaparkan dalam konfrensi pers di ruang rapat Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Pijay, Jumat (16/12) malam. Tim ini antara lain terdiri atas ahli geologi Dr Sri Hifayati, ahli geofisika ITB Wahyu Triyoso PhD, dari Kementerian PU Ir Sutadji Yuwasdiki, Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Ir B Wisnu Wijaja, dan Kabag Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) ITB, Prof Masyhur Irsyam.

Penelusuran Serambi dari wikipedia.org, pencairan tanah atau likuifaksi tanah (bahasa Inggris: soil liquefaction) adalah suatu fenomena perilaku tanah yang jenuh atau sebagian jenuh, secara substansial kehilangan kekuatan dan kekakuan akibat adanya tegangan. Biasanya gempa bumi yang bergetar atau perubahan lain secara tiba-tiba dalam kondisi menegang, menyebabkan tanah tersebut berperilaku seperti cairan atau air berat.

Dr Sri Hifayati mengatakan, pihaknya juga menemukan retakan lapisan tanah di beberapa titik di Kecamatan Meureudu. Ahli Geofisika ITB, Wahyu Triyoso PhD memaparkan, gempa Pijay terjadi karena adanya gerakan (tanah) naik turun yang kemudian diiringi dengan pergeseran lempeng bumi. Dampak yang paling kuat terjadi kepada bangunan rumah toko (ruko) dan rumah bertingkat.

Sementara Kabag Ikatan Ahli Bencana Indonesian (IABI) ITB, Prof Masyhur Irsyam memaparkan adanya semburan pasir lunak di beberapa titik di kawasan Pidie Jaya. Menurutnya, hal ini disebabkan oelh letak geografis Kabupaten Pidie Jaya yang berada di sebuah cekungan antara perbatasan Aceh Besar hingga ke Bireuen. Sehingga di tempat tersebut mempunyai kontur tanah yang lunak dan berpasir.

Ia menyebutkan, patahan dan hentakan yang terjadi saat gempa beberapa hari lalu, menyebabkan keluarnya bagian dalam dari lapisan yang berupa pasir halus. “Pasir halus ini keluar dari retakan dan patahan yang ada, seperti yang terdapat di daerah Pante Raja,” ungkap Masyhur Irsyam seperti dilansir Humas Pemkab Pijay.

Menurut Irsyam, endapan pasir lunak yang terdapat di bawah lapisan tanah ini sangat berpengaruh terhadap lapisan yang ada di atasnya. Sebab, dengan adanya pergerakan lempengan yang terletak di Pidie Jaya ini, akan memberikan efek yang sangat dahsyat sehingga dapat meruntuhkan bangunan yang memiliki bahan material kurang baik.

Sementara itu, dari ahli Kementrian PU Ir Sutadji Yuwasdiki, dalam paparannya me

Selain itu, banyak dinding yang tidak memiliki pengikat ke pilar yang ada, sehingga sangat mudah untuk terlepas dari kedudukannya. Ditemukan juga banyak bangunan ruko yang menambah ketinggian jumlah lantai, seperti penambahan ruangan untuk sarang burung walet.

Sutadji menyarankan agar bangunan yang akan dibangun di kawasan Pidie Jaya pada masa mendatang tidak seluruhya menggunakan bahan beton, tapi menggunakan bahan yang relatif ringan, sehingga tidak memberikan beban yang besar terhadap pilar.

Sedangkan Deputi bidang pencegahan dan kesiapsiagaan, Ir B Wisnu Wijaja mengatakan, gempa Pidie Jaya merupakan suatu pembelajaran yang paling berharga. Karenanya, ia mengharapkan penyampaian dari para ahli dapat diteruskan dan disampaikan kepada masyarakat agar tidak perlu takut dengan adanya gempa susulan. “Dilihat dari waktu yang sudah melebihi dari hari ke tujuh, tidak akan terjadi lagi gempa susulan dengan skala yang lebih besar,” kata Wisnu Wijaja
ngatakan, kontruksi bangunan masih banyak yang menggunakan baja yang tidak sesuai dengan standarisasi yang ada. “Segi pilar bagunan rata-rata hanya polos dan tidak berserat, sehingga sangat rapuh untuk menopang berat material bangunan yang lain,” ujarnya.

Senin, 12 Desember 2016

Dalih Relawan, 6 WNA Asal China Berbuat Makar Di Aceh

Tim RAM UNION RESCUE dari China di Bandara SIM Aceh, Senin (12/12/2016). Foto: Ist

BANDA ACEH| BN-Indonesia benar-benar menjadi tempat yang nyaman bagi pendatang haram (ilegal) dari luar negeri, terutama dari Negeri Komunis China. Kondisi tersebut terpantau, Senin, 12 Desember 2016, pukul 10.18  WIB.

Mereka berkelompok dan saat berjalan seperti salah tingkah. Kondisi tersebut terpantau di Bandara Udara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang,  Aceh Besar,  Aceh. Sebelum meninggalkan Aceh, mereka sempat beberapa hari di lokasi gempa Pidie Jaya, Aceh bergaya seperti relawan.

“Mereka telah dimonitor tempat pemberangkatan terkait keberangkatan penumpang Domestik Tim RAM UNION RESCUE  dari CHINA,” demikian informasi yang diperoleh dari internal bandara.

Menurut sumber itu, kelompok WNA asal China yang berjumlah 6 orang itu masuk dan bekerja tanpa izin dari Kementerian Luar Negeri RI dann BNPB.  Sebelumnya mereka telah lama di Aceh, dan berupaya pergi dari Banda Aceh tujuan Medan dengan menggunakan pesawat Lion Air, jenis Boeng 737-9GP (ER), JT. 197, PK-LJO.

“Mereka ada 6 orang, sekilas kita pikir WNI turunan,” beber sumber itu.

Sumber tersebut juga membeberka  nama – nama WNA asal China yang berangkat dari Banda Aceh tujuan Kuala Namu, Medan. Mereka adalah Mr. Caihong Gan, Mr. Hailiang Sun, Mr. Bin Wang,Mr. Lijun Xu,Mr. Dang Zheng terakhir Mrs. Jianxia Xu.

Hingga berita ini dilansir, belum berhasil menghubungi pihak Kantor Imigrasi Banda Aceh. Seperti kejadian sebelumnya, biasanya setiap kali ditanyakan persoalan ada WNA menyalahi Visa, pihak Imigrasi selalu menutupi perihal tersebut kepada Pers dan bahkan mereka tak sungkam mengaku diluar pantauan mereka.

Warga di Pante Manohara Berjanji Tutup Pante Manohara Selamanya


Akses masuk menuju Pantai Manohara di Pidie Jaya, Aceh, ditutup warga dengan ranting-ranting pohon, Minggu (11/12).

PIDIE Jaya, Indonesia - Pantai Manohara yang membentang di Desa Meuraksa Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya, biasanya tak pernah sepi pada akhir pekan. Namun Sabtu-Minggu kemarin pantai tersebut kosong melompong.

Sebelumnya pada tahun 2014 Empat unit jamboe (pondok-red) mesum di kawasan wisata pantai Manohara, Meunasah Balek, Kecamatan Meureudu pernah dibakar anggota Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilyatul Hisbah (Satpol PP dan WH) Pidie Jaya. Aksi tersebut terjadi setelah pertugas menerima laporan warga setempat, tentang indikasi penyalahgunaan tempat itu. Hasil pengintaian tim ke lokasi, petugas mengetahui perbuatan mesum di beberapa jamboe yang didesain tertutup bak tutup saji nasi.

Kafe-kafe tutup, wisatawan tak ada, dan jalan masuk menuju pantai tersebut diblokir warga dengan ranting-ranting pohon. “Sudah ditutup," kata seorang pria bertopi di tepi jalan saat Rappler hendak masuk ke pantai, Minggu 11 Desember 2016.

Pantai Manohara sejatinya bernama pantai Meuraksa atau pantai Meureudu. Nama Manohara muncul bersaman dengan pemberitaan kisruh rumah tangga Manohara Odelia Pinot dengan Teungku Muhammad Fakhry Petra, putra mahkota Kerajaan Klantan, Malaysia.

Saat itu, memanfaatkan momentum ketenaran Manohara, seorang pemilik kafe di pantai tersebut mencomot nama Manohara untuk dijadikan nama kafenya. Sejak itu pantai ini lebih dikenal dengan nama Pantai Manohara.

Rada Rabu pagi 7 Desember lalu, gempa 6,5 SR menghantam Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Ratusan rumah toko dan rumah hancur berantakkan. 101 orang dilaporkan tewas dan ratusan lainnya cedera.

Namun kafe-kafe di bibir Pantai Manohara yang terbuat dari kayu tetap berdiri. Padahal Pantai Manohara merupakan daratan yang paling dekat dengan pusat gempa, yakni 18 kilometer dari timur laut Manohara.


Sabtu, 10 Desember 2016

Gempa Ke-74 Pijay, Polwan Peluk Bocah Cilik Minggu, 11 Desember 2016

Gempa Ke-74 Pijay, Polwan Peluk Bocah Cilik
Minggu, 11 Desember 2016 11:11

Polwan memeluk bocah cilik ketika gempa berkekuatan 5,3 SR di Meunasah Raya, Kecamatan Trienggadeng, Kabupaten Pidie Jaya, Minggu (11/12/2016) pukul 09.50 WIB.
Laporan Muhammad Hadi | Pidie. MEUREUDU - Gempa berkekuatan 5,3 SR kembali melanda Pidie Jaya, Minggu (11/12/2016) pukul 09.50 WIB.
Ini yang ke-73 kali terjadi sejak gempa pertama Pijay, Rabu (7/12/2016) subuh. Atau kedua pada, Minggu (11/12/2016) setelah pukul 09.00 WIB.
Gempa ini ikut mengejutkan para bocah di posko pengungsi di Meunasah Raya, Kecamatan Trienggadeng, Kabupaten Pidie Jaya.

Polwan dan relawan sedang menghibur puluhan anak-anak. Orang tuanya ikut menyaksikan dari luar tenda.
Tiba-tiba gempa terjadi anak-anak langsung panik. Orang tua seketika mencoba mengambil anak-anaknya. Polwan seketika memeluk anak-anak untuk menenangkan.
Suasana panik sempat terlihat dari wajah anak-anak dan orang tuanya. Karena ada ibu-ibu yang mencoba membawa pulang anaknya. "Harus dijaga ini, takut kita," ujar salah satu ibu dalam logat bahasa Aceh.
Setelah suasana tenang. Kemudian Polwan membagikan alat untuk menggambar kepada anak-anak. Seketika anak-anak duduk lagi dengan tenang.
"Siapa yang ingin jadi polisi," ujar Polwan
"Akuuu," jawab anak-anak.
Entah sampai kapan anak-anak bisa tenang lagi.

Baru saja Gempa berkekuatan 5.6 SR di Pidie Jaya

Gempa kembali guncang pidie jaya dengan kekuatan 5.3 SR senin 11 Desember 2016 di lokasi yang sama pada 7 Desember kemarin. Gempa terjadi tepatnya pada pukul 09:50 dengan jarak 18km Timur Laut di kabupaten Pidie Jaya dan 10km dari kedalaman laut.
Diperkirakan gempa kali ini tetap tidak berpotensi terjadinya tsunami.


Gempa susulan itu turut membuat panik warga di Pidie Jaya hingga berhamburan keluar ke jalan. Sebelumnya tampak warga duduk beristirahat di dalam ruangan dan berteduh, saat gempa warga berlarian ke jalan.

Pantauan di Keude Pangwa, kecamatan Trienggadeng masyarakat tampak panik dan bersalawat di pinggir jalan.

Pengungsi di Pedalaman Pidie Jaya Tak Tersentuh Bantuan

PIDIE JAYA - Presiden Joko Widodo meninggalkan Pidie Jaya dengan sejumlah janji penanganan cepat dan tepat pascagempa di Pidie Jaya. Namun hingga kini, ratusan pengungsi di sejumlah titik pengungsian di pedalaman Kecamatan Trienggadeng dilaporkan tersentuh bantuan.

Nuraini (52), warga Gampong Tuha Pulo Raya, Kecamatan Trienggadeng, Pidie Jaya, mengatakan hingga saat ini sekitar 40 warga dari 11 kepala keluarga (KK) yang bertahan di lokasi pengungsian belum mendapat bantuan apapun dari pihak pemerintah.

Rumah kami rusak dan roboh akibat gempa. Kami harus mengungsi. Namun sampai hari ini bantuan makanan. Obat pun belum disalurkan sama sekali, ungkap Nuraini kepada AJNN, Jumat (9/12) .

Kondisi ini tentu bertolak belakang dengan korban yang mengungsi ke pusat-pusat kecamatan. Keberadaan mereka di daerah pedalaman terabaikan.

Nuraini menambahkah, di lokasi pengungsian itu, beberapa warga mengalami cedera karena tertimbun reruntuhan rumah. Mereka enggan ke puskesmas untuk berobat. "Kami sangat menderita. Tidak seperti warga lain. Kami juga ingin diperhatikan seperti yang lainnya," ungkap Nuraini dengan nada sedih. Neujak kalen-kalen siat kamoe di Desa Tuha Pulo Raya, pah bak Duson Keuramat.

Sebelumnya, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa memastikan bantuan logistik yang disalurkan pemerintah terdistribusi merata. Tim yang diterjunkan sejak hari pertama memetakan sebaran pengungsi akibat gempa Aceh yang terjadi Rabu lalu.

Kementerian Sosial bersama Dinas Sosial setempat mendirikan posko pengungsi sekaligus dapur umum lapangan di tujuh titik. Total bantuan yang digelontorkan Kementerian Sosial untuk bencana Gempa Aceh berjumlah Rp 2 miliar lebih.

Bantuan ini terdiri dari tenda keluarga, tenda gulung, matras, selimut, family kit, food ware, kids ware , baju, mi instan, makanan kaleng, dan berbagai jenis sembako.

Total ada 7500 pengungsi yang ditangani. Mayoritas perempuan dan anak-anak. Saya sudah meminta kepada tim di lapangan untuk mendistribusikan bantuan secara proporsional sesuai kebutuhan, ungkap Khofifah.

Jumat, 09 Desember 2016

Tgk Tarmizi Klarifikasi Terkait Fitnah Kepada Abu Kutakrung

Tgk. Tarmizi (Abati Kuta Krueng) menantu Abu Kuta yang selalu bersama Abu di Kuta krueng tidak mendengar dari Abu kabar seperti itu isu yang sudah beredar yang di duga dilakukan oleh Reza Hatami Jafarudin  seperti foto dibawah karena memang abu tidak menyampaikan amanah seperti itu. Saya harap kepada masyarakat untuk jangan panik dan jangan trauma serta jangan cepat percaya. Yang Abu pesan kepada kita semua adalah bertaubat lah kepada allah supaya menjauh kan kita dari musibah, bencana. Karena Allah mampu memberikan bala (musibah, red) yang lebih besar jika manusia kufur dan ma’siat kepada Nya.

Berikut adalah screenshot salah satu Isu yang telah beredar di medsos


Tolong disebarluaskan supaya masyarakat tidak merasa resah, dan trauma.

Gempa 5.0 SR Kembali Guncang Aceh

Banda Aceh - Gempa susulan kembali mengguncang Pidie Jaya, Aceh, Jumat 9 Desember 2016. Menurut informasi dari website Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, gempa terjadi pada Pukul 16:49:04 Wib, Jumat 9 Desember 2016. Lokasi gempa terjadi pada 5.38 Lintang Utara (LU) - 96.01 Bujur Timur (BT) atau 32 kilometer Barat laut Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Pusat gempa berada di kedalaman 10 kilometer Menurut bmkg, gempa tersebut tidak berpotensi Tsunami.

Kunjungan Jokowi Ke Aceh Hanya membawa bantuan 50juta

Bireuen – Presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo yang pepuler dengan nama Jokowi mengadakan kunjungan ke daerah gempa di Kabupaten Pidie Jaya (Pijay) dan Samalanga, Kabupaten Bireuen Jumat, (9/12/2016).

Jokowi yang menginap di Banda Aceh, pagi langsung mengunjungi lokasi gempa di Pijay, kemudian dengan jalan darat menuju Samalanga.

Tepat pukul 11.35 WIB Presiden sampai di Mideun Jok, desa lokasi kampus STAI Al Aziziyah dan Pesantren Mudi Mesra disambut Tgk. Hasanoel Basri (Abu Mudi), Plt. Bupati Bireuen ir.Muktar Abda, M.Si dan beberapa pejabat Pemerintah Aceh.

Jokowi yang ditemani beberapa Menteri Kabinet Kerja setelah turun dari mobil yang ditumpanginya langsung menuju mesjid yang berada di depan Kampus STAI Al-Aziziyah yang kubahnya telah ambruk akibat gempa tersebut, berselang beberapa menit Jokowi langsung meninjau Kampus STAI Al Aziziyah yang telah roboh.

Plt. Bupati Ir.Mukhtar Abda,MSi menjelaskan hasil pertemuannya dengan Presiden Jokowi bahwa, Presiden memerintahkan Kementerian PU dan Perumahan Rakyat dan Badan penaggulangan Bencana Nasional (BPBN) untuk membangun segera gedung Kampus Al-Aziziyah yang telah ambruk, selain itu presiden juga memerintahkan Kementerian PU dan Perumahan Rakyat untuk membangun kembali segala insfrastruktur termasuk rumah penduduk yang rusak akibat gempa.

Setelah meninjau bangunan tersebut Jokowi melaksanakan Salat Jumat di Mesjid Raya Samalanga dan pada kesempatan tersebut Jokowi memberikan bantuan untuk pembangunan mesjid tersebut hanya Rp 50 juta.

Jumlah ini sangatlah kecil jika dari orang nomor satu di Indonesia, jika dibandingkan dengan di kabupaten Bireuen Mantan PLT Bupati Bireuen juga pernah memberikan dana bantuan pembangunan mesjid Taqwa di gandapura dengan jumlah yang sama. Nilai 50juta dari Bupati sangatlah berbeda rasanya 50juta dari presiden.

Kamis, 08 Desember 2016

Ratusan Warga Antusias Sambut Presiden di Posko Pengungsian

PIDIE JAYA - Ratusan warga Kecamatan Trienggadeng tampak begitu antusias menyambut kedatangan Presiden RI Joko Widodo.

Masyarakat lintas usia, berkumpul di pokso pengungsian Masjid At-Taqarrub, Desa Gampong Raya, Kecamatan Trienggadeng, Pidie Jaya, Jumat (9/12/2016) pagi.

Amatan Serambinews.com, saat ini pihak keamanan pun mengawal ketat lokasi posko, dalam rangka menyambut orang nomor satu di Indonesia itu.

Sebelumnya, Presiden berangkat dari Banda Aceh menggunakan helikopter. Menurut informasi, presiden lebih dulu mengunjungi pasien korban gempa yang sedang dirawat di Rumah Sakit Umum Sigli, Pidie.

Pelaminan Ini ‘Menangis’ Sendiri

BADANNYA terbujur kaku dan diselimuti kain merah jambu. Matanya tertutup rapat, sama sekali tak mau melihat orang orang di sekitar. Hanya sesekali ia terbelalak, menatap hampa langit-langit dan dinding kamar. Dari raut wajahnya, wanita itu tampak sedang menanggung beban kesedihan yang teramat sangat, tak ada sepatah kata pun, juga gelak tawa.


Yusra Fitriani (31), wanita yang sedianya kemarin menerima janji suci dari seorang pemuda yang jadi pujaan hatinya bernama Suharnas (31). Namun, rencana bahagia itu tidak terwujud. Pemuda yang akan memperistrinya tiba-tiba saja pergi meninggalkan Fitri--panggilan Yusra Fitriani-- untuk selama-lamanya.


Suharnas dipanggil Sang Khalik dalam musibah gempa berkekuatan 6,4 skala Richter (SR) yang mengguncang kawasan Pidie Jaya sekitarnya, Rabu (7/12) menjelang subuh. Suharnas meninggal akibat tertimbun reruntuhan bangunan rumah toko (ruko) miliknya di pusat kota Meureudu, akibat gempa yang menghentak pagi buta itu.


Kemarin, Kamis (8/12), Wartawan kembali menyambangi rumah Fitri di Desa Dayah Timu, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya. Suasana duka terlihat menyelimuti rumah itu, semestinya kemarin pesta bahagia digelar di sana, orang-orang seharusnya berdatangan memberi selamat dan kado pernikahan kepada Fitri dan Suharnas. Keduanya akan menjadi raja dan ratu sehari dalam momen paling bahagia setiap insan.


Susana berubah, tak ada yang datang. Seribu surat undangan yang disebar hanya menjadi kenangan. Pelaminan yang telah disiapkan tak ada yang tempati, bagai ‘menangis’ sendiri. Dekorasi hanya jadi hiasan, orang-orang duduk di luar dengan raut wajah murung. Semuanya bersedih, pesta bahagia itu urung terlaksana, karena Allah telah berkehendak lain.


Biasanya, pelaminan itu akan menjadi singgasana raja dan ratu sehari. Para tamu yang datang penuh ceria dengan pakai khusus untuk hari H. Mereka akan berebutan dan rela antrean untuk bisa berfoto. Demi momen bahagia bersama sang raja dan ratu. Tapi suasana itu tak ada, semua sudah diliputi duka mendalam. Beberapa keluarga dekat yang datang untuk melihat kondisi Fitri tak bisa menyembunyikan kesedihannya menatap pelaminan kosong. Pelaminan yang sepi sendiri.


Di dalam kamar, Fitri ditemani ibu kandungnya, Rajiati (sebelumnya tertulis Rajati-red) bersama dua saudaranya. Raut wajah sedih terlihat menyaksikan Fitri tertidur lemas di atas ranjang. Ranjang itu semestinya dipersiapkan untuk dia dan Suharnas selaku pengantin baru. Ia sama sekali tak bicara, wajahnya pucat.


Menurut sang ibu, Fitri sudah terbaring di ranjang itu sejak Rabu malam. “Sudah dari tadi malam dia begini terus. Tadi pagi ada bangun sebentar habis itu tidur begini lagi dan tidak mau bicara. Makan juga nggak mau, tadi cuma air gula yang ada dia minum,” kata Rajiati, saat Wartawan yang masuk ke dalam kamar melihat Fitri ditemani anggota keluarganya.


Beberapa kali Wartawan mencoba bertanya kepada Fitiri, namun tak ia tanggapi. Fitriani membisu, diam seribu bahasa. Wajahnya pucat pasi menanggung sedih tak terperikan. Namun, tak ada air mata yang mengalir di pipinya. Air matanya seperti sudah kering, tak ada lagi linangan, meski ia begitu berat menanggung kesedihan. Fitri tak sanggup lagi menangis dan berkata-kata tentang cobaan yang mendera dirinya pada hari seharusnya ia paling bahagia.


“Kak Fitri, kak Fitriani, boleh kami bertanya sesuatu?,” tanya Wartawan pelan. Ia kemudian mengangguk sambil melihat dengan tatapan hampa. “Kak Fitri, adakah doa yang mau Kakak panjatkan hari ini,” tanya Wartawan kembali.


Mendengar pertanyaan itu, sontak Fitri langsung menangis dan menutup mukanya dengan selimut. “Kajeut Neuk beuh, bek le tatanyoeng sapeu. (Sudah Nak ya, jangan tanya lagi apa pun),” kata salah seorang famili Fitri sambil mengusap pipi dan kepala Fitri. Wartawan pun langsung ke luar dan menyudahi wawancara tersebut.


M Yunus, ayah Fitri mengatakan, saat ini dirinya berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkan kesedihan anaknya. Ia tak menampik bahwa kesedihan yang mendera putri pertamanya itu sulit dipulihkan dalam waktu dekat. “Hanya ada dua cara untuk menyembuhkan kesedihannya ini, pertama baca Alquran kedua shalat. Mungkin itu cara paling ampuh untuk menyembuhkan kesedihannya,” ucap M Yunus.


Sama seperti keterangan Rajiati, istrinya kepada Wartawan sebelumnya, bahwa rencana resepsi kemarin sudah dipersiapkan jauh jauh hari. Sedikitnya, 1.000 undangan telah dikabari untuk menghadiri hajatan putrinya kemarin. “Ini kehendak Allah, ini cobaan bagi kami. Semoga di balik ini semua ada hikmahnya,” pungkas M Yunus.


Kini Fitria harus menanggung beban dan berjuang menghapus luka mendalam di hatinya. Air mata duka bakal butuh waktu untuk membendungnya meski pelaminan akan dibongkar sebentar lagi. Harapan hidup bersama dengan Suharnas sudah sirna. Fitri hanya bisa pasrah atas musibah yang menjadi kehendak Ilahi. Mungkin Tuhan punya rencana lain.

Cerita pilu Yusra, gagal nikah karena calon suami tewas saat gempa

Yusra Fitriani (31), terkulai lemas di atas tempat tidur di kamar rumahnya, Gampong Dayah Timu, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Kamis (8/12). Tubuhnya tertutup selimut warna merah muda. Sang ibu, Rajiati (50) duduk di samping sembari menghibur dan mengusap-usap kepalanya.

Seharusnya, hari ini menjadi hari membahagiakan bagi Yusra Fitriani. Teratak atau tenda penerima tamu sudah terpasang di depan rumah. Sementara di bagian dalam rumah sudah disiapkan pelaminan. Kamarnya sudah disulap layaknya kamar pengantin baru. Tapi pernikahannya dengan Suharnas (33) tidak terlaksana sesuai rencana. Calon suaminya itu meninggal tertimbun reruntuhan bangunan saat Aceh dilanda gempa 6,5 SR kemarin.

Kesedihan terpancar dari raut wajah Yusra. Sesekali dia tak kuasa menahan air matanya sambil memeluk ibunda yang setia menemani di sampingnya.Sejak kejadian nahas yang menimpa calon suaminya, Yusra belum makan. Hanya air gula beberapa sendok yang sudah yang diminumnya. Itu pun setelah diminta oleh kedua orang tua dan sanak familinya yang selalu mendampingi.

"Trauma, lemas dia, mungkin juga karena dia lelah," kata M Yunus (62), ayah Yusra saat ditemui di rumahnya, Kamis (8/12).

Saat gempa memporak-porandakan Aceh, Yusra terkejut mendapat kabar toko jam milik pujaan hatinya itu roboh dan rata dengan tanah. Dengan perasaan tak menentu, Yusra mencari tahu keberadaan Suharnas. Hingga akhirnya perempuan itu terkulai lemas setelah mengetahui tubuh pasangannya tertimbun bangunan.

"Sempat ketemu dengan jenazah sampai dimakamkan, dia baru pulang jelang tengah malam, makanya dia lemas itu sekarang, enggak bisa bicara," kata ayahnya.


Yunus tak memiliki firasat rencana pernikahan anak pertamanya berakhir tragis seperti ini. Yusra yang sehari-hari berprofesi sebagai guru honorer di SMP 1 Meureudu telah mempersiapkan semua kebutuhan untuk hari pernikahannya. Keluarganya juga telah menyiapkan satu ekor sapi untuk makanan 1.000 orang tamu. Takdir tak bisa dilawan. Kini mereka hanya bisa merelakan kepergian Suharnas menghadap sang pencipta.

"Kita hanya berencana, yang kabulkan hanya Allah," singkatnya.

Di mata calon mertuanya, Suharnas sosok pendiam, suka bergaul dan tidak pernah mencampuri urusan orang lain. Bahkan dia dikenal taat beragama dan tidak pernah sekalipun meninggalkan kewajiban salat. "Kalau sudah waktu salat, dia langsung tutup toko," jelasnya.

Suharnas melamar Yusra pada 8 Oktober 2016 dengan mahar 13 mayam (satuan emas). Orang tua Yusra tak pernah tahu bahwa hubungan anaknya dengan Suharnas sudah sangat serius. Mereka baru mengetahui beberapa saat jelang hari lamaran. Meskipun jarang bicara, Yunus kenal dekat Suharnas yang ternyata bekas muridnya waktu SMP dulu.

"Tidak pernah terpikir Suharnas bisa lamar anak saya. Dia kan pebisnis, anak saya orang kampung," imbuhnya.

Yunus hanya bisa berlapang dada menerima kenyataan pahit yang harus dialami putrinya. Dia yakin Yusra akan mendapat jodoh di kemudian hari. "Banyak salat dan baca Alquran. Kalau jodoh, ulat dalam batu ada jodoh, apa lagi kita sebagai manusia, khalifah di permukaan bumi," tutupnya.